Almahyra

Almahyra
Bagian 36


__ADS_3

"Eh! Pada ngumpul! Assalamualaikum!"


Suara Salwa cukup keras di waktu yang sudah cukup malam ini---ia melihat Kakak sepupunya berkumpul, lantas mengambil duduk di samping Lutfan.


"Waalaikumussalam."


"Hayoooo pada ngobrolin apa? Jarang-jarang wajah Mas Lutfan sok serius kayak gini," ucap Salwa.


Alma mengambil duduk di samping Jafar. Lutfan menatapi Salwa dengan kesal dan berujar, "Anak kecil! Nggak usah sok tahu lo! Minggir-minggir jauh-jauh lo dari gue!"


"Ih! Sewot banget!" gerutu Salwa.


Jafar hanya tersenyum tipis melihat tingkah Lutfan dan Salwa. Sedangkan Alma berucap, "Lagian, apa yang di tanyain Salwa itu bener. Mukamu kelihatan serius Lutfan."


Pandangan Alma beralih pada Jafar. "Emang ... kamu ngobrolin apa Mas sama Lutfan?"


"Rahasia laki-laki." Lutfan tiba-tiba berdiri. "Mas, aku pamit. Umma tadi udah telepon soalnya."


Perbincangan apa yang menjadi rahasia laki-laki? Alma sungguh tak mengerti. Lutfan pamit, dan Salwa seperti biasa terus menerus menjahili Lutfan dengan mengekor pada anak semata wayang Umma Sarah itu.


"Ja ... di? Bener-bener rahasia laki-laki? Saya nggak boleh tahu?"


Jafar mengangguk.


Alma mengangkat kedua bahunya. Ya sudah lah, jika memang rahasia. Ia berdiri hendak pergi, namun pergelangan tangannya di genggam oleh Jafar.


"Apa?"


"Duduk."


Gerakan bibir Jafar terbaca. Dan Alma kembali duduk. Suaminya itu sedang mengetik di gawai.


"Apa saja yang kamu lakukan di panti?"  tulis Jafar.


"Ya gitu. Cerita-cerita sama Kirana, Inayah, Mardiyah."


Jafar mengangguk paham dan mengetik. "Sudah makan?"


"Malam ini sih belum. Tapi kayaknya saya nggak laper."


Tangan kanan Alma ditarik berdiri oleh Jafar, di ajaknya untuk menuju dapur. Pikir Alma, apakah suaminya ini akan memasak?


"Kamu ngapain ajak saya ke dapur? Masak?"


Jafar mengangguk dengan mengeluarkan rempah-rempah dari lemari pendingin. Kemudian ia menyusul istrinya untuk duduk di kursi dapur dan mengetik sesuatu di gawai.


"Saya ingin membuatkan makanan untuk kamu."


"Wah! Menunya apa?"


Jafar tersenyum dan mengetik lagi. "Saya berencana membuat dua menu. Tapi apa kamu bersedia memakannya?"


"Tentu. Apalagi yang masak kamu." Tangan Alma mengambil pisau yang tergeletak. "Jadi ... saya bantuin apa?"


"Kamu duduk. Lihat saja suami ini memasak," tulis Jafar.


Bunga-bunga serasa bermekaran di hatinya saat mendengar Jafar menyebut kata 'suami'---yang mana sebenarnya pun, sudah beberapa kali disebut. Tetapi tetap saja, ia saat mendengarnya tak bisa merasa biasa-biasa saja.


"Ternyata ... suami saya sangat idaman," gumam Alma.


Ia sudah benar-benar yakin tadi berucap sangat pelan. Lantas mengapa Jafar yang tadi memotong-motong sayur berhenti dan mengetik kembali?


"Jangan memuji saya. Saya bisa mendengarnya," tulis Jafar.


Alma melambungkan tawanya. "Saya nggak niat muji kamu, kok."


Jafar tidak mengindahkan Alma. Tangannya fokus memotong sawi hijau, selanjutnya bawang merah dan bawang. Kemudian Jafar berdiri menghidupkan kompor dan mulai memasak, entah Alma tak tahu menunya apa.


Alma mundur---kembali duduk namun tidak di kursinya tadi, melainkan di kursi Jafar. Dan tepat saat itu, layar gawai milik Jafar hidup menampilkan notifikasi pesan biasa.


Malam-malam siapa yang ngirim pesan? Operator?


Nggak kelihatan namanya.


Notifikasi terlihat lagi, kali ini dari aplikasi pesan yang mana ternyata itu dari Lutfan.


