Almahyra

Almahyra
Bagian 28 (2)


__ADS_3

"Kamu tunggu di sini. Saya pinjamkan kepada Ummi," tulis Jafar.


Jafar telah keluar dari kamar.


A-apa?


Aku kenapa jadi nggak fokus gini, sih?


Tadi dia bilang apa? Pi-pinjam ke Ummi?


Ya Allah ... mau ditaruh di mana mukaku nanti?


Maluuu ...


Alma mencoba turun dari ranjang. Namun lagi-lagi naasnya gagal, bahkan betadine tadi menetes ke bawah dan merembes di kaus kakinya. Pintu kamar terbuka, Jafar telah kembali membawa apa yang dimaksudnya.


"Kamu beneran pinjam ke Ummi?"


Jafar mengangguk dan mengerakan bibirnya. "Pakai."


"Ka-kamu keluar, saya mau ganti di sini."


Jafar keluar. Dan Alma sesegera mungkin mengganti pakaiannya. Setelah usai Alma memandangi dirinya dari atas sampai bawah.


Jadi aku harus lepas kerudung juga dong? Te-terus kaus kaki ini ... gimana cara ngelepasnya?


Terdengar suara pintu diketuk.


"Sudah! Kamu boleh masuk lagi," teriak Alma.


Jafar masuk, melihat istrinya duduk menyamping di ranjang. Netra tajamnya melihat kaus kaki hitam yang masih terpasang rapi di kaki Alma---dengan perlahan Jafar berjongkok, membantu membuka satu persatu kaus kaki istrinya.


"Terima kasih, maaf saya merepotkan."


Alma membatalkan niat Jafar yang hendak kembali menuju meja kerja---yang mana di sana laptopnya masih terbuka.


"Sa-saya mau bicara sesuatu yang penting."


Jafar bergeming menatap Alma.


"Kamu duduk."


Jafar mengambil duduk di samping istrinya.


"Saya ... saya harus menjalankan operasi."

__ADS_1


Kening Jafar mengerut. Sungguh ia tidak tahu menahu apa yang dimaksudkan oleh Alma. Jafar berbalik, mengambil pena dan buku catatan yang tergeletak membelakangi duduknya.


"Kamu sakit?" tulis Jafar


"Bi-bisa dibilang ..."


"Operasi apa?" tulis Jafar.


"Perut saya itu ..."


Tangan Jafar spontan terangkat, menyentuh bagian tubuh di perut istrinya, dan sedetik itu pula Alma menepisnya karena benar-benar terkejut atas tindakan Jafar.


"Ma-maaf. Saya nggak bermaksud begitu."


"Ada benjolan apa di perutmu?" tulis Jafar dengan menatap Alma khawatir. "Tumor?"


"Bukan. I-ini hernia. Yang ada semenjak saya dilahirkan," ucap Alma.


Jafar berdiri, mengunci pintu supaya tidak ada orang yang tiba-tiba saja masuk. Kemudian ia kembali duduk di samping Alma dan menuliskan permintaan. "Saya mau lihat."


Alma menggeleng. "Kamu nggak perlu lihat. Saya cuma minta kamu izini saya untuk menjalankan operasi."


"Kamu tahu Alma, bahwa ri'da dari saya sangat kamu butuh dalam menjalankan operasi ini. Lantas kenapa kamu tidak mengizinkan saya sebagai suamimu untuk melihat?" tulis Jafar.


Jafar menarik lengan istrinya, supaya menghadap kepadanya. "Malu?"


Dengan sedikit menunduk Jafar kembali menulis. "Kenapa harus malu? Padahal setiap hal yang kamu tutupi selama ini, sangat berhak untuk saya lihat sekarang. Bahkan itu bisa menjadi pahala untukmu."


"Tapi Jaf---"


Ucapan Alma tertahan saat tangan Jafar hendak menyikap pakaian tidur selutut itu.


