Almahyra

Almahyra
Bagian 61 (1) : Satu Hari di Lazuardi Hotel


__ADS_3

Isya pun telah usai.


Alma berganti pakaian menggunakan gamis hitam dengan kerudung maroon. Sedangkan Jafar menggunakan jas hitam, celana senada dan kaos dalam maroon. Pantulan cermin menampakkan wajah keduanya, Alma tersenyum manis dengan sedikit mendongak menatap Jafar.


"Mas, saya cantik?"


Jafar mengangguk.


"Kamu juga ganteng kok." Alma menggeleng-geleng. "Enggak-nggak lebih ke manis sih, manis-manis ganteng gitu."


Jafar hanya mengangguk-angguk dan mengusap pipi kanan Alma. Semua nampak serasi, tinggal menuju tempat makan pribadi yang telah disediakan oleh staf hotel. Sebenarnya pun ia lelah, tetapi ia harus menghargai pemberian dari Manggala Adiwangsa.


"Silakan Tuan dan Nyonya," ujar staf perempuan.


Netra Alma nampak terbinar-binar. Private room? Sungguh mengagumkan, ruangan ini terdapat dua kursi, dan lilin yang menyala. Bahkan jendela restauran hotel ini transparan dan penuh, langsung mengarah pada pusat kota.


Sangat indah.


Benar-benar hadiah yang tidak main-main dari orang elit pemilik Lazuardi hotel ini. Masya Allah. Rezeki dan segalanya yang dimiliki oleh keluarga Adiwangsa sangat lah berkah, Alma yakin terlepas dari kabar simpang siur yang ia dengar dari keluarga ini, pasti masih begitu banyak sisi baik hati yang ia dan orang lain pun tak tahu.


"Mas ... foto mau?"


Jafar tersenyum tipis dan mengangguk.


"Selfi dulu, ya?"


Keduanya foto bersama. Sekitar lima menit kemudian staf hotel datang membawakan menu-menu makanan dan minuman.


"Selamat malam Tuan dan Nyonya. Saya ingin memberitahu, bahwa nanti akan disediakan sesi pemotretan untuk mengabadikan momen makan malam ini."


Alma mengangguk dengan senyum simpul. "Iya. Terima kasih."


"Saya permisi. Selamat menikmati dan semoga selalu berbahagia," ujar Riri, kepala staf hotel.


Alma dan Jafar melahap habis semuanya. Nikmat. Lalu seperti yang sudah dijanjikan oleh kepala staf hotel terjadi sesi pemotretan beberapa kali, Alma juga meminta pada fotografer untuk memotret menggunakan gawainya. Sungguh sebenarnya ia sedikit malu, jarang-jarang berfoto seperti ini. Tetapi mau bagaimana lagi? Ini termasuk mengabadikan momen yang indah di kehidupan selanjutnya.


Makan malam dan pemotretan telah berakhir. Alma dan Jafar kembali ke kamar sekitar pukul sepuluh malam. Lelah bukan main. Alma langsung merebahkan diri di ranjang, tanpa mengganti pakaian dan tanpa melepas kerudung.


"Hmm ... capek."


Jafar mengambil duduk di sampingnya---menarik kaki jenjangnya di pangkuan.


"Kamu mau ngapain?"


Ditariknya kaus kaki Alma secara bergantian. Di susul mendekati wajah untuk melepaskan kerudung dengan menarik jarum di bawah dagu Alma. "Egh ... makasih, Mas."


"Saya ..." Netra Alma terpejam. "Saya mau tidur nggak pa-pa, kan?"


"Tapi ... saya belum ... hapus bedak sama lipstick," imbuh Alma.

__ADS_1


Netra Alma tetap terpejam saat kapas yang dibasahi oleh pembersih make up itu menyentuh sisi kiri pipinya. Jafar lihai membersihkan, semua sisi wajah tak terlewatkan.


"Ma ... kasih, Mas."


...🌺...


Seseorang terasa menggoyang-goyangkan tubuhnya. Siapa? Netranya terbuka perlahan-lahan, Jafar terlihat sudah rapi menggunakan kopi dan baju muslim. Sepertinya hendak salat. Alma mengubah posisi duduk dengan menatap suaminya.


"Mas?" Dipandanginya Jafar dari atas sampai bawah. "Mau sholat?"


Jafar menggeleng.


"Udah sholat?"


Jafar mengangguk.


Aku pakai lingerie? Apa Mas Jafar yang gantiin?


Alma mengusa-usap matanya. "Egh, udah subuh, Mas? Saya mau mandi, terus sholat dulu."


