Almahyra

Almahyra
Bagian 61 (2) : Momen Indah Di Lazuardi Hotel


__ADS_3

Memangnya sesuatu apa yang diinginkan Jafar pada dirinya? Alma tak memahami ini, dalam perjalanan pun ia terus menerus memikirkan. Sesuai janji Jafar juga ingin mengajaknya ke perpustakaan nasional yang berada di pusat kota. Ia sudah baik-baik saja, tak mual, tak pusing lagi karena ia sudah makan.


Pukul sembilan pagi kota sudah sangat cerah. Pemandangan-pemandang pohon hijau ternyata masih ada, walau sedikit. Jalanan lebih di dominasi oleh kendaraan, dan orang-orang yang lalu-lalang. Niatnya tadi pun ingin di antar oleh Cak Yanto, tapi lagi-lagi pihak Lazuardi hotel mengatakan bahwa telah di sediakan mobil.


Buku catatan tiba-tiba saja di letakkan pada pangkuannya. "Kamu terus menerus memandangi jalan. Apa yang kamu lihat memang?"


Alma mengambil alih pena Jafar. "Saya melihat kota, Mas," tulis Alma.


Jafar menulis lagi. "Saya tahu. Tapi apa yang membuatmu tak berhenti memandang seperti itu, Alma?" tulis Jafar.


"Saya cuma kangen suasana kota," tulis Alma dan meletakkan buku catatan pada pangkuan suaminya.


Mobil berhenti tepat di parkiran.


"Tuan dan Nyonya, saya akan menjemput sesudah sholat dzuhur di parkiran ini," ujar sopir.


"Terima kasih, Pak."


Suasana perpustakaan nasional benar-benar cukup ramai. Jafar telah memilih tempat duduk, dan bersiap mengerjakan hasil penjualan yang belum selesai kemarin. Sedangkan Alma bersiap mencari-cari buku yang hendak di bacanya.


Waktu berlalu begitu cepat. Ia dan Jafar telah melaksanakan salat zuhur, sekarang ia berjalan menuju parkiran menunggu mobil dari pihak hotel menjemput.


"Maaf membuat Tuan dan Nyonya menunggu," ujar sopir.


Alma tersenyum simpul dan menggeleng. "Nggak pa-pa, Pak. Nggak lama kok."


Perjalanan sekitar tiga puluh menit cukup membuat Alma merasakan kantuk. Hingga akhirnya ia dapat mencium bau ranjang lagi dan merebahkan diri tanpa melepas kaus kaki dan kerudung untuk kedua kalinya. Menyebalkan memang! Dengan jarangnya ia di ajak jalan keluar terlalu jauh sangat cepat membuatnya lelah dan menyerah.


"Nggak usah. Nanti saya buka sendiri," ujar Alma saat lagi-lagi Jafar ingin membuka kaus kakinya.


"Mas, nggak usah, kok!"


Jafar tak menghiraukan. Hingga spontan Alma merubah posisi, menarik tangan Jafar cepat yang langsung membuat lelaki itu hilang keseimbangan dan terjatuh tepat di atasnya. Netra Alma melebar, ia terkejut bukan main. Ini salahnya!


Kenapa tadi aku pakai narik segala, sih?!


Sedangkan Jafar menumpu kedua tangannya di sisi kiri dan kanan kepala Alma. Ditatapnya sang istri dengan seksama, mata yang indah, hidung kecil yang runcing, alis tebal, bibir yang sedikit memerah karena liptin.


Bolehkah di coba? Salah satunya, saja. Jika boleh. Ia juga ingin mengecup. Tangan kanan Jafar meraba pada dagu Alma untuk menarik jarum pentul di sana. Selanjutnya, di sikap kerudung itu di letakkan tak beraturan. Surai hitam panjang yang harum, leher yang dapat di pandangnya dengan puas. Kulit langsat yang sangat kontras dengannya.


Jika terlahir seorang bayi mungil. Mungkin akan memiliki kulit yang indah, perpaduan yang tepat.


"Mas ..."


Jafar menatapinya.


"Mau ... sekarang?"


Sesaat mengucapakan itu detak jantung Alma berdebar-debar, pipinya memerah. Malu tak apa-apa. Lagi pula ini yang pertama.

__ADS_1


"Boleh?" Jafar menggerakkan bibirnya.


Alma mengangguk pelan, tangannya terangkat mengusap pipi kanan suaminya. "Boleh."


Saat hendak memulai terlihat Jafar mungkin mengucap do'a. Lelaki itu mendekatkan diri pada leher jenjang sang istri, aroma shampoo yang bercampur dengan body lotion. Jafar sudah lama tak mencium wangi ini. Dikecup leher Alma hingga turun sampai di bahu kiri.


Benar-benar sekarang kah?


Tangan Alma melingkar pada leher Jafar. Lelaki itu mengubah ciuman pada bibir merah istrinya, dilakukannya perlahan hingga Alma terhanyut memenjamkan mata. Salah satu tangan Jafar membuka resleting gamis sang istrinya, menyikap dan hanya menyisakan baju dalam.


"Saya malu, Mas," lirih Alma.


Jafar menggeleng dengan tersenyum tipis. Ia menengak posisinya, melepas kaus yang dipakainya, hingga perut sixpack yang disembunyikannya selama ini dapat Alma lihat dengan gamblang.


