Almahyra

Almahyra
Season 2 Bagian 4 : Sama.


__ADS_3


Bakda subuh dirinya bersiap-siap. Tetapi sebelum itu, ia membangunkan Dilara selanjutnya membangunkan Alma yang sudah pasti kelelahan, karena aktivitas semalam.


Saat hendak menyentuh tubuh istrinya. Jafar terdiam sejenak. Dia selalu cantik, batinnya dengan tangan yang mengusap-usap dahi Alma, dan di detik tanpa sadar, Alma menyentuh pergelangan tangannya. Lantas ditarik tangannya di kecup-kecup singkat di punggung tangan.


"Kamu bangun dari tadi?" tanya Alma dengan suara serak.


Jafar mengangguk, tangannya masih dalam genggaman Alma.


"Dilara udah bangun?"


Jafar mengangguk, lagi.


Alma melepaskan tangannya. Kemudian di tatapnya setiap pergerakan sang istri, yang turun dari ranjang, membuka lemari mengambil gamis, dan memasuki kamar mandi. Ia tidak ingin keluar, memilih menunggu sampai sang istri selesai.


Clek.


Pintu kamar mandi terbuka, Alma keluar dengan surai panjang yang masih basah, dan pandangannya saling tertaut dengan sang istri.


"Mas, nunggu saya?"


Jafar mengangguk.


"Saya mau sholat dulu, Mas."


Jafar mengangkat buku catatannya yang telah ia tulis tadi. "Setelah selesai. Kamu keluar kamar, ya?"


"Iya, Mas."



Alma keluar dengan mengunakan gamis hitam serta kerudung mocca yang langsung mengambil duduk tepat di kursi sampingnya. Dilara terlihat menatapi sang Ibu. Sedangkan Umminya, Ummi Salamah telah pergi ke panti asuhan lagi, seperti biasa, untuk bertemu Mardiyah. Entahlah ia tidak tahu akhir-akhir ini istri Lutfan itu mengidamkan semua hal yang berkaitan dengan Umminya.


"Mama antik."


"Hm?" Alma mengusap lembut kepala anaknya. "Coba ulangi bicara apa tadi?"


"Mama antik."


Seulas senyum tipis Alma tunjukkan. "Dilara juga cantik." Alma terlihat mengalihkan pandangan pada Jafar. "Iya nggak, Yah?"


Jafar yang mendengar itu mengangguk.


Sekilas Alma melihat Dilara yang sibuk melahap makanannya. Kini mendekat pada telinga Jafar dan berbisik. "Kamu yang masak, Mas?"


Jafar menatap dan menggerakkan bibir. "Iya."

__ADS_1


"Wah! Ayah hebat. Ayah yang masak lho Dilara! Ayo bilang apa ke Ayah?"


Mata bulat Dilara menatap Jafar bingung. Lantas berganti menatap Alma lagi. Kata apa yang harus ia ucapakan? Saat di masakan oleh Ayahnya? Netranya tiba-tiba membinar, saat melihat bibir Ibunya yang bergumam. "Telima kasih Ayah!" ujarnya.


"Sama-sama."


Gerakan bibirnya terbaca oleh Dilara dan juga Alma. Terlihat sang putri kecilnya tertawa manis.


"Mama Mama. Dilala mau main sama Kak Kilana sama Kak Nay boleh?"


Alma mengangguk. "Boleh, Sayang. Nanti nunggu di jemput, ya? Sekarang ayo kita coba makan, habisin semua masakan Ayah. Biar Ayah seneng!"


Jafar menatapi anak dan istrinya yang melahap makanan. Pemandangan ini adalah yang setiap hari di lihatnya, ia masih tidak menyangka bahwa Dilara adalah buah hatinya bersama Alma. Waktu berlalu cepat sekali, tanpa terasa. Jika kehidupan bisa di ulang pun ia tidak akan pernah meminta lebih, ia ingin hidup seperti ini. Namun jika bisa lebih baik lagi, ia tidak ingin kecelakaan itu terjadi.


"Mas, ayo makan," bisik Alma.


