Almahyra

Almahyra
Bagian 53 (1)


__ADS_3

"Alasan apa yang membuatmu mempertahankan pernikahan dengan laki-laki cacat seperti saya?" tulis Jafar.


Jeda lima detik Alma berujar, "Saya nggak suka kamu menyebut dirimu sendiri seperti itu, Mas."


"Jangan mencoba melupakan fakta bahwa laki-laki yang kamu nikahi ini bisu, Alma," tulis Jafar.


Alma mengangguk kecil. "Itu memang fakta. Tapi kamu nggak perlu mempertegas, Mas. Saya udah tahu dan saya nggak suka sebutan cacat dan bisu yang kamu tuliskan untuk dirimu sendiri."


"Apa susahnya menuliskan kata tunawicara, Mas? ... Kenapa harus semenyinggungkan itu untuk dibaca?" sambung Alma.


Jafar menghela napas pelan, tangan lelaki itu kembali mengetik. "Kenapa kamu merasa sangat tersinggung? Yang tunawicara adalah saya, bukan kamu."


"Tapi kamu suami saya, Mas. Saya nggak suka pertanyaan kamu, saya nggak suka sebutan semacam itu, saya nggak mau membacanya dari kamu atau mendengarnya dari orang lain."


Karena saya tahu itu menyakitimu, Mas.


Bahkan sampai sekarang saya benar-benar menyesal pernah mengeluarkan kata buruk itu untukmu.


"Jadi tolong ... kalau Mas ingin mengobrol dengan saya, gunakan bahasa yang saya sukai," imbuh Alma.


Jafar mengangguk kecil. "Maafkan saya."


Terdapat jeda di aplikasi note. "Tetapi saya ingin tahu jawaban dari pertanyaan saya tadi. Apa tidak boleh?"


"Enggak." Pandangan Alma lurus ke depan menatapi guyuran hujan yang mulai menggenangi selokan-selokan kecil pembatas antara latar dan lantai rumah sakit. "Enggak akan ada alasan yang kamu dengar dari saya, Mas."


"Kenapa?" tulis Jafar.


Alma menyeruput jeruk hangatnya lagi dan berkata, "Karena saya nggak mau jawab."


"Saya ganti pertanyaan. Apa kamu akan menjawab?" tulis Jafar.


Kedua bahu Alma terangkat. "Tergantung pertanyaannya."


Jafar mengangkat kepalanya, usai sudah ia menyandar pada kedua bahu Alma. "Apa cinta bisa menjadi salah satu alasan seseorang mempertahankan pernikahan?"


"Bisa." Alma menengok menatap suaminya. "Karena biasanya dasar dari seseorang menerima pernikahan itu, karena rasa ketertarikan."


"Saya rasa ketertarikan dan cinta cukup berbeda. Kenapa jawabanmu seperti?" tulis Jafar.


Alma tersenyum tipis. "Saya belum selesai bicara, Mas. Ada lanjutannya ..."


"Rasa ketertarikan nggak harus dari fisik aja 'kan? Bisa lho dari hati, semacam ... seseorang bisa menjatuhkan hatinya untuk orang lain saat ia menerima kasih sayang, perhatian dan perlakuan tulus. Intinya kayak ... hati ini akan condong mempertahankan sesuatu yang memang menguntungkan untuk diri sendiri," lanjut Alma.


Kening Jafar mengerut. "Cinta kamu sama kan dengan keuntungan?" tulisnya.


"Enggak bukan gitu." Alma duduk bergeser semakin ke samping, ia menatap Jafar lebih dekat. "Saya hanya merasa bahwa orang-orang yang memiliki cinta pasti lebih beruntung."


"Iya 'kan, Mas?"


Jafar mengangguk.


"Selain cinta. Apa yang membuat seseorang pertahanan pernikahan juga?" tulis Jafar.


"Kamu ini ... lagi ngapain sih Mas? Kok pertanyaan kamu aneh-aneh banget."


Jafar menggeleng dan mengetik. "Bukan aneh, Alma. Kamu mengizinkan saya untuk mengobrol denganmu 'kan? Jadi saya sedang memanfaatkan waktumu dengan baik."

__ADS_1


Alma manggut-manggut. "Selain cinta, ya?"


"Ehm ... uang? Harta bisa membuat seseorang mepertahankan semuanya, Mas. Nggak harus pernikahan, apa pun bisa."


Jafar mengangguk. "Saya setuju. Tapi jika kamu diberikan pilihan ingin menikah dengan orang yang berharta atau orang yang memberikanmu cinta?" tulisnya.


Alma sama sekali tidak memahami bahwa akhir dari pertanyaan Jafar adalah ini. Mengapa suaminya itu harus memberikan pilihan? Sedangkan yang sedang ditanyai ini adalah istri---seseorang yang sudah menikah.


"Saya boleh nggak jawab?"


Jafar menggeleng dan menggerakkan bibir. "Nggak boleh."


"Mas sadar nggak? Kalau saya mendapatkan keduanya?" Alma menggeleng kuat. "Bukan-bukan mendapat. Menikahi. Saya menikahi dua pilihan yang Mas sebutkan."


Jafar menatapnya seolah-olah bertanya, apa maksudnya?


"Kamu memiliki harta yang cukup dan memiliki cinta yang dapat dirasakan sebagai keberuntungan," jawab Alma.


