
Tepat pukul lima pagi Alma telah memulai puasanya. Ia tak lagi makan-makan apa, tadi ia sempat memakan sarapan yang disiapkan suaminya sebelum subuh, ia juga memakan beberapa camilan yang diberikan oleh Kirana dan Inayah. Kedua adik panti asuhannya itu tahu kalau ia akan menjalankan operasi, tetapi Alma tak memberitahu operasi apa yang ia jalani.
Pagi-pagi sekali Jafar menawarkan untuk mengunjungi Lutfan, Alma sangat bahagia karena Ummi Salamah tak melarang. Jadi sekarang dengan di antar oleh Cak Yanto, ia dan Jafar menuju Adiwangsa Hospital yang mungkin akan pulang sebelum jam sembilan. Itu permintaan Jafar, supaya Ummi Salamah bisa istirahat sejenak.
"Kamu terlihat bahagia, senyummu sendari tadi tidak hilang," tulis Jafar yang mendekatkan buku catatan di pangkuan istrinya.
Alma menengok menampil senyuman yang kian lebar. "Saya cuma nggak sabar ketemu Lutfan, Mas. Emang saya nggak boleh kelihatan sebahagia ini?"
Buku catatan itu ditarik. Jafar kembali menulis. "Boleh. Saya tidak melarang. Tapi saya sedikit iri, Lutfan bisa membuatmu sebahagia ini."
Alma tertawa ringan, jikalau tidak ada Cak Yanto sudah ia cubit kedua pipi suaminya. Tangan kanannya menarik buku catatan Jafar. "Kamu nggak akan pernah tahu sebahagia apa saya hidup bersamamu. Ingin saya jelaskan? Atau ingin saya ekspresi langsung rasa bahagia saya terhadap kamu, Mas?" tulis Alma.
Buku catatan itu Jafar ambil alih. "Kamu boleh melakukan apa pun. Tetapi, nanti. Setelah operasi, dan kamu sudah pulih. Saya juga siap mendengarkan segala penjelasan tentang kebahagiaanmu," tulisnya.
Tawa ringan Alma melambung. Ia menatap lurus pada Cak Yanto dan berujar, "Cacak udah sarapan?"
"Sudah, Mbak."
Mendengar jawaban Cak Yanto, Alma mengalihkan padannya pada Jafar. "Mas, mau beli sarapan dulu buat orang-orang di rumah sakit?" tanyanya.
"Boleh. Bubur?" tulis Jafar.
Alma mengangguk.
"Cacak nanti tolong berhenti di ... tukang bubur dekatnya Adiwangsa Hospital, ya? Nanti Cacak beli buat Icha juga, tapi pas pulangnya aja. Biar nanti masih enak, Cak," ucap Alma.
"Ndak usah, Mbak. Icha sudah makan kok," tolak Cak Yanto.
Alma mengangguk kecil. "Ya udah kalau gitu. Nanti malam Ichanya jangan lupa di suruh hadir Jumat bersama, ya Cak? Di pesantren."
"Kalau itu mah siap, Mbak. Ndak usah disuruh pasti anaknya mau dateng. Orang ndek sana banyak hadrah, anaknya Cacak suka banget dengerin Mas-mas pesantren sholawatan," jelas Cak Yanto.
"Alhamdulillah."
Mobil daihatsu hitam yang biasanya ia tunggangi dengan Jafar berhenti di tukang bubur. Alma meminta Cak Yanto masuk terlebih dahulu ke Adiwangsa Hospital untuk menyampaikan kedatangannya dengan Jafar. Ia masih sanggup berjalan beberapa meter ke ruang rawat, tak masalah baginya.
"Kamu tidak lelah?" tulis Jafar saat perjalanannya baru setengah. Ia telah usai membeli bubur dan sekarang sedang berjalan menuju ruang rawat.
Alma mencondongkan tubuhnya ke telinga Jafar. "Sedikit, Mas. Kenapa? Kamu mau gendong saya?"
Alma tertawa ringan dan menggeleng. "Enggak-enggak becanda, Mas."
"Saya siap mengendong kamu. Tapi sepertinya kamu akan malu, karena begitu banyak orang di sini," tulis Jafar---sekarang di gawainya.
"Itu tahu." Lagi-lagi Alma tersenyum. "Kalau mau gendong saya pas sepi-sepinya aja, Mas."
"Biar saya nggak malu."
__ADS_1
Jafar mengangguk dengan senyum tipisnya. "Di rumah dan di kamar. Itu tempat paling sepi," tulisnya.
Alma mengangguk. "I-iya bener, Mas. Kamu bener."
...🌺...
Sarapan untuk orang-orang yang berada di rumah sakit telah diberikan oleh Alma. Sekarang ia duduk di kursi single yang bersebelahan dengan Jafar, menatapi Lutfan yang senyumnya tiada hilang semenjak sadar.
"Ukhti, gimana kabarnya?" tanya Lutfan.
Harusnya aku yang tanya kabar kamu, Lutfan!
Alma berdeham. "Baik. Kamu sendiri?"
"Ya gini-gini aja, masih utuh, masih jadi Lutfan gantengnya Umma."
Tawa renyah Alma lambungkan.
"Kebiasaan ..." Alma menengok menatap suaminya. "Mas, adikmu ini emang tingkat kepedeannya kebangetan, ya?"
