Almahyra

Almahyra
Bagian 37


__ADS_3

Sabtu. Sekitar pukul sepuluh lebih lima belas menit, Alma, Jafar dan Ummi Salamah baru saja pulang dari rumah sakit. Dokter menepatkan janji operasi hernia pada hari Rabu, di rumah sakit kota.


Berkat dukungan dari Ummi Salamah, Umma Sarah dan juga Jafar---suaminya. Ia bersedia menjalani operasi, ia menghalau rasa takutnya, serta menutup mata akan kenangan buruk yang pernah dilaluinya.


Ia merasa memiliki seseorang yang menyayanginya kembali.


Semua seakan-akan kembali semula, walau tidak sepenuhnya bahagia, walau lagi-lagi ada badai yang dilalui, Alma merasa tak apa-apa. Karena ia percaya Jafar dan Ummi Salamah akan selalu ada untuknya.


"Permisi, paket."


Alma yang kebetulan sedang berada di ruang tamu menerima paketan itu---yang mana isinya adalah pakaian tidur.


"Terima kasih, Mas."


Ummi Salamah datang dari lorong kamar beliau dan menyusul duduk di samping Alma. Dan bertanya, "Paketan apa, Nak?"


"A-ah i-ini Ummi a-anu pakaian. Mas Jafar ... beliau beli pakaian," jawab Alma.


Kening Ummi Salamah mengerut. "Pakaian? ... Pakaian tidur, ya?"


Dengan menahan malu Alma hanya mengangguk perlahan. Dari lorong kamar terdengar langkah kaki Jafar, yang terlihat berjalan ke arahnya dan mengambil duduk di seberang.


"Paket pakaian tidurnya sudah di terima, Nak. Kamu beli buat istrimu?"


Jafar hanya mengangguk.


Ummi Salamah kian memperjelas dan Alma kian memerah menahan, bisa-bisanya bertanya lagi, jelas ia tadi sudah menjawab. "U-ummi, Alma permisi mau ke dapur."


Selain haus, Alma juga ingin mencuci wajahnya yang telah memerah karena menahan malu. "Harusnya Ummi nggak perlu sejelas itu. Ah! Malu," gumamnya.


Dugh!


Suara kursi yang terbentur satu sama lainnya membuat Alma mengalihkan pandangan. Jafar? Suaminya itu telah duduk dan terus menerus memandanginya dengan senyum tiada henti, seakan-akan ia adalah objek yang sangat tepat untuk dijadikan bahan lelucon.


"Ngapain kamu senyum-senyum gitu?"


Jafar menggeleng.


"Kenapa sih paketan itu datangnya cepet banget? Ma-mana kebetulan ada Ummi. Sa-saya kan jadi ... malu."


Kali ini bukan senyuman, namun tawa kecil yang Jafar perlihatkan. Tangan kanannya terangkat, meminta Alma untuk mendekat dengan duduk di kursi samping yang menghadap langsung padanya.


"Apa?"


Jafar sedikit menunduk mengetik sesuatu di gawainya sekitar lima belas detik dan meminta Alma mendekat lagi untuk membaca. "Kenapa harus malu? Beliau mertuamu. Dan saya juga bilang kepada Ummi kalau kamu memesan pakaian tidur. Supaya paket itu tidak salah tempat penerimaan."


A-apa?


Ja-jadi Ummi tahu?


Makin malu aku!


"Kamu kok bilang ke Ummi nggak bicara-bicara dulu sama saya sih! Saya kan malu, Mas!"


Segala keluhan yang berawal dan berakhir dengan kata malu terus menerus Alma ucap tiada henti. Jafar yang semula berniat menggoda lagi, kini ia hanya tersenyum tipis dan mengetik.


"Kita tidak melakukan hal yang senonoh di depan Ummi. Kenapa harus malu? Kamu semakin hari semakin aneh," tulis Jafar.


Senonoh?


Ya iya emang enggak!


Ta-tapi kan lingerie itu ... Ah!


"Udah lah." Alma mengerucutkan bibir, ingin merajuk lama-lama. Namun ia batalkan saat teringat sesuatu dan kembali berujar, "Jam berapa nanti Cak Yanto ke sini? Katanya mau foto itu a-apa? Buat pernikahan, background biru?"


"Terus juga surat-suratnya udah Mas kasih ke Ummi, kan?"


Jafar menggeser duduknya menjadi berdamping dan mengetik. "Semua sudah selesai. Surat-surat penting sudah saya berikan kepada Ummi dan undangan juga sudah dicetak. Yang belum hanya foto dan juga fitting baju."


"Fi-fitting?"


Jafar mengangguk kecil.

__ADS_1


"Saya kira nggak pakai begituan."


