
Jadi sendari awal, sebenarnya kamu belum siap 'kan? Untuk bertemu dengan wanita itu, apalagi dengan Ayah dari wanita itu?
Alma menatap Jafar dari pantulan spion mobil depan---karena duduknya yang berdampingan dengan Mardiyah, membuat ia sulit untuk sekadar berbicara saja dengan Jafar.
"Mau makan dulu nggak?" tawar Lutfan.
"Nggak usah, Lutfan. Tadi saya sama Mas Jafar udah sarapan," jawab Alma.
Perjalanan sekitar tiga puluh menit lebih memberhentikan mobil daihatsu hitam di depan rumah megah yang bernuansa putih dan emas. Di depan pagar terlihat Lutfan sedang berbincang-bincang sejenak dengan penjaga rumah, dan setelah itu pagar terbuka lebar.
Penyambutan yang baik. Karena sepertinya penjaga itu mengenal Lutfan dan juga Jafar.
"Ayo, turun."
Untuk bertemu dengan Ustaz Hasan sebenernya pun Alma juga membutuhkan kesiapan. Langkah kecilnya turun dari mobil, tangannya disambut oleh Jafar---yang mana langsung menggandengnya memasuki kediaman mewah ini.
"Waalaikumussalam. Gu-gus Ja ... far?"
Yang membuka pintu bukanlah pelayan. Melainkan Azizah sendiri yang berdiri mematung memandangi Jafar. Sedangkan Alma memilih memecahkan lamunan wanita itu dengan berujar, "Azizah, kami ingin menjenguk Ustadz Hasan. Apa kami di izinkan masuk?"
Azizah tersadar. "Si-silakan."
Jafar, Alma, Lutfan dan Mardiyah memasuki kediaman Ustadz Hasan---tepat saat itu pula Bibi Hasna, Ibu dari Azizah datang menyambut kedatangan mereka.
"Nak Jafar sama Nak Lutfan, kok ke sini nggak bilang-bilang?"
Lutfan tersenyum. "Bibi ... kami ke sini ingin menjenguk Ustadz Hasan."
"Ayo duduk dulu semua."
Bibi Hasna menatapinya dengan aneh. Bagaimana tidak? Ia dan Jafar duduk berdampingan, sedangkan Lutfan mengambil duduk di samping Jafar, Mardiyah di sampingnya.
"Ini ... Mbak-mbaknya ini siapa kalian?"
Lutfan menjawab, "Yang duduk di pojok sendiri, calon istri saya Bibi. Mardiyah. Dan yang duduk di sebelah Mas Jafar itu---"
"Umma, Azizah langsung panggilkan Abi saja, ya?" sanggah Azizah tiba-tiba.
Apa-apaan wanita ini.
Memotong pembicaraan orang tiba-tiba.
Bibi Hasna berdiri. "Kamu buatin minuman aja, biar Umma yang panggil Abi kamu."
Minuman lebih dahulu datang dibandingkan Ustaz Hasan dan Bibi Hasna. Azizah sedikit menunduk---meletakkan empat teh serta camilan di meja. Sedetik kemudian terlihat Ustaz Hasan datang dan mengambil duduk berseberangan.
"Na-nak Jafar. Kamu ... apa kabar, Nak?"
Jafar tersenyum dan Lutfan menjawab, "Mas Jafar baik-baik saja, Ustadz. Bagaimana keadaan Ustadz? Apakah membaik?"
"Alhamdulillah, Nak Lutfan. Saya sudah sedikit membaik dari pada kemarin." Pandangan Ustaz Hasan beralih kepada Alma dan Mardiyah. "Dua wanita ini siapa?"
"Ini Mardiyah calon istri saya dan Alma ca---"
Lagi-lagi Azizah menyanggah, "Maaf, Abi. Azizah potong pembicaraannya. Bagaimana kalau Mbak Mardiyah sama Mbak Alma ... kita bicara di ruang tengah?"
Kening Alma mengerut. Sedangkan Mardiyah menatap datar Azizah, seolah-olah tahu apa yang di inginkan wanita ini.
"Untuk apa?" Alma mendongak menatap Azizah yang masih berdiri dengan tatapan yang mengintimidasi, kemudian beralih pada Ustaz Hasan dengan senyuman dan tatapan teduh. "Saya kemari ingin menjenguk Ustadz Hasan, selaku sahabat dari Ayah mertua saya."
"A-ayah mertua?" ucap Bibi Hasan yang terlihat bingung.
__ADS_1
Alma mengangguk. "Iya. Saya dan Mas Jafar berniat berkunjung untuk melihat Ustadz Hasan dan memberi kabar baik atas perni---"
"Mbak ... tolong berhenti," sanggah Azizah.
Mardiyah yang semula diam tiba-tiba saja menyahut, "Kabar baik, harus sesegera mungkin di umumkan. Ustadz Hasan, saya dan cucu kedua Kiai Bashir akan menikah. Dan ..."
Pandangan Mardiyah beralih pada Alma dan Jafar. "Dan kami juga datang untuk memberi kabar baik atas pernikahan Gus Jafar dengan istrinya."
