Almahyra

Almahyra
Bagian 43


__ADS_3

Alma lebih dahulu terbangun dibandingkan Jafar. Seperti bukan kebiasaan suaminya, lagi-lagi ia ingin mengulang menatap Jafar seperti dini hari tadi, tidur keduanya semalam saling berpelukan. Sentuhan yang diberikan oleh Jafar tidak pernah luput dari ingatannya---kemarin adalah hari yang sangat tidak ia pahami akan terjadi. Barusan saja siang itu ia berbagi kasih dengan Jafar, lantas tiba-tiba saja sore hari terjadi kesalahpahaman.


Apa kehidupan berumah tangga seperti ini?


Tangan kiri Alma terangkat mengusap-usap lembut pipi kiri suaminya. Bahkan tak segan ia mendekat mengecup pucuk kepala dan pipi kiri Jafar.


"Mas ..."


"Mas Jafar ... bangun."


Seulas senyuman tercetak dibibir Jafar, tangannya terangkat menumpu pada tangan kiri Alma yang masih mengusap-usap pipi kirinya. Netra yang semula terpenjam kini terbuka perlahan, hingga membuat kedua insan ini bertemu tatap sejenak.


"Kamu capek banget, ya?"


Jafar mengangguk.


" ... sampai jam segini kamu baru bangun."


"Ya emang sih belum subuh. Cuma biasanya Ummi bilang, kamu bakalan ke Masjid lebih awal."


Jafar bangun---mengambil posisi duduk. Ia menyikap surainya ke belakang beberapa kali, setelah itu ia menatap Alma sejenak yang menurutnya kian lama kian mempesona.


"Kamu mau mandi dulu?"


Jafar mengangguk dan mengambil gawai di nakas samping ranjang, lalu membuka aplikasi note. "Saya ingin memberimu pertanyaan."


Kening Alma mengerut. "Apa?"


"Kamu tidak berniat mandi bersama dengan suamimu ini, Alma?" tulis Jafar.


Tolong, ia baru saja terbangun. Dan tiba-tiba saja mendapatkan pertanyaan semacam ini, ia terkejut bukan main. Bahkan ia terbatuk-batuk, meski sedang tidak meneguk air.


"Jangan berpikir seolah-olah saya sedang bersikap tak pantas padamu," tulis Jafar lagi.


Spontan Alma menggeleng. "E-enggak. Ta-tapi kamu ... anu a-apa? Mandi bersama?"


Jafar mengangguk dan kembali menulis lagi. "Kamu tahu semua hal yang dilakukan bersama oleh suami dan istri akan menjadi pahala."


Ta-tapi nggak harus mandi bersama juga 'kan?


Jangankan mandi, i-itu aja kita belum.


"Ta-tapi ... sa-ya nggak maksud nolak. Sa-ya masih haid, Mas." Alma menunduk malu hendak melanjutkan ucapannya. "Nanti kalau udah. Kita bisa mandi bersama."


Setelahnya Jafar berdiri---menuju kamar mandi. Sedangkan Alma terburu-buru menuju lemari mengeluarkan gamis serta kerudungnya, dan baju untuk suaminya. Tujuh menit berlalu Jafar telah keluar dari kamar mandi, aroma sabun mandi yang digunakan suaminya itu memenuhi satu ruangan kamar ini. Harum. Alma suka aroma ini.


"Kamu langsung ke Masjid?" tanya Alma saat melihat Jafar telah berpakaian rapi.


Jafar mengangguk.


Seperti biasa suaminya itu berhenti di depan meja rias, menuliskan sesuatu di sana. Setelah usai Jafar mendekatinya dan Alma menyambut dengan ciuman dipunggung tangan kanan.


"Sa-saya tunggu di rumah."


Apanya yang ditunggu di rumah?!


Ah, nggak jelas banget aku ini!


Lagi-lagi Jafar mengangguk. Seusai kepergian suaminya, tujuannya sekarang adalah meja rias. Sungguh ia selalu penasaran apa yang dituliskan oleh Jafar.

