Almahyra

Almahyra
Bagian 53 (3)


__ADS_3

Subuh telah usai.


Alma dan Jafar bersiap untuk pulang. Sekarang berganti Salwa dan Umma Sarah yang akan menjaga Lutfan---mungkin Jafar juga, setelah pulang keliling outlet. Cak Yanto sudah datang dan mobil kembali melaju melewati bangunan-bangunan tinggi kota, yang masih remang menanti terbitnya sang mentari.


"Mas, kamu ke outlet?"


Jafar mengangguk.


"Saya ikut, ya?"


Jafar menggeleng.


"Kan cuma bentar. Saya nggak bakal capek kok."


Jafar mengeluarkan gawainya dan menggeser tubuh mendekati istrinya. "Hari ini saya juga akan menggantikan Lutfan untuk melihat dua outlet lagi yang mendekati kota ini. Kamu tentu tahu itu akan lama, Alma. Jadi tolong mengerti lah," tulisnya.


Alma menampakkan wajah sedihnya. "Ya ... nggak pa-pa 'kan? Sa-saya cuma ikut nemenin kamu lagi masa nggak boleh?"


"Bukan tidak boleh. Setelah operasi dan kamu sembuh, kamu boleh ikut saya. Setiap hari pun tidak masalah, Alma. Untuk hari ini jangan, kamu harus istirahat total," tulis Jafar---dengan mendekatkan gawainya pada Alma.


"Okay," pasrah Alma.


Operasi yang ia jalani bukan di Adiwangsa Hospital, tetapi di rumah sakit Angkatan Laut yang lebih dekat dari arah pulang ke pesantren. Alma jadi berpikir apakah nanti setelah operasinya benar-benar selesai ia bisa langsung pulang? Atau harus menginap? Ia sangat malas untuk di rumah sakit terlalu lama.


"Ingin makan bubur?" tulis Jafar.


Alma mengangguk.


"Kamu juga ... harus makan. Sarapan dulu." Pandangan Alma beralih menatap lurus pada Cak Yanto yang fokus menyetir. "Cak, Ummi udah pulang ke pesantren?"


"Sampun, Mbak. Sebelum nganter ke rumah sakit Cacak disuruh nganter dulu ke pesantren," jelas Cak Yanto.


Alma mengangguk dan mengalihkan pada suaminya. "Kira-kira kalau kamu nambah dua outlet pulang jam berapa, Mas?"


"Mungkin jam tujuh selesai. Kenapa?" tulis Jafar.


"Itu kamu langsung 'kan?"


Jafar menggeleng dan mengetik. "Saya ke Adiwangsa Hospital sebentar untuk mengantar makanan."


"Kamu beneran, ya? Cuma nganter makanan langsung pulang. Jangan lama-lama, tubuh kamu juga butuh istirahat yang cukup."


Jafar mengangguk.


"Apotek ada yang buka nggak Cak sepagi ini?" tanya Alma.


Cak Yanto menjawab, "Ada, Mbak. Apotek dua puluh empat jam deket outlet kedua."


"Tolong nanti mampir bentar, ya Cak?"


Cak Yanto mengangguk. "Siap, Mbak."


Detik Alma menyandarkan tubuhnya di kursi jok mobil tiba-tiba Jafar menunjukkan gawainya. "Kamu merasa tidak enak badan? Kenapa minta untuk berhenti di apotek?" tulis Jafar.

__ADS_1


"Saya mau beli vitamin buat kamu, Mas. Kesehatan kamu harus di jaga, biar tetap kuat dan bisa bantuin Lutfan." Tangan Alma menyentuh paha kiri Jafar dengan sedikit mendekat ia kembali berujar, "Jangan sakit, jangan capek-capek. Saya ... saya khawatir sama kamu."


"Saya nggak mau kamu membebankan semua masalah ini di diri kamu sendiri," imbuh Alma.


Sekitar pukul setengah lima pagi mobil daihatsu hitam yang ditunggangi mereka berhenti di Apotek yang jaraknya memang dekat dengan outlet---hanya dua bangunan.


"Kamu ikut turun?"


Jafar mengangguk dan menggandeng tangan Alma untuk turun. "Saya juga mau beliin inhaler sama kayu putih habis kayaknya di rumah," ucap Alma.


"Vitaminnya dua. Kamu juga harus minum, jangan hanya menyuruh saya saja untuk menjaga kesehatan. Kamu juga harus menjaga kesehatanmu," tulis Jafar digawainya.


"Iya Mas iya."


Sesaat keluar dari pintu apotek netra Alma menangkap tukang bubur yang berhenti di seberang. "Mas, itu bubur ayam kayaknya!" ucapnya.


Jafar mengangguk.


"Saya aja yang beli. Tapi tolong coba kamu tanya Cak Yanto dulu, Mas. Beliau mau nggak? Sekalian beliin buat Icha, pasti anak itu suka."


Jafar menurut menghampiri Cak Yanto. Dan beberapa detik kemudian kembali dengan kabar bahwa Cak Yanto meminta satu saja untuk Icha, anak beliau. Setelah mendengar itu Alma menyeberang jalan membeli empat bungkus bubur.


"Udah, Mas. Empat bungkus," ucap Alma seusai menyeberang kembali dan memasuki mobil.


Alma menyerahkan satu bubur di depan. "Ini Cak, buat Icha."


"Makasih nggih Mas Mbak," ucap Cak Yanto.


"Sami-sami, Cak."