Alma membaca dibersamai Jafar yang mengetik. "Seharusnya memang seperti itu 'kan? Jika kamu tidak mau bagaimana pernikahan kita yang menjadi kebahagiaan orang-orang ini akan terlihat nyata?"


"I ... ya sih. Tapi ..."


Di dalam aplikasi note Jafar menjeda dan mengetik  lagi. "Kamu merasa ini terlalu berat untuk dijalani?"


Alma tidak bereaksi.


Jafar kembali mengetik. "Jika memang menggunakan terlalu banyak pakaian memberatkan kamu. Saya akan meminta keringanan jam dan lain-lainnya kepada Kakek."


Spontan Alma menggeleng kuat. "Bu-bukan gitu maksud saya, Mas. Sa-saya cuma ... nggak terlalu nyaman kalau lama-lama ditengah keramaian."


"Saya tahu resepsi pernikahan emang ramai 'kan? Nggak mungkin sepi, sekalipun hanya keluarga besar kita yang datang. Tapi ... ya-ya sudah nggak pa-pa. Kamu nggak perlu meminta keringanan semacam itu ke Kakek. Insya Allah, untuk resepsi pernikahan kita nanti ... saya sanggupi," sambung Alma.


Terdengar Jafar menghela napas panjang mengetik kembali. "Saya tidak suka melihat kamu memaksakan diri seperti itu, Alma. Pernikahan ini dilaksanakan untuk kita berdua, dan jika kamu merasa tidak nyaman. Bagaimana bisa kamu ikut bahagia seperti orang-orang yang hadir?"


"Terus kamu mau gimana, Mas?" Tatapan Alma dan Jafar beradu sejenak sebelum sedetik kemudian Alma putus. "Meminta keringanan sama aja seperti saya menolak permintaan Kakek juga."


Jafar menggeleng tak setuju.


"Keringanan tidak sama dengan penolakan Alma. Dari awal kamu sudah setuju, Kakek pun akan memahamimu," tulis Jafar.


Kedua sudut bibir Alma terangkat, senyuman tipis terlihat begitu mengagumkan untuk Jafar pandangi. Mengapa tiba-tiba saja istrinya itu tersenyum? Percakapan yang semula serius ini menjadi saling melempar senyuman.


"Kenapa kamu tersenyum seperti itu?" tulis Jafar.


Alma menggeleng pelan.


"Saya cuma nggak nyangka ... bisa punya suami seperti kamu, Mas," lirih Alma.


Rona merah tiba-tiba timbul di kedua pipi Jafar---entahlah, pujian serta senyuman Alma kali ini tepat membuatnya merasa malu serta berdebar-debar tiada henti. Bahkan spontan Jafar menunduk menghindar tatapan istrinya.


"Kamu kenapa?"


Tangan lembut Alma menyentuh sisi kiri pipi suaminya. "Kamu ... tersipu?"


Sentuhan itu berubah menjadi usapan lembut saat tiba-tiba saja Jafar menggeleng. Mengapa suaminya ini semakin mengemaskan? "Jangan nunduk gitu. Saya nggak bakalan ngejek kamu, kok."


"Dari pada kamu pegangin tangan saya terus."


" ... Gimana kalau saya peluk?"


Mendengar tawaran dari Alma seketika itu pula Jafar menarik pinggang istrinya---mendekatkan wajahnya pada leher jenjang bagian samping seperti biasanya. Deru napas serta jantung yang berbedar-debar dapat keduanya rasakan secara bersamaan.


Di-dia kenapa suka banget peluk saya gini? Belum lagi nyusup-nyusup di leher.


Tangan Jafar menarik Alma kian mendekat, dan pelukan keduanya semakin erat. "Mas ... jangan erat-erat gitu meluknya. Kita lagi di dapur."


Jafar hanya mengangguk.


"Sudah, ya? Lepas. Nanti ada orang yang lihat."


Jafar menggeleng tak ingin melepaskan rangkulan di pinggang Alma.


"Kamu tahu ... dapur ini biasanya jadi tempat agak umum 'kan? Saya takut tiba-tiba---"


Brak!


"Astaghfirullah mataku! Ya Allah apa-apaan ini? Mas! Ya Allah! Inget Mas inget ini dapur!"


Dengan santai tanpa panik seperti Alma, Jafar melepaskan pelukan hangat keduanya---lantas menatap sang pengganggu tengil itu dengan datar.


"Lu-lutfan? Mardiyah? Ka-kalian butuh se-suatu di sini?"


Mardiyah mengangguk tanpa seheboh Lutfan saat menatap Jafar dan Alma saling berpelukan tadi. Lagi pula wajar---yang tidak wajar hanya teriakan si tengil yang seolah-olah menangkap basah orang sedang melakukan hal tak senonoh.


