Almahyra

Almahyra
Bagian 11


__ADS_3

...Bagian 11 : Pembahasan Tentang Si Bisu...


Sungguh ia tidak setuju dengan apa yang telah Jafar tuliskan. Merendahkan diri dihadapannya dengan menulis surat yang penuh pilu, bukanlah sifat seorang Jafar. Mengapa Jafar harus merasa tak pantas untuk siapapun? Sedangkan yang ia ketahui bahwa Mardiyah menyukai lelaki tunawicara itu secara diam-diam.


Karena sesungguhnya pun Alma kembali percaya, bahwa manusia tidak akan pernah benar-benar sendiri. Tentu akan ada seseorang yang membersamainya untuk menjalani kehidupan pelik ini.


"Kamu tidak perlu membalas surat ini?" monolog Alma.


Tangan kiri dan kanannya kembali melipat secarik kertas putih menjadi dua bagian. Kemudian ia berdiri memasukkan surat itu kedalam saku gamis yang ia kenakan, netranya mengedarkan pandangan barangkali penglihatannya akan menangkap sosok yang tengah dicari.


"Itu ... dia," gumam Alma.


Ia menghela napas sejenak. Kemudian ia bermonolog, "Saya akan membalas suratmu, Jafar. Karena komunikasi kita hanya sebatas secarik kertas ini, nggak ada yang lainnya."


Alma mengambil lakban yang masih terletak di kursi batu dengan tangan kanannya. Sesegera mungkin ia berjalan dengan sedikit tergesa menuju kamar asramanya, di tengah perjalanan tidak segan pula ia berlari. Dan sekitar satu menit lebih lima belas detik, ia sampai di depan ambang pintu dengan napas yang tersengal-sengal.


"Kak Al .. ma?"


Mendengar suara lembut dari Inayah. Spontan Alma menengok. "Hai, Inayah!" sapa Alma.


"Kakak ke-kenapa?"


Alma menggeleng. "Nggak kenapa-napa, habis olahraga lari ini. Makanya, butuh napas. Kakak masuk dulu, ya?"


"Iya, Kak."


Dibukanya pintu kamar tersebut. Lalu ia masuk dengan cekatan mengambil meja belajar, membukanya di atas ranjang, lantas ia juga mengambil pena serta kertas yang disobek dari buku catatannya. Kemudian menyusul diri duduk di ranjang dengan tangan kanan yang mulai lihai menuliskan surat balasan untuk Jafar.


Waalaikumussalam.


Tidak ada seorang pun yang memaksa saya untuk menyetujui pernikahan ini. Bukankah kamu tahu? Bahwa saya sempat terang-terangan menolakmu, Jafar.


Setelah berpikir dengan matang keputusan yang saya ambil adalah setuju. Dan untuk tujuh bulan itu, saya merasa sangat cukup untuk berpikir kembali. Keputusannya pun saya pastikan tetap sama dan tidak akan berubah.


Satu pertanyaan dari saya:


Bagaimana jikalau sebaliknya, kelak kamu yang merasa malu memiliki istri seperti saya?


-Alma


(Keinginan saya membalas surat ini. Bukan menjadi hakmu untuk melarang saya)


Alma menutup kembali pena yang dikenakan. Kemudian melipat secarik kertas itu menjadi dua bagian dan memasukkan kedalam saku---sebelumnya pun ia mengeluarkan surat Jafar. Ia berdiri kembali, lantas melipat meja belajar tersebut lalu menaruhnya kembali di bawa ranjang, disusul meletakkan pena dan buku catatan kedalam laci nakas pertama.


"Untuk pertama kalinya ... aku menulis surat di zaman yang sudah modern ini," gumam Alma.


Alma keluar---mengunci pintu kamar asrama. Ia melangkah perlahan mengintip bilik kamar Inayah dan Kirana. Tidak ada orang. Maka ia sudah memutuskan untuk pergi ke lapangan lagi. Karena setidaknya pasti ia menemukan begitu banyak orang di sana.


Sekian lama ia berlari, dipilihnya untuk berhenti sejenak, sekadar saja beristirahat. Alma duduk di tepi taman yang terdapat rumput-rumput liar menghijau dan segar---karena bekas terkena guyuran hujan kemarin malam. Ia mengambil gawai dan surat yang berada di saku, lantas menghidupkannya dan melihat jam menunjukkan pukul 06:24 WIB.


"Halo, Mbak Alma yang tadi!" Seorang anak kecil yang memberikan surat dari Jafar melewatinya dengan melambaikan tangan.


Netra Alma melebar. "Eh? A-anu adek! Adek kecil!"


Anak perempuan kecil itu menengok kebelakang. "Mbak manggil aku?"


Alma mengangguk dengan senyum yang lebar. "Iya. Dek, mau bantuin Mbak nggak?"