Jafar berdiri di sisi kiri. Sesaat Alma turun baru saja dua langkah tiba-tiba saja ia merasa hilang keseimbangan, ingin terjatuh. Namun urung saat tangan besar Jafar melingkar di perutnya, menahan dengan begitu kuat.


"Ah, untung ..." Alma merasa lemas, perutnya pun lapar ia juga merasa pusing. "Kepala saya ... pusing, Mas."


"Masa gara-gara kecapekan?"


Jafar acuh langsung menggendong Alma ke kamar mandi dan mendudukkan pada closet, bathtub pun telah terisi air hangat yang ia siapkan untuk istrinya berendam.


"Bentar, Mas. Saya agak mual ..." Alma mengambil dan membuang napas berkali-kali, mungkin rasa lapar yang membuatnya merasa ingin muntah.


Jafar telah menunggu beberapa detik. Hingga tangannya bergerak lagi untuk menyikap lingerie bagian bawah Alma.


"Kamu ... mau ngapain, Mas?" Alma menggeleng hendak menolak, sedangkan Jafar telah menyikap lebih atas. Bahkan lingerie pun telah terlepas.


"Kamu bikin saya malu." Alma mendorong Jafar pelan dengan tubuh lemasnya. "Saya bisa mandi sendiri."


"Tolong kamu---" Jafar mengangkatnya lagi, dan menurunkannya di dalam bathtub. "Mas ... keluar."


Jafar bergeming, tak mau keluar. Lelaki itu duduk memperhatikan Alma saja.


"Kamu mau lihatin saya mandi?"


Jafar mengangguk.


"Se-serius?"


Jafar mengeluarkan pena dan kertas cepat-cepat ia menulis. "Kamu sedang lemah. Saya akan menunggui kamu sampai selesai mandi."


Alma pasrah dengan menahan malu ia melepas semua yang dipakainya. Ia katakan dalam hati bahwa tidak apa-apa Jafar adalah suaminya.

__ADS_1


Setelah itu sama seperti tadi Jafar menggendongnya kembali dan membantunya berganti pakaian menggunakan lingerie lagi, juga membantunya salat subuh. Jafar pun tadi sempat pamit sebentar mengambil bubur pesanan yang ia beli lewat online.


"Tolong suapi saya, Mas."


Satu suapan telah masuk dan Alma melahapnya, sesudah itu tiba-tiba saja ia tertawa. Jafar terlihat terheran-heran ia meletakkan bubur dan menulis.


"Kenapa tertawa?" tulis Jafar.


"Lucu. Masa baru satu hari nginep di hotel, bukannya seneng-seneng saya malah lemes gini." Alma bersandar pada bantal, dan mengubah wajahnya sedikit murung. "Maaf. Jadi ngerepotin kamu."


Jafar menggeleng.


"Memangnya saat menginap di hotel harus senang-senang terus? Tempat ini penginapan mewah, bisa digunakan oleh siapa pun, entah sehat entah tidak," tulis Jafar.


"Hm ... kamu bener. Tapi ... maaf."


"Berhenti meminta maaf," tulis Jafar dengan menyuapi Alma lagi.


"Iya-iya. Berhenti." Alma menarik tangan kiri Jafar dan menggenggamnya dengan kedua tangan. "Kira-kira kita mau ngapain aja Mas selama menginap di hotel?


Alma menerima suapan lagi.


"Jalan-jalan ke perpustakaan nasional gimana menurut kamu, Mas? Kan ... mumpung lagi di kota."


Suapan terakhir mendarat di mulut Alma. Sedangkan Jafar menulis di buku catatan. "Apa saja bisa kita lakukan di hotel. Jika kamu ingin jalan-jalan pun saya turuti, Alma. Lagi pula semua orang tahu sekarang bahwa kamu adalah istri saya."


Alma mengangguk.


"Mas, minum."


Alma meneguk minumannya. "Makasih."


"Egh ... jadi?" Alma menarik lengan Jafar untuk bergabung dengannya di ranjang. "Apa pun kamu kabulkan?"


Jafar mengangguk.


"Oh iya. Saya belum tahu hadiah apa yang kamu minta, Mas?"


Jafar menggeleng.


"Kenapa geleng? Nggak mau?"


Lagi, suaminya menggeleng.


"Apa aja boleh, Mas. Syaratnya jangan mahal-mahal."


Jafar mengambil gawainya membuka aplikasi note dan mengetik di sana yang mana langsung terbaca oleh Alma. "Cukup kamu bahagia saja, Alma."


"Dan sederhananya, berilah saya sesuatu yang selama ini saya inginkan dari kamu," lanjut Jafar.

__ADS_1


__ADS_2