Jafar hanya mengangguk dan tersenyum.
Alma bisa melihat sorot mata pilu itu. Lutfan tidak akan pernah bisa membohongi orang-orang sekaligus dirinya. Tiada manusia yang akan baik-baik saja sesaat dirinya tahu apa yang telah terjadi pada tubuhnya, bukan tak utuh, tetapi berbeda dari sebelumnya. Bahkan suatu kewajaran bagi Lutfan untuk tidak tersenyum, Alma akan memahami, begitu pula dengan keluarga besar. Cucu kedua Kiai Bashir yang penuh tawa serta bahagia ini tengah di timpah musibah, kesedihan yang mendalam tidak hanya untuk Lutfan saja, namun untuk satu keluarga ini---yang sangat-sangat menyayangi lelaki tengil itu.
"Ponakan-ponakan ..." Dengan mengedipkan sebelah mata Lutfan menggoda. "Udah isi belum? Aku nungguin lho Mas. Sampean gas kan tiap malem anu---akh!"
Sentilan di dahi Lutfan membuatnya berhenti berbicara. "Apaan sih lo!"
Jafar tiba-tiba mengetuk brankar dua kali. Sehingga Alma, Lutfan, dan Mardiyah menoleh melihat buku catatannya yang terangkat. "Tunggu saja dalam 1 bulan kedepan, setelah resepsi pernikahan saya dan Alma."
Ada jeda di halaman buku catatan itu. "Untukmu juga, Lutfan. Mas menantikan pernikahanmu dengan Mardiyah. Secepatnya, bukan?"
Alma tersipu malu membaca tulisan Jafar, ternyata semua telah sudah direncanakan oleh suaminya? Sesudah resepsi? Ada-ada saja kamu! Tidak apa-apa lagi pula bagi Alma itu suatu kewajaran.
"Do'ain, Lutfan," ucap Alma.
Tiba-tiba saja Ummi Salamah mendekat. "Alma, Jafar ayo pulang, Nak."
"Kok di suruh pulang, Bi? Kan aku masih mau ngobrol-ngobrol sama Kakak ipar sama Mas Jafar juga," sahut Lutfan.
Ummi Salamah tersenyum. "Kakak iparmu ini lagi proses persiapan buat walimah nanti, mau periksa-periksa ke RS juga, buat nikah sah secara hukum. Nanti kalau udah pasti Bibi suruh ngejenguk kamu lagi, Nak."
Bibir manyun Lutfan kembali semula. "Ya udah janji, ya Bi? Soalnya aku ngerasa bosen banget, di rumah sakit. Belum lagi yang ..."
"Nemenin kayak patung. Kaku banget," imbuh Lutfan sembari melirik Mardiyah.
Ummi Salamah, Alma dan Jafar telah pamit. Kembali ke pesantren lagi, untuk istirahat sejenak. Sekitar pukul delapan mobil tepat berhenti di depan kediaman Ummi Salamah, Alma terburu-buru turun karena tiba-tiba saja ia ingin membuang urine.
__ADS_1
"Lega banget ..."
Sesaat Alma membuka pintu kamar mandi, ia hampir terjungkal karena tepat saat itu Jafar berada di depannya. "Mas, kamu!"
"Kamu ngangetin saya Ya Allah, Mas ..."
Jafar tersenyum kilas dan menggerakan bibir. "Maaf."
Alma menggeleng kuat. "Nggak-nggak, nggak pa-pa. Kamu mau ngapain?"
Jafar menggeleng.
Alma berjalan mendekati ranjang dan duduk di sisi kiri. "Maaf tadi saya buru-buru, Mas. Saya mau pipis."
Jafar mengangguk dan mendekati Alma.
"Kamu tidur lagi, gih Mas. Biar nanti nungguin saya nggak capek."
Jafar menggeleng---tangannya terangkat menyentuh pipi kiri Alma.
"Nggak mau?"
Jafar menggeleng.
"Kenapa?"
Jafar menggeleng lagi.
"Kok geleng terus, sih?" Alma sedikit menunduk---meraba dada bidang suaminya hingga mengarah pada saku depan kiri, mengambil pena serta buku catatan. "Tulis di sini coba, Mas."
Jafar menggeleng lagi.
"Kamu kenapa?"
Jafar mengusap tengkuk Alma yang tertutupi kerudung, ia menggerakkan bibir dengan masih menatapi istrinya. "Takut."
"Ta ... kut?" Alma meletakkan pena serta buku catatan di pangkuan, kedua tangannya meraba di atas bahu Jafar hingga ia memeluk leher suaminya. "Takut apa, Mas?"
"Saya udah nggak takut lho, kok kamu tiba-tiba gini?"
Alma menarik tangan kiri Jafar yang berada di tengkuknya, kemudian meletakkannya di dada. "Kamu ngerasain nggak?
Jafar mengangguk.
"Kali ini ..." Alma tersenyum tipis. "Saya berdebar-debarnya bukan karena takut operasi. Saya berdebar karena kamu ... sedekat ini."
Alma menarik pelan suaminya dalam dekapan. "Dokter Indira bilang, hernia umbilikalis ini kan operasi kecil. Jadi kamu nggak perlu khawatir, Mas. Saya baik-baik aja, saya udah coba nggak takut. Tolong kamu ... bantu saya ya, Mas?"
__ADS_1
Jafar mengangguk.
[.]