Almahyra

Almahyra
Bagian 50


__ADS_3

"Saya Alma. Saya sudah membuat janji temu dengan Bapak Idrus. Boleh tolong tanyakan kepada beliau?" ucap Alma.


Setelah menunggu dua menit lamanya. Paman Idrus terlihat keluar dapur penyajian dengan menggunakan kaos hitam serta celana jeans beliau berjalan mendekati kursi yang Alma duduki di dekat jendela kedai.


"Alma, Jafar maaf membuat kalian menunggu, Nak."


Alma dan Jafar berdiri menyambut Paman Idrus, dengan senyum simpul Alma berujar, "Nggak lama kok ... Ayah. Kita baru juga nunggu bentar."


"Ayo duduk-duduk jangan berdiri," ucap Paman Idrus mengambil duduk di kursi single.


Paman Idrus memilih untuk mengobrol berbaur dengan pelanggan. Jafar pun tak keberatan selama istrinya pun nyaman. Beberapa keputusan-keputusan telah di tentukan selalu wafatnya Bibi Maryam, mengenai Kedai Bersama yang akan di urus atau diserahkan kepada anak sambungnya itu. Sedangkan Paman Idrus sebagai seorang suami, hanya bisa mengiyakan permintaan istri beliau, dan lagi pula Kedai Bersama memang milik Bibi Maryam yang beliau rintis untuk masa depan Alma.


"Nak Jafar apa kamu mengizinkan anak saya untuk mengelola kedai ini?"


Alma hendak menjawab. Namun Jafar terlihat tergesa menuliskan dibuku catatan dan menunjuknya kepada Paman Idrus. "Saya mengizinkan Alma, karena dia bilang sanggup untuk menerima tanggung jawab ini, Paman."


"Terima kasih, Nak Jafar." Pandang Paman Idrus beralih pada Alma. "Nak, nanti kamu sering-sering ke sini, ya? Ayah tetep bantu kamu sementara waktu, karena kamu mau melangsungkan acara pernikahan. Jadi nggak pa-pa untuk masalah kedai sementara kamu serahkan ke Ayah saja."


"Iya, Ayah."


Paman Idrus tersenyum memandangi pengganti baru di depan beliau secara bergantian. "Mau keliling lihat-lihat Kedai Bersama?"


"Semua tetap sama, dekorasinya berubah sedikit. Jadi kamu boleh lihat-lihat, Nak. Ajak suamimu juga sana," imbuh Paman Idrus.


"Mau nggak lihat-lihat?"


Mendengar tawaran Alma. Jafar mengangguk-angguk dengan menggerakkan bibir. "Mau. Saya mau."


Seperti yang Alma katakan tadi, bahwa Kedai Bersama sangat potret-able jadi sepanjang jalan pemandangan-pemandangan indah dari dekorasi kedai bercampur aduk dengan manusia-manusia yang berlalu-lalang memotret diri sendiri dan orang lain. Bahkan tak segan, Bibi Maryam menyediakan tukang foto gratis bagi setiap pembelian paket box bersama pasangan halal. Strategi marketing yang bagus, dan romantis.


"Mau coba nggak menu ini, Mas?"


Jafar mengeluarkan gawainya dan mengetik. "Kamu suka kopi?"


Kening Alma berkerut. "Kopi? Saya suka kopi?"


Jafar mengangguk.


"Ooh suka. Kenapa?"


Alma dan Jafar berhenti tepat di poster menu yang menempel di manding. Terlihat tangan Jafar mengetik dengan lihai. "Menu yang ingin kamu pesan itu paket boxnya berisi minuman ice coffee. Jadi saya hanya bertanya, takut-takut tidak kamu minum akan mubazir."


"Kamu fokus banget sih merhatiin minumannya. Padahal saya lagi fokus ke bonus ini nih. Lihat, Mas." Alma menunjukkan tulisan tebal di pojok kirim berwarna di poster menu itu. "Satu potret gratis untuk pasangan yang sudah menikah dengan menunjuk foto pernikahan."


"Kamu ada-ada saja. Jadi kamu ingin membeli itu supaya kamu bisa mendapatkan tukang potret gratis?" tulis Jafar.


Alma mengangguk cepat. "Iya."


"Kenapa emang? Nggak boleh?"


Tombol delete Jafar tekan cepat dan kembali mengetik lagi. "Boleh. Tapi syarat dan ketentuan kita tidak memenuhi."


"Nggak memenuhi gimana? Kan ki---" Alma baru teringat ternyata pernikahannya terjadi secara singkat. Ia pun tak yakin bahwa di rumah Paman Idrus dan di depan jenazah Bibi Maryam ada yang memotret pernikahan singkatnya dengan Jafar. "Ya-ya udah, deh! Kita coba menu lain. Ka-kamu dari tadi belum minum, gimana kalau kita pesan ice coffee aja?"


"Berdiri di sana," tulis Jafar di gawainya.

__ADS_1


Kening Alma berkerut. "Di ... sana? Berdiri? Kamu ini, saya lagi nawarin minum lho."


"Saya juga ice coffee. Pesankan saja," tulis Jafar.


Alma mengangguk. "Oke. Kamu tunggu di sini. Saya mau pesan dua ice coffee. Te ... rus sama apa lagi?"


"Itu saja," tulis Jafar.


Alma berjalan kearah staf perempuan berkerudung dengan name tag: Azizah. Ia tahu banyak orang yang memiliki nama yang sama, tapi kenapa harus ini? Membuatnya mengingat-ingat kejadian lampaui saja. Alma telah berdiri tepat di depan perempuan itu, ia berujar, "Permisi Kakak, saya pesan dua ice coffee."


"Atas nama dan ukurannya, Kak?"