Lutfan

__ADS_1


Kalau perlu Mas blokir nomor cewek itu.


Dan secepatnya ajak Alma jenguk Ustadz Hasan.


Kening Alma mengerut.


Siapa Ustaz Hasan?


Ha ... san?


Be-beliau Ayahnya wanita itu bukan?


Sungguh sebenarnya pun tak masalah bagi Alma bilamana Jafar mengajaknya untuk menjenguk Ayah dari wanita itu. Apalagi kedatangannya bisa mempertegas hubungan baru yang mana akan menjadi kejelasan untuk Ustaz Hasan. Pernikahan bagi Alma bukan lah sesuatu yang semudah itu diputuskan, belum lagi mengenai permintaan Azizah yang seolah-olah tak ada jalan keluar, selain menikahi suaminya.


Alma rasa itu salah. Bahkan sangat salah.


"Mas ..."


Jafar telah usai memasak menu pertama yang mana adalah mie kuah kecap dengan sawi hijau, telur dan ayam suwir. Aromanya sangat lezat.


"Sudah?"


Senyuman tercetak jelas di wajah Jafar yang mana sekarang berjalan ke arahnya dengan membawa masakan pertamanya.


"Coba."


Alma mengangguk kecil. Semenjak menikah dengan Jafar ia memahami bahwa memperhatikan seseorang saat berbicara dengan dirinya adalah wajib. Hingga dengan mudah ia bisa membaca gerakan bibir Jafar.


"Enak."


"Pasti .... Abi kayak kamu. Beliau pasti sering masakin Ummi juga."


Jafar hendak berdiri memasak menu selanjutnya. Namun lengannya Alma tahan. "Ini aja cukup, Mas. Makasih. Kamu nggak perlu repot-repot lagi."


"Kenapa raut wajah kamu seperti itu?" tulis Jafar di buku catatan.


Kedua sudut bibir Alma terangkat, ia tersenyum dan menjawab, "Kenapa? Sa-saya nggak kenapa-napa."


Jafar sadar ada yang berbeda dari Alma. Gawai yang terletak itu tepat berada di samping istrinya. Azizah menghubungi lagi. Dan Lutfan tetap marah-marah sampai sekarang.


Untuk apa Jafar menyerahkan gawai padanya? Alma bingung, ingin mengambil pun tak paham maksudnya.


"Baca."


Kening Alma mengerut saat gerakkan bibir Jafar memintanya untuk membaca sesuatu. "Apa? Apa yang perlu saya baca?"


Alma dengan perlahan mengambil alih gawai di tangan suaminya. Pesan panjang dari Azizah di bacanya dalam diam. Sungguh tiada seorang istri yang tak merasa sakit saat melihat pesan seperti ini, apalagi wanita itu terus menerus membawa-bawa amanah mertuanya.


"Delapan belas lima belas, pesan dari wanita ini di kirim. Bukanya sebelum kamu berangkat ke Masjid? Dan kamu ... masih sama saya di kamar."


Jafar mengangguk.


"Kalau sendari awal kamu sudah nggak berniat kasih tahu saya. Harusnya sampai akhir pun saya nggak tahu, Mas." Alma meletakkan kembali gawai Jafar di meja, netranya terangkat menatap suaminya dan berujar, "Nggak semua hal yang menjadi privasi kamu, saya harus tahu. Toh, kamu lebih dulu mengenal wanita itu di bandingkan saya."


"Privasi saya? Ini bukan masalah pribadi saya saja, Alma. Dia membahas tentang pernikahan. Dan kamu adalah istri saya," tulis Jafar di gawainya.


Kursi yang sebelumnya berseberangan, kini menjadi berdampingan---Jafar mengubah tempat duduknya kian mendekati Alma.


"Lalu mau bagaimana lagi? Belas kasih macam apa yang akan Mas berikan ke wanita itu?" Jeda tiga detik, Alma kembali berujar, "Pernikahan?"


Alma menggeleng pelan. "Jangan menikahi dia."


"Sebenarnya, kalau pun saya berbicara mengenai hak. Saya juga berhak melarang kamu menikahi dia." Beberapa kali Alma menghela napas, dan menatap lurus pada peralatan dapur yang tergantung. "Tapi ... menikah atas dasar keterpaksaan seperti itu ... apa kamu bersedia?"


Alma tak melihat Jafar, ia tak ingin tahu Jafar mengangguk atau pun menggeleng.


"Sa-saya juga nggak tahu, kamu menikahi saya itu atas dasar keterpaksaan juga atau pun nggak."


