Almahyra

Almahyra
Bagian 29 (2)


__ADS_3

Jafar mengetik, lagi. "Kamu mau memakainya?"


"I-iya lah. Kalau saya nggak mau pakai. Ya nggak mungkin saya suruh kamu beli," ujar Alma.


Netra Alma terbelalak saat melihat di layar bahwa Jafar memesan lima lingerie dengan warna yang sama. "Jafar! Banyak banget, sih. Dua aja cukup."


Jafar menggeleng. Sehingga membuat Alma mengambil alih laptop dan mengurangi jumlah lingerie---lantas mengklik tombol pesan.


"Bayar di rumah aja," ucap Alma.


Jafar menghela napas. Dan setelah usai membuat pesanan, Alma mengembalikan laptop kepada pemiliknya. Secepat mungkin Jafar membuka Microsoft word dan mengetik. "Warna itu bagus. Saya ingin sering-sering melihat kamu mengunakan pakaian berwarna merah sedikit gelap itu."


"Nanti kamu bosan."


Jafar menggeleng.


"Semua laki-laki itu mudah bosan."


Jafar mengangguk seakan-akan setuju. Lantas tangan kanan dan kirinya lihai mengetik jawaban untuk Alma. "Saya setuju. Tapi tidak ada kata bosan bagi saya saat melihat warna itu."


Saat melihat warna itu?


Ja-jadi maksudnya dia nggak bakalan bosan karena lihat warna itu? Bukan karena saya yang pakaian baju warna itu?


Aneh ... Kamu aneh, Jafar.


"Tetep aja, saya yang pakai bosan."


"Kita tunggu saja pakaian itu datang. Saya mau lihat apa kamu bosan atau tidak setelah memakainya," tulis Jafar.


Harusnya saya yang tanya, emangnya kamu nggak akan bosan lihat aku pakai baju warna yang itu-itu aja?


"Iya," jawab Alma yang merasa sedikit kesal karena tak bisa mengeluarkan seluruh isi hatinya.


Suara azan dari Masjid pesantren menghentikan perdebatan kecil di antara mereka. Jafar menutup laptop dan beranjak dari ranjang---mengambil sarung serta kopiah yang tertatah rapi di meja abu-abu.


"Kamu mau berangkat sekarang?"


Jafar mengangguk.


"Ya sudah. Saya juga mau siap-siap sholat isya sama Ummi. Ka ... mu pulang jam berapa?"


Jafar mendekat mengangkat tangan dan disambut dengan ciuman dipunggung tangannya oleh Alma.


"Jam delapan?" tanya Alma, lagi.


Jafar mengangguk.


...🌺...

__ADS_1


Alma dan Ummi Salamah telah usai melaksanakan salat isya berjamaah. Dan sekarang Alma sedang berada di kamar Ummi Salamah dengan duduk berdampingan di atas ranjang.


"Nak, kamu sama Jafar baik-baik aja 'kan?"


Alma mengangguk. "Alhamdulillah, Ummi. Baik-baik aja."


"Jafar ... menurut kamu gimana? Setelah satu malam pernikahan ini?"


Kedua rona merah di pipinya kembali terlihat samar, entah mengapa ingatannya berlabuh pada pemilihan pakaian tidur tadi. "Mas Jafar baik, Ummi. Di ... a juga lucu."


"Lucu?"


Alma manggut-manggut, dengan senyum lebar.


"Lucu gimana? Ummi udah jarang lihat tingkah-tingkah aneh dia."


Dengan senyum lebarnya Alma berujar, "Ummi lihat luka di lutut Alma 'kan? Jadi tadi, Mas Jafar ngipasin luka Alma ini. Terus Alma tanya, jadi kamu ngambil kipas itu buat ngipasin kaki sa---aku?"


Alma menjeda tiga detik, hampir ia keceplosan mengunakan kata saya. "Terus Mas Jafar ngangguk. Terus Alma tanya lagi, biar kering dan hilang perihnya? Mas Jafar ngangguk lagi Ummi. Mana gemesin banget mukanya, kayak Lutfan."


Ummi Salamah menggeleng-geleng. "Ya Allah ... ada-ada aja anak Ummi itu. Nggak biasanya dia kayak gitu, Nak."


"Belum lagi tadi dia pinjem ke Ummi pakaian tidur. Lah Ummi bingung buat apa? Dia nggak jawab. Ya udah Ummi kasih yang kayak piyama ... Eh! Dia tiba-tiba minta yang selutut," sambung Ummi Salamah.


Terdengar suara ketukan dari pintu utama. Ummi Salamah hendak berdiri, namun Alma tahan, membiarkan dirinya membuka pintu itu.


"Waalaikumussalam. Cari siapa, Bu?"


"Ada, Bu. Silakan masuk."


Alma kira wanita paru bayah itu hanya sendiri. Namun ternyata di belakangnya ada wanita muda---yang mungkin berusia dua puluh tahun dengan abaya hitam serta pashmina abu-abu, yang terlihat memerah matanya. Entah mungkin, wanita muda itu baru saja menangis?