__ADS_1


"Biasanya saat perempuan sedang haid, pasti akan kesakitan. Jadi jika kamu membutuhkan sesuatu atau menginginkan sesuatu mintalah kepada saya, Alma. Hubungi saya saja. Keluhkan semuanya pada saya."


Pipinya memanas, perhatian kecil ini sangat membuatnya melayang bukan main. Padahal yang Alma tahu jarang ada seorang laki-laki mengingat tentang hal-hal seperti ini. Jafar sangat berbeda dari yang lain. Atau memang semua wanita yang sudah menikah akan mendapatkan perhatian ini juga?


Kling!


Gawainya yang berada di meja samping ranjang berbunyi---menampilkan notifikasi khusus yang ia gunakan untuk beberapa orang saja.


Paman Idrus lagi?


Paman Idrus


Kalau kamu tidak bisa, tidak apa-apa, Nak.


Jangan memaksa suamimu, ya?


Paman selalu tunggu kedatangan kamu di Kedai Bersama.


^^^Maaf, Paman.^^^


^^^Alma belum meminta izin ke Mas Jafar^^^


^^^Insya Allah nanti sekitar jam 6, Alma akan segera memberi kabar untuk Paman.^^^


Alma mematikan layar gawai. Seharusnya sebelum Jafar berangkat tadi, ia harus meminta izin terlebih dahulu. Sudah pasti Paman Idrus menunggu, beliau adalah Ayah sambung yang sangat ia sayangi. Mengecewakan beliau adalah kesalahan, tapi jikalau memang Jafar tidak memberi izin pun Alma tahu itu sesuatu yang harus diterimanya tanpa bantahan.


"Nak ... Alma. Menantu Ummi."


Semburat merah muncul kembali di pipinya. Suara ketukan dibersamai panggilan baru itu membuat Alma merona. Entah lah akhir-akhir ini, mungkin karena haid ia merasa mudah terbawa perasaan. Hingga setiap ada sesuatu yang terdengar asing ditelinga spontan itu membuatnya malu-malu.


"Dalem, Ummi," ucap Alma saat telah membuka pintu kamar.


"Ma-mau Ummi. Bantu apa?"


Ummi Salamah menuntunnya untuk memasuki dapur. Setelah sampai di meja, terlihat begitu banyak makanan tersusun yang sudah berada di dalam rantang.


"Nanti bantu Ummi nganterin ini ke rumahnya Mbok Isna, ya?"


Alma merasa tak enak untuk menolak. Jeda lima detik akhirnya ia menjawab, "Emangnya Mbok Isna kenapa Ummi?"


"Sakit. Beliau nggak enak badan, Nak. Makanya Ummi mau ngantar makanan," ucap Ummi Salamah.


Alma manggut-manggut. "Nantinya jam berapa Ummi?"


"Sekitar jam enam nanti. Bisa?"


Alma mengangguk. "Insya Allah bisa, Ummi."


"Ya udah. Sekarang Ummi mau ke panti dulu temuin Umma Sarah. Kamu bisa jaga rumah bentar 'kan Nak? Sampai Masmu pulang," pinta Ummi Salamah.


Alma mengangguk lagi. "Bisa Ummi."


"Nanti bilangin Masmu juga, Ummi berangkat sama Cak Yanto ke pantinya jadi nggak usah khawatir atau mikir yang aneh-aneh."


Lagi-lagi Alma mengangguk. "Iya, Alma nanti bilang ke Mas Jafar."


Ummi Salamah telah berpamitan pergi. Alma terdiam sejenak duduk di kursi dapur. Baru saja tadi malam ia dan Jafar berbaikan, sekarang tiba-tiba saja ia harus meminta izin ke rumah Mbok Isna---yang mana Alma yakini pasti ada Dimas di sana. Ia tahu Jafar mungkin akan mengizinkan tapi ia merasa tak mau lagi menyakiti suaminya.


Azan subuh berkumandang. Alma merasa kantuk menyerang lagi, dengan merebahkan kepala di meja, netranya perlahan terpejam. Tidur sejenak tak masalah, bukan? Setidaknya dengan ia tidur di sini, Ummi akan mudah membangunkannya.

__ADS_1


...🌺...