Sangat jelas.


Kembali di kecupi pipi kiri dan kanan Alma dengan singkat. Jafar menelisik lagi pada leher jenjang Alma hingga benda kenyal itu menjalar menciumi bibir. Tangan kanan Jafar bergerak sesuai naluri, menyentuh salah satu gundukan.


"Mas ..."


Alma menahan tangan Jafar sejenak. Hingga suaminya berhenti dengan napas yang tersengal-sengal dan menatapinya dengan sayu.


"Na-nanti sakit?"


Jafar mengangguk pelan.


"Ka-kalau gitu ...." Alma menghindari tatapan Jafar dan kembali berujar, "Tolong pelan-pelan, Mas."


Siang pertama yang sangat indah. Cukup singkat, namun sangat bermakna bagi Jafar. Mungkin memang akan sangat menyakiti Alma, karena ini pun yang pertama baginya dan sang istri. Sebisa mungkin sudah Jafar lakukan dengan lembut, walau Alma tak henti-henti mengeluh kesakitan.


Tak apa-apa.


Wajar.


Alma yang sedang berada di kamar mandi berendam pada bathub dengan pipi yang masih memerah padam, pikirannya terus mengarah kesana.


Menyebalkan!


Kenapa otak ini mesum banget, sih?!


Ia menggeleng-gelengkan tak setuju. Bukan mesum. Ia hanya mengingat momen pertamanya dengan Jafar saja. Tidak ada hal-hal yang buruk di pikirannya. Walau sebenarnya ia masih memikirkan, apakah ... Jafar puas?


Tidak salah 'kan? Pertanyaan itu memang memenuhi otaknya. Lagi pula urusan ranjang juga cukup berpengaruh dalam pernikahan. Itu yang Alma dengar dari orang-orang.


Suara ketukan pintu menyandarkan Alma.


"I-iya, Mas. Saya habis ini keluar kok," ujar Alma.


Alma telah usai mengeringkan tubuh. Kini mengambil lingerie maroon yang dibelikan Jafar lagi dengan model baru dan berlengan. Untung saja berlengan, ia tak suka jika model baju tidur tanpa lengan.

__ADS_1


"Iya, Mas?" ujar Alma saat membuka pintu kamar mandi. "Kamu mau ke kamar mandi?"


Jafar menggeleng. Karena tadi lebih dulu suaminya yang membersihkan diri, sedangkan Alma tadi masih merebahkan diri.


"Te-terus?"


Tangannya di tarik pelan, Alma berjalan sedikit tertatih mengikuti arah jalan Jafar yang ternyata menuju sofa panjang.


"Mau ngapain?"


Jafar mengangkat kaki Alma di pangkuannya.


"Ka-kamu mau ngapain, Mas?"


Pijatan-pijatan lembut terasa di telapak kakinya. Alma terheran-heran. Kenapa Jafar memijatnya? Ini terasa nikmat, dan mereda segala lelahnya.


"Nanti kamu capek. Nggak usah, Mas," tolak Alma dengan menarik kakinya. Kemudian ia mendekatkan dirinya ada Jafar dengan bersandar pada bahu lelaki itu.


"Mending istirahat aja gini."


Jafar mengangguk, dan menggenggam tangan kiri Alma. Keduanya sama-sama terdiam. Bahkan Alma tak tahu ingin berbicara mengenai apalagi, sejujurnya ia masih malu.


Terlihat gawai hitam tiba-tiba di dekatkan padanya. Milik Jafar, yang terdapat tulisan di sana. "Kamu baik-baik saja?"


"Saya nggak kenapa-napa, kok. Kenapa kamu tanya gitu?"


Jafar mengetik lagi dan menggeser gawainya. "Kamu tadi menangis."


Ya, wajar 'kan? Kenapa harus di ulang-ulang lagi? Alma menghela napas pelan dan berujar, "Sekarang udah enggak."


"Saya bilang tadi, Alma," tulis Jafar lagi, dan sekarang istrinya mengubah posisi menidurkan kepala di pangkuannya.


"Nggak boleh saya nangis?"


Jafar mengetik lagi. "Boleh."


Terdapat jeda di aplikasi note itu. "Saya minta maaf."


Tangan kanan Alma terangkat mengusap-usap bulu halus yang berada di dagu suaminya. "Kamu salah apa emang, Mas? Perasaan tadi di perpustakaan kamu nggak buat salah kok."


"Saya menyakiti kamu," tulis Jafar.


Usapan itu berhenti. Tangan Alma turun, pipinya memerah lagi di letakkan kedua tangannya pada wajah hingga tertutup sempurna.


"Enggak."


Jeda tiga detik dengan kedua tangan yang masih menutupi wajah Alma kembali berujar, "Orang-orang bilang waktu pertama kali emang sakit, 'kan?"


Jafar menarik salah satu tangan Alma. Supaya ia dapat melihat wajah istrinya. "Jangan di tarik," tolak Alma.

__ADS_1


"Jangan tanya kenapa juga." Alma kian rapat menutupi wajahnya dengan menggeleng. "Saya ini lagi malu, Mas ..."


🚫Halal Area


__ADS_2