Almahyra

Almahyra
Extra Bagian 2


__ADS_3

Setiap hari berlalu dengan bahagia. Terkadang-kadang memang ada sedikit kesedihan, itu pun sama, karena keluhannya tentang anak, dan segala penundaan yang harus di jalaninnya dengan Jafar sampai satu tahun ini.


Jelaskan, memang siapa yang tidak sedih? Orang-orang hanya bisa berkata, cepatlah memiliki anak. Sedangkan diri ini menahan tangis setiap kali mendengarkan itu. Bahkan sekarang Alma benar-benar merindu pada orang tuanya, dan tanpa izin dari Jafar ia berziarah.


"Ayah, Ibu ... kabar Alma baik." Alma menjeda dengan menatap lurus pada kuburan Ibunya. "Sesuai yang Ibu minta, Alma telah menikah ... dengan laki-laki yang di pilihkan Bibi Maryam."


"Bahkan, Bu ..." Air mata Alma turun tanpa aba-aba. "Bibi Maryam pergi. Bibi Maryam ninggalin Alma."


"Ta-tapi, Alma enggak di tinggal sendiri kok ... ada orang-orang baik." Alma menggeleng. "Bukan. Bukan hanya orang baik. Ada satu keluarga besar yang begitu mencintai dan menyayangi Alma, dan membuat Alma menjadi salah satu bagian keluarga itu."


Di usap-usapnya nisan sang Ayah. "Ayah ... Ayah nggak usah tanya lagi, apa putri Ayah bahagia? Alma bahagia, Ayah. Hanya saja ... maafkan Alma, belum bisa mengajak Mas Jafar ke sini. Ada sesuatu yang terjadi pada adiknya. Alma nggak bisa maksa Mas Jafar untuk ikut ke sini, beliau pasti lelah, Ayah ..."


"Alma sayang Ayah, Ibu."


Ziarah telah usai, cepat-cepat dirinya berangkat ke Kedai Bersama, dengan di antar oleh Cak Yanto. Pikir Alma, Cak Yanto tidak akan berbicara tentang dirinya yang ke makam. Kecuali, jika Jafar bertanya.


"Mbak Alma ndak mampir ke outletnya Mas Jafar."


Alma menggeleng-geleng. "Enggak usah, Cak. Nanti Mas Jafar marah, soalnya saya dari tadi belum berangkat ke outlet."


Mobil berjalan di tengah-tengah perkotaan. Kedai Bersama sudah berada di bawa kendalinya, Paman Idrus pulang pergi ke Malaysia. Beliau bilang ada urusan di sana, Alma tidak ingin bertanya dengan begitu banyak. Karena Paman Idrus sangat mencintai Bibi Maryam, pasti di Malaysia ada kenangan indah yang Paman dan Bibi buat bersama.


Dua puluh menit perjalanan. Akhirnya telah sampai di Kedai Bersama yang sudah buka dari satu jam yang lalu. Alma memasuki ruang kerjanya, dengan di sapa oleh beberapa staf.


"Bahagia rasanya bisa kerja. Tapi ... capek juga," gumam Alma dengan tiba-tiba merebahkan kepala di atas meja, netra terpejam, ia tertidur di sepuluh detik berikutnya.


...🌺...


Alma merasa tempat yang ia gunakan tidur ini empuk. Namun sedikit sempit. Ah, tidak-tidak, tidak hanya empuk, ada bagian yang keras. Meja? Mungkin. Tetapi ini seperti kulit manusia, netranya masih saja terpejam karena rasa lelah. Tentu saja tidak perlu di tanya kelelahan apa yang ia keluhkan selain pekerjaan.


"Eghmm."

__ADS_1


Di raba-raba sesuatu yang tepat berada di depannya. Sedetik kemudian ia merasa ada yang menggenggam pergelangan tangannya, netra Alma perlahan-lahan terbuka. "Ka-kamu ... Mas?"


"Kok kamu ... di sini?" imbuh Alma dengan memaksa mengambil posisi duduk. Namun karena ruang yang tak mewadahi ia hampir terjatuh, untung saja Jafar menariknya hingga Alma terduduk tepat di perut sang suami. "A-anu ... maaf, Mas. Ka-kamu ngagetin saya."


Jafar menatap tanpa ekspresi.


Kenapa sih natapnya gitu banget? Alma mencoba turun dari tubuh suaminya. Namun kedua tangan miliknya malah di genggam dengan begitu erat.


"Saya mau turun. Dan juga ..." Alma melihat sekeliling. "Kita lagi di Kedai, Mas. Jadi tolong lepas, ya?"


Jafar menggeleng.


"Terus ... kalau tiba-tiba ada yang masuk?" Alma memasang wajah kesalnya. "Saya nggak mau di gosipin, Mas ..."


Jafar menggeleng lagi.


Sedangkan Alma mengambil ancang-ancang untuk turun, namun kali ini bukan tangannya saja yang di tahan. Jafar dengan sigap mengubah posisinya untuk duduk, maka jelas Alma pun menjadi duduk tepat di pangkuan Jafar, tidak lupa pula tangan kekar itu merangkul pinggang kecil Alma.


"Ya Allah Mas ... kamu--astaghfirullah, malah ganti posisi ih!"


Apanya yang nggak pa-pa?


Terdengar ketukan pintu beberapa kali. Benar 'kan? Alma sudah menebak dan seharusnya Jafar tidak seperti ini. Dasar, laki-laki!


"Lepas!" gertak Alma.


Rangkulan pada pinggang terlepas, lantas cepat-cepat Alma turun membenarkan pakaiannya yang ... ya, tidak karuan. Segera menuju ambang pintu dan melihat siapa yang mengetuk.


"Ma-af, Mbak Alma kalau saya ganggu."


Netra Alma melebar, cepat-cepat ia mengangkat kedua tangan dan mengayun ke kiri kanan. "Eh ... enggak-enggak nggak ganggu kok. Ada apa emang?"

__ADS_1


"Ada bapak-bapak di depan. Beliau bilang, cari Mbak sama itu .. Mas Jafar kata beliau."


Cak Yanto?


"Ooh, iya-iya." Alma mengangguk-angguk. "Tolong suruh bapaknya tunggu, ya Azizah?"


Staf yang ber-name tag Azizah pergi. Sedangkan Alma dengan cepat berbalik menghampiri Jafar.


"Mas!"


Jafar menatapnya dengan bersandar pada sofa.


"Kamu ini ya ... Cak Yanto nungguin kamu lho, Mas ... Ya Allah."


Jafar tersenyum tipis, salah satu tangannya terangkat meminta Alma untuk mendekat.


"Apa?"


Jafar memberikan buku catatan yang entah kapan suaminya itu tulis.


"Saya memang meminta beliau menunggu, Alma. Tapi ternyata saat saya masuki ruanganmu, kamu sedang tertidur pulas. Jadi tidak ada pilihan bagi saya selain tidur bersamamu juga," tulis Jafar.


"Apa? Astaghfirullah ... Kan bisa kamu bangunin saya, Mas ... ah, ngeselin."


Jafar berdiri mengusap pucuk kepala Alma dan menarik dagu Alma pelan, mengecupnya singkat tepat di bibir.


"Maaf."


Alma dapat membaca gerakkan bibir itu.


^^^

__ADS_1


Note:


Azizah ini beda. Staf, cuma kembaran nama doang.


__ADS_2