
"Assalamualaikum, Umma. Ini Alma," ucap Alma memulai panggilan telepon. Ia sudah berjanji pada Jafar untuk menanyakan tentang Lutfan pada Umma Sarah---sesudah salat isya.
"Waalaikumussalam. Alma, ada apa, Nak?"
Alma terdiam sejenak. "Umma, Alma mau tanya ... tentang Lutfan."
Terdengar helaan napas dari seberang. "Iya. Kamu mau tanya apa, Nak?"
"Apa Lutfan juga terapi Umma?"
"Iya, Nak. Dokter menyarankan terapi. Tapi Lutfan ..." Umma Sarah menjeda. "Nggak mau. Mardiyah juga belum bisa bujuk Lutfan."
Akan sangat sulit memang menerima diri sendiri. Lutfan tidak salah untuk menolak, lagi-lagi semua membutuhkan proses untuk penerimaan diri. Alma berpikir untuk sekarang tak apa-apa memberikan Lutfan sejenak saja istirahat.
"Alma akan do'a kan yang terbaik untuk Lutfan, Umma," ucap Alma---yang mana langsung di akhir oleh harapan lain dan ucapan salam karena beliau ada tamu.
Alma berbalik saat mendengar suara pintu terbuka. Jafar datang sepulang dari Masjid pesantren, terlihat lelaki itu membawa bingkisan putih dan ada tusuk-tusuk yang mengintip serta juga nasi di tangan kanan Jafar.
Sate?
"Kamu bawa apa?"
Jafar mengangkat bingkisan.
"Sate, Mas?"
Jafar mengangguk dan mendekatkan diri menyusul Alma duduk di tepi ranjang. "Beli di mana? Di luar pesantren kah?"
Jafar mengangguk.
"Ummi?"
Jafar mengeluarkan gawai, dan membuka aplikasi note lalu mengetik secepatnya untuk Alma. "Saya keluar sebentar tadi. Saya juga membelikan untuk Ummi, beliau sedang makan bersama dengan Mbok Isna sekarang."
"Ini ... nasi tim?" Alma menyentuh bawah piring yang terasa masih panas. "Kapan kamu bikinnya? Perasaan saya terakhir makan sesudah ashar lho. Itu pun juga tinggal sedikit dan habis."
Jafar mengambil duduk lesehan, dan Alma pun juga spontan ingin duduk di bawah, namun buru-buru ditahan oleh Jafar dengan menggeleng.
"Kenapa? Saya juga mau duduk di bawah sama kamu, Mas."
Jafar mengetik dengan cepat dan lima belas detik berlalu menyerahkan gawainya pada Alma. "Jahitanmu memang sudah kering, dan tinggal membuka saja. Tetapi mungkin akan sedikit sakit Alma, saat kamu duduk terlalu rendah. Jadi lebih baik kamu diam duduk di sana saja."
Jafar memberi jeda. "Dan nasi tim ini dibuatkan oleh Ummi. Saya tadi meminta tolong pada beliau."
Alma mengangguk. "Iya, Mas."
Bungkus dua kertas minyak sate dan nasi dibuka perlahan oleh Jafar, dan dituangkan sedikit demi sedikit bumbu kacang.
__ADS_1
"Mas cukup, segitu aja."
Jafar memberikan piring, dan Alma meletakkannya di samping ranjang. "Ayo berdiri kamu, Mas. Kita makan di meja kerja itu, dan saya minta tolong kamu ambil tempat duduk di kursi rias."
Keduanya melahap bersama sate dengan sama-sama terdiam. Hingga habis pada suapan terakhir. Alma berujar, "Mas, saya ... mau bicara."
Jafar mengangguk.
"Kamu ... belum pernah ajak saya ke makam Abi." Alma menatap Jafar lurus. "Saya mau ke makam Abi kamu, Mas sebelum acara walimatul'ursy kita."
