Almahyra

Almahyra
Part V POV Jafar


__ADS_3

"Saya pamit Gus."


Iya. Lebih baik kamu pergi sebelum saya lepas kendali kamu akan keluar dari rumah ini dengan tidak baik-baik saja.


Saya menengok melihat Alma yang tengah meringis kesakitan. Saya kecewa lagi. Kenapa saya harus melihat sesuatu yang seperti ini? Bahkan bukan jarakmu lagi yang dekat dengan lelaki sialan itu, Alma! Bukan juga tanganmu, yang lelaki itu sentuh terlalu banyak dan melewati batasan! Saya muak! Saya ingin memukulnya, Alma!


"Mas ..."


Kenapa kamu menangis? Kamu tahu kelemahan saya adalah itu. Saya ingin marah, tapi sulit sekali rasanya untuk mengabaikanmu.


"Mas sa-ya ... ah!"


Dia hendak terduduk lagi di lantai. A-apa perutnya sakit? Bahkan dia terlihat pucat. Secepatnya saya sedikit menunduk mengangkatnya---membawa dia ke dalam kamar lalu merebahkan perlahan dia di sana.


"Mas ka-kamu---"


Ucapannya terhenti saat tiba-tiba saja saya menyentuh perutnya. Saat saya memandang lebih atas, saya melihat kerudung yang di gunakannya tersikap dan dua kancing gamis atasnya terbuka.


Apa benar? Sebelum saya datang, kamu dan dia tidak melakukan apa-apa, Alma? Segala tanya memenuhi pikiran saya, dan lagi-lagi saya berprasangka buruk terhadapmu. Saya harus bagaimana Alma?


Saya mengambil pena dan kertas yang terletak di meja samping ranjang, lalu menulis di sana. "Perutmu sakit?"


Dia mengangguk.


"Saya akan merebus air untukmu," tulis saya.


Saya keluar menuju ke dapur dan segera merebus air. Setelah saya yakini benar-benar mendidih saya menuangkan air itu ke dalam gelas kaca dan kembali lagi ke kamar.


"Terima kasih, Mas."


Saya mengambil duduk di tepi ranjang, dan melihat dia menyeduh air panas itu perlahan-lahan.


Entah kamu yang telah ingkar, entah pula saya yang terlambat datang, Alma. Saya benar-benar tidak mengerti bagaimana bisa Dimas memasuki rumah ini? Bahkan saat saya masuk, saya bisa melihat jelas kedekatan yang sangat tak wajar di antar kalian berdua, dan kamu pun sepertinya tidak menolak sentuhan itu.


Kenapa, Alma?


"Mas ... sa-saya nggak tahu kenapa tiba-tiba dia ada di dalam rumah."

__ADS_1


Tidak tahu? Bagaimana bisa? Jelas yang berada di rumah hanya kamu.


Dia menatap saya dengan air mata yang kembali mengalir. "Sa-ya ketiduran di dapur. Dan waktu saya bangun sa-saya lihat dia udah di depan saya, Mas. Sa-saya bener-bener nggak ngizinin dia masuk lagi, Mas."


Tidur di dapur? Untuk apa kamu tertidur di dapur? Saat ranjang di kamar saya seluas itu, Alma?


"Di mana Ummi?" tulis saya.


"Ummi ke panti, Mas. Beliau berangkat dengan Cak Yanto. D-dan sebelum berangkat beliau bilang na-nanti jam enam beliau mau ke rumah Mbok Isna. D-dan beliau minta sa-saya menemani beliau, Mas."


Ke rumah Mbok Isna? Dan kamu akan bertemu dengan laki-laki kurang ajar itu lagi? Memuakkan! Tangan saya kembali menulis di buku catatan. "Saya akan bilang kepada Ummi kalau kamu tidak bisa ikut. Dan sebagai gantinya saya akan menemani beliau."


Terlihat Alma menggeleng kuat. "Jangan Mas. Kenapa kamu harus ikut ke rumah Mbok Isna? Kamu bukannya mau ke outlet?"


Kamu aneh, Alma. Kenapa melarang-larang saya seakan kamu mencoba melindungi cucu Mbok Isna itu. "Kamu belum selesai dengan cucu Mbok Isna? Sampai-sampai melarang saya menggantikan posisimu?" tulis saya.


"Enggak, Mas." Dia terlihat membenarkan posisi duduknya, sedikit mendekat kepada saya. "Saya cuma nggak mau kamu ke ganggu gini. Urusan pekerjaan kamu lebih penting."


"Bagi saya tidak ada yang lebih penting selain untuk meluruskan semua masalah ini, Alma." Setelah saya yakin dia sudah membaca, saya membalik buku catatan di halaman berikutnya dan menulis lagi. "Saya memang tidak meminta kamu berjanji. Tapi kenapa kamu tetap mengizinkan laki-laki kurang ajar itu menyentuhmu?!"


"Mas, tolong jangan salah paham. Sa-saya ..."


" ... saya nggak tahu di-dia kenapa bisa masuk. Dan-dan mengenai itu. Saya tahu Mas, saya tahu segala batasan yang nggak boleh dilampaui ... perut saya tiba-tiba tadi sakit, Mas. Saya nggak minta tolong ke dia."


Dia semakin terisak dan saya tetap membiarkannya menjelaskan semuanya.


"Sa ... saya udah dorong dia. Ta-tapi dia nggak mau lepasin saya. Sa-saya juga ... saya juga minta dia panggilin kamu Mas. Tapi dia nolak. Di-dia kekeh tolongin saya. D-dan saya nggak bisa dorong dia lebih keras, perut saya sakit, Mas."


" ... tolong kamu jangan salah paham. Tolong kamu percaya sama saya, Mas."


Sulit, Alma.


Entah kenapa kali ini rