Almahyra

Almahyra
Bagian 26


__ADS_3

"Kamu ... sama Lutfan kapan menikah?"


Mardiyah spontan menatap Alma. Dan tepat saat itu juga keduanya telah berada di parkiran---Mardiyah menaiki motor dan berkata, "Laki-laki tengil kayak dia, mana bisa serius."


"Tapi kan ... kalian juga dijodohin. Dan kelihatannya Lutfan setuju," ucap Alma.


Mardiyah telah menghidupkan motor. "Kata Umma, secepatnya. Tinggal dia aja maunya kapan."


Mardiyah ... Mardiyah ... ternyata sedekat apa pun kita, bicaramu pun tetap singkat dan sedatar ini.


Gimana nanti kamu ngehadepin Lutfan yang secerewet itu, ya?


"Pegangan. Jatuh aku nggak tanggung jawab," ucap Mardiyah.


Diperjalanan menuju panti asuhan---Mardiyah memelankan motor, bahkan jalanan pun sepi. Alma tebak Mardiyah pasti ingin menikmati pemandangan persawahan dan beberapa rumah warga yang bak pedesaan ini.


"Gimana rasanya jadi istri?" tanya Mardiyah.


Alma menjawab, "Jadi istri Gus Jafar maksud kamu?"


Terlihat dari belakang Mardiyah menggeleng dan dengan sedikit meninggikan nada bicaranya, ia berkata, "Aku tanya rasanya jadi istri itu gimana? Sekalipun suamimu bukan Jafar aku tetap bakalan tanya."


"Enak," jawab Alma.


Kening Mardiyah mengerut, bahkan spontan saja terbatuk-batuk. "Apanya yang enak?" tanyanya.


"Kamu tanya rasanya 'kan?" Kali ini wajah Alma sedikit mendekat ke leher samping Mardiyah, dan kemudian dengan terkekeh pelan ia kembali berucap, "Ya udah, itu. Rasanya jadi istri ... itu enak."


"Iya, kah?" ucap Mardiyah.


Alma menjauhkan wajahnya, lantas menggeleng-geleng dengan tersenyum tipis mendengar ucapan Mardiyah.


"Ya enggaklah, Mar. Kamu ini juga aneh, aku aja barusan nikah satu hari. Kamu udah tanya ke aku gimana rasanya jadi istri? Harusnya, kamu tanya ke Umma Sarah, atau ke Ummi Salamah. Beliau pasti jawabnya bener. Nggak ngasal kayak aku gini," jelas Alma dengan sedikit keras.


"Padahal aku tanya serius," ucap Mardiyah.


Motor memasuki pelataran panti asuhan---ia tiba-tiba saja datang di sambut oleh Kirana dan juga Inayah. Yang mana Kirana terlihat kegirangan loncat-loncat bahkan menyapanya terus menerus.


"Kakak Alma!"


Alma turun di sambut langsung pelukan oleh Kirana. Sedangkan Inayah mendekat dan memilih salim---mencium punggung tangan Alma.


"Kakak kok nggak kelihatan dari kemarin. Kakak nginep di mana?" tanya Kirana.


"Kak Alma udah nikah. Kirana jangan manja-manja terus," sahut Mardiyah yang telah usai memarkir motor.


Bibir Kirana mengerucut. "Kirana nggak manja. Kak Mar sok tahu, ih! Lagian kalau Kirana manja juga ke Kak Alma bukan ke Kak Mardiyah."


"Terserah."


Mendengar jawaban Mardiyah yang pasrah Alma hanya bisa menggeleng. Tingkah Kirana ada-ada saja. "Yang di bilang sama Kak Mar bener," ucap Alma.


Netra Inayah terbelalak---ia terkejut. "Kak-kakak beneran u-udah menikah?"


Alma mengangguk.


"Wah! Iya?! Sama siapa Kakak menikahnya? Kok nggak ada acara? Terus-terus Kirana kok nggak---"


Mardiyah menyanggah, "Masuk dulu ke kamar. Nanti cerita lanjut sambil natah baju."


Kamar asrama Alma tidak terlalu rapi, ada satu set baju yang tergeletak di ranjang. Dan juga ada mukena Ummi Salamah dan miliknya. Kirana, Inayah serta Mardiyah duduk terpisah.

__ADS_1


"Ja-jadi Kakak nggak tinggal di sini lagi?" tanya Inayah.


Mungkin ... udah enggak.


"Kan Kak Mar udah bilang Inayah, Kak Alma udah nikah. Jadi Kak Alma bakalan tinggal sama suaminya," sahut Mardiyah.


Kirana tiba-tiba mendekati Alma yang sedang berdiri di depan lemari hendak memasukan bajunya. "Emangnya ... suami Kakak siapa? Orang mana juga? Kirana sama Inayah boleh ta---"


"Mas Jafar. Gus dari pesantren Al-Hikmah," sahut Mardiyah.


Netra Kirana melebar. "Gu-gus pesantren? Mas Jafar yang Kakaknya Bang Lutfan itu, ya Kak?"


Alma mengangguk dengan terkekeh pelan saat mendengar nama Lutfan dipanggil dengan kata Abang. "Bang? Abang Lutfan? Siapa yang nyuruh kamu manggil kayak gitu, Na?"


"Ba-bang Lutfannya sendiri, Kak," sahut Inayah.


Mardiyah seolah-olah tahu tingkah tidak berguna calon suaminya hanya sanggup memutar bola mata.


"Ehm ... Kak Alma," ucap Inayah lagi, dengan menunduk dalam dan malu-malu.


"Apa?"


Inayah mendongak---menatap Kirana sejenak dan berujar, "A-aku sama Kirana boleh ma-main ke sana 'kan?"


"Pesantren?"


Mardiyah menyahut, "Boleh. Asal ada orang dewasa yang nganterin kalian."


...🌺...


Alma tiada pernah berpikir tentang pernikahan. Bahkan untuk menjadi istri di umurnya yang sekarang---dua puluh dua tahun, takdir yang telah disiapkan oleh Sang Pencipta memanglah penuh kejutan dan menakjubkan.


Tidak ada penyesalan.


Ibu sambungnya.


"Hei, ngelamun!" tegur Mardiyah.


Netra Alma mengerjakan berkali-kali melihat Mardiyah yang berdiri di depannya telah berganti pakaian. Ia dan Mardiyah hendak kembali ke pesantren---urusannya telah usai, dan Mardiyah juga sudah bersih-bersih.


"Naik," ucap Mardiyah.


Motor melaju normal, meninggalkan panti asuhan. Di tengah perjalanan lagi-lagi Mardiyah memelankan kendaraan, di mana saat-saat sore seperti ini cahaya orange dari langit pasti nampak begitu indah.


"Pernah nggak sih Mar, kamu mikir ... kalau kamu yang sekarang adalah manusia yang hebat. Bahkan juga kuat?" Alma menghela napas, dengan tersenyum getir ia kembali berujar, "Aku suka mikir gitu ... Sebenarnya aku nggak mau ingat-ingat masa sedih, tapi kalau mau di ingat-ingat lagi, aku bisa bertahan sejauh ini aja udah hebat banget 'kan?"


Mardiyah mengangguk. "Dilahirkan di dunia ini nggak senikmat kelihatannya."


"Mar ... nggak ada yang menjanjikan kalau kita hidup di dunia ini cuma enaknya aja."


Lagi, Mardiyah mengangguk---terdengar ia tertawa hambar. "Maka lebih baik nggak lahir aja 'kan?"


Alma spontan menggeleng. "Kelahiran ini takdir, Mar. Nggak seharusnya kamu bilang gitu."


"Maaf," ucap Mardiyah singkat.


Aku nggak tahu sakitnya kamu gimana Mar, tapi ... kamu hebat.


Meskipun hidup kita pernah berada di titik paling rendah. Setidaknya kamu, aku dan manusia mana pun yang memiliki kesedihan yang sama, bisa bertahan sejauh ini.


"Seperti yang kamu bilang, nggak baik membandingkan kesedihan dan kesengsaraan hidup seseorang 'kan Mar?"

__ADS_1


Mardiyah mengangguk.


"Karena pada akhirnya, masing-masing cobaan yang kita lalui ini sama menyakitkannya," sambung Alma.


Motor memasuki pelataran pesantren---Mardiyah memilih langsung memarkirnya di depan garasi samping rumah Ummi Salamah. Dan tempat saat itu pula di susul mobil Toyota Avanza hitam masuk.


Lutfan turun dibersamai oleh Jafar, berjalan mendekati Alma dan Mardiyah. Seperti biasa---Lutfan si tengil tiada hari tanpa senyum-senyum tak jelas dengan menatap Alma.


"Assalamualaikum, Ukhti. Dan ..." Ucapan Lutfan terhenti, setelah melihat Mardiyah melenggang masuk terlebih dahulu.


"Waalaikumussalam."


"Ish, kebiasaan. Dasar cewek datar tanpa ekspresi!" oceh Lutfan.


Alma mendekati Jafar---dan mencium punggung tangan suaminya. "Maaf ... aku---"


Jafar menggeleng pelan dengan tersenyum ia mengusap pucuk kepala Alma. Dan menggerakkan bibirnya. "Nggak pa-pa."


Lutfan terus menerus mengoceh, entah mengeluh atas sifat Mardiyah, entah juga mengeluh tentang Alma dan Jafar---padahal Jafar tiada niat untuk memamerkan kemesraan.


"Ukhti, di mana si cewek dat---"


Alma menyanggah, "Mardiyah. Jangan panggil nama orang dengan sebutan kayak gitu, Lutfan!"


Di sofa ruang tamu hanya ada Alma, Jafar dan Lutfan. Mardiyah di dapur membuatkan bubur untuk Ummi Salamah---karena itu permintaan dari Umma Sarah, beliau tahu kalau Kakaknya menyukai bubur buatan Mardiyah.


"Ya-ya terserah," ucap Lutfan.


Alma berdecak dan menggeleng kepala tidak habis pikir. "Kamu aneh, Lutfan. Mardiyah itu calon istri yang di idam-idamkan laki-laki. Sifatnya kayak gitu pun karena kalian belum menikah, saya yakin kalau udah---"


"Nggak-nggak mungkin berubah, Ukhti," sanggah Lutfan.


Alma melihat Jafar tengah menuliskan sesuatu di buku catatannya. Setelah usai di menyobek, dan meletakkannya di meja menghadap Lutfan.


"Berhenti mengoceh, Lutfan. Lagi pula bukan menjadi masalah sifat dia seperti apa. Yang menjadi masalah adalah kamu terlalu sering mengolok-olok dia," tulis Jafar.


Lutfan menggeleng tak setuju. "Aku nggak ejek-ejek dia Mas! Emang faktanya dia datar, mana ngomongnya irit."


"Cukup, Lutfan," ucap Alma.


Jafar kembali menuliskan sesuatu di bukunya. Dan setelah itu merobek dan diletakkannya di meja, Jafar berdiri meninggalkan Lutfan dan berlalu ke kamar Ummi Salamah.


Alma terdiam di tempat menunggu-nunggu reaksi Lutfan dari tulisan yang dibacanya.


"Jangan pernah lupa, pernikahan ini adalah permintaan Abimu," tulis Jafar.


Lutfan menghela napas panjang---meremas selembar kertas yang diberikan Jafar tadi. Pandangannya menghindar ke arah samping dengan mimik wajah yang tidak lagi seceria tadi.


"Sebenarnya buat apa? Buat gue ngelakuin permintaan yang bahkan Abi sendiri pun nggak bisa lihat kebahagiaan gue nanti," ucap Lutfan lirih.


Di-dia ... sama seperti Jafar.


Dia trauma?


...•...


...•...


...•...


Note:

__ADS_1


Lutfan kalau bicara sama Jafar pasti pakai aku-Mas dan kalau bicara sama Alma, Mardiyah pakai lo-gue. Saya beritahu lagi biar nggak lupa.


__ADS_2