"Mau." Anak kecil itu mengangguk dengan tangan kanan yang membawa kertas kado pink. Kemudian ia lanjut bicara, "Emangnya, Mbak Alma ini mau minta aku bantuin apa toh?"


"Kirim surat."


"Uhm ... kayak yang tadi disuruh Gus pesantren?" tanya anak kecil itu.


"Iya. Ini suratnya." Alma memberikan secarik kertas dan uang selembar lima ribu rupiah kepada anak perempuan kecil itu. Lantas berucap lagi, "Tolong kasih ke Gus, ya? Kayaknya beliau ada di lapangan, tadi Mbak lihat. Terus itu uangnya buat kamu jajan."

__ADS_1


Anak kecil itu tersenyum lebar. "Matur nuwun uangnya Mbak Alma. Ya udah aku pamit, mau ngasih surat ini."


Alma mengangguk dengan mengukir senyuman di wajahnya, saat anak kecil perempuan itu melambaikan tangan. Setidaknya ada seseorang yang menjadi perantara jikalau ia ingin menghubungi Jafar. Karena Kirana dan Inayah bukanlah keputusan yang bagus. Kirana terlalu banyak tanya dan Inayah terlalu pemalu.


Kling!


Gawai yang berada ditangan kanannya berbunyi. Alma mengerutkan kening, sebelum kembali duduk di tepi rerumputan. Ia hanya menghidupkan notifikasi khusus untuk beberapa orang saja. Jadi, siapa gerangan di luar panti asuhan yang menghubunginya? Selain, Bibi Maryam?


"Asyifa?" gumam Alma.


Asyifanf


Kak Alma~


Syifa bawa kabar gembira hehe


^^^Kabar gembira apa?^^^


Asyifanf


[send video]


Do'ain semoga lancar ya, Kak Alma


Netra Alma melebar. Namun seperkian detik kembali normal, saat ia sudah benar-benar bisa mengendalikan keterkejutannya. Disusul lah dengan tarikan dari kedua sudut bibir merona itu. Ia bahagia. Syifa akan menikah, dan video yang dikirim adalah undangan pernikahan online.


^^^Aamiin.^^^


^^^Live IG-nya ditunggu^^^


Alma memasukkan kembali gawai kedalam saku gamis. Kemudian ia berjalan menyusuri jalan taman, dan memasuki aula makan bersama perempuan---untuk melihat kardus yang digunakan nanti malam sudah dilipat atau belum. Dan membatalkan niat ke lapangan, karena surat itu telah memiliki perantara.


"Assalamualaikum."


"Kardusnya belum dilipat semua ya? Boleh saya bantu?" tanya Alma.


Senior perempuan itu bergeser memberi duduk. "Monggo, Mbak. Ini cuma kurang beberapa lipatan aja kok."


"Nggak pa-pa saya bantu. Nunggu jam delapan lama banget, mau ke swalayan nanti," ucap Alma dengan tangan yang mulai mengambil kardus putih makanan itu.


Seorang senior yang berada duduk di kursi bertanya, "Sama siapa Mbak ke swalayan?"


"Sama Kirana Inayah."


Senior pesantren itu mengangguk. Selama beberapa detik terjadi kebisuan, hanya ada lalu-lalang orang-orang yang menyusun kardus di atas meja. Hingga tiba-tiba saja Alma mendengar bahwa salah satu senior perempuan---dengan gamis maroon dan kerudung hitam berbicara.


"Denger-denger Gus Jafar mau menikah, Mbak."


Salah satu senior dengan gamis hitam serta kerudung hijau berujar, "Iya ta? Sama sopo toh?"


"Ndak tahu. Antara mungkin santriwati kalau ndak yo anak panti asuhan." Perempuan dengan gamis maroon itu, meletakkan kardus di atas meja. Kemudian kembali berucap, "Lagian yo benar toh, Mbak. Cuma perempuan panti sama pondok yang sungkan nolak permintaan Ummi. Apalagi Gus Jafar sekarang bis ... u---"


Senior bergamis hitam itu menyanggah, "Mulutmu iku dijaga! Kita iki lagi di panti, ndak boleh ngomong gitu. Nanti kalau kedengaran sama beliau gimana?"


Gosip ini menyebar cepat.


"Dengar dari siapa, Mbak?" sahut Alma, rasa-rasanya telinga ini mulai panas. Maka baiknya, boleh lah ia ikut berbicara dan membenarkan kesalahan paham yang mungkin tidak mereka ketahui.


Perempuan dengan gamis maroon itu menoleh dan berucap, "Saya denger waktu nganter makanan ke ndalemnya Ummi, Mbak."


Alma mengangguk.


"Kalau benar ya alhamdulillah, dong Mbak. Menikah kan ibadah, toh Jaf---maksud saya Gus. Gus Jafar orang baik. Dan siapa yang nggak mau punya suami baik, kan?" ucap Alma.


Jadi sekarang aku membelanya?

