
Robin Shaukat? batin Jafar.
Bertahun-tahun berlalu akhirnya pria ini kembali menemuinya lagi. Jafar memandang datar. Sedangkan Robin tersenyum tipis, paras pria ini perpaduan Arab-India. Jadi tidaklah salah bila Rais tumbuh menjadi bocah yang tampan.
"Lama tidak berjumpa, Gus Jafar," ujar Robin yang berdiri dari kursi.
Jafar mengambil duduk. "Silakan duduk."
"Anda tentu tahu maksud ke datang saya ke mari." Robin telah duduk kembali. Ia memandang Jafar dengan kedua tangan yang di letakkan di atas paha. "Gus, saya ingin membawa keponakan saya."
"Anda tidak ada lelahnya, ya?" Jafar memandang datar. "Bukankah saya sudah bilang, bahwa Rais adalah anak saya. Dan perihal pendidikan, pola asuhan serta lain-lainnya adalah urusan saya. Bukan urusan anda."
"Gus ... anda ini keras kepala sekali. Saya tidak mengerti kenapa anda ingin membesar anak yang bahkan bukan darah daging anda sendiri? Untuk apa, Gus? Anda ingin menjadikan keponakan saya penerus?" tanya Robin.
Jeda tiga detik Jafar berujar, "Lalu anda sendiri apa? Saya pun tidak mengerti kenapa anda ingin mengambil Rais yang jelas-jelas bukan anak anda. Untuk apa juga?"
"Rais adalah keturunan keluarga Shaukat. Dia akan menjadi penerus untuk keluarga kami." Tatapan Robin berubah. "Saya sudah sangat berbaik hati, Gus. Tahun-tahun pun sudah berlalu. Dan pilihan saya adalah mengambil hak asuh Rais."
"Jika anda tidak menyerah Rais secara baik-baik. Maka saya akan mengambil jalur hukum. Lagi pula Rais masih di bawah umur," sambung Robin.
Jafar tiba-tiba berdiri.
"Baiklah. Datang ke pesantren, nanti malam. Dan mari berbicara baik-baik seperti yang anda minta. Semua keputusan saya serahkan pada Rais," ucap Jafar.
__ADS_1
Bakda magrib Jafar pulang. Sedangkan Alma masih di rumah sakit menemani Ummi Salamah. Untungnya saja ia sempat berhenti di Masjid terdekat untuk melaksanakan salat. Dan setelah benar-benar memasuki rumah, Jafar langsung mengetuk pintu kamar Dilara.
"Keluar. Ayah mau bicara."
Selanjutnya Jafar mengetuk pintu kamar Rais.
"Rais, keluar."
Putra dan putrinya keluar dari kamar. Lantas menuju ruang tamu yang menjadi tempat perbincangan panjang yang akan Jafar sampaikan. Jelas itu, sebagian tentang keluarga Rais, dan sebagian pula tentang pertengkaran yang di lihatnya di cctv.
"Sudah makan kalian?"
"Sudah, Yah," jawab Rais.
Jafar menyandarkan punggungnya pada sofa. "Pak Budi bilang, ada temanmu yang datang, Mbak?"
Mendengar Ayahnya memanggil dengan sebutan 'Mbak' Dilara dengan cepat mendongak. "I-itu Ayah. Dia Baswara."
"Anaknya Juragan Antasena, kan?"
"Iya, Yah." Dilara menunduk kembali.
__ADS_1
"Kenapa menunduk, gitu?" Jafar menatap anaknya serius. "Lihat, Ayah. Kamu bicara sama lantai apa sama Ayah?"
Dilara cepat-cepat menatap Ayahnya. "Iya, Yah. Maaf."
"Ada urusan apa dia datang? Padahal setahu Ayah, kamu nggak begitu dekat sama Baswara. Dan sekarang apa dia mengaku-ngaku jadi temanmu?" tanya Jafar yang membuat Dilara menelan ludah beberapa kali.
"I-itu Yah cuma tanya kabar aja. Dulu juga aku, adek sama Baswara kan satu sekolah." Dilara menjeda. "Jadi kita teman, kan, Yah?"
Pandangan Jafar beralih pada Rais. "Beneran teman? Bukannya seingat Ayah dulu Rais pernah cerita di pukul sama Baswara?"
"Itu dulu, Yah. Mas Baswara ndak sengaja," jawab Rais cepat.
Jafar mengaruk dahinya. "Hm, nggak sengaja, ya?"
"Bukannya dulu Rais sampai pulang-pulang nangis? Nggak mau masuk sekolah lagi. Dan kamu, Mbak." Pandangan Jafar kembali pada Dilara. "Bukannya kamu pernah bilang kalau Baswara selamanya nggak akan jadi teman kamu? Ayah ingat kamu bilang Baswara jahat, dia berani ejek-ejek Rais."
Tangan Dilara basah. Ia menelan ludah beberapa kali. Sedangkan Rais mencoba berujar, "Dia ke sini memang tanya kabar, Ayah. Sekalian minta maaf."
"Benar begitu, Dilara?"
"Iya, Ayah."
Jafar mengangguk-angguk. "Ya sudah. Sekarang kamu masuk kamar Dilara. Ayah mau bicara sama Rais."
__ADS_1
[.]