
...15 : Pembahasan Tentang Si Bisu (3) Dan Kabar Yang Tak Terduga...
"Boleh. Ummi perantaranya," ucap Ummi Salamah.
Alma spontan menunduk malu. Kemudian menyerahkan surat yang ia bungkus rapi dengan amplop putih kepada Ummi Salamah.
"Ini, Ummi."
"Jadi ... kurang enam bulan kalian akan menikah," ucap Ummi Salamah.
Alma mengangguk.
"Ummi sudah bicara dengan Tantemu, Nak. Kata beliau Ayahmu memiliki adik laki-laki, yang mana nanti akan menjadi wali nikahmu."
Adik Ayah? ... Om Firza?
"Iya, Ummi."
"Kamu sudah membaca surat dari Tante Bunga, kan? ... Jadi Ummi harap besok kita bisa langsung ke rumah sakit."
Alma terdiam saat lagi-lagi Ummi Salamah membahas itu. Sungguh beberapakali sudah ia coba untuk merasa tak apa-apa mendengar kata rumah sakit dan operasi. Namun nyatanya ia tetap tak suka dan sangat-sangat tak ingin mendengarnya.
"Kamu denger yang Ummi bilang, Nak?" ucap Ummi Salamah, lagi.
"Insya Allah, Ummi," jawab Alma.
Sesaat percakapan Ummi Salamah dengannya berhenti, tiba-tiba dari luar terdengar ketukan pintu. "Assalamualaikum, Ummi."
Salsa?
"Waalaikumussalam. Oh, Salsa? Sini masuk, Nak!" ucap Ummi Salamah menyambut Salsa dengan berdiri di susul oleh Alma di belakang. "Sudah selesai urusannya sama Ustadzah Aini?"
Salsa tersenyum. "Sampun, Ummi."
"Ehm ... Ummi, Alma sama Salsa mau pamit pulang ke panti," ucap Alma.
Ummi Salamah mengangguk. "Mau pulang naik apa?"
"Jalan Ummi," jawab Salsa.
Alma dan Salsa telah berpamitan. Walau tadi sempat hendak diminta oleh Ummi Salamah untuk diantar dengan mobil, jelas spontan saja Alma menolak---lagi pula pesantren dari panti asuhan tidak terlalu jauh.
Dan sesaat beberapa langkah keluar dari pesantren, berjalan melewati persawahan Salsa berucap, "Maaf, Mbak."
"Maaf?"
Salsa mengangguk dengan menatap lurus ke depan. "Iya, Mbak. Aku minta maaf."
"Kamu nggak ada salah apa-apa kok tiba-tiba minta maaf---"
Salsa menyanggah, "Yang di dapur waktu itu. Aku ngomongin tentang Mas Jafar, akunya ndak tahu kalau sampean calon istrinya Mas Jafar."
Alma hanya mengangguk.
Salsa menengok saat tidak mendengar jawaban dari Alma sedikit pun. "Sampean ndak maafin aku, Mbak?"
"Kamu salah orang, Sal."
Kening Salsa mengerut tak paham dengan maksud Alma.
__ADS_1
"Harusnya kamu minta maaf ke Jafar ..."
Alma menjeda lagi---dengan sekilas dari samping menatap Salsa, ia lanjut berujar, "Karena setahuku ... Jafar orang yang pemaaf."
"Aku titip ke sampean saja Mbak, sampean tolong sampai-in nanti kalau udah nikah," ucap Salsa.
Alma menyungging senyum. "Insya Allah."
Percakapan terhenti sejenak. Namun saat hendak melewati satu rumah warga berpagarkan hitam Salsa kembali berucap, "Mbak aku boleh tanya?"
"Boleh. Tanya apa?"
Sekitar lima detik Salsa berucap, "Sampean nanti ndak malu kalau punya sua ... mi itu ... kayak Mas Jafar?"
Pertanyaan yang sama dari orang yang berbeda.
"Insya Allah, nggak Sal."
Alma menjeda, menghela napas sejenak saat lagi-lagi mendengar pertanyaan yang sama. Kemudian ia lanjut berucap, "Sal ... menurutmu apa setiap kekurangan manusia itu tampak memalukan?"
"Ehm ... ya kadang-kadang, Mbak. Tapi yang kelihatan jelas iku yang kadang bikin malu," jawab Salsa.
Alma mengangguk. "Jadi kekurangan yang kamu miliki itu ... kelihatan apa nggak?"
Salsa terdiam, seolah-olah tak sanggup menjawab pertanyaan. Ataukah ia sedang memikirkan pernyataan Alma? Memikirkan tentang sesuatu kekurangan diri?
"Udah ndak usah dibahas lagi, Mbak. Aku ndak suka pernyataan yang sampean ajuin," elak Salsa.
Bahkan sebenarnya, aku juga nggak suka pertanyaan yang kamu ajukan, Salsa.
"Pada akhirnya pun Sal, kita punya kekurangan masing-masing. Mungkin bedanya ada yang tersembunyi dan ada yang terpampang jelas," ucap Alma.
Bukahkah itu tersembunyi?
Salsa terlihat mengangguk.
"Jangan lagi bertanya tentang kekurangan pasangan orang lain, Sal. Kamu nggak pernah tahu gimana sakitnya seseorang yang kamu tanyai itu."