Jafar terlihat terkejut. Mungkin dia lupa? Lelaki di depannya ini mulai mengetik di gawai, dan Alma memilih untuk mendekat. Supaya dapat langsung membaca apa yang dituliskan suaminya. "Tentu, Alma. Maafkan saya tidak mengingat tentang itu. Saya juga ingin berziarah ke makam Ayah dan Ibumu. Sekali lagi maafkan saya Alma."
"Jangan meminta maaf terus, Mas. Wajar kok kamu lupa." Tangan kanan Alma terangkat mengusap-usap lembut pucuk kepala Jafar, sesekali tangannya menyisir surai lelaki itu. "Pasti ... karena banyak yang kamu pikirin."
Jafar menggeleng.
Alma tersenyum tipis. "Bohong."
Jafar menggeleng, lagi.
"Kamu boleh kok mikirin pekerjaan, Lutfan, Umma, Ummi begitu pun juga saya." Tangan Alma beralih melewati telinga hingga sampai pada pipi kanan Jafar. "Boleh, Mas ..."
"Tapi tolong jangan sampai dibawa pusing. Nanti kamu stres, capek, semuanya bisa kacau kalau kamu nggak bisa mengontrol diri." Tangan Alma meraba sampai sisi bibir kiri Jafar yang sedikit menyisakan satu butir nasi. "Habis ini kan saya pulih. Saya janji, bakal bantuin kamu, Mas."
Jafar mengangguk.
"Jadi jangan terlalu dipikirkan."
"Kalau boleh tahu ... makam Abi di mana, Mas?"
Jafar menarik turun tangan Alma dari sisi bibirnya, dengan menggenggam di tangan kiri, Jafar mengetik menggunakan tangan kanan untuk menjawab. "Di pesantren, Alma."
"Pesan ... tren? Pesantren ini?"
Jafar mengangguk. "Sudah hampir satu minggu, saya tidak mengunjungi Abi. Besok sebelum berangkat untuk melepas jahitan. Kamu mau berkunjung sebentar?" tulis Jafar---di gawainya.
Alma mengangguk. "Mau, Mas. Saya juga mau mengenal Abi, saya juga ingin tahu Abi."
"Sedangkan makam Ayah dan Ibumu. Dimana?" Jafar membalik gawainya untuk menunjukkan pada Alma.
Alma berdeham sejenak. "Di kota, Mas. Jauh. Lebih baik setelah walimatul'ursy. Saya nggak mau ajak kamu ke sana. Karena akhir-akhir ini, kamu kelihatan capek banget."
Jafar menggeleng. "Kesimpulan yang kamu ambil secara pandangan mata saja. Saya tidak selemah kelihatannya 'kan, Alma? Di kota bagian mana?" tulisnya.
"Dekat rumah saya dulu. Umma pernah ke sana, Mas." Alma menghela napas pelan. "Itu pun kita pulangnya mendekati magrib kalau nggak salah."
"Selama masih bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan, dan berjalan kaki, tidak ada yang namanya jauh dan dekat, Alma." Jafar memberi jeda di aplikasi note itu. "Jika kamu saja ingin tahu tentang Abi. Bagaimana saya bisa abai tentang kedua orang tuamu? Yang mana sekarang adalah mertua saya."
__ADS_1
Alma menggeleng-gelengkan kepala. "Kenapa kamu nulis kayak gitu, Mas?"
Kemudian ia berdiri dari kursinya berjalan menuju jendela untuk menutupnya. Supaya udara malam tak lagi masuk. "Kamu seakan-akan menganggap kalau Ayah dan Ibu saya masih hidup. Padahal beliau-beliau udah wafat."
Setelah usai, Alma mengambil duduk di tepi ranjang dan menatap lurus pada Jafar. "Maaf. Saya agak terbawa suasana, Mas."
Lelaki yang ditatapnya itu bangkit. Jafar berjalan ke arahnya dan duduk tepat di sampingnya. "Saya paham. Mari berhenti membahas kedua orang tuamu," tulis Jafar di aplikasi note.
