Almahyra

Almahyra
Bagian 19 : Pernikahan Yang Tak Terduga


__ADS_3

...19 : Pernikahan Yang Tak Terduga...


"Alma mau menikah sekarang."


Keputusan tiba-tiba yang Alma ambil membuat seluruh mata di ruangan itu memandanginya. Kabar duka di bersamai pernikahan yang tak terduga? Alma rasa itu lebih baik, karena baginya ini adalah waktu yang sangat tepat.


"Alma ...," tegur Ummi Salamah pelan.


Alma mengalihkan pandangannya kepada Ummi Salamah. "Kenapa Ummi? Alma mau menikah sekarang. Ummi nggak perlu nunggu enam bulan la---"


Ummi Salamah menyanggah, "Ini bukan tentang menunggu lagi, Nak. Tapi jangan mengambil keputusan di---"


"Di saat yang nggak tepat? Itu maksud Ummi?" Setelah menyanggah ucapan Ummi Salamah, Alma memutuskan pandangan dan beralih menatap jasad Bibi Maryam dengan sendu. Lantas kembali berujar, "Alma rasa ini waktu yang tepat Ummi. Lagi pula di sini ada Jafar, kalau dia bersedia, pernikahan ini akan terlaksana Ummi."


Terlihat Jafar hanya menatap lurus kepada Ummi Salamah, netra Jafar yang Alma pandang sekilas itu nampak ragu-ragu, mungkin pernikahan yang ia harapkan tidak akan terjadi hari ini.


Sejujurnya, aku mau Bibi Maryam hadir di pernikahanku ...


Jafar meletakkan selembar kertas disamping Alma yang bertuliskan, "Saya bersedia."


"Wali nikahnya, Bibi?" sahut Lutfan.


Umma Sarah yang semula hanya diam, tiba-tiba menyahut, "Firza. Adik dari Ayah Alma, akan segera tiba."


Om Firza?


Beliau ke sini?


"Tapi kita nggak bisa nunggu terlalu lama," ucap Lutfan.


Paman Idrus mengangguk. "Kamu benar, Nak. Jasad istri saya harus segera di kebumikan."


"Assalamualaikum."


Kebetulan yang amat tidak terduga. Om Firza dan Tante Bunga telah datang di waktu yang tepat, seusai bersalaman dengan Paman Idrus, Tante Bunga mendekati Alma. Sedangkan Om Firza seolah-olah telah mengetahui segalanya, memilih duduk di samping Jafar.


"Tan-te ... Alma mau menikah sekarang," ujar Alma lirih.


Tante Bunga mengangguk. "Tante tahu, Alma. Om Firza datang. Beliau akan jadi wali nikahmu, Nak."


Pernikahan yang seharusnya bercampur bahagia serta haru, menjadi hari yang paling menyakitkan sekaligus menyedihkan untuk Alma. Tiada paksaan, ini adalah kemauannya sendiri---ibadah yang seharusnya terjadi enam bulan dari sekarang akan terlaksana malam ini.


"Lalu maharnya, Mas?" tanya Lutfan kepada Jafar.


Jafar mengeluarkan sebuah kalung emas putih di dalam saku depan baju koko miliknya. Kemudian dengan menunduk ia menuliskan sesuatu dan setelahnya menyerahkan kalung serta selembar kertas di samping Alma duduk.


"Apa kamu mau jika maharnya hanya kalung ini?" tulis Jafar.


Alma meletakkan kembali selembar kertas yang Jafar tuliskan. Kemudian tangan kanannya perlahan mengambil kalung emas dengan liontin bintang penuh. "Kamu membelinya untuk apa?"


"Untuk menjadi mahar," tulis Jafar.

__ADS_1


Setelah membacanya, seulas senyum tercetak jelas di wajah Alma. Kalung ini menandakan bahwa Jafar mungkin telah rida menikahi dirinya.


"Lebih baik pernikahan dilakukan secepatnya," ujar Om Firza.


Jafar mengangguk.


"Di sini ada yang bisa berbahasa isyarat?" tanya Firza.


Paman Idrus menyahut, "Saya bisa. Saya yang akan menerjemahkan ucapan Jafar, Firza."


Alma benar-benar lupa ternyata Paman Idrus bisa menggunakan bahasa isyarat. Karena beliau begitu banyak berinteraksi dengan orang-orang tunawicara di panti asuhan yang sering beliau kunjungi dengan Bibi Maryam.


Ijab kabul akan segera dilaksanakan. Jafar sedang menghafal beberapa gerakan tangan yang akan ia lakukan nanti. Dan setelah Jafar benar-benar siap ia melihat kearah Ummi Salamah sekilas. Kemudian beralih tatap kepada Om Firza dan mengangguk.


"Kamu siap?"


Jafar mengangguk lagi.


Om Firza menjabat tangan kanan Jafar dan berucap, "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Jafar Irfanuddin Azmi bin Hairul Anam dengan suadari Almahyra Azzahra binti Mustofa dengan maskawinnya berupa kalung emas putih. Tunai."


Secepatnya dengan satu tangan Jafar menyampaikan ijab kabul mengunakan bahasa isyarat---yang mana Paman Idrus memperhatikan gerakan tangan Jafar yang begitu cepat dengan teliti.


Saat tangan Jafar berhenti, Om Firza berucap, "Sah?"


Paman Idrus mengangguk. "Sah!"


"Alhamdulillah."