Hawa dapur ini kian memanas, entah lah Alma tak tahu, jawaban dari Jafar adalah yang tunggu-tunggunya. Namun untuk membaca jawab itu, sungguh ia takut tak sesuai dengan keinginannya.


Lima belas detik berikutnya terdengar suara pergesekan gawai dan meja dapur. Jafar telah mengetik jawaban yang Alma yakini mungkin cukup panjang. "Saya tidak akan pernah menikahinya. Dan tidak ada keterpaksaan, seperti yang kamu pikirkan di dalam pernikahan ini, Alma. Kamu merasa ragu? Kamu berpikir bahwa saya akan semudah itu menduakanmu?"


"Saya nggak pernah berpikir seperti itu, Mas. Tapi untuk merasa ragu? Iya." Alma mengangguk kecil, dan sekilas menatap suaminya. "Dia itu ... Azizah. Putri seorang ustadz, dan yang saya dengar dia berpendidikan tinggi, berpenghasilan sendiri. Bahkan saat saya bertemu dia langsung, saya bisa melihat ... betapa cantiknya paras wanita itu."


"Lalu ... laki-laki mana yang nggak mau menjadikan dia seorang istri, Mas?"


Delapan detik berlalu, Jafar kembali menggeser gawainya. "Saya."

__ADS_1


Di dalam aplikasi note Jafar memberi jeda---di bawahnya ia melanjutkan tulisan. "Alma, apa untuk mencari seorang suami kamu juga memikirkan mengenai hal-hal yang seperti itu?"


"Iya."


Jafar mengangguk kecil, tangannya kembali mengambil gawai dan mengetik lagi. Setelahnya ia menggeser lagi, supaya Alma dapat membaca apa yang dituliskannya. "Lantas apa saya termasuk dalam kriteria yang kamu pikirkan?"


"Enggak."


Jeda tiga detik, Alma berkata, "Kamu tahu, Mas. Manusia hanya bisa berencana, semua Allah yang menentukan."


" ... Saya nggak mengeluh sedikit pun, karena pada akhirnya suami yang saya dapatkan lebih dari yang saya idam-idamkan," sambung Alma.


Jafar mengetik jawaban sekitar dua puluh lima detik lamanya dan memberikan kepada Alma yang kini menatapnya. "Saya sudah bisa menghentikan segala rasa tidak percaya diri saya dihadapan wanita, itu semua karenamu, Alma."


Di dalam note Jafar memberi jeda. "Lihat lah, bagaimana caramu membuat saya menjadi laki-laki yang paling beruntung di muka bumi ini?"


Terdapat jeda lagi di note itu. "Ungkapan cinta tiada artinya dibandingkan penerimaan, bagi orang yang memiliki kekurangan seperti saya, Alma. Karena kamu sendiri pun tahu, betapa sulitnya diri saya menerima kekurangan ini sendiri. Lantas tiba-tiba, apakah saya harus memaksa orang lain untuk menerima juga?"


"Tentu tidak 'kan?" sambung Jafar di akhirnya catatannya.


"Cukup, Mas." Alma mengambil kembali mie kuah yang dibuatkan oleh Jafar tadi, dan melahapnya perlahan. "Seperti kata Lutfan, ajak saya temui Ustadz Hasan secepatnya. Supaya saya bisa bicara dengan beliau mengenai pernikahan ini."


Beberapa detik terjadi kebisuan, hanya terdengar suara pelan dari Alma yang melahap makanan. Sedangkan Jafar terus menatapi Alma.


"Lho ... kok belum tidur kalian? Ummi pikir tadi udah tidur. Kok sepi," ucap Ummi Salamah yang baru saja datang masih menggunakan baju lengkap---namun kerudungnya telah beliau lepas.


Alma tersenyum simpul. "Ini Ummi, Alma lagi cobain masakan Mas Jafar."


"Jafar Jafar kamu ini persis seperti Abimu. Ummi bersyukur memiliki putra seperti kamu," ucap Ummi Salamah yang kini mendekat---memeluk anak semata wayangnya itu.


"Sini, Alma." Ummi Salamah meminta Alma mendekat dan juga memeluk menantunya itu dengan erat. "Ummi sayang banget sama kali berdua. Ummi benar-benar berharap kalian merasa bahagia dengan pernikahan yang sedang kalian jalani ini."


"Mas Jafar sama Alma juga sayang sama Ummi," ucap Alma lirih.