"Mbak ..."


Alma merasa seseorang menyentuh punggung, dan menggoyangkan tubuhnya perlahan. "Mbak ... Mbak, ndak pa-pa?"


Netra Alma terbuka lebar saat mendengar suara yang tak asing di telinga. Dimas! Spontan saja ia berdiri dan karena ia tertidur tak nyaman di meja, sedetik kemudian ia merasa benda di depannya berputar---pusing tiba-tiba menyerang.


"Mbak ndak pa-pa?"


Alma menggeleng kuat, menghindar dari tangan Dimas yang entah benar-benar ingin membantu atau ada maksud lain.


"Kenapa kamu bisa masuk?" tanya Alma di sela-sela rasa pusingnya.


Tangan Dimas terangkat menyentuh bahu Alma.


"Jangan bantu saya. Saya tanya gimana bisa kamu masuk?" tanya Alma, lagi.


Terdengar helaan napas pelan dari Dimas. "Saya tadi lihat dari jendela dapur. Saya takut Mbak kenapa-napa makanya saya masuk. Maaf, Mbak."


"Kalau begitu kamu keluar sekarang."


Sungguh menyebalkan tiba-tiba saja perutnya terasa kram. Padahal ini sudah hari ketiga ia haid tapi entah mengapa sakit ini menyerang tanpa aba-aba dan juga disaat yang tidak tepat.


"Saya mau memin---Mbak kenapa? Pusing? Atau perut Mbak sakit?"


Tangan kurang ajar itu hendak menyentuhnya lagi. Namun Alma spontan mundur hingga punggungnya terbentur di dinding dapur. "Saya minta kamu keluar. Saya baik-baik aja. Tolong kamu keluar," ucapnya.


Rasa pusing dibersamai dengan perut yang sakit berkali-kali lipat, Alma tak bisa menahannya hingga jatuh terduduk---yang mana langsung tangan Dimas bertumpu pada perut atasnya.


"Le-pas. Kamu keluar," lirih Alma.


Mas Jafar, kenapa kamu belum pulang?


Perut saya sakit, Mas.


"Mbak saya bantu berdiri," ucap Dimas langsung menerima dorongan pelan dari Alma yang bahkan tak mengubah posisinya. "Mbak kayaknya sakit. Saya ndak maksud apa-apa saya bantu berdirinya, Mbak."


Nggak maksud apa-apa? Tapi tanganmu melewati batas menyentuh punggungku dan bertumpu di perutku!


"Lepas. Saya bilang lepas. Kalau kamu memang berniat bantu, to ... long panggilkan Mas Jafar di Masjid," ucap Alma yang sekuat tenang mendorong Dimas menjauh.


Dimas menggeleng kuat, tetap kekeh membantu Alma berdiri. "Saya bakal panggil Gus Jafar, kalau Mbak udah duduk. Saya janji Mbak."


"Lepas tanganmu," lirih Alma, lagi.


Dimas menggeleng lagi. "Saya bantu Mbak buat duduk."


"Saya bisa duduk---"


Tangan hangat tiba-tiba saja merangkulnya dari kiri. Alma yang semula menunduk menahan tangis luar biasa kini mendongak. Jafar ... telah datang mengambil alih posisi Dimas. Tangan hangat itu menarik tumpu tangan Dimas yang berada di perutnya. Ia sama sekali tidak memahami tatapan itu. Suaminya pasti akan salah paham melihat semua ini---lebih-lebih lelaki itu berani menyentuhnya.


"Gus ... saya ndak maksud apa-apa saya tadi lihat Mbak Alma---"


Jafar mendorong Dimas dengan cukup keras, hingga ia dapat melihat cucu Mbok Isna itu hampir tak bisa menjaga ke seimbangan. Dari samping Alma dapat melihat netra suaminya itu menajam, Jafar pasti sangat marah atau mungkin sekarang ia mengecewakan suaminya lebih dari apa pun?


"Saya pamit Gus."


Note:

__ADS_1


Sengaja gini doang. Nanti up lagi, POV Jafar, tungguin ya? Kalau nggak siang ya sore.


__ADS_2