Almahyra

Almahyra
Bagian 35


__ADS_3

"Kelak saat kita mempunyai anak. Apa dia akan merasa malu memiliki Ayah yang tidak bisa berbicara seperti saya?" tulis Jafar.


Alma terdiam.


"Saya tidak ingin dia merasa sial karena memiliki Ayah seperti saya, Alma," lanjut Jafar dalam tulisan.


Tangan kanan Alma terangkat---menyentuh tangan kiri suaminya dan menggenggam dengan erat, lantas menatap lurus pada langit jingga yang mulai tenggelam. "Lagi-lagi kamu mempertanyakan hal seperti itu. Sudah berapa kali kamu memberi pertanyaan yang sama pada seseorang yang akan memasuki hidup?"


"Kamu sadar?" Alma menengok menatap Jafar dari samping. "Dengan kamu bertanya seperti itu ... kamu membuat dirimu sendiri terluka. Dan membuat orang lain melupakan segala kekurangannya."


Jafar menatap Alma seolah-olah bertanya, bagaimana bisa? Tatapan keduanya Alma putus secara sepihak dengan kembali menatap lurus ke depan.


"Manusia akan merasa unggul saat mengetahui kelemahan manusia lainnya."


Alma menggeleng pelan. "Saya nggak minta kamu kelihatan kuat di depan orang-orang ... saya cuma minta, kamu harus percaya pada diri kamu sendiri."


"Lagi pula, kamu nggak perlu berusaha sekeras mungkin untuk diterima oleh orang lain." Alma kembali menengok, dengan tersenyum simpul ia berujar, "Sudah ada saya di sini."


"Kamu punya saya di sini."


Jeda tiga detik, Jafar kembali menatapnya dengan teduh. Alma lagi-lagi tersenyum dan berujar, "Dan mengenai ... anak kita?"


"Kamu lupa? Mereka akan mempunyai Ibu yang seperti saya. Kamu harus percaya bahwa saya bisa mendidik mereka dengan baik," sambung Alma.


Azan magrib telah lewat sekitar dua menit yang lalu. Setiap ucapan Alma sungguh menghipnotis Jafar, membuatnya seakan-akan tak percaya bahwa ada orang yang sedemikian menerimanya---walau belum tentu mencintainya. Lagi pula Jafar memahami bahwa cinta akan perlahan-lahan tibanya.


"Ya Allah ternyata udah azan dari tadi. Ayo, pulang!" ajak Alma.


Tangan Jafar di gandeng oleh Alma sampai perbatasan pesantren bagian laki-laki, keduanya terpisah. Tidak lupa pula, sebelum itu Alma berpamitan dengan mencium punggung tangan suaminya, dan Jafar mengecup kening Alma singkat.


Untungnya sedikit sepi, mungkin hanya sebagian orang yang melihat keromantisan Gus pesantren kaku ini.


"Kakak Alma!"


Seruan itu terdengar dari Salwa yang berlari mendekati Alma dengan tergesa-gesa.


"Kamu ngapain lari-lari gitu?"


Salwa tersenyum lebar hingga deretan giginya terlihat. "Kakak libur ya? Nggak sholat 'kan?"


"Iya. Kenapa?"


"Ayo main ke panti, Kak! Aku kangen main ke sana. Barang kali Bibi Salamah ngizinin aku kalau ke sananya sama Kakak Ipar," ucap Salwa.


Alma tertawa kecil, bisa-bisanya cucu Kiai Bashir satu ini mencoba membujuknya. Memang siapa yang mau ditemui di panti asuhan, hingga sebegitu inginnya Salwa ke sana?


"Kakak harus izin dulu ke suami Kakak, Sal."


"Iya-iya suami Kakak. Mentang-mentang udah nikah! Pamer ..."


Alma menggeleng. "Apanya yang pamer? Emang kewajiban istri kalau ke mana-mana itu harus dapat izin suami. Nanti kalau kamu sudah nikah juga gitu. Udah, ah! Kakak mau istirahat."


Langkah kecilnya memasuki rumah yang cukup sepi. Karena Ummi Salamah pun sudah bersiap di Masjid pesantren dan Jafar jelas tadi sudah berangkat untuk beribadah. Di rumah ini hanya ada dirinya dan Mbok Isna yang masih belum berpamitan pulang.


Kling!

__ADS_1


Suara gawai yang berada di tangannya.


Asyifanf


Kak Alma.


Kok nggak ada kabar.


Kakak baik-baik aja 'kan?


Untuk dikatakan baik, mungkin Alma baik. Tapi untuk merasa sangat-sangat baik. Tentu tidak.


^^^Aku baik-baik aja, Syifa.^^^


^^^Gimana persiapan pernikahanmu?^^^


Asyifanf


95% sudah siap, Kak!


Kakak ada kabar gembira nggak?


Udah lama Kakak nggak cerita-cerita gitu


Alma tersenyum kilas. Apa pernikahan mendadaknya juga bisa disebut dengan kabar gembira oleh orang-orang?


^^^Syifa, aku sudah menikah.^^^


^^^Maaf baru memberimu kabar.^^^


Syifa is calling ...