Jafar mengangguk, dan menyendok makanan sedikit demi sedikit. Pada suapan ketiga ia berhenti meletakkan sendoknya, dan mengambil gawai yang tergeletak di samping piring. Ia mulai membuka note di aplikasi dan mengetik sesuatu untuk Alma.


"Hari ini saya libur. Nanti saya minta Lutfan atau Banyu buat mampir ke outlet yang saya jaga. Kamu apa libur? Atau mau ke Kedai Bersama?"


Alma masih mengunyah makanan. Detik berikutnya setelah tertelan ia mengambil gelas yang terisi air mineral dan meneguknya setengah. Lega. Ia mulai menatap Jafar dan menjawab, "Kamu mau saya libur, Mas?"


"Saya bertanya," tulis Jafar.


"Saya juga libur aja. Saya kan janji nganterin kamu ke klinik."


"Saya temani ..." Alma menurunkan tangannya mengusap pelan paha suaminya. "Ya, Mas? Nanti saya titipin Dilara ke Kirana sama Inayah bentar."


Jafar mengangguk.



Beberapa pemulihan ia jalani di Klinik ini. Sejujurnya ia malu, jadi ia meminta Alma untuk menunggu di luar saja, atau jika mungkin tidak ada pembatas ia meminta pada Alma untuk menjauhinya beberapa meter. Ia tidak ingin di tertawakan, walau sebenarnya Alma tidak akan pernah seperti itu. Suaranya akan terlihat jelek, gagap dan jelas tidak akan enak untuk di dengar.


"Pak Jafar, saya mulai, ya?" Di depannya Dokter klinik ini meletakkan poster huruf kapital. "Sebelumnya mengenai huruf kapital ini. Satu tahun lalu Bapak sudah cukup bisa. Mungkin kesulitan hanya ada di beberapa huruf. Yaitu, R, M, N, dan yang terakhir Q. Apa Bapak bersedia untuk mengulang beberapa huruf itu?"


Jafar mengangguk.


"Baik. Saya mulai." Dokter mengarah tongkatnya pada N. Jafar salah menyebut M. Di ulangi lagi beberapa kali Jafar benar, dan berlanjut sampai R dan Q Jafar telah cukup bisa. "Tidak pa-pa, Pak. Kita pelan-pelan saja. Sekarang saya mulai dengan nama orang dan beberapa kalimat."


Jafar mengangguk.


"Erika."


Jafar membuka mulut. "El ... li ... ka."


"Baik, Pak. Sudah bagus." Dokter itu berujar lagi. "Sekarang Bapak eja. E, R, I, K, A."

__ADS_1


"E, RL ... I." Jafar menatap mulut Dokter itu serius yang membantunya. "K, A. Erl ... lika."


Dokter itu tersenyum manis. Sabar sekali membantu semua pasien, dan selanjutnya beberapa kalimat ia pelajari dan kesulitannya pun tetap sama di bagian huruf R, M, N dan Q. Pengucapan yang sangat sulit ia jabarkan, dan ia merasa kembali kecil lagi. Sekitar tiga puluh menit berlalu, Dokter berbicara bahwa sekian saja, besok bisa kembali ke Klinik lagi.


"Mas, minum." Alma memberikan sebotol air mineral untuknya. "Gimana tadi?"


"Ba-ik."


Netra Alma terlihat membinar-binar mendengarkan suara itu. Biasanya memang dirinya tidak sempat bersuara, hanya menggerakkan bibir saja. Tapi ... apa benar mata itu membinar karena terkejut suaranya terdengar, atau terkejut karena suaranya aneh? Dirinya jadi merasa berkecil hati dan malu.


"Saya nggak nyangka kamu bicara, Mas."


Sebenarnya saya sudah bisa. Tetapi tetap saja suara saya aneh, Alma. Penyusunan kalimat yang terkadang salah, huruf kapital yang susah untuk di sebut dan lain-lain masalah yang membuat saya merasa terapi ini percuma, batinnya dengan saling menatap seakan semua keluh kesahnya ia katakan langsung. Padahal istrinya bukan orang yang bisa membaca pikiran. Andai kata bisa, mungkin Alma akan memarah-marahinya karena merendahkan diri sendiri.