Alma menjawab, "Almahyra. Ukuran besar saja, Kak."


"Baik. Akan segera kami proses, Kak."


Alma kembali menemui Jafar, setelah memproses pembayaran. Lelaki itu tetap berdiri di sudut sepi dekat jendela dengan tatapan yang tak terputus padanya. Kalau Alma pandang-pandangi dari kejauhan suaminya ini nampak memukau sekali, gagah dengan wajah datarnya.


"Udah, Mas. Kita tunggu di panggil aja."


Setelah istrinya itu mendekat, Jafar kembali mengetik. "Sekarang saya meminta kamu untuk berdiri di dekat jendela ini, yang bersebelahan dengan kursi yang kosong."


"Tempat kamu berdiri ini?"


Jafar mengangguk.


"Ma-mau ngapain Mas?"


Jafar menuntut Alma yang tak berhenti berbicara, supaya menuruti keinginannya---dengan menarik perlahan ia meminta Alma tepat berdiri di samping kursi kosong. Tangan Jafar terangkat menyentuh kedua ujung bibirnya dan menggerakkan bibir perlahan. "Senyum."


Jafar mengangguk.


"Udah ini udah." Alma tersenyum sesuai permintaan suaminya. "Udah senyum saya, Mas."


Crek!


Jadi ia sedang di potret oleh suaminya? Mengapa Jafar tak mengatakan apa-apa? Hanya memintanya berdiri, dan tersenyum saja. Menyebalkan, harusnya ia berpose lain. Karena pose senyum dan berdiri tegak sangat-sangat kaku untuk Alma. Ia mendekat, tangannya terangkat menyentuh bahu kiri Jafar. "Kamu motret saya mah nggak bilang-bilang, pasti jelek. Sini-sini saya mau lihat, hapus sini, pasti jelek banget."


Gawai milik Jafar kian di angkat ke atas. Supaya tubuh mungil istrinya tak mudah untuk mengapai.


"Mas! Mas Jafar ih! Ya Allah ..."


Saking kesalnya Alma sampai lompat-lompat hingga yang tertangkap bukanlah gawai, melainkan tengkuk belakang Jafar. Posisi yang sangat tidak patut untuk di pandang di depan muka umum, karena kedua tangan Alma terlihat memeluk leher Jafar.


"Sini nggak?"


Jafar tiba-tiba saja menyentuh pinggangnya.


"Mas ..."


"Atas nama Kakak Almahyra!"


Spontan Alma menarik kedua tangannya turun, mendorong pelan Jafar---dengan tergesa-gesa ia berlari mengambil dua ice coffee yang dipesannya.


A-apa-apaan sih! Pakai nggak sengaja peluk gitu?! Untung sepi, walau aku nggak yakin nggak ada yang lihat. Ah, nyebelin banget!

__ADS_1


"I-ini minum." Alma memberikan satu ice coffee dan langsung mengambil duduk di kursi kosong dekat. Ia menyeruput minuman itu. "Enaknya. Udah lama banget nggak minum."


"Gimana menurut kamu, Mas?"


Jafar mengangguk.


"E .. nak 'kan?"


Jafar menggerakkan bibirnya. "Enak."


"Kamu ini ... motoin saya nggak bilang-bilang."


Jafar yang semula duduk berseberangan, kini menarik kursinya mendekati Alma dan duduk bersebelahan. Tangan kanannya mengetik di gawai. "Kamu bilang ingin di potret secara gratis. Jadi saya potret kamu tanpa harus membeli paket box itu."


"Masalahnya saya maunya ... a-anu, di potret berdua sama kamu," lirih Alma.


"Berfoto mengunakan kamera depan berdua dengan saya mau?" tulis Jafar.


Alma mengerjap berkali-kali tak percaya. Suaminya mau berfoto ria mengunakan kamera depan? "Kamu nggak malu?"


"Berfoto bersamamu bukan lah sesuatu yang memalukan," tulis Jafar.


"Ya udah. Ayo! Saya mau!"


Beberapa potret dirinya dan Jafar ia ambil berkali-kali. Sebenarnya ekspresi suaminya tetap sama hanya datar, namun dengan segala belas kasih ia meminta untuk sekadar saja Jafar tersenyum tipis akhirnya terkabul. Alma tak berniat meng-upload ia hanya ingin mengunakan potret berdua ini sebagai konsumsi pribadi.


"Mas, Mas coba kamu buka telapak tangan kamu gini," ucap Alma dengan membuka telapak tangannya.


Jafar menirukan.


"Iya gitu bener, Mas."


Tangan mungil Alma bertumpu di atas telapak tangan Jafar. Semula renggang kian lama berubah menjadi genggaman dan erat, Alma memotret kedua tangan yang saling menyatu itu dengan sekali tangkapan. "Perfect. Kebetulan banget, baju kita sama-sama gelap."



Alma melepas genggaman itu. Kemudian berkutat dengan gawainya dan sesekali menyeruput ice coffee. Kling! Gawai Alma tiba-tiba berbunyi, keningnya berkerut saat ada pesan masuk dari suami.


Mas Jafar


Kamu posting?


Alma menengok. "Nggak boleh, Mas?"


Jafar mengetik balasan dan mengirim lagi.


Mas Jafar


Boleh


Tolong kirimkan kepada saya


Alma mengangguk-angguk. "Oke. Udah saya kirim, Mas."


Jafar mengetik, dan kali ini ia meminta Alma untuk membaca. "Sudah pukul sepuluh. Bisa kita ke outlet Kedai Amanah?"

__ADS_1


"Ya Allah iya ya ... bisa, Mas. Bisa. Ayo, kita pamit dulu ke Ayah Idrus," ucap Alma.


__ADS_2