
Pukul sebelas siang Jafar dan Ummi Salamah mengantarkan Alma menuju Rumah Sakit Angkatan Laut yang mana jaraknya cukup dekat ke arah pesantren. Ummi Salamah memilih duduk bersebelahan dengan Cak Yanto, beliau bilang, biarlah Jafar---suaminya itu, berada di dekatnya sejenak untuk memberi ketenangan.
Beberapa kali Alma menghela napas, lagi-lagi ia berdebar-debar, mobil daihatsu hitam memasuki pelataran rumah sakit. Ia semakin takut.
Jafar membuka telapak tangannya dan menyerahkan buku catatan. "Genggam tangan saya, jikalau kamu merasa takut."
Alma tersenyum tipis dan menggeleng. "Sedikit, Mas," bisiknya.
Tangan Jafar menyentuh tangan Alma---menjalar dengan membuka telapak tangannya dan menautkan kedua jari bersama.
"Saya nggak pa-pa, Mas," bisik Alma.
Tiada satu pun hal yang Alma sesali, semenjak hidup bersama dengan lelaki di sampingnya. Entah permasalahan apa pun yang dilaluinya dengan Jafar, selalu berakhir baik-baik saja. Dasar dari sifat suaminya adalah kasih sayang, jadi semarah apa pun Jafar tak akan sampai hati melukainya.
Namun, untuk khilaf tak sengaja melukai pun tak apa. Karena bagi Alma, terkadang-kadang manusia memang mengecewakan sesamanya.
"Apa pun yang kamu minta setelah pulih dari operasi akan saya kabulkan, Alma. Jadi buatlah list sebanyak-banyaknya," tulis Jafar.
Alma sedikit mencondongkan tubuhnya, dan ia berbisik lirih, "Saya cuma takut uang kamu habis."
Setelah Alma kembali duduk semula. Jafar menggeleng kuat dan menulis. "Insya Allah tidak akan habis. Kamu pikir selama ini saya bekerja sekeras itu untuk siapa? Selain, Ummi."
"Saya?" tanya Alma dengan tawa pelan.
Jafar mengangguk.
"Setelah pulih nanti saya serahkan semuanya ke kamu. Apa pun yang saya mau, kamu janji mengabulkan itu 'kan?" ucap Alma pelan.
Jafar mengangguk. "Selama masuk akal. Saya berjanji," tulisnya.
Alma tertawa pelan---mengambil alih buku catatan suaminya. "Tenang, Mas. Saya nggak akan minta kamu bawain saya bintang paling terang dari angkasa kok," tulis Alma.
Jafar pun tiba-tiba saja tertawa.
"Duh, ngobrolin apa? Ummi lihatin dari kaca spion senyam-senyum terus kalian, pengantin baru emang gini, ya?" sahut Ummi Salamah.
Alma tersenyum tipis dan menjawab, "Bukan apa-apa, Ummi."
"Nak, nanti nggak usah takut ya? Di luar Masmu sama Ummi pasti nemenin kamu, pokoknya bismillahirrahmanirrahim lancar, pasti lancar," tutur Ummi Salamah.
"Iya Ummi. Aamiin, Insya Allah Alma nggak takut," jawab Alma.
Alma menarik dan membuang napas beberapa kali saat mobil yang ditungganginya berhenti.
Udah sampai?
"Ayo turun, Nak."
__ADS_1
Jafar menggandengnya untuk turun bersama, genggam tangan suaminya pun erat seolah-olah menyalurkan ketenangan.
"Saya berdebar lagi, Mas," lirih Alma.
Jafar mengangguk---tangan kanannya melepaskan genggaman beralih mengusap-usap punggung Alma dan menepuk pelan.
"Tolong do'ain saya, Mas. Sa-saya tiba-tiba takut," lirih Alma.
Alma, Jafar dan Ummi Salamah menemui Dokter Indira yang menangani operasi hernia Alma nanti. Perjalanan menyusuri rumah sakit benar-benar membuatnya gelisah, di setiap langkah ia selalu menyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahkan gandengan tangan Jafar semakin erat.
"Mbak Alma, siap operasi?"
Alma mengangguk. "Siap, Dokter."
"Sudah puasa 'kan tadi?"
"Iya, Dok. Puasa."
Dokter Indira tersenyum simpul. "Mas Jafar dan Ummi tidak usah khawatir, ini operasi kecil kok. Insya Allah hernia ini tidak mempengaruhi hal-hal lain di tubuhnya Mbak Alma. Insya Allah."
Ummi Salamah dan Jafar hanya mengangguk.
