
Beberapa Minggu kemudian. Jafar memutuskan untuk mendatangi kediaman Ustadz Hasan dan Bibi Hasna. Istrinya bilang bahwa Azizah hamil tanpa pernikahan. Bahkan harus di usir dari rumah.
Niat hati pula ia ingin mengajak Dilara. Namun terurung saat anaknya lebih memilih ikut bersama Ummi Salamah. Dilara bilang, rindu dengan sang Nenek. Jadi, Jafar dan Alma membiarkan saja.
Tetapi sebelum itu ia menghampiri alamat tempat tinggal Azizah sekarang. Untuk meminta perempuan itu pergi bersama dirinya dan Alma. Karena Ibu mana yang tidak merindukan anaknya? Ia yakin Bibi Hasna merindukan putri semata wayangnya itu.
Setelah sampai di depan gang, Jafar meminta supaya istrinya sendiri yang turun, dan ia menunggu di mobil saja.
"Insya Allah, saya bakal bujuk Azizah, Mas," ujar Alma.
"Mbak Alma setuju?"
Alma terdiam sejenak. "Saya nggak bisa jawab, Azizah. Tapi hari ini saya mau ajak kamu ke rumah Ustaz Hasan."
"Mbak nyuruh saya pulang?" Azizah menggeleng. "Saya nggak mau, Mbak. Apa Mbak ini nggak sadar kalau kehamilan saya yang nyebabin Abi meninggal? Ummi benci sama saya, Mbak. Ummi nyesel pernah lahirin saya. Anak seperti saya ini bener-bener nggak tahu diri. Saya nggak bisa jaga harga diri saya sebagai perempuan. Saya ini malu-maluin Abi sama Ummi. Beliau pemuka agama tapi beliau ... ha-rus punya anak seperti saya, Mbak."
Alma terdiam.
"Saya harus lahirin anak ini, kan, Mbak? Saya nggak mau berdosa lagi. Tapi ..." Azizah mencengkram gamis yabg yang digunakan erat-erat. "Saya nggak mau ngurus anak ini. Kalau Mbak juga nggak mau. Saya bakal tinggalin anak ini di rumah sakit. Saya nggak pernah mau punya anak dari laki-laki bajingan itu!"
"Azizah ... apa kamu ... diperkosa?" tanya Alma.
__ADS_1
Azizah terdiam. Namun detik demi detik berlalu, isak tangis Azizah semakin terdengar jelas.
Jadi, kamu melakukan itu dengan suka rela? batin Alma bertanya dengan memandangi perempuan yang satu tahun lebih muda darinya.
"Tolong ... jangan tanya lagi, Mbak," jawab Azizah.
Alma menghela napas pelan. Bagaimana bisa orang-orang yang melakukannya tanpa ikatan semudah itu mendapatkan seorang anak? Sedangkan suami istri yang berusaha bertahun-tahun, memiliki hubungan yang baik dan pasti, harus mendapatkan cobaan dari kehamilan yang tidak kunjung datang. Jika di lihat dari satu sisi memang terkesan tidak adil. Namun Alma tahu maksud dari semua yang Allah takdirkan ini.
"Kamu benar-benar nggak mau ikut?" tanya Alma.
Azizah menggeleng.
"Kalau begitu. Jaga anak di kandunganmu itu, jangan menyakiti dia, Azizah. Saya permisi," sambung Alma dan berlalu pergi.
Mendengar ucapan Alma dapat Jafar simpulkan bahwa Azizah benar-benar enggan untuk kembali ke rumah kedua orang tuanya.
Sebelum menghidupkan mesin mobil. Jafar terdiam menatap lurus. Azizah adalah putri seorang pemuka agama. Sebagai laki-laki Jafar menilai Azizah adalah perempuan yang baik, cantik, dan anggun, dia memiliki banyak prestasi dan bahkan bisa menafkahi diri sendiri. Namun mengapa takdir kehidupan gadis seperti Azizah harus berakhir seperti ini?
Menyedihkan.
Menyakitkan.
__ADS_1
Bahkan ... harus ada seorang anak yang lahir tanpa adanya cinta kedua orang tua.
"Mas ... " Alma menatapinya. "Saya mau urus anak Azizah. Saya mau resign jadi manager di Kedai Bersama. Saya bakal bilang ke Paman Idrus."
Jafar mengambil gawai dan mengetik. "Jangan melepaskan amanah yang sudah kamu setujui."
"Saya bakal tetap bantu, Mas. Tapi sebagai owner. Saya nggak bakal sering-sering ke sana. Saya mau mengurus Dilara dan anak Azizah," jelas Alma.
"Anak Azizah lebih baik kita berikan ke panti asuhan Bibi Sarah saja," tulis Jafar.
Alma menggeleng. "Mas tolong ... kamu benar-benar nggak mau izinin saya buat urus anak Azizah? Apa karena Azizah perempuan yang pernah dijodohin sama kamu? Atau kamu masih ragu sama diri kamu sendiri?"
"Bukan seperti itu, Alma," tulis Jafar.
Alma melihat Jafar menulis lagi. "Terus maksud Mas apa?"
"Kamu bilang anak Azizah adalah laki-laki. Sedangkan kamu tahu bahwa Dilara perempuan. Saya hanya takut batasan itu akan membuat anak Azizah kelak merasa tidak di anggap, dan tentunya dia akan tahu bahwa kita bukan lah orang tuanya," jelas Jafar dalam tulisan.
Alma terlihat diam sejenak. "Saya tahu Mas mengenai itu. Nantinya saat mereka sudah akil baliq. Saya bakal beritahu Dilara bahwa anak Azizah bukan adiknya. Kita bisa memisahkan kamar tidur mereka. Bahkan mengawasi mereka dari cctv."
"Baiklah," putus Jafar dengan mengetik di gawai.
"Kamu izinin saya, Mas?"
__ADS_1
Jafar mengangguk. Lagi pula keduanya masih kecil hal-hal seperti ini akan ia pikirkan lagi dengan Alma jika kedua anak itu telah tumbuh remaja.
Saya harus segera ke rumah Ustaz Hasan, batin Jafar yang menghidupkan mesin mobilnya.