Almahyra

Almahyra
Season 2, Bagian 6 : Mengingatkan


__ADS_3

Jafar melihat Alma pulang dengan wajah lelahnya. Meeting yang di maksud istrinya tadi berakhir sekitar bakda magrib, dan Alma langsung memasuki kamar mandi. Selang beberapa menit menunggu, sang istri keluar dengan rambut basah yang tergerai, dan langsung menaiki ranjang mengecup singkat kening Dilara.


"Maafin saya, Mas. Tadi ada meeting mendadak," ujar Alma.


Jafar hanya mengangguk. Lalu bangkit dari ranjang, menuju lemari dan langsung mengganti pakaiannya. Jujur saja ia bahagia bermain-main begitu lama dengan Dilara. Namun anaknya itu ingin sekali bertemu dengan Alma. Setiap beberapa menit istirahat bermain, Dilara selalu bertanya, di mana Mama, Ayah? Jelas ia hanya bisa menjawab bahwa istrinya itu tengah sibuk bekerja.


Alasan itu jelas akan membuat anaknya kecewa.


"Mas," ulang Alma.


Jafar hanya menengok saat Alma terlihat turun dari ranjang. "Kamu marah?" tanya Alma.


Jafar tidak merespon, hendak memilih pergi. Namun tangannya di tahan. Istrinya itu telah bersiap memberikan gawai. "Ketik sesuatu, Mas."


Gawai telah di ambil alih Jafar. Dan dengan cepat ia mengetik lalu kembali menyerahkannya pada Alma dan berlalu pergi.


"Harusnya kamu sadar bahwa kamu adalah seorang Ibu, Alma. Saya tidak melarang kamu untuk mengurus Kedai. Tapi Dilara benar-benar ingin bertemu dan kamu dengan mudahnya menolak. Beralasan bahwa Dilara hanya mengganggu saja," tulis Jafar.


"Mas, tunggu." Alma mencekal lengannya. "Maafin saya, Mas. Saya benar-benar nggak berniat gitu. Saya sama sekali nggak menganggap Dilara itu pengganggu. Saya---"


"Min-ta ..." Jafar menghela napas. "Ma-af ke a-nak-mu."


Alma mengangguk. "Iya, Mas. Saya akan minta maaf ke Dilara. Tapi tolong Mas ... jangan kayak gini ... saya nggak mau Mas marah."


Saya tidak bermaksud marah, Alma. Saya hanya sedikit kecewa, karena tiba-tiba kamu mengabaikan Dilara hanya karena pekerjaan saja, batin Jafar.

__ADS_1



Sekitar pukul sembilan Dilara terbangun dari tidur. Ia melihat sekeliling. Mengapa sepi? Mama dan Ayahnya di mana? Bahkan tidak ada Nenek Salamah. Kenapa orang-orang tidak menemaninya tidur? Ia sudah berkaca-kaca ingin menangis saja. Tapi ... percuma tidak ada orang.


Kaki kecilnya perlahan-lahan turun dari ranjang, ia mengambil jalur kiri untuk melihat jendela yang ternyata sudah sangat petang. Kemudian, ia melangkah lagi membuka pintu dan berniat ke kamar Nenek Salamah. Ternyata Nenek tidak ada. Ia melangkah keluar lagi. Tetapi kali ini, ia sudah pasti melangkah pada kamar Mama dan Ayahnya yang sedikit terbuka.


Samar-samar telinga Dilara mendengar sesuatu. Seperti suara Mamanya. Tetapi kenapa seperti menangis atau ... kenapa, ya?


"A-ah, Mas ..."


"Mama ... Ayah ..." Dilara langsung mendorong pintu. Dan dengan spontanitas membuat kedua insan yang saling menyatu itu terkejut.


Astaghfirullah Dilara! batin Jafar yang buru-buru menggunakan sarung dari balik selimut.


"Di-dilala mimpi buluk."


Alma menampilkan wajah terkejut. "Oh ya? Berarti Dilara lupa baca do'a ya tidurnya tadi?"


Jafar telah menggunakan sarung dan keluar dari selimut, hendak mengambil alih Dilara dalam gendongan Alma. Namun sang anak semakin berteriak tidak mau.


"Dilala ma-mau sama Mama. Ayah ja-jangan gendong Dilala," ujar Dilara.


Jafar langsung menjaga jarak.


"Iya, sama Mama, Nak." Alma menepuk-nepuk punggung Dilara. "Mau tidur lagi nggak, Sayang?"

__ADS_1


Dilara menggeleng. "Mama kenapah pakai selimut? Mama lagi a-apa sama Ayah?"


"Lagi berpelukan, Sayang," jawab Alma dengan santai. Jafar benar-benar sudah was-was. Bahkan mungkin jika ia sudah lancar berbicara ia tidak akan bisa menjawab. "Dilara mau di peluk juga nggak sama Mama?"


"Ma ... u."



"Gimana kamu bisa semudah itu menjawab pertanyaan Dilara, Alma?" tulis Jafar pada gawai.


Alma mengambil duduk di kursi abu-abu. Karena Dilara baru saja tertidur tepat pukul sepuluh malam. "Ya memang semudah itu, kan Mas? Asal kita nggak panik. Saya pun bakal jawab sesantai mungkin."


Jafar kembali mengetik. "Maaf saya lupa menutup pintu."


"Salah kita berdua, Mas. Lain kali saya bakal ingetin buat tutup pintu juga," ujar Alma. "Oh iya. Tadi gimana terapinya?"


Jafar menunjukkan jempol tangannya.


"Kemajuannya apa, Mas?"


"Em, En." Setelah berucap, Jafar juga mengetik di gawai. "Dua huruf itu saya sudah bisa berbicara dengan jelas."


"Alhamdulillah, Mas." Alma tiba-tiba menarik tangan kanan Jafar. "Maafin saya tadi nggak bisa nganterin kamu ke klinik. Terus juga ... saya udah larang kamu sama Dilara datang ke Kedai. Maafin saya, ya Mas? Insya Allah saya nggak bakal gitu lagi. Saya bakal usaha buat jaga Dilara sama jaga Kedai yang di amanahkan Paman Idrus."


"Tolong ingetin saya lagi. Kalau tiba-tiba saya lalai. Karena bagi saya itu lebih baik, daripada Mas diam dan marah," lanjut Alma yang langsung mengecup punggung tangan Jafar.

__ADS_1


__ADS_2