Pandangan Dokter Indira beralih lagi pada Alma. "Ayo Mbak, sama perawat ini nanti di bantu Mbak Almanya buat siap-siap operasi."
"Katanya nanti setelah sholat Jumat, Dok," sahut Ummi Salamah.
...🌺...
Satu jam berlalu operasi hernia yang Alma jalanin telah usai. Sebenernya tak apa-apa untuk pulang setelah melakukan operasi hernia umbilikalis, karena lagi-lagi Dokter Indira mengatakan bahwa ini bukan lah operasi besar seperti hernia-hernia lainnya. Namun Jafar dan Ummi Salamah tetap ingin setidaknya dua hari Alma rawat inap.
Segala pantangan-pantangan telah Dokter Indira jelaskan pada Jafar. Alma pun telah dipindahkan di ruang rawat inap kelas III atas permintaan Ummi Salamah. Sedangkan Alma baru saja tersadar sekitar pukul dua siang, ia terdiam menatapi ke arah kiri di mana sang suami terbaring tidur.
"Mas ..." lirih Alma.
Jafar tak kunjung bangun mungkin suaranya tak begitu keras.
"Mas ..."
Pergerakan tubuh Jafar terasa. Lelaki itu bangun, netranya langsung bertemu tatap. Pandang mata yang teduh Jafar haturkan padanya
Alma tersenyum tipis. "Sakit ternyata, Mas."
Jafar mengangguk kecil.
"Tapi saya nggak pa-pa. Pasti ..." Alma menghela napas pelan menahan rasa nyeri di perutnya. "Nanti sembuh kok."
Jafar mengangguk kecil lagi. Alma tak tahu kapan suaminya itu menulis tiba-tiba Jafar mendekatkan buku catatannya. "Kamu hebat. Alhamdulillah operasi ini berjalan dengan lancar. Saya dan Ummi meminta pada Dokter Indira untuk kamu menginap di rumah sakit dua hari," tulis Jafar.
__ADS_1
Alma hanya mengangguk.
"Mas ... boleh minum?"
Jafar mengangguk dan menggerakkan bibir. "Boleh." Tangan Jafar mengambil air mineral botol dan menuangnya sedikit, lalu mendekatkan di bibir istrinya.
"Udah." Alma tersenyum kembali posisi tidurnya dengan nyaman. "Nggak boleh banyak-banyak 'kan?"
Jafar mengangguk.
"Sekarang jam berapa, Mas?"
Jafar menunjukkan gawainya.
"Kamu nggak ke outlet?"
Jafar menggeleng.
"Operasi saya ganggu kerja kamu, ya Mas? Maaf."
Jafar menggeleng lagi. Kali ini ia menulis di buku catatannya. "Sama sekali tidak, Alma. Saya bisa mengerjakan via online. Operasimu sama sekali tidak mengganggu."
"Terus ..." Alma mendesah saat nyeri tiba-tiba saja terasa.
Jafar mengangkat buku catatannya. "Jangan banyak bicara," tulisnya.
Alma mengangguk. Dan berkata lirih, "Pasca ... operasi apa ... aja yang di bilang sama Dokter?"
Jafar menunduk. Sekitar lima belas detik suaminya itu mendekatkan dan mengangkat buku catatan yang berisi tulisan sedikit panjang. "Jahitan akan kering sekitar 3-4 hari. Selama itu usahkan makan sesuatu yang lembut. Larangan lainnya tidak ada. Mungkin bagi yang sudah menikah sekitar 1-2 minggu tidak boleh melakukan hubungan intim."
"O-oh gitu, ya?" Alma mengalihkan padanya ke samping kiri---menghindari tatapan Jafar. "Jangan lihatin saya, Mas. Kamu ... kerjain kerjaan kamu."
Tangan kanan Alma tiba-tiba saja disentuh oleh Jafar. Sehingga detik itu juga Alma menoleh. "Apa?"
Jafar menggeleng, dan ia bangkit dari duduknya kemudian mencondongkan diri ke Alma dan mengecup singkat kening istrinya.
Cium kening?
Senyum tipis Alma berikan untuk Jafar, saat suaminya itu duduk kembali di sofa untuk menghandle pekerjaannya secara online.
Orang-orang benar. Saya telah terbiasa hidup bersamamu, Mas. Saya terbiasa melihatmu, saya terbiasa menerima perlakuan lembutmu ini.
Sehingga ... tidak salah bukan? Jika perlahan-lahan hati saya terbuka untukmu, Mas.
Saya menerima cinta selayaknya yang saya inginkan selama ini. Cinta yang tanpa memandang apa pun, selain ketulusan hati, Mas.
[.]
__ADS_1