Almahyra

Almahyra
Season 2, Bagian 1 : Ayah Kok Enggak Pelnah Bicala?


__ADS_3

"Ayah, Ayah kok enggak pelnah bicala sih?"


Seorang gadis kecil dengan paras manis serta surai panjang sedikit keriting, berada di pelukan Jafar dengan tangan yang tidak bisa diam, memainkan kancing baju. Bahkan mulut luar gadis kecil itu masih penuh dengan biskuit, bekas makannya tadi.


"Ayah enggak dengelin Dilala bicala, ya?"


Demi Allah, Sayang. Ayah mendengarmu, batin Jafar menatap putrinya yang ia beri nama Dilara Jahizah atas persetujuan Alma. Gadis kecil yang berada di pangkuannya ini telah memasuki usai 2 tahun lebih 3 bulan, ia sangat aktif.


Entah mengapa seperti Lutfan dan Salwa saja. Banyak berbicara, banyak tanya, dan banyak tingkah. Mengemaskan memang. Namun terkadang Jafar tidak bisa mengimbangi sang anak. Sebab kondisinya yang tidak bisa berbicara ini.


Alma ...


Istrinya itu. Mengapa? Mengapa harus tetap bertahan dan bersikap seolah-olah baik-baik saja? Padahal sudah memasuki 3 tahun ia menjalani terapi, walau tidak rutin tetap saja. Itu berobat, bukan? Suaranya terdengar sedikit-sedikit, namun entah bagaimana tiba-tiba saja gagal, suaranya seolah menghilang lagi.


Jafar memahami bahwa tidak akan pernah usahanya sia-sia. Namun untuk mengulangi lagi terapi, sungguh membuat ia merasa sakit. Sebab harus merepotkan sang istri lagi, ia tak sanggup. Alma sudah benar-benar mengabdikan kehidupannya untuk melayani seorang suami tidak berguna seperti dirinya ini.


Perjodohan yang telah Allah kehendaki ini benar-benar membahagiakan. Namun sungguh, ia tetaplah manusia, kekurangan yang terlihat gamblang sangat membuatnya merasa kecil lagi.


"Ayah ... Dilala bicala Ayah enggak mau bicala! Dilala jadi malah sama Ayah."


Tiba-tiba saja Jafar merasa punggungnya hangat. Tangan lembut dan jari-jemari meraba menyentuh lengan, siku, hingga terakhir pada pergelangan tangannya. "Bah! Hahaha, kaget nggak, Nak?"


Alma ... batin Jafar yang masih menikmati pelukan hangat Alma yang berada dibelakang. Namun kali ini kedua tangan sang istri berpindah pada pundaknya.


"Kamu bicara apa sama Ayah?" Tangan Alma mencolek hidung Dilara. "Mama kasih tahu, dong!"


"Dilala tanya Ma ke Ayah ginih ..." Tangan Alma mengusap sisa-sisa biskuit yang berada di luar mulut Dilara. "Ayah kok enggak pelnah bicala? Thapi ... Ayah enggak mahu jawab, Ma."


Seketika senyum simpul Alma memudar. Lantas diambil alih lah Dilara dari pelukan Jafar, dan berganti menggendong sang anak.

__ADS_1


"Hm ... apa?"


"Mama juga enggak dengelin Dilala bicala?"


"Dengar, tapi ulangi coba."


"Ayah enggak pelnah bicala napa?"


Alma tersenyum tipis. "Berapa kali Mama bilang? Kalau Ayah lagi sakit, jadi Ayah nggak bisa bicara sama semua orang. Bukan sama Dilara aja, Nak."


"Thapi Ma, Ayah men-temen Dilala bisa bicala walau katanya lagi cakit," jelas Dilara.


Alma hendak membuka mulut, mengajak Dilara bicara lagi. Namun tiba-tiba pundaknya di sentuh, lalu tangan besar itu menurun mengusap-usap punggungnya. "Ayah, Ayah laper nggak? Mama masak menu kesukaan Ayah sama Dilara lho. Mau makan?" ujar Alma.


Jafar mengangguk.


"Tuh, Ayah bilang mau. Dilara mau nggak?"


"Berempat dong. Sama Nenek," ujar Alma.


Netra bulat Dilara membinar. "Belempat? Nenek pulang jam belapa emang, Ma?"


"Habis ini pulang."



Sarapan yang menjelang makan siang telah usai. Ummi Salamah sedang istirahat di kamar, setelah pulang melihat Mardiyah yang katanya mengidam ingin memakan masakan beliau. Sedangkan Dilara di bawa main bersama oleh Kirana dan Inayah di taman pesantren. Sebenarnya kedua gadis remaja itu sibuk membantu Ustazah Aini, tapi sempat-sempatnya bermain dengan Dilara.


Lalu suaminya. Jafar. Sedang duduk di sampingnya fokus mengerjakan penjualan outlet yang di tinggalnya libur selama dua hari ini.

__ADS_1


"Mas mau saya bikinin apa?"


Jafar menggeleng.


"Coba ketik sesuatu."


Jafar terlihat membuka microsoft word lantas mengetik di sana. "Saya tidak ingin apa-apa."


"Kamu marah sama saya?"


Jafar menggeleng.


"Kalau gitu ketik sesuatu. Biar saya nggak menyimpulkan yang bukan-bukan."


Jafar mengetik lagi. "Alma, bertambah besar Dilara. Dia semakin ingin tahu keadaan saya. Sedangkan, saya tidak bisa mengajaknya berkomunikasi layaknya seorang Ayah dan anak."


Alma menunduk. Tangannya menarik tangan kanan Jafar di usap-usapnya pelan, lalu di kecup sejenak. "Iya. Dilara udah besar. Dia makin pinter. Setiap hari saya selalu bilang ke Dilara, kalau Ayahnya lagi sakit. Insya Allah dia ngerti kok, Mas. Kalau dia tanya-tanya, biar saya yang jawab semua. Saya bakal kasih pengertian ke dia."


"Pengertian yang bagaimana lagi, Alma?" ketik Jafar.


Jafar menarik tangannya, seperti enggan menerima sentuh Alma lagi. "Banyak, Mas. Saya bisa kasih pengertian apa pun ke Dilara. Semua saya ajarkan ke dia. Kamu tolong jangan seperti ini," ujar Alma.


"Kamu melihat bukan? Bahwa terapi itu tidak memiliki hasil apa-apa," ketik Jafar, lagi.


"Menghasilkan, Mas." Alma menjeda. "Kamu bisa mengendarai mobil lagi. Dan memang, untuk bicara kamu belum ada kemajuan. Saya bener-bener merasa bahwa terapi ini nggak sia-sia. Apa kamu nggak bisa ngerasain itu?"


Jafar diam tangannya tidak mengetik.


Sedangkan Alma membenarkan posisi duduknya dengan menyandarkan punggung pada sofa dan menatap lurus. "Kamu nggak boleh nyerah. Kamu pasti bisa bicara lagi. Entah berapa tahun pun saya menunggu, saya nggak bakal capek, Mas."

__ADS_1


"Jadi tolong, jangan pernah berpikir yang bukan-bukan," imbuh Alma.


__ADS_2