
Apa-apaan dia? Kenapa sedekat ini tiba-tiba? Saya hanya meminta dia mempraktekkan panggilan yang sopan, saya tidak meminta semacam pelukan hangat. Dia semakin dekat dan tersenyum manis, kamu terlihat mempesona, Alma. Tapi kenapa kamu harus sedekat ini?
Saya takut tidak bisa menahan diri.
"Mas Jafar ..."
Suara miliknya sangat lembut. Ternyata dia sengaja berbisik---saya tidak akan melepaskan kamu semudah itu Alma. Tangan kanan saya menahan pinggangnya, hingga ia memberontak dan terjatuh terlentang di ranjang dengan tawa yang tiada henti.
"Lepas, Mas! Kamu pegang pegang pinggang saya terus. Kamu tahu nggak? Saya geli!"
Geli?
Padahal saya sering menyentuh pinggangnya saat kita sedang berpelukan. Apakah dia lupa? Atau memang sedang berpura-pura? Saya ikut tertawa, bahkan menyusul untuk tidur terlentang di sampingnya.
"Muka kamu lucu tahu nggak?" ucapnya dengan tawa yang masih terdengar.
Tangan kanan saya terangkat dan mengubah posisi menyamping untuk memeluknya. Kerudung yang ia gunakan pun sudah tidak beraturan karena tawa serta candanya yang tak kunjung berhenti.
"Lepas."
Mimik wajahnya terlebih terkejut, dia juga gugup. "Ka-kamu suka banget peluk-peluk saya."
Jelas.
Bagian yang paling saya sukai adalah pelukanmu, Alma.
"Ja-jangan dekat-dekat, Ja--Mas!"
Bicaranya sedikit terbata-bata, saya memang suka memelukmu dan menyusup pada leher sampingmu, Alma. Kamu harum, dan saya suka. Bahkan dia masih salah ingin menyebut nama saya lagi tanpa kata 'Mas' di depannya.
Tawa dia kembali mengembang saat tiba-tiba saja mengambil posisi untuk menggelitik saya. Melihatnya seperti ini membuat saya bahagia, setidaknya, dia melupakan masalah Azizah. Bahkan juga melupakan kesedihan mengenai meninggalnya Bibi Maryam.
"Haaaah .... capek! Udah. Nanti kedengeran Mbok sama cucunya, Mas."
Kita kembali pada posisi duduk semula, saya mengetik sesuatu untuknya. "Memangnya kenapa? Tidak masalah sama sekali bagi saya. Lagi pula kita tidak melakukan apa-apa, Alma."
Netranya terlihat melebar. "Tidak masalah sama sekali bagi saya? Ya iya! Emang nggak masalah bagi kamu, Mas Ja ... far! Tapi masalah bagi saya. Udah, ah! Dengar nggak? Mau isya ini, sana kamu balik ke Masjid."
"Saya akan mengirim pesan pada Salwa untuk menjemput kamu," tulis saya.
Dia mengangguk. "Iya. Saya tunggu."
Setelahnya mengirim pesan singkat. Saya berjalan ke arah lemari mengambil amplop cokelat yang berisi beberapa lembar uang---lantas memberikannya kepada Alma.
"Ini apa?"
"Buka."
Saya mengerakkan bibir, tentu dia akan memahami.
"Uang? Se-sebanyak ini?"
Saya tersenyum dan duduk kembali di samping dengan mengetik di ponsel. "Untuk kamu."
"Bu-buat apa?"
"Nafkah dari saya. Maaf jika tidak seberapa," tulis saya.
Dia terlihat menggeleng kuat. "Apanya yang nggak seberapa? Bagi saya ini udah lebih dari cukup. Makasih ... Mas."
Getaran di ponsel membuat saya mengalihkan pandangan dari Alma. Lutfan? Kenapa dia terus menerus marah? Padahal tidak ada yang perlu dijelaskan secara detail mengenai Azizah.
__ADS_1
Lutfan
Selesai Jumat bersama aku mau bicara sama sampean.
^^^Iya.^^^
"Siapa yang ngirim pesan? Salwa?"
Saya menggeleng.
"Ya udah saya mau ganti baju dulu."
Getaran dari ponsel saya lagi-lagi terasa. Saya yakin Lutfan lagi! Sebentar. Nomor tidak kenal? Bukan Lutfan, bahkan mengirim pesan pun mengunakan nomor biasa, bukan di aplikasi pesan.
08571xxxxxxx
Assalamualaikum Gus Jafar.
Saya telah melakukan kesalahan besar, karena pernah mengucapkan penolakan kepada Gus. Sungguh Gus, saat itu saya hanya lah seorang gadis yang baru tumbuh dewasa. Apakah Gus tidak bisa memahami? Yang saya tahu saat itu hanya bersenang-senang.
Gus Jafar, tolong maafkan saya.
Penyakit Abi kian parah, beliau benar-benar ingin saya menikah dengan Gus. Apakah tidak ada belas kasih Gus kepada saya?
Saya berjanji, setelah menikah saya akan menjadi seorang istri yang baik untuk Gus. Saya akan mengabdikan hidup saya untuk Gus.
Tolong Gus. Nikahi saya. Tepati amanah itu.
- Azizah.
Ke-kenapa Azizah harus mengirim pesan seperti ini? Sangat tidak pantas. Bahkan dia tahu nomor ponsel saya? Dia benar-benar ... melewati batasannya.
"Mas Jafar ... Mas!"
"Kamu serius banget. Lihat apa emang?"
Saya menggeleng.
