Almahyra

Almahyra
Bagian 27 (2)


__ADS_3

"Berhenti mengoceh dan makan, Lutfan," tulis Jafar.


Lutfan mengerucutkan bibirnya, merasa kesal dengan perintah Jafar. Alma yang melihat itu hanya sanggup menggeleng tak habis pikir.


"Dasar bocah," sindir Mardiyah pelan.


"Bocah?" Lutfan tertawa kecil dengan mengambil kentang dan kembali berujar, "Bocah-bocah gini gue udah berencana mau nikah. Lagian perbandingan umur nggak jadi masalah, tiga tahun doang."


"Udah-udah makan. Kamu ngomel mulu Lutfan!"


Ucapan Alma membuat Lutfan mengelus dada. Lagi-lagi ia akan drama.


"Mas! Istri sampean lho, bentak-bentak aku te---"


"Kamunya sih cerewet nggak bisa diam," sahut Umma Sarah yang baru memasuki ruang makan, lantas mengambil duduk di samping Mardiyah.


"Ish, Umma sama aja kayak mereka," rengek Lutfan.


Ruang makan penuh dengan canda tawa. Lutfan tidak berhenti terus menerus merengek dengan ingin di suapi oleh Umma Sarah. Sedangkan Jafar hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, Alma tersenyum kecil, dan Mardiyah hanya menatap datar kepada Lutfan.


Azan magrib berkumandang bertepatan dengan mereka yang telah menyelesaikan makan. Lutfan dan Jafar ke masjid pesantren, sedangkan Umma Sarah, Mardiyah, Alma, dan Ummi Salamah salat berjamaah di rumah---tepatnya mushola rumah.


"Kak habis ini aku langsung pulang," ucap Umma Sarah.


Ummi Salamah menjawab, "Nggak nunggu isya dulu apa?"


"Habis isya ada orang yang mau ketemu sama aku, Kak. Jadi Lutfan datang aku langsung pulang, Kak."


Tidak lama kemudian Lutfan dan Jafar datang. Dan saat itu pula Umma Sarah, Mardiyah serta Lutfan pamit. Ummi Salamah telah kembali ke kamar beliau, sedangkan Alma dan Jafar juga di kamarnya.


"Jafar ..."


Suaminya yang tengah sibuk dengan laptop di meja kerja itu pun menengok, seolah-olah menjawab, "Apa?"


"Saya boleh tanya sesuatu?"


Jafar mengangguk.


"Kamu ... kerja apa? Dan ... di mana?"


Jafar melambungkan tangan kanannya ke udara, dan jari telunjuknya mengayun meminta Alma untuk mendekatkan. Setelah istrinya tepat berdiri di depannya---Jafar mengeser duduknya, berbagai kursi yang lumayan panjang untuk duduk berdua.


"Saya berdiri aja nggak pa-pa."

__ADS_1


Jafar menggeleng dan mengerakan bibir. "Duduk."


Dengan terpaksa menahan debaran jantung yang tiada henti kian cepat berdetak, Alma duduk di samping Jafar. Kemudian tatapan netra Alma beralih pada layar laptop---di mana tangan Jafar juga bergerak mengetik sesuatu.


"Usaha yang dijalankan Abi dan Paman. Kedai amanah, kamu pernah ke sana? Atau pernah dengar?" tulis Jafar.


"Saya baru-baru ini dengar, dan tahu." Alma tertawa---menertawai diri yang jalan sekali pergi ke mana-mana. "Lagian maklum juga, saya kan orang baru di sini."


"Eh tapi! Kata Mardiyah cabangnya udah di tiga kota, ya? ... Mungkin saya aja yang bener-bener jarang keluar sampai Kedai Amanah aja yang makanannya enak-enak saya nggak tahu."


Jafar tertawa kecil dan kembali mengetik sesuatu. "Jadi kamu belum pernah ke sana?"


"Belum."


