
Pukul sembilan malam sesudah hujan mereda Kiai Bashir dan Salwa datang, berniat menjenguk sejenak saja dan mengantar makanan untuk Jafar. Padahal tadi, Alma sudah meminta suaminya itu untuk beli di luar. Namun sayangnya hujan tidak bisa diterjang oleh Jafar, hingga saat kembali ke kamar rawat tak membawa apa-apa.
"Makan dulu kamu, Le," ucap Kiai Bashir.
Jafar menurut, dan segera makan. Sedangkan Salwa duduk tepat di samping Alma sembari bertanya, "Kak, sakit nggak?"
"Waktu operasi kayaknya nggak, Sal. Tapi waktu udah bangun, agak nyeri," jawab Alma.
Salwa manggut-manggut. "Oh iya ... Kak Alma sama Mas Jafar udah tahu belum? Kalau Mbak Mar sama Mas Lutfan udah nikah hari ini?"
"Tadi Mardiyah ngasih kabar."
Kiai Bashir menyahut, "Kakek seneng, kedua cucu Kakek sudah menikah. Belum lagi istri kalian perempuan yang baik. Alhamdulillah, Kakek nggak berhenti bersyukur atas pernikahan kalian berdua."
"Walimatul'ursy mu sama istrimu nanti jadi di hotel, Le. Sehari setelah itu acara Lutfan sama Mardiyah juga di hotel. Kakek udah siapin semuanya buat cucu Kakek," imbuh beliau.
Salwa menengok kebelakang melihat sang Kakek. "Nanti kalau aku nikah Kakek nyiapin gitu nggak buat aku?"
Kiai Bashir mengangkat tangan beliu, dan mengayun meminta Salwa mendekat. "Sini, kamu."
Salwa mendekat---duduk berjongkok. "Kakek nyiapin apa buat aku nanti?"
"Khusus Salwa, cucu Kakek yang paling cantik ini ... boleh request, maunya gimana-gimana Kakek kabulkan," ucap Kiai Bashir.
Salwa girang. Ia berdiri dan melompat kecil. "Horeee, alhamdulillah nggak di atur-atur."
"Tapi Sal ..."
Salwa menengok ke arah Alma. "Tapi apa, Kak?"
"Kamu kan belum berjodoh. Baiknya, jangan mikir acara pernikahan dulu. Nanti kalau udah lulus sekolah, kerja dan ada jodoh, ya udah langsung nikah," imbuh Alma.
Salwa menatap Alma dengan senyuman lebar. "Setuju! Rencana aku juga gitu, Kak. Tapi ... pokoknya Kakek, Ummi sama Abi nggak boleh jodoh-jodohin aku. Kalau pun mau dijodohin aku harus kenal dulu ke orangnya. Titik!"
Kiai Bashir mengangguk. "Asal pilihan kamu lulus seleksi. Kakek setujui kalian menikah."
Jafar telah usai makan. Lelaki itu mendekati Alma, dan duduk di kursi single yang tadi di duduki oleh Salwa. Jafar menyerahkan buku catatan pada istrinya.
"Apa?"
"Baca."
Alma membaca gerakkan bibir Jafar.
"Salwa, jangan banyak mengkhayal kamu masih terlalu muda. Sekolah yang benar, dan banggakan kedua orang tuamu." Setelah membacakan itu, Salwa menatapnya dengan datar. "A-anu. Ini dari Masmu, Sal. Jangan natap Kakak kayak gitu."
Jafar menengok, berbalik menatap datar Salwa.
__ADS_1
"Udah-udah. Apa-apaan juga kamu natap Salwa kayak gitu, Le?" Kiai Bashir menyelah dan melihat Salwa berubah ekspresi menjadi cemburut. "Ayo pulang. Besok kamu sekolah, Nduk."
Salwa bangkit dan mengandeng tangan Kiai Bashir. "Ayo, Kek. Kak Alma aku pamit, aku nggak mau pamit ke Mas Jafar. Ngeselin, banget-banget. Dah!" ujar Salwa.
Kepergian Kiai Bashir dan Salwa membuat kebisuan beberapa saat. Jafar hanya menggeleng melihat tingkah adik sepupunya, sedangkan Alma hanya tersenyum tipis.
"Emang Salwa nggak beda jauh sama Lutfan, sebelas dua belas ya, Mas?"
Jafar mengangguk.
"Sudah berapa persen list yang kamu tulis untuk meminta sesuatu dari saya?" tulisnya.
"Tiga puluh persen. Kenapa?"
"Berikan tiga puluh persen dahulu. Selanjutnya, untuk tujuh puluh persen akan menyusul. Bagaimana?" tulis Jafar.