"Bener 'kan? Harusnya tadi permisi dulu. Jangan asal masuk," ujar Mardiyah ketus kepada Lutfan. Dan beralih menatap Alma sebelum membuka lemari pendingin. "Maaf. Kita ganggu."


"A-ah e-enggak Mar. Kamu ke sini di suruh Ummi atau ada apa?"


Mardiyah mengangkat tangannya menunjuk Lutfan. "Dia inisiatif mengantar kalian berdua untuk foto. Kita juga foto soalnya. Jadi ya udah sama-sama aja 'kan?"

__ADS_1


"Se-sekarang?"


Mardiyah mengangguk.


"Ya udah aku ganti baju dulu, Mar."


Setelah itu Jafar menarik pelan Alma untuk memasuki kamar. Pintu sudah benar-benar tertutup dan Alma menatapi Jafar kesal.


"Saya beneran malu tadi. Saya panik. Kenapa bisa kamu santai gitu, Mas?"


Jafar mengangkat kedua bahunya dan menunduk menulis di buku catatan yang tergeletak di meja rias. "Kenapa harus malu dihadapan pengganggu seperti itu, Alma? Lagi pula yang di ucapkan Mardiyah benar. Lutfan masuk tanpa permisi. Jadi yang harusnya malu itu saya atau dia?"


Pengganggu?


Dia menganggap adik sepupunya pengganggu?


Dasar!


"Ya udah lah. Saya mau ganti baju dulu."


...🌺...


"Paling bener itu foto dulu baru nikah. Eh Mas udah nikah duluan baru foto," sindir Lutfan.


Setelah begitu banyak percobaan foto yang sesuai dengan keinginan---Jafar, Alma, Lutfan dan Mardiyah keluar dari tempat pemotretan. Diiringi beberapa kali ocehan dari Lutfan, semuanya memasuki mobil.


"Mulutmu, Lutfan," ucap Mardiyah.


Tangan Lutfan terangkat, menyatukan jempol dan ibu jarinya, lantas menarik dari ujung bibir kiri ke kanan. "Udah. Udah gue kunci. Gue bakalan diem, Mar," ucap Lutfan.


Mobil melaju melewati perkotaan---Alma melihat gedung-gedung tinggi kembali dan tiba-tiba saja ia mengerutkan kening. Sadar sepertinya ini bukan jalan menuju panti asuhan atau pun pesantren.


"Lutfan, kita mau ke mana?"


Mardiyah menyahut, "Ke rumah Ustadz Hasan."


Tanpa Ummi?


Jadi ... Lutfan beneran marah?


Di-dia bener-bener nggak mau Mas Jafar berhubungan lagi dengan wanita itu.


Jadi dia menyelesaikannya secepat ini?


"Sekali-kali ukhti. Lo jalan-jalan jauh gitu. Lagian sama Mas Jafar juga." Pandangan Lutfan teralih sejenak menatap Jafar dan kembali lagi kepada jalan. "Sampean nggak keberatan 'kan, Mas?"


"Menjenguk orang sakit. Kenapa Gus Jafar harus keberatan? Jelas enggak, Lutfan," sahut Mardiyah.


Lutfan mengangguk. "Bener. Lagian juga sekalian bilang ke Ustadz Hasan kalau cucu pemilik yayasan Al-Hikmah yang paling tua udah menikah."


Jangan bilang ... ini rencana tiba-tiba Lutfan sama Mardiyah yang tanpa persetujuan dari Mas Jafar?


Alma mengeluarkan gawainya dari dalam tas. Kemudian membuka aplikasi pesan untuk mengirimi Jafar pesan singkat.


^^^Kamu nggak mau ke rumah Ustadz Hasan 'kan?^^^


^^^Saya minta Lutfan batalin kalau emang kamu nggak mau ke sana.^^^


Kling!


Mas Jafar.


Biarkan saja.


Kita sudah dijalan.


Alma terdiam. Kembali memasuki gawainya.


Jadi sendari awal, sebenarnya kamu belum siap 'kan? Untuk bertemu dengan wanita itu, apalagi dengan Ayah dari wanita itu?


[.]


Note:

__ADS_1


Terima kasih atas segala dukungannya. Maaf jika sekiranya ada kurangnya saya dalam menulis atau meng-update cerita. Insya Allah, jika saya bisa saya akan update setiap hari, namun jika tidak bisa saya akan meminta satu hari untuk tidak update. Dimohon kesediaannya menunggu. Karena saya nggak mau memaksa diri, saya takut jika saya memaksa itu akan mempengaruhi kualitas cerita dan penulisan saya.


Sekali lagi, terima kasih. Peluk jauh dari saya🤍🤍🤍


__ADS_2