Semburat merah tiba-tiba muncul di kedua pipi Jafar, bahkan memanas menjalar ke telinganya yang iku memerah. Di tengah pilu ia masih bisa merasakan sedikit bahagia bersama Alma. Entah perempuan seperti apa yang Ummi pilihkan untuknya. Ia merasa sangat beruntung.


"Eh!" Alma menyentuh telinga Jafar. "Telinga kamu merah, Mas ... Kamu malu?"


Hawa dingin menyapu wajah kedua insan yang saling melempar senyum itu.


"Saya sedang memberikan kamu pilihan. Tetapi kenapa kamu malah menjawabnya seperti itu?" tulis Jafar.


Alma sedikit menunduk kepala menyamping---kian dekat pada suaminya. "Jawaban saya nggak salah 'kan Mas? Kamu termasuk dalam dua pilihan itu."


...🌺...


Sekitar pukul satu dini hari Alma terbangun dan melihat sekeliling orang-orang terlelap. Ah tidak, Mardiyah masih membuka mata menunggui Lutfan dengan sedemikian sabar. Ia semakin bisa melihat perasaan Mardiyah yang tak terucap, semua itu terlihat jelas dari pandangannya.


"Mar ..."


Mardiyah melirik Alma.


"Kamu nggak tidur?"


Mardiyah menggeleng.


"Kamu laper?"


Mardiyah menjawab, "Sedikit. Tapi ini udah malam. Apa kantin masih buka?"


"Kantin mungkin udah tutup, Mar. Kalau mini market pasti masih buka. Mau aku anter?" tawar Alma.


Mardiyah menimbang melihat Lutfan masih terlelap lemah tak tega rasanya untuk meninggalkan. Tetapi perut laparnya tidak bisa diajak untuk berkompromi terus meronta-ronta. "Siapa yang jaga Lutfan?" tanyanya.


"Ehm ..." Alma mendekati Jafar hendak menyentuh bahu suaminya. "Aku bang---"


"Nggak usah."


"Te ... rus, Mar? Kamu nggak makan?" Alma menggigit bibir bawahnya---ia berpikir baiknya bagaimana? "Gimana kalau saya yang beliin aja, Mar? Mie rebus, ya?"


"Nggak usah."


Jafar terusik dari tidurnya. Ia terbangun mungkin karena mendengar kebisingan dari kedua perempuan ini. Jafar bangkit mendekati Alma.

__ADS_1


"Ma-maaf Mas, kamu kebangun."


Jafar mengeluarkan gawai dan mengetik. "Ada apa?"


"Mardiyah laper ... saya juga laper Mas. Ki-kita mau ke kantin tapi ini ..." Alma melihat jam yang menempel di dinding. "Udah malem, Mas."


"Saya antar kamu ke mini market 24 jam. Mau?" tulis Jafar.


Alma menatap Mardiyah.


"Mar, aku diantar sama Mas Jafar. Kamu mau mie rasa apa? Biar aku beliin."


Mardiyah menjawab, "Soto. Maaf ngerepotin."


Di perjalanan menuju mini market memang sepi. Adiwangsa Hospital sebenarnya tak benar-benar sesunyi ini, mungkin karena terlalu dini hari. Atau memang orang-orang sedang beristirahat, masih terlihat satu dua orang lalu-lalang dengan wajah lelah. Sungguh Alma memahami bahwa tak akan pernah ada orang yang menampakkan wajah bahagia di tempat ini.


Mungkin ada.


Tapi tak sebanyak itu untuk ia temui.


"Kakek juga Mas? Saya takut nanti beliau laper."


Jafar mengangguk.


"Kamu juga, ya?"


Jafar mengangguk lagi.


Alma mengambil satu air mineral besar dan empat mie yang di masak langsung di stan mini market. Setelah menunggu memasak sekitar lima menit mie telah tersaji dan telah di masukan ke kantong.


"Terima kasih, Kak."


Perjalanan kembali kembali ke ruang rawat memakan waktu yang cukup lama. Sedikit melelahkan, namun Alma masih sanggup untuk berjalan, di perempatan kedua ia sedikit terengah-engah, apa karena rasa lapar ini?


"Kamu lelah? Ingin makan?" tulis Jafar.


Alma mengangguk dan mengambil duduk di kursi batu yang di model menyatu dengan dinding.


"Sebentar aja, Mas. Saya takut Mardiyah nungguin."


Mie rebus rasa soto ayam Alma lahap beberapa kali, setelah dirasa perutnya sedikit terisi ia menatap Jafar. "Udah, Mas. Ayo."


"Kamu yakin?"


Alma mengangguk.


Perjalanan melewati satu perempatan telah usai. Sekarang ia tinggal menaikkan lift menuju VIP tulip. Mini market memang hanya beberapa, dan yang paling dekat di lantai satu. Dari pandangan sudah terlihat ambang pintu ruang rawat Lutfan.


"Maaf, Mar. Lama."


Mardiyah menggeleng, ia beranjak berdiri membantu Alma meletakkan mie rebus itu.


"Nggak pa-pa. Makasih," ucap Mardiyah.


Alma mengambil duduk di kursi single dan menatap Jafar. "Mas kamu bangunin Kakek. Beliau pasti laper."


[.]

__ADS_1


__ADS_2