Pelukan beberapa detik itu terlepas, dengan sisa-sisa air mata yang menetes di pipi Ummi Salamah. "Ummi masuk dulu, ya? Terusin makannya. Ummi nggak mau ganggu."


Alma kembali melahap makanannya dan lagi-lagi Jafar terus menatapinya. "Gimana ... rasanya punya Ibu yang sebaik Ummi Salamah? Beliau sayang banget sama kamu, Mas."


Tiada jawaban. Alma mendongak menatap Jafar. "Saya tanya kenapa kamu diam aja? Jangan lihatin saya terus. Kamu nggak niat tulis sesuatu gitu?"


Setelah mendengar itu Jafar menunduk menuliskan jawabannya. "Ummi sekarang adalah mertuamu. Kamu sendiri bisa merasakan betapa Ummi juga sangat menyayangimu."


Alma tersenyum getir dengan mengaduk-aduk mienya. "Iya juga, ya? Seenggaknya ... saya masih bisa ngerasain rasanya punya mertua. Sedangkan ... kamu?"


"... Maaf. Kamu jadi nggak bisa ketemu Ayah sama Ibu."


"Kenapa kamu jadi meminta maaf? TakdirNya memang seperti ini," tulis Jafar.


"Habis." Lahapan terakhir telah terkunyah, Alma meneguk air putih yang tersedia di meja dapur. Setelah usai ia menatap Jafar dan berujar, "Kamu mau tahu nggak Ayah sama Ibu itu gimana?"


"Boleh."


Gerakan bibir Jafar yang terbaca jelas, membuat Alma lanjut berkata, "Ayah itu ... galak."


"Kalau Ibu ... lemah lembut. Beliau nggak pernah marah. Bahkan kadang saya bertanya-tanya, gimana bisa Ibu yang lemah lembut kayak gitu nikah sama Ayah? Apa beliau di paksa, ya?" Alma melambungkan tawa dengan tangan kiri yang menutupi mulutnya. "Saking galaknya, saya nggak berani izin ke mana-mana kalau sama Ayah."


"Tapi ... ada satu hal yang bikin saya kagum banget sama Ayah."


"Apa?"


Melihat dari tanggapan Jafar yang cepat, Alma tahu seperti suaminya ini benar-benar penasaran dengan mertua laki-lakinya.


"Waktu kecil sekitar usia ... sembilan tahun. Saya pernah i-itu nggak sengaja menguping pembicaraan beliau dengan Ibu. Ya saya tahu itu nggak sopan, tapi ... gara-gara itu saya jadi bener-bener ngerasa beruntung bisa punya Ayah kayak beliau."


Jafar mengangguk dan mengetik. "Jadi apa yang kamu dengar?"


"Ayah bilang ke Ibu gini, 'Untuk menjadi seorang Istri sekaligus Ibu itu bener-bener nggak mudah. Tapi kamu melakukannya seakan-akan tanpa celah, kamu melayani saya dan merawat Alma dengan baik. Dan jika suatu saat, salah satu dari kita pergi atau pun saya yang pergi terlebih dahulu, saya yakin kamu akan menjaga anak kita dengan baik. Jangan pernah lupa juga, setiap pagi gantikan lah saya untuk mengecup keningnya.' Gitu lah kira-kira, saya agak samar inget-ingetnya."


Netra Alma tiba-tiba berkaca-kaca. "Saya tahu kalau kamu dengar itu, rasanya nggak ada yang spesial. Tapi ... untuk anak usia sembilan tahun yang satu tahun kemudian menjadi yatim itu benar-benar sangat berarti."


" ... Belum lagi. Itu pertama kalinya saya denger Ayah sama Ibu ngobrol berdua. Dan ... bahasa Ayah lembut banget waktu bicara sama Ibu."


Alma mengusap wajahnya dengan kedua tangan dan berdiri---menuju wastafel untuk mencuci bekas piring dan gelas tadi. "Udah lah. Intinya, Ayah itu galak."


"Saya yakin kalau kamu ketemu sama Ayah bakalan kayak ... apa ya? Si galak dan si ..." Alma menjeda bingung ingin melanjutkan apa, ia memilih meletakkan gelas dan piring pada rak dan berbalik menatap Jafar.


"Si ... formal?" Tawa Alma melambung, ia menarik Jafar untuk berdiri dan menggandeng suaminya itu ke kamar. "Habisnya kamu! Kalau ngobrol tulisan kamu itu baku terus lho. Sesuai banget sama Kamus Besar Bahasa Indonesia, ya walau remedial dikit."

__ADS_1


__ADS_2