"Ya sudah, besok kamu sama Ummi ikut ke outlet ya? Nggak usah ikut keliling, cuma satu dua outlet aja, nanti saya minta Cak Yanto antar kalian pulang duluan," tulis Jafar.


Netra Alma membinar, jarang-jarang ia bisa keluar apalagi keliling, walau pun hanya dua outlet saja dan mungkin tidak akan lama. Tapi bagi Alma itu pasti akan sangat menyenangkan.


"Kamu mau 'kan?" tulis Jafar, lagi.


"Mau."


"Lututmu sudah sembuh?"


"Tapi sakit?"


"Enggak. Buktinya saya udah bisa jalan normal."


Jafar mengangguk paham. Terjadi kebisuan beberapa enam detik lamanya, hingga Jafar kembali mengetik sesuatu. "Sekarang apa boleh saya yang bertanya?"


"Hah? Ya-ya boleh. Kenapa kamu pakai izin segala? Kamu mau tanya apa?"


"Bagi saya izin adalah sesuatu yang dibutuhkan sebelum mengajukan pertanyaan."


Alma mengangguk. "Tapi, kan saya is ... tri kamu. Jadi saya rasa nggak perlu pakai izin-izin segala."


"Tetap izinmu itu dibutuhkan."


"Saya mau tanya, kamu ingin pernikahan yang seperti apa?" lanjut Jafar dalam ketikan.


"Ini merujuk ke acara pernikahan?"


Jafar mengangguk.

__ADS_1


"Saya mau pernikahan yang sewajarnya aja."


"Sewajarnya menurut kamu itu yang seperti apa?"


"Pernikahan sederhana yang dihadiri oleh orang-orang yang kamu dan saya kenal aja. Saya nggak mau pernikahan yang terlalu megah, ramai, dan lama. Saya ini suka sesak kalau kebanyakan orang."


"Lalu?"


Alma menengok bertepatan pula Jafar juga menengok dan itu spontan membuat Alma memundurkan tubuhnya---yang mana hampir jatuh ke lantai jika saja tangan Jafar tak bergerak cepat meraih pinggang.


"Hati-hati."


Gerakan bibir Jafar terbaca lagi oleh Alma.


"Ma-af, saya ceroboh."


"Ja-jadi kita bicara sampai mana tadi?"


Jafar melepas rangkulan di pinggang Alma dan mengetik lagi. "Jadi pernikahan yang menurut kamu sewajarnya seperti itu?"


"I-iya. Saya nggak minta kamu mengabulkan. Toh dari awal pertemuan kita, kamu seperti nggak mau dan nggak berniat untuk menikahi saya," jelas Alma.


"Tolong jelaskan kepada saya, bagaimana saya bisa menikah dengan  perempuan yang terang-terangan menghina saya? Bahkan yang menolak saya lebih dulu adalah kamu 'kan?"


Ingatan Alma berputar. Lidahnya pernah salah dalam berkata, dan Jafar benar.


"Ma-af. Saya ... waktu i-itu saya cuma capek, di buru-buru menikah terus."


"Saya menerima permintaan maafmu melalui Ummi. Tapi jika saya bisa meminta, entah siapa pun kelak orang yang kamu temui, memiliki kekurangan yang sama atau pun tidak dengan saya. Tolong jangan pernah menghina."


Alma mengangguk. "Insya Allah. Saya benar-benar minta maaf mengenai ucapan saya dipertemuan pertama kita dulu."


"Saya sudah memaafkan kamu. Manusia sudah sewajarnya melakukan kesalahan. Tapi saya meminta jangan pernah mengulang itu lagi. Karena sekarang, apa pun yang kamu ucap dan lakukan, akan selalu menjadi tanggung jawab saya," tulis Jafar.


...•...


...•...


...•...


Note:


Mohon maaf ternyata kemarin banyak typo dan kesalahan kata. Maklum saya males revisi. astaghfirullah. Tapi sekarang niat kok revisi Bagian 27 (2) ini.

__ADS_1


__ADS_2