Alma mengangguk. Terjadi kebisuan beberapa detik, sesaat ia menengadah, ia teringat tentang ucapan Umma Sarah. "Ah iya, Mas ... Umma bilang, Lutfan bisa terapi," ucapnya.
"Jadi ... nggak ada satu harapan dari salah satu kalian yang putus, Mas. Sekalipun Lutfan masih sulit dibujuk, saya percaya kok. Mardiyah bisa membujuk Lutfan," imbuh Alma.
Sesaat Alma menoleh, Jafar mendekatkan gawai padanya. "Saya juga mempercayai Mardiyah."
Netra Alma terbinar-binar. Mas Jafar, Lutfan dan Mardiyah memang teman semasa kecil. Tiada ragu baginya untuk mempercayai Mardiyah. "Saya ... saya jadi mau tahu Mas. Gimana kamu dan Lutfan dulu di pandangan Mardiyah sewaktu kecil."
Alma mengangguk kecil. "Saya tahu seiring waktu semuanya memang akan berubah. Tetapi kenangan itu menetapkan, Mas? ... saya mau sejenak meminjam ingatan Mardiyah. Saya mau melihat sebahagia apa kamu dulu, Mas. Saya mau melihat bagaimana kiranya kamu tersenyum, tertawa dan bahagia sesama kecilmu bersama Lutfan dan Mardiyah."
"Saya mau tahu itu semua Mas ..."
Senyuman tipis nampak di bibir Alma. "Saya nggak menyesal kita bertemu di awal pernikahan ini. Saya cuma ... saya ..."
"Saya cuma mau melihat kebahagiaan yang telah kamu lewati dulu, Mas."
Pucuk kepalanya yang tak tertutup apa-apa di tepuk-tepuk pelan oleh Jafar. Lelaki di depannya ini tersenyum tipis, tepukan itu bahkan turun di sisi kiri kepalanya dan menjalar ke pipi kiri.
"Kamu sering senyum kok. Tapi saya merasa ... senyuman kamu beda, Mas."
Jafar hanya mengangguk dan tiba-tiba menarik Alma mendekat, dengan memeluk pinggang istrinya, Jafar mulai mengetik. Supaya Alma dapat langsung membaca apa yang di ketiknya. "Kalau kamu ingin melihat saya tersenyum, tertawa dan bahagia. Cukup lihatlah saya sekarang, Alma. Tidak perlu menjadi Mardiyah untuk melihat itu semua. Saya setuju tentang apa yang kamu ucap, bahwa kenangan itu menetap."
Terdapat jeda di sana. "Namun tidak selamanya bukan semasa kecil saya selalu bahagia? Apa kamu juga ingin melihat kenakalan saya di masa kecil? Apa kamu juga mau melihat remaja laki-laki yang menangis karena tidak di beri uang? Atau yang lain-lainnya?"
Alma tertawa ringan---jarak yang cukup dengan membuat pipinya memerah. "Semuanya sama mau lihat Mas. Nggak peduli keburukan atau kebaikan kamu," bisiknya.
Jafar mencubit ujung hidung runcing kecil Alma.
"Ah! Ish, sakit, Mas ..."
Jafar menunduk---melihat layar gawainya. "Saya akan menceritakan semuanya. Tidak perlu menjadi orang lain untuk mengetahui tentang saya, Alma. Mari membuat kenangan berdua yang hanya kamu dan saya saja yang mengingatnya," tulisnya.
Alma mengangguk kecil. "Contohnya?"
Salah satu alis Jafar terangkat, pipi suaminya terlihat memerah. Sesaat Jafar hendak mengikis jarak di antara dirinya. Alma tiba-tiba saja membungkam mulut dengan tangan kanan. "Habis makan, belum sikat gigi. Jangan cium saya ..."
Jafar tersenyum tipis, memundurkan diri.
Alma membuka bungkamnnya. "Kamu nggak lupa 'kan? Kamu sendiri yang bilang kalau saya harus jaga jarak."
__ADS_1
Jafar mengangguk.
"Jadi sekarang ... tolong lepas pinggang saya, Mas."