"Saya mau dengar lagi. Tapi kayaknya kamu capek habis terapi. Jadi gimana kalau kita pulang?" Alma menjeda dengan memandang jam tangannya. "Sebelum itu kita mampir ke mekdi, yuk, Mas. Beliin kentang sama burger buat anak-anak panti."


"Bu-buat a-pa?"


Senyuman Alma semakin lebar. "Anggap aja. Karena saya senang, bisa dengar suara kamu. Saya jadi mau beliin anak-anak panti makanan. Nggak pa-pa kan, Mas?"


Jafar mengangguk.



Di panti asuhan Alma membagikan kentang dan burger yang dibelinya tadi. Sedangkan dirinya memilih duduk di sudut tempat makan laki-laki bersama Lutfan---Saudaranya, yang masih terduduk di kursi roda. Entahlah jika di pikir-pikir mengapa nasib Adiknya harus sama menyedihkan dengan dirinya? Seakan-akan garis takdir kehidupan ini terasa sama, Lutfan pun juga harus kehilangan Ayahnya. Dan hikmah di baliknya juga ... sepertinya Lutfan juga mendapatkan istri yang sebaik Alma, atau mungkin saja lebih baik dari cara ia memandang Mardiyah.


"Mas, ukhti kelihatan seneng banget. Ada acara apa bagi-bagi?"


Jafar menulis di buku catatannya. "Moodnya membaik, biarkan saja."


Lutfan terlihat mengangguk-angguk. "Mas ... sampean pernah nyangka nggak kalau jodoh kita bakalan sedekat ini?"


Jafar mengangguk.


"Ya walau perjodohan. Nggak memungkiri jodoh kita emang dekat, sama-sama anak panti asuhan Umma," lanjut Lutfan.


"Kamu bahagia dengan pernikahanmu?" tanya Jafar dengan mengangkat buku catatannya.


"Kalau aku nggak bahagia. Gimana bisa aku terus bertahan sampai sejauh ini, Mas? Anak yang Mardiyah kandungan sekarang itu buktinya," jelas Lutfan.


Kamu benar, Lutfan. Anak selalu menjadi bukti atas cinta orang tuanya yang pernah bersemi, batin Jafar menjawab dan ia mulai menulis lagi. "Kalau kamu ingin waktu di ulang. Apa kamu mau ke depannya hidup seperti ini, Lutfan?"


"Mau, Mas. Aku terima semua ketetapan Allah. Tapi kalau aku bisa milih, aku nggak mau Abi sama Paman pergi, kalau aku bisa milih juga aku nggak mau sampean kayak gini. Terus ..." Lutfan terlihat menunduk menatap kakinya. "Aku nggak mau lumpuh, Mas. Aku mau semua baik-baik aja."


"Kalau seperti itu. Kita terkesan angkuh dan egois menjadi manusia, Lutfan. Harusnya kita ini sadar bahwa tidak ada kesempurnaan diri dan kehidupan. Ada yang harus pergi dan ada yang harus terlahir. Semua telah menjadi ketetapan, dan sebagai seorang hamba kita hanya perlu tabah." Jafar tidak lagi menulis di buku catatan melainkan di gawai yang ia ambil dari saku. Ia memberi jeda di sana. "Dan apa kamu sadar? Bahwa kedua anggota baru itu, memicu bahagia di kehidupan kamu dan saya, Lutfan."


"Kedua anggota baru?" Lutfan sejenak berpikir. "Ah, maksudnya Mardiyah sama si Ukhti? Harusnya empat, Mas. Nambah Dilara sama anakku yang masih di kandungan. Mereka itu ... bener-bener hadiah terbaik dari Allah. Aku sampai tiap hari ... kalau lihat Mardiyah itu pasti bersyukur terus, Mas."

__ADS_1


Sama, Lutfan. Saya juga seperti itu, saat melihat Alma dan Dilara.


__ADS_2