"Pernikahan Nak Jafar? Dengan Azi---"
Alma menyahut, "Dengan saya. Alma. Istri Mas Jafar."
Ustaz Hasan dan Bibi Hasna nampak terkejut. Bahkan beberapa kali Ustaz Hasan menggeleng dan menghela napas seolah tak percaya, sedangkan Bibi Hasna menatap Azizah seakan-akan bertanya, apakah ini benar? Karena baru saja dalam waktu dekat ini Bibi Isti dan putri beliau berkunjung, lantas kenapa bisa tiba-tiba saja Jafar sudah menikah?
"Nak Jafar, Nak Lutfan. Apa maksud semua ini?"
Lutfan hendak menjawab. Namun saat netranya bertemu tatapan dengan Alma, ia urungkan sudah, karena ia telah pastikan Alma akan menjelaskan lebih detail dan sejelas-jelasnya.
"Pernikahan saya dan Mas Jafar dilaksanakan pada hari Rabu, di kediaman Paman dan Bibi saya. Pernikahan yang mana telah ditentukan oleh Ummi Salamah, saya langsungkan lebih cepat dari permintaan awal."
Kening Bibi Hasna mengerut. "Pernikahan? Permintaan awal? Maksud kamu apa, Nak? Jafar akan menikah dengan anak saya."
Alma tersenyum tipis dan kembali berkata, "Bi-bi Hasna? Saya boleh memanggil anda seperti itu 'kan?"
Pandangan Alma beralih sejenak kepada Azizah dan menatap Bibi Hasna serta Ustaz Hasan kembali. "Ummi Salamah bilang, Azizah meminta waktu lebih dari dua tahun lamanya. Apa Bibi Hasna tahu?"
"Iya. Azizah bilang, Ummi Salamah bersedia menunggu waktu selama itu."
Jadi ... dia membohongi Ibunya?
Ummi nggak bilang kalau beliau setuju menunggu selama dua tahun lamanya.
Alma menatap lurus pada netra Bibi Hasna, seakan-akan meminta beliau hanya memandanginya saja. "Apa waktu dua tahun itu wajar? Untuk di minta kepada laki-laki yang sudah siap untuk menikah, Bi?"
Bibi Hasna menggeleng tak setuju.
"Apa maksud kamu, Nak? Jadi kamu bener-bener sudah menikah dengan Nak Jafar?" sahut Ustaz Hasan.
Alma hanya mengangguk.
"Penolakan apa maksud kamu, Nak Alma? Azizah tidak pernah menolak Nak Jafar sama sekali. Bahkan kamu tahu, Nak? Pernikahan itu adalah amanah dari Abi Nak Jafar sendiri. Lalu kenapa tiba-tiba saja ingkar seperti ini?" ucap Bibi Hasna.
Jeda tiga detik Alma terdiam. "Siapa yang ingkar, Bibi Hasna?"
"Sekarang jika boleh saya bertanya mewakili suami dan juga mertua saya. Atas alasan apa anak Bibi meminta waktu dua tahun lamanya untuk menunda pernikahan ini?"
Bibi Hasna mendongak---menatap Azizah dan berkata, "Jawab, Nak. Beritahu dia alasan kamu meminta waktu selama itu."
"Sa-saya sudah bilang ke Ummi Salamah kalau saya ingin melanjutkan pendidikan saya," jawab Azizah.
Pandangan Bibi Hasna kembali kepada Alma. "Kamu dengarkan, Nak Alma? Alasan yang diberikan anak saya."
Alma menghela napas pelan. "Pendidikan bagi sebagian orang memang lah sangat penting, Bi. Tapi kenapa harus menunda selama dua tahun lamanya? ... Mas Jafar bukan lah orang yang suka melarang larang istrinya untuk melakukan ini dan itu selama kegiatannya merujuk pada hal-hal positif."
"Ta-tapi saya butuh fokus untuk kuliah tanpa gangguan apapun," sahut Azizah.
Mardiyah yang semula diam tiba-tiba menyahut, "Gangguan apapun? Semacam merawat suami?"
"I-iya. Saya butuh fokus kuliah. Sa-saya nggak mau kalau kehidupan berumah tangga mengganggu kuliah saya," imbuh Azizah, lagi.
Alma mengangguk kecil. "Saya memahami Azizah bahwa pendidikan sangat lah penting bagi kehidupanmu. Begitu pula dengan pernikahan kalian saat itu, yang mana dulu adalah harapan yang sangat penting untuk Ummi Salamah juga."
__ADS_1
"Jadi sudah jelas, di sini yang ingkar adalah keluarga Ummi Salamah. Kenapa tiba-tiba menikahkan Nak Jafar tanpa memberitahu kami terlebih dahulu?" ucap Bibi Hasna.
Alma terdiam. Lutfan yang melihatnya pun menjawab, "Keluarga kami tidak pernah ingkar, Bibi. Apa perlu saya jelaskan, Bi?"