Tetamu telah duduk di sofa. Saat hendak memasuki lorong kamar ia berpapasan dengan Ummi Salamah. "Ummi, kayaknya itu tamu penting deh."


"Siapa?"


Alma menggeleng. "Wanita paruh baya sama ... anaknya mungkin?"


"Ya udah Ummi ke depan. Tolong kamu buatin teh hangat ya, Nak?"


Alma menuju dapur dan berkutat dengan beberapa gelas, serta teh dan gula. Setelah kurang dari dua menit, semuanya siap, ia kembali menuju depan. Namun saat ia hendak keluar lorong perjalanan menuju depan, ia berhenti dan bergeming.


"Azizah bersedia menikah dengan Jafar, Salamah."


Detak jantungnya seakan-akan berhenti seketika. Sakit rasaya mendengar ucapan yang keluar dari bibir wanita paruh baya itu. Tiada cinta. Namun nyatanya, ia tengah berusaha---tapi entah mengapa, ditengah-tengah usahanya dalam mencoba menerima Jafar dan pernikahan ini. Ada saja rintangan yang tidak pernah ia duga-duga.


"Isti, kenapa tiba-tiba seperti ini?" ucap Ummi Salamah.


Terdengar suara tangis lirih. "A-abi sakit, Ummi. Azizah bersedia menikah dengan Gus Jafar. Sesuai dengan permintaan beliau, to-tolong Ummi langsungkan pernikahan ini sesegera mungkin."

__ADS_1


Bersedia menikah? A-apa perjodohan pertama Jafar dengan perempuan itu?


"Azizah ... tapi ..."


"Azizah nggak akan mempermasalahkan keadaan Gus Jafar, Ummi. Azizah akan menerima Gus Jafar. Azizah ri'da menjadi istri Gus Jafar, Ummi," sanggah Azizah.


Alma mulai berjalan. Saat ia telah sampai di ruang tamu, tatapan Ummi Salamah tertuju padanya. Ia sedikit menunduk menyuguhkan teh kepada tamu.


"Alma duduk, Nak," ucap Ummi Salamah.


Nampan yang dibawa Alma diletakkan pada meja bawah, kemudian ia mengambil duduk tepat di samping Ummi Salamah.


"Jafar sudah menikah," lanjut Ummi Salamah.


Wanita muda itu---Azizah memandangi Alma dengan netra sisa-sisa air mata di pipinya. "Nggak mungkin, Ummi ... Sedikit pun kami nggak mendengar kabar bahwa cucu pemilik yayasan Al-Hikmah menikah."


"Memang. Pernikahan Alma dan Jafar, akan diresmikan sesegera mungkin."


Setelah mendengar ucapan dari Ummi Salamah. Wanita paruh baya yang dipanggil dengan Isti itu berkata, "Salamah ... apa yang kamu lakukan ini benar? Kenapa kamu sama sekali tidak memberitahu kami?"


Azizah menggeleng kuat. "Semuanya salah Azizah, Bibi. Tolong jangan menyalahkan Ummi seperti itu ... Azizah salah, karena Azizah pernah menolak Gus Jafar."


Me-menolak? Dia juga pernah menolak Jafar?


"Jafar sudah menikah, Isti. Kamu tentu tahu pernikahan bukanlah sesuatu yang dapat dipermainkan," ucap Ummi Salamah.


Isti menghela napas pelan. Dan Azizah terus menerus menangis, Alma memahami saat keadaan orang terdekat sedang tidak baik, akan sangat sulit untuk mengendalikan diri. Bahkan rasa-rasanya semua ingin pun akan di sanggupi.


"Kamu tahu Salamah, bahwa pernikahan Azizah dan Jafar adalah amanah dari suamimu. Tapi kenapa tiba-tiba saja kamu menikah 'kan Jafar tanpa sepengetahuan dari kami?" ucap Isti.


A-amanah? Pernikahan mereka juga amanah?


"Bagaimana bisa saya harus menunggu bertahun-tahun sampai keponakan kamu itu siap menikahi Putra saya, Isti? Sudah jelas, bukan? Kata menunggu itu berarti penolakan. Kamu mengantungkan pernikahan yang seharusnya terjadi dua tahun yang lalu," jelas Ummi Salamah.


Dua tahun? Jadi dia menggantung perjodohan ini selama dua tahun tanpa kepastian?


"Itu karena---"


Azizah menyanggah, "Berhenti, Bibi Isti. Jangan menyalahkan Ummi Salamah terus. Azizah yang salah."


"Kalau begitu ..." Isti menatapi Azizah yang kian menunduk dan terus menangis tiada henti. "Biarkan Azizah menjadi istri kedua Jafar. Yang hari ini juga, di nikahi secara hukum dan agama."


...•...


...•...


...•...


Note:

__ADS_1


Jangan lupa garis miring tanpa penjelasan apapun itu suara hati Alma. Dan bab ini berhasil 1000 kata lebih. Alhamdulillah keadaan saya sudah baikan.


__ADS_2