Alma menjeda, melihat bahwa ia dan Salsa hendak melewati rumah terakhir. Kemudian ia lanjut berujar, "Aku harap kamu mengerti, Sal."
Aku merasa baik-baik saja, Sal. Karena Jafar belum menjadi suamiku ... Aku juga merasa baik-baik saja, karena aku masih belum pernah merasakan kesakitan yang sama dengan Jafar.
Namun nanti jika aku dan Jafar telah menikah ... rasa-rasanya tidak akan pernah aku izin satu orang pun bertanya tentang itu lagi.
Rumah terakhir telah Alma dan Salsa lewati, dan gerbang panti asuhan Al-Hikmah telah terlihat---mereka memasuki pelataran panti dengan sama-sama membisu. Salsa memahami dirinya bersalah dan setuju dengan apa yang Alma katakan.
"Kak Alma!"
Suara Kirana membuyarkan kebisuan di antara Alma dan Salsa. "Hai, Kak Salsa juga!"
"Kak Alma di panggil sama Umma Sarah," ucap Kirana.
"Habis ini Kakak ke sana, Na."
Alma pamit untuk pergi ke asrama. Sebenarnya pun ia bisa langsung menemui Umma Sarah, tetapi karena lelah berjalan cukup jauh rasa-rasanya ia sedikit dahaga, dan ia merasa bahwa asrama adalah tempat yang tepat untuk istirahat sejenak saja.
Kaki Alma yang baru satu langkah memasuki kamar, tiba-tiba saja gawai yang terletak pada saku samping kirinya bergetar lama---tanda ada panggilan masuk.
Bibi Maryam?
__ADS_1
Alma meng-klik tombol hijau. "Assalamualaikum, Bibi!"
"Waalaikumussalam. Alma, ini Paman Idrus. Kamu ... apa kabar, Nak?"
Netra Alma melebar, saat mendengar suara yang begitu ia rindukan---Paman Idrus menghubunginya. Karena semenjak kepindahan dirinya ke panti asuhan baru Paman Idrus jarang ingin menghubungi langsung, selalu saja beliau bertanya keadaannya kepada Bibi Maryam.
"Alhamdulillah, aku baik. Paman bagaimana kabarnya?" ucap Alma.
Terdengar helaan napas dari seberang. "Paman ... sedikit tidak baik, Nak."
"Paman sakit?"
"Alhamdulillah, Paman sehat."
Alma melukiskan senyum, bersyukur masih mengetahui keadaan Paman Idrus.
"Besok kami pulang ke Indonesia."
Alma merasa bahagia. Bukankah berarti jikalau kembali ke Indonesia, Bibi Maryam telah sembuh dan membaik? Segala puji syukur Alma panjatkan kepada Sang Pencipta.
"Alhamdulillah, Paman! Aku bakal nungguin Paman sama Bibi berkunjung ke panti asuhan. Atau kalau nggak aku bakalan ke rum---"
"Nak, besok Paman kabari lagi, ya? Do'akan Bibimu. Assalamualaikum," sanggah Paman Idrus.
Dan dalam sekejap panggilan terputus secara sepihak---bahkan Alma belum sempat membalas salam pun telah dimatikan oleh Paman Idrus.
Aneh.
Mengapa Paman Idrus hanya berbicara sedikit pada dirinya?
Padahal, ia sedang rindu dan ingin berbicara banyak.
"Ah, iya! Aku tadi dipanggil Umma Sarah," gumam Alma.
Secepatnya Alma meletakkan gawai di atas meja---meninggalnya di kamar. Kemudian ia keluar menuju kantor Umma Sarah. Dan saat telah sampai di depan ambang pintu Alma bergeming, pikirannya beralih kepada Mardiyah, seolah-olah bertanya apakah Mardiyah akan merasa bahwa ia mengambil Umma Sarah lagi?
"Assalamualaikum, Umma Sarah," ucap Alma, saat telah memutuskan untuk masuk, walau pun terasa ragu.
"Waalaikumussalam, Alma. Kamu duduk, Umma mau bicara."
Alma menatap lurus ke netra Umma Sarah. "Tentang rumah sakit, kan Umma? ... Alma mengerti, dan besok Insya Allah siap ke---"
"Bukan," sanggah Umma Sarah.
Kening Alma mengerut. Mungkinkah masalah dengan Mardiyah? "Lalu Umma mau bicara tentang apa?"
"Besok kita ke rumah Bibimu," ucap Umma Sarah.
Spontan saja Alma tersenyum. "Umma dikasih kabar sama Bibi, ya? Karena barusan Paman Idrus menghubungi Alma juga. Katanya besok beliau-beliau pulang ke---"
"Bukan Bibimu yang memberi kabar, tapi Pamanmu," sanggah Umma Sarah dengan menunduk sejenak. Kemudian menatap Alma lekat-lekat dan kembali berujar, "Beliau bilang ..."
"Bilang apa, Umma?" sanggah Alma.
"... Bibimu meninggal, Alma," lanjut Umma Sarah.
Note:
*Saya kadang-kadang lupa kalau buat nge- italic suara hati Alma dan juga kadang-kadang juga lupa nge- italic percakapan telepon orang seberang. Mohon maaf ya!
__ADS_1
Semoga semakin terhibur dan ikut menyelami kisah Alma yang sedikit menyakitkan* :)