"Permintaan Azizah itu terlalu tiba-tiba, yang mana itu tiga hari setelah kecelakaan maut yang menimpa Abi, Paman, dan Mas Jafar. Tepat saat itu juga, Azizah tahu keadaan Mas Jafar yang tidak bisa berbicara akibat dari kecelakaan," lanjut Lutfan.
Bibi Hasna menatap Lutfan dengan datar. "Lalu maksud Nak Lutfan, anak saya menolak Nak Jafar karena alasan Nak Jafar nggak bisa berbicara?"
Lutfan mengangguk.
"Azizah ... Nak, apa itu benar?" tanya Ustaz Hasan.
Bibi Hasna terlihat menggeleng. "Nggak mungkin. Kamu nggak mungkin gitu 'kan Nak?"
"A-azizah sudah bilang Ummi, Azizah mau melanjutkan pendidikan," ujar Azizah, lagi.
Lutfan mengalihkan pandangannya kepada Azizah. Lantas ia berujar, "Mas Jafar bukan tipikal orang yang suka melarang-larang Azizah. Jika kamu ingin melanjutkan pendidikan pun, silakan. Mas Jafar sama sekali tidak keberatan."
Gawai di tangan Alma tiba-tiba saja bergetar. Pesan masuk dari Jafar---suaminya itu enggan memberikan langsung catatan, tetapi memilih mengirimkan.
Mas Jafar
Tolong hentikan Lutfan untuk berbicara, Alma.
"Lutfan, cukup," tegur Alma.
Azizah menatap khawatir kepada Ustaz Hasan dan Bibi Hasna seolah-olah ada sesuatu yang disembunyikannya.
"Bukankah sejak kamu tahu keadaan Mas Jafar, kamu menolaknya?" lanjut Lutfan.
"Lutfan, berhenti," tegur Alma, lagi.
Alma tahu kedatangan Lutfan ialah untuk meluruskan semuanya. Tetapi ia tidak ingin Lutfan lepas kendali apalagi sampai menyudutkan Azizah, hingga membuat Ustaz Hasan merasa khawatir. Sungguh ia memahami penolakan itu berawal dari Azizah, Jafar tidak tahu apa-apa. Dan Ummi Salamah hanya sanggup pasrah menunggu dua tahun lamanya---yang mana dipertengahan tahun beliau mulai sadar, bahwa sebenarnya itu adalah penolakan secara tak langsung.
"Ustadz Hasan ... Bibi Hasna, saya adalah orang baru yang memasuki kehidupan Mas Jafar. Saya tahu rasanya tak pantas untuk ikut mencampuri masalah mengenai amanah pernikahan ini. Tapi tolong Bibi Hasna ... jangan pernah menyalahkan Ummi atau pun Mas Jafar, karena pernikahan ini terjadi pun juga dari pihak saya sendiri."
Lima detik terjeda, pandangan Alma beralih pada Azizah, dan kembali berujar, "Azizah, apa penyelesaian dari masalah ini adalah menikahi Mas Jafar?"
Tatapan Alma beralih lagi kepada Ustaz Hasan. "Apakah ... Ustadz Hasan, tetap ingin melihat Azizah menikah dengan Mas Jafar?"
" ... Azizah bilang, permintaan Ustadz adalah ingin melihat Azizah menikah dengan Mas Jafar. Itu benar 'kan, Ustadz?" sambung Alma.
Ustadz Hasan tersenyum tipis dan menghela napas berkali-kali. Kemudian beliau menyentuh dan menggenggam tangan Azizah, hingga Azizah duduk berjongkok menatapi beliau.
"Azizah ... tidak harus seperti ini 'kan, Nak? Abi tahu kamu sudah berusaha sebisamu. Maafin Abi. Abi terlalu memaksa kamu," ucap Ustaz Hasan.
Pandangan beliau beralih menatap Alma. Dan Ustaz Hasan berujar,"Nak Alma, apa pantas saya sebagai manusia memisahkan kedua orang yang seharusnya bersatu sama lainnya?"
Alma terdiam.
"Seperti halnya perasaan mendalam yang saya miliki untuk istri saya. Hasna. Pasti Nak Jafar tidak akan pernah sanggup membagi cinta kasihnya untuk wanita lain ... Selain kamu, Nak. Istrinya," sambung Ustaz Hasan.
Bibi Hasna tersenyum tipis.
"Ja ... di Ustadz---"
"Pernikahan kalian saat ini, pasti juga menjadi bahagia untuk sahabat saya. Abimu, pasti bahagia, Nak Jafar, bisa melihatmu hidup dengan wanita yang sangat memahamimu lebih dari siapapun," sanggah Ustaz Hasan.
Jafar tersenyum tipis mengeluarkan pena serta buku catatan di saku kirinya. Kemudian menuliskan sesuatu untuk dibaca oleh Ustaz Hasan, Bibi Hasna, dan Azizah.
"Terima kasih telah memahami istri saya."
__ADS_1
Terdapat jeda di sana. Jafar menulis lagi dibawahnya. "Dan untukmu Azizah. Saya percaya bahwa akan segera ada laki-laki baik yang menjadikanmu istrinya."