"Salwa belum datang, ya?"
Saya menggeleng.
"Udah azan juga ... Saya tunggu Salwa di ruang tamu aja. Kamu berangkat sana, takutnya kamu nanti telat," ucapnya.
...🌺...
Isya telah usai. Dan saya sedang duduk di salah satu kursi yang bersebelahan dengan Banyu dan beberapa santri lainnya. Lutfan tidak ikut, dia belum usai dengan pekerjaannya di outlet.
"Gus selamat atas pernikahan sampean," ucap Banyu.
Saya hanya tersenyum dan mengangguk. Dan kembali menatap ponsel saat melihat pesan masuk dari aplikasi yang mana itu---ternyata Lutfan.
Lutfan
Ada apa emang, Mas?
^^^Selesaikan urusanmu secepatnya.^^^
^^^Mas juga mau bicara sama kamu.^^^
"Assalamualaikum."
__ADS_1
Pandangan saya teralih menuju suara itu. Dimas. Dia datang bersalaman dengan beberapa orang termasuk saya.
"Gus Jafar," sapanya dan duduk di samping kiri saya.
Suatu kebetulan sekali. Saya juga ingin berbincang-bincang sebentar dengan dia. Tangan saya membuka aplikasi note di ponsel lantas mengetik sesuatu untuk Dimas.
"Dimas tolong saya minta, jangan memasuki dapur tiba-tiba seperti itu. Jika kamu haus, mintalah Mbok Isna untuk mengambilnya. Karena sekarang rumah itu bertambah satu penghuni lagi. Yaitu, istri saya. Tolong kamu memahami ini," tulis saya.
Dimas mengangguk bahkan sedikit menunduk beberapa kali. "Inggih, Gus. Saya juga minta maaf. Saya ndak tahu, kalau Gus sudah menikah. Saya juga ndak sengaja ngangetin Mbaknya. Saya minta maaf Gus."
Saya menggeleng dengan senyuman dan mengetik. "Jangan berlebihan seperti itu, Dimas. Saya hanya ingin kamu memahami situasi baru di rumah Ummi."
"Inggih, Gus."
Acara demi acara pun mulai, hingga sampai pada penghujung acara di tutup dengan do'a. Saya berdiri terlebih dahulu, sejenak membantu para santri untuk membersihkan sampah-sampah bekas minum dan makanan.
"Sudah, Gus. Sampean pulang aja. Separuhnya biar saya sama santri lainnya yang beresin."
Saya mengangguk dan berlalu pergi---bukannya tak sopan saya benar-benar ingin bertemu dengan Lutfan langsung---yang tadi katanya dia akan menunggu di depan rumah.
"Mas!"
Saya berjalan mendekatinya, membuka kunci pintu rumah, lantas masuk terlebih dahulu dan mengambil duduk di sofa abu-abu ruang tamu.
"Jadi ngapain si Azizah itu datang lagi Mas?"
Saya menghidupkan layar ponsel, membuka pesan biasa dan menunjukkan pesan dari Azizah kepada Lutfan. Beberapa detik membaca, saya melihat raut wajahnya berubah---dia terlihat kesal.
"Gila! Apa-apaan?!" Lutfan meletakkan ponsel dan menatap saya dengan tajam. "Sampean nggak bakalan ngabulin permintaan dia 'kan?"
"Kalau sampai Mas sampean nikahin dia. Mas bener-bener keterlaluan!" sambungnya.
Saya mengambil ponsel dan mengetik. "Saya tidak akan pernah sanggup membagi diri saya dengan wanita lain. Saya sudah memiliki Alma, Lutfan."
"Bagus kalau gitu. Seenggaknya Mas sadar, seenggaknya Mas nggak ke makan sama permintaan dia yang bawa-bawa amanah dari Paman."
Saya terdiam sejenak dan kembali mengetik. "Tapi Ustadz Hasan sepertinya benar-benar sakit, Lutfan."
"Kalau gitu tinggal kita jenguk. Sampean jenguk Ustadz Hasan bawa Alma. Biar beliau tahu kalau Mas ini bener-bener udah nikah."
Saya memang berencana seperti itu, Lutfan. Tapi sulit sekali rasanya untuk bertemu dengan beliau lagi---bertemu dengan Ustaz Hasan hanya akan mengingatkan saya kembali kepada Abi.
Saya hanya takut luluh. Dan melupakan ucapan yang telah saya janjikan kepada Alma dan Ummi untuk tidak menikahi Azizah.
"Sebenarnya aku mau tanya sama Mas."
Pandangan kami beradu. Apa yang ingin Lutfan tanya?
"Mas cinta nggak sama Alma?"
Saya menatapnya datar. Pertanyaanmu terlalu pribadi, Lutfan. Saya menghidupkan ponsel dan mengetik untuk menjawabnya. "Apa dasar dari pernikahan itu selalu cinta?"
"Tergantung. Tapi menurutku iya Mas."
Saya mengetik. "Cinta atau pun tidak saya kepada Alma itu adalah urusan saya, Lutfan. Kamu tidak perlu ikut campur terlalu dalam atas perasaan saya kepada dia."
Lutfan melambungkan tawanya.
"Apa susahnya jawab iya? Apa susahnya jawab enggak? Mas terlalu rumit."
Terdengar langkah berisik dan suara yang familiar dari Salwa. Alma datang. Sungguh beruntung percakapan saya dengan Lutfan telah usai.
__ADS_1
"Eh! Pada ngumpul! Assalamualaikum!" seru Salwa.