"Tu-tunggu dulu ..."


Jafar berhenti.


"Ka-kamu balik badan dulu. Sa-saya bakal lihatin ke kamu."


Sebagai seorang suami---Jafar menurut, berbalik badan. Sedangkan Alma menarik selimut, kemudian mengangkat pakaian sebatas perut sedikit ke atas lagi, lalu menarik selimut untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.


"Su-sudah."


Jafar berbalik, dan Alma menunduk dengan salah satu tangan yang meremas selimut kuat-kuat. Ia sungguh malu, tiada satu orang pun yang pernah melihatnya hampir tak berpakaian seperti ini.


Tangan Jafar terlihat mendekat, mungkin hendak menyentuh hernia yang sedikit kecoklatan, mengerut, bahkan sedikit menonjol.

__ADS_1


"Jangan disentuh," lirih Alma.


Ternyata tangan Jafar terangkat untuk kembali menutup pakaian Alma. Spontan itu membuatnya mendongak. "Su-sudah?"


Jafar mengangguk.


Dia melihatnya sesingkat itu?


Suaminya itu terlihat berdiri, bahkan terdengar menghela napas berkali-kali. Entahlah, Alma tidak tahu apa yang dipikirkan Jafar, entah merasa sial karena menikahi perempuan sepertinya, entah juga merasa kecewa karena ketidakjujurannya. Semua ini membuat Alma bingung.


"Saya nggak sesempurna itu dalam pandangan, Jafar ..."


"Kekurangan yang saya miliki ini tersembunyi. Bahkan seakan-akan bisa menipu siapa pun. Termasuk, kamu."


Jafar kembali duduk, tatapan keduanya beradu. Alma serasa sulit untuk bicara lagi, dan Jafar entah apa yang ingin dikatakannya.


"Ma-af saya bohongin kamu ..."


Sedetik Alma menunduk sedetik itu pula sebuah tangan besar menarik tubuh rampingnya dalam pelukan hangat---Jafar memeluknya. Bahkan Alma merasa pucuk kepalanya di kecup beberapa kali.


"Ka-kamu marah?"


Alma tidak merasa reaksi apa pun dari Jafar. Ia benar-benar bingung, ingin ia melepaskan pelukan dengan mendorong Jafar pelan. Namun gagal, Jafar kian erat memeluknya.


"Gimana saya bisa tahu? Kalau kamu nggak ngasih jawaban apa pun. Lepas, Jafar. Sa-saya mau kamu tulis apa pun, saya nggak mau dipeluk kayak gini. Sa-saya---"


Pelukan itu terlepas. Tangan kanan serta kiri Jafar berada di sisi kiri dan kanan pipi Alma, beberapa kali tangan besarnya menghapus air mata istrinya yang terus menetes.


"Saya sama sekali, nggak niat bohongin kamu."


"Sa-saya cuma belum siap---"


" ... sama pendapat kamu tentang keadaan saya ini."


"Sa---"


Pertemuan bibir yang cukup singkat mendarat lembut, hingga menghentikan pembicaraan yang Alma pemimpin ini. Seketika ia terdiam, netranya menatap Jafar yang baru saja mengecupnya, seolah-olah tak percaya, tangan kanan Alma terangkat menyentuh bibirnya.


"Ka-kamu ..."


Jafar menuntut Alma untuk tidur, dengan perlahan menarik selimut tadi yang menutupi paha istrinya. Setelah Alma berbaring, Jafar berdiri, mengambil laptop dan ikut bergabung di atas ranjang dengan bersandar---dan laptop berada di pangkuan.


Alma menyusul Jafar untuk duduk bersandar pula. Saat melihat suaminya itu terlihat mengetik---yang mana Alma yakini mungkin untuk dirinya.


"Maaf. Saya rasa itu satu-satunya cara, supaya kamu terdiam," tulis Jafar.

__ADS_1


__ADS_2