Alma menggeleng, pertanda menolak. "Kamu kenapa tergesa-gesa gitu? Nggak mau nunggu saya nulis sampai selesai?"
Jafar menatap Alma sejenak dan tersenyum tipis dengan menggeleng. "Saya tidak tergesa-gesa. Saya hanya tidak ingin kamu bosan, dan dengan cara mengabulkan permintaanmu pasti akan mengurangi kebosanmu."
"Jadi cara kamu untuk menghilangkan rasa bosan saya seperti ini?" Alma mengangguk-angguk. "Padahal harusnya, kamu bisa memikirin cara lho, Mas."
"Apa?" Jafar mengerakkan bibirnya.
Alma mengangkat bahunya perlahan. "Saya juga nggak tahu, sih."
"Ya ... masalahnya. Saya emang nggak ta---"
Kecupan singkat di bibirnya benar-benar membuat Alma mematung. Pergerakkan Jafar tak bisa Alma baca, sesaat ia berbicara dan menoleh tiba-tiba saja menghentikannya. Tidak bisa dipercaya.
"Apa-apaan tadi ..." Alma tersenyum jahil. "Hm?"
Jafar menatap Alma dengan sebelah kiri alisnya yang terangkat.
"Penghilang rasa bosan sementara?"
Jafar menunduk dan menulis jawaban. "Iya. Tidak apa-apa 'kan?"
"Nggak pa-pa, sih." Tiba-tiba saja Alma tertawa ringan sembari menahan nyeri di perutnya. "Lagian tadi saya menawarkan kok."
"Berhenti tertawa," tulis Jafar.
"Iya. Ini berhenti, Mas."
Jam berlalu lambat. Entahlah rasanya Alma amat bahagia, di lingkupi kebosanan di ruangan rawat ini asal bersama Jafar adalah hal yang selalu ia inginkan. Bahkan, tidak masalah untuk beberapa hari, sebulan atau pun lebih. Alma tak memungkiri, manusia wajar untuk merasa bosan, asal melewatinya bersama tanpa berniat meninggalkan.
Bahu Alma tiba-tiba saja ditepuk pelan oleh Jafar. "Iya, Mas?" sahut Alma tersadar.
__ADS_1
"Setelah acara walimatul'ursy, kamu ingin liburan bersama?" tulis Jafar.
Alma tersenyum jahil---menatap Jafar lebih dekat. "Honeymoon?"
Pipi Jafar memerah menjalar ke telinganya. "Anggap saja seperti itu," tulis Jafar.
Alis kiri Alma terangkat. "Anggap saja seperti itu? Padahal saya cuma mau memastikan lho, Mas. Ya takutnya, barang kali liburan yang kamu bicarakan itu bukan bulan madu. Misalnya, liburan bersama keluarga besar."
Alma melirik Jafar yang menunduk dengan mengigit bibir bawahnya. Ia tak tahan melihat suaminya yang agaknya malu.
"Sebenarnya ini memang liburan bersama keluarga besar. Tetapi tidak mungkin saya meminta kamu tidur dengan Salwa atau pun Ummi, kan?" tulis Jafar.
"Ya terus? Saya tidur sama kamu?"
Jafar mengangguk.
"Iya?"
Jafar menunduk. "Iya, Alma. Memangnya kamu ingin tidur dengan orang selain saya?" tulisnya.
"Ya bisa aja kan, kamu suruh saya tidur sama Salwa," ucap Alma dengan senyum jahilnya.
"Berhenti menggoda saya, Alma," tulis Jafar.
Tangan Alma terangkat mengusap kepala Jafar lembut. "Bercanda, Mas."
"Sini deketan coba." Jafar mendekat dan Alma mengecup dahi Jafar. "Udah. Jangan cemberut gitu."
Jafar tersenyum tipis dan menggeleng.
"Ngapain kamu geleng gitu?"
"Kamu manis sekali. Saya hitung-hitung sekarang kamu sering mengecup kening saya," tulis Jafar.
"Wajar, kan? Kamu suami saya, kok."
Alma mendongak melihat jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Udara pun kian dingin, sungguh untuknya Kiai Bashir membawakan Jafar selimut serta jaket. Setidaknya lelaki di samping Alma sekarang tak ada kedinginan.
"Alma, saya ingin bertanya," tulis Jafar.
Alma menyadarkan punggungnya di bantal, kepalanya menengok pada Jafar. "Apa?"
Sekitar tujuh detik Jafar mengangkat buku catatannya."Tujuan pernikahan ini apa? Selain, memberi kebahagiaan untuk keluarga saya dan kamu."
Alma terdiam sejenak. "Seperti orang-orang, Mas."
Jafar mendekatkan buku catatannya pada Alma. "Keturunan?"
__ADS_1
[.]