Sarapan bersama telah usai.


Pukul tujuh pagi Alma beristirahat di kamar, ia telah mengganti pakaiannya dengan lingerie dan merebahkan diri di ranjang. Netranya menatap ambang pintu kamar mandi, menunggui suaminya untuk keluar.


"Mas ... kamu istirahat sebentar, ya? Tidur," ucap Alma saat melihat Jafar mendekat ke meja rias.


Dari belakang Alma melihat Jafar menggeleng.


"Kenapa?" Alma mengambil posisi duduk. "Kamu barusan pulang dan tidur di rumah sakit semalam nggak terlalu nyaman. Jadi kenapa kamu nggak mau tidur sebentar aja? Baru berangkat ke outlet."


Jafar mendekati Alma dengan membawa pena dan buku catatan. "Jam sembilan saya harus langsung ke outlet," tulis Jafar.


"Ya terus? Kan jam sembilan. Sekarang masih jam tujuh, masih ada waktu kamu buat tidur."


Jafar menggeleng lagi, ia menengadah menatapi atap dinding kamarnya.


"Kamu keras kepala, Mas." Alma menarik lengan Jafar pelan, supaya suaminya itu berbalik dan menatapnya. "Saya tahu tanggung jawab kamu bertambah, karena kecelakaan ini. Tapi kamu seakan-akan abai dengan dirimu sendiri."


"Kemarin kita pulang dari outlet langsung ke rumah sakit, kita bahkan menginap di sana, Mas." Alma menghela napas pelan. "Apa itu nggak cukup untuk membuat kamu merasa bahwa kamu masih sangat-sangat berguna untuk Lutfan?"


"Kalian keluarga, Mas. Untuk saling ada dan saling menyayangi nggak harus dengan mengorbankan diri sendiri."


Alma menggeleng kuat. "Bukan. Bukan nggak boleh mengorbankan. Kamu cuma nggak boleh lalai sama diri kamu sendiri."

__ADS_1


"Ngerti nggak sih Mas kamu? Kalau pun Lutfan bangun dan tahu kamu ngefrosir diri kamu sendiri kayak gini, dia bakal marah, dia bakal ngomelin kamu habis-habisan sampe telinga kamu panas."


Netra Alma tiba-tiba saja berkaca-kaca. "Itu karena apa? Itu karena Lutfan sayang sama kamu Mas."


"Saya paham betul. Dulu Lutfan pernah berada di posisi kamu, dan saat kamu terbaring lemah di rumah sakit. Lutfan pasti bekerja keras juga, tapi tolong ... kamu tahu waktu, kalau waktunya istirahat tolong kamu istirahat."


Jafar memandangi Alma dengan sendu, tangan kanannya terangkat untuk menyelipkan anak rambut di sisi kiri telinga istrinya.


"Kamu ngerti kan, Mas?"


Jafar mengangguk.


"Nggak susah kan, saya minta kamu istirahat sebentar aja?"


Jafar menggeleng---dengan perlahan ia mencondongkan tubuhnya mendekati Alma, ia mengecup singkat kening dan menarik istrinya dalam satu tarikan hingga dekapan hangat menyelimuti kedua insan itu.


"Saya khawatir sama kamu Mas ..."


Jafar mengangguk dan sesekali ia mengecupi pucuk kepala Alma yang tanpa kerudung. Bahkan surai hitam panjang istrinya diusap-usap perlahan, dan tiba-tiba Jafar merebah diri bersama Alma dengan posisi masih saling mendekap.


"Tidur, Mas."


Jafar mengangguk.


"Lepas pelukannya dulu, biar kamu tidurnya nyaman."


Jafar menggeleng.


"Nanti tangan kamu kesemutan, ini ke tidih sama kepala saya."


Jafar menggeleng lagi.


"Dasar ... kamu ini keras kepala. Le ..." Alma mendorong Jafar sekuat tenaga supaya pelukan mereka terselesaikan. " ... pas. Mas ... lepas dulu, Ya Allah!"


Pelukan terlepas.


Jafar menatap Alma dengan wajah datarnya, ia nampak kesal istrinya enggan tidur dengan berpelukan. Jafar menggerakan bibirnya. "Kenapa?"


"Kenapa? Kamu masih tanya kenapa?" Alma bergeser mundur menyentuh lengan Jafar tadi yang tertumpu. "Ini tangan kamu. Nanti bisa kesemutan. Sakit juga nanti."


"Kalau emang kamu mau tidurnya hadap-hadapan gini, sambil pelukan." Tangan kanan Jafar, Alma angkat untuk memeluk pinggangnya. "Gini. Kurang puas?"


"Ini udah lebih dari cukup buat kamu ngerasa meluk saya dan ..." Tangan Alma juga ikut memeluk pinggang Jafar. "Saya meluk kamu."


"Jadi ayo tidur. Tutup mata kamu, Mas."



Note:



Boleh lah masukan dulu di favorit kisah Lutfan dan Mardiyah. Saya Insya Allah update Beda Tiga Tahun (sudah ada dua episode) bergantian sama WIYATI (jangan lupa mampir) dan tetap fokus utama saya Almahyra, tapi pasti saya usahakan untuk update kok.

__ADS_1


Terima kasih telah menjadi pembaca setia, dan menyukai karya saya. Saya juga memohon maaf atas kurangnya dalam karya saya, saran dari kalian semua sangat berarti.


Sekali lagi, terima kasih 🤍


__ADS_2