^^^Jangan hubungi aku sekarang, Syifa.^^^


^^^Kamu mau jadi pengantin, nggak baik aku cerita-cerita gitu.^^^


^^^Baiknya sekarang kamu fokus.^^^


^^^Assalamualaikum.^^^


Alma mematikan data supaya tidak menerima pesan dari siapa-siapa lagi. Istirahat memang pilihan. Sungguh sangat beruntung perutnya tidak kram, masih bisa di ajak berkompromi, ia berjalan ke arah dapur---mengambil minum.


Praaanggg!


Gelas di tangan Alma terjatuh saat ia melihat ada lelaki tinggi dengan kumis tipis serta rambut sedikit gondrong yang berdiri di depannya.


"Ka-kamu siapa?"


Lelaki itu tersenyum. Dari arah lorong dapur Mbok Isna juga datang yang ia yakini mungkin beliau terkejut mendengar suara pecahan gelas.


"Ada apa, Nduk?" Mbok Isna menatap Alma dan lelaki itu secara bergantian. "Ini ... cucu Mbok, Nduk. Dimas. Maaf kalau mengagetkan kamu, nggih?"


"Cu-cu?"


Mbok Isna mengangguk. "Mungkin Ummi lupa ngasih tahu kamu. Kalau setiap Jumat bersama cucu Mbok bantu-bantu di sini, Nduk."

__ADS_1


"O-oh, gitu ya, Mbok? Nggak pa-pa, Mbok."


Alma spontan berjongkok hendak membereskan beberapa pecah gelas. Namun tiba-tiba saja lelaki itu mengambil alih, bahkan entah sengaja atau pun tidak menyentuh tangannya.


"Saya aja Mbak ndak pa-pa."


Mbok Isna mendekat. "Iya, Nduk. Ndak pa-pa biar cucu Mbok aja."


...🌺...


Bukan tidak suka. Alma hanya merasa sedikit tak nyaman. Bagaimana bisa tiba-tiba ada laki-laki? Ia terkejut bukan main, karena setahunya memang hanya ada wanita saja di rumah ini. Bagaimana kalau tadi tiba-tiba ia membuka kerudung atau melakukan hal lainnya?


Bukan salah Ummi juga. Mungkin beliau lupa.


Pintu kamarnya terbuka. Jafar datang dan mengambil duduk di samping.


"Kok kamu nggak di Masjid aja? Bukannya habis isya langsung mulai?"


Jafar mengeluarkan gawainya dan mengetik. "Ummi lupa memberitahu bahwa ada Dimas cucu dari Mbok Isna yang setiap Jumat bersama membantu di sini."


"Iya."


"Kamu sudah bertemu dengannya?" tulis Jafar.


Alma mengangguk. "Sudah."


"Lain kali, kalau ada sesuatu yang belum saya tahu tolong kamu kasih tahu lebih dulu. Ta-tadi saya nggak sengaja pecahin gelas, saya kaget tadi ada laki-laki di dapur," ucap Alma.


Kening Jafar mengerut, kemudian mengetik. "Dapur? Kapan kamu bertemu dia di dapur?"


"Waktu magrib. Emang bantu-bantu ngapain kok dia bisa di dapur?"


Jafar terdiam. Kemudian ia menggeleng dan mengetik. "Membantu mengangkat barang-barang berat. Lain kali kalau tidak ikut Jumat bersama kamu bisa ke panti asuhan saja."


"Iya. Kebetulan tadi Salwa ngajak saya ke panti. Tapi saya tolak, takut kamu nggak ngizinin."


"Kamu bisa meminta izin saya lewat pesan singkat," tulis Jafar.


Alma mendekat---mencondongkan dirinya pada Jafar dan berujar dengan gemas. "Saya maunya izin langsung ke kamu."


Tangan kanan Jafar terangkat mengusap pucuk kepala istrinya yang tertutup kerudung. Netranya menatap Alma berkali-kali lipat bahagia, jarang-jarang gadis di depannya ini menampilkan wajah menggemaskan.


"Hmm ... ngomong-ngomong ka-kamu mau saya panggil pakai awalan ... Mas nggak? Atau ... Gus?"


Lagi-lagi Jafar tertawa, tangannya kali ini ikut mengetik. "Jadi istri saya ini ingin memanggil suaminya dengan panggilan yang lebih sopan?"


"Saya ini lagi buat penawaran. Ka-kalau kamu nggak mau ya-ya nggak pa-pa. Nggak repot-repot juga saya harus panggil nama kamu panjang-panjang pakai embel-embel Mas atau apa lah," ujar Alma yang terdengar seperti pengelakkan di telinga Jafar.


"Sebenarnya, saya menunggu-nunggu waktu di mana kamu menawarkan panggilan semacam itu untuk saya," tulis Jafar.


Alis kiri Alma terangkat. "Ja ... di? Kamu sukanya yang mana? Gus? Abang? Mas atau Aa?"


"Mas saja. Coba praktekkan, saya ingin mendengar kamu memanggil saya dengan awalan yang sopan itu," tulis Jafar.


Alma tersenyum simpul, mengubah duduk dengan menyilang kedua kaki dan menghadap Jafar yang melihatnya dari samping. Kemudian dengan sedikit mencondongkan tubuh, Alma mendekat pada telinga Jafar dan berbisik, "Mas Jafar ..."

__ADS_1


Note:


Next POV Jafar. Diperlukan soalnya.


__ADS_2