__ADS_1


Seorang perempuan berkerudung pink serta gamis hitam, yang baru datang dengan membawa kantong plastik menyahut, "Bener, katanya Mbak ini. Aku yo pingin jadi mantunya Ummi Salamah. Beliau baik, Gus Jafar juga baik sama sholeh. Terus sapa yang ndak kesem-sem?"


"Gini, tugasnya mau selesai? Nggak bakalan. Orang pada banyak omong."


Mar .. diyah? Kapan dia datang?


Mardiyah datang bersama Salsa membawa panci yang berisi sayur bening untuk sarapan bersama pagi ini. Karena seperti biasanya sarapan akan di mulai 06:30 WIB. Dan jikalau untuk anak-anak panti yang masih sekolah pasti akan sarapan terlebih dahulu---tetapi dikarenakan hari ini libur, jadi keputusannya adalah sarapan bersama.


"Alma!" seru Mardiyah.


Alma yang baru usai melipat kertas terakhir menengok. "Apa?"


"Oh ... udah lupa sama tugasmu setiap pagi?" ucap Mardiyah dengan ketus.


Alma mengerutkan kening. Tugas apa memang? Ia hanya ditugaskan ke swalayan, dan swalayan akan bukan jam delapan. "Tugas apa? Tolong seenggaknya kamu---"


"Nganterin makanan buat Ummi Salamah, Mbak," sahut Salsa. Sepertinya mengerti bahwa Mardiyah sedang memiliki mood yang tidak baik.


Mata Alma melebar. "Astaghfirullah. Aku benaran lupa, Ya Allah. A-anu ya-udah permisi. Assalamualaikum."


Entah sudah keberapa kali pagi ini ia berlari-lari. Sungguh Alma lupa, terlepas dari apapun ia berpikir mungkin saja Jafar sudah mengambilnya, atau mungkin hari ini libur untuk mengantar. Karena akan diadakan acara yang pastinya Ummi Salamah datang.


Dengan napas yang tersengal-sengal ia berhenti di ambang pintu dapur. Kecepatan berlarinya semakin hebat. Beberapa saat menghela napas, ia sedikit mengintip kedalam---dapur sepi dan rantang makanan itu berada di atas meja kayu. Ia baru melangkah satu kaki memasuki dapur, tiba-tiba seseorang dari dalam arah kiri menabraknya. Dan dengan spontan air di baskom yang dibawa itu membahasi kerudung abu-abu serta gamis hitam Alma.


"So-sorry."


Dia lagi?!


Kayak nggak ada bosen-bosennya nabrakin diri ke orang!


"Demi Allah, ukhti. Gue nggak sengaja, gue kaget, gue---"


"Lutfan! Ya Allah, kamu jalan itu mata dipakai nggak sih?" sentak Alma.


Lutfan mengangguk. "Kaki sama mata sinkron, ukhti. Udah gue pakai cuma gue i-itu, gue refleks lo tiba-tiba masuk."


Napas Alma masih tersengal-sengal, antara menahan amarah juga karena lelah berlari tadi. Kening Alma mengerut saat melihat tatapan netra Lutfan bukan kepada dirinya melainkan sedikit menunduk ke titik yang tidak boleh di jangkaunya.


"Tutup mata---"


Ucapan Alma terhenti saat seseorang tiba-tiba saja melemparkan serbet kotak-kotak ke wajah Lutfan.


"Jafar?"


Lelaki tunawicara itu menunduk dengan tangan yang mengibas, sebagian pertanda menyuruh Alma segera pergi. "Ta-tapi saya mau nganter---"


"Mas Jafar aku nggak lihat sumpah. Aku nggak lihat itu---"


Ucapan Lutfan tersanggah saat Jafar menutup mulut lelaki itu rapat-rapat. Kemudian sekali lagi mengibas tangan dengan menghadap ke Lutfan, Jafar berbicara tanpa terdengar, "Ada saya."


"Pergi," lanjut Jafar dengan mengibas tangan lagi.


Alma mengangguk. Sesegera mungkin pergi meninggalkan dapur dengan menutupi bagian depannya dengan tangan yang menyilang. Sungguh ini menyebalkan! Ia terus menerus menggerutu ditengah jalan, saat telah sampai di pelataran asrama, ia masuk tanpa memedulikan Kirana yang memanggil.


"Belum setengah hari, udah ganti baju aja! Aku bener-bener nggak habis pikir sama laki-laki tengil itu. Yakin aku yakin, mata dia---"


Terdengar suara ketukan pintu. Disusul suara Kirana dari luar. "Apa, Na?" tanya Alma dengan jengkel.


"Kata Mbak-mbak pesantren, nanti sebelum ke swalayan disuruh mampir ke ndalemnya Ummi Salamah, Kak," ucap Kirana dengan sedikit keras.


Pasti gara-gara aku telat nganter makanan beliau.


Note :


• Syifa/Asyifa temen online di Bagian 2 pernah di bahas.

__ADS_1


__ADS_2