Do'a dipanjatkan untuk keutuhan rumah tangga Alma dan Jafar. Lalu setelahnya, cincin yang diberikan oleh Bibi Maryam, Jafar sematkan pada jari manis tangan kanan Alma, disusul pula kalung emas putih ia berikan kepada Alma. Kemudian perlahan tangan Alma terangkat, menyentuh lantas menggenggam tangan kanan Jafar, dan mencium punggung tangan lelaki yang telah sah menjadi suaminya itu.


Sangat bahagia.


Alma harap, entah Ibu penggantinya---Bibi Maryam atau Ibu kandungnya, Anggraini sama-sama merasakan kebahagiaan yang sangat dalam atas pernikahan ini.


...🌺...


Pemakaman Bibi Maryam telah usai dilaksanakan. Dan dengan berat hati Alma harus meninggalkan kediaman ini, karena malam sudah semakin larut. Bahkan Paman Idrus juga mengatakan, bahwa ada kewajiban baru yang harus Alma lakukan mulai malam ini.


Karena ia bukan lagi Alma yang dulu, sekarang ia perempuan yang sudah bersuami. Dan dengan segala kerida'an Jafar adalah pemimpinnya dalam menuntut segala kebaikan yang ada di kehidupan ini.


"Alma, nanti kamu tidur di rumah Ummi, ya Nak?" ucap Ummi Salamah yang duduk di depan bersama Umma Sarah di samping beliau.


Selembar kertas tiba-tiba saja terletak dipangkuan Alma, ternyata Jafar---yang duduk kursi samping mobil, menatapnya dengan mengangguk pelan.


"Kamu boleh menolak," tulis Jafar.


"Iya, Ummi," jawab Alma.


Bukan penolakan, justru Alma dengan yakin mengiyakan permintaan Ummi. Lagi pula, di saat-saat seperti ini, ia tidak ingin sendirian. Dan bila mulai sekarang harus tinggal di pesantren, setidaknya ada Ummi Salamah yang menemaninya.


Atau mungkin ... Jafar juga.

__ADS_1


"Kenapa kamu mengiyakan permintaan Ummi?" tulis Jafar, lagi. Tangan kanan Alma spontan mengambil pena serta buku catatan milik Jafar, dan dengan tidak sengaja kedua tangan mereka bergesekan.


Alma menuliskan balasan di buku catatan lelaki yang telah menjadi suaminya. "Jadi, saya salah?" tulis Alma.


Jafar menggeleng kuat.


"Sudah sampai pesantren, Bibi," ucap Lutfan.


Alma tidak sadar, ternyata perjalanan jauh sangat tak terasa. Padahal baru beberapa menit saja ia dan Jafar mengobrol.


"Ayo turun, Alma!" ucap Ummi Salamah.


Lutfan dan Umma Sarah telah meninggalkan pelataran pesantren. Sedangkan Ummi Salamah menuntut menantu barunya untuk masuk ke kediaman yang telah lama ditinggali beliau dan suaminya.


"Mulai sekarang, kamu tinggal di sini, Nak."


Alma mengangguk pelan. "Iya, Ummi."


Pandangan Ummi Salamah beralih kepada Jafar yang telah duduk di sofa abu-abu ruang tamu. "Jafar sayang, ajak Alma ke kamar. Supaya dia bisa istirahat. Kakinya masih sakit."


Jafar berdiri. Dan berjalan mendahului istrinya, namun tiba-tiba saja terhenti karena ucapan Umminya. "Harusnya, kamu bantu istrimu ini jalan, Nak," ucap beliau.


Jafar berbalik---mendekati Alma. Dan dengan perasaan campur aduk serta jantung yang berdebar-debar, ia menyentuh lengan kiri Alma dan menuntun istrinya masuk ke dalam kamar, hingga berhenti mendudukan Alma di ranjang.


"Terima kasih," ucap Alma lirih.


Dengan sedikit mendongak Alma melihat jam dinding digital menunjukan pukul 22.25 WIB, sudah hampir larut. Kemudian pandangan Alma mengedar dan mengabsen satu persatu benda serta apa pun yang berada di kamar Jafar; kamar mandi dalam, lemari kayu satu, cat abu-abu putih, dan masih banyak lagi.


"Jafar kamu mau ke mana?" tanya Alma saat melihat Jafar telah berganti pakaian, hendak meninggalkan kamar.


"Ja---" Ucapan Alma terhenti. Dan seketika ia menunduk, melihat Jafar memilih pergi tanpa berniat menengok sedikit pun.


Pupus.


Sepertinya Jafar, tidak menerima kehadirannya di kediaman ini.


Namun beberapa menit kemudian, terdengar langkah kaki Jafar mendekat, dan tiba-tiba saja suaminya menyerahkan pakaian tidur satin berlengan panjang kaki serta tangan, tidak lupa dengan kerudung instan.


"A-apa?"


Jafar meletakkan pakaian itu di ranjang. Kemudian berjalan mendekati meja rias, dan mengambil buku catatan serta pena. Empat belas detik dari yang Alma hitung, suaminya itu berbalik. Lantas memberikan buku catatan itu kepadanya.


"Ganti bajumu dengan ini. Supaya luka di kakimu mudah bernapas dan bisa di obati lagi," tulis Jafar.


.......


.......


.......


Note:

__ADS_1


• Suara hati Alma italic, note yang Jafar tulis italic, ucapan Jafar dalam gerakan bibir italic. Jadi tolong di ingat, ya? Supaya kalian nggak bingung.


• Saat dengan orang tua, Alma menyebut dirinya Alma. Saat dengan sesama perempuan (seperti dengan Mardiyah, Salsa) Alma menyebut dirinya aku. Dan saat berbicara dengan Lutfan atau Jafar, Alma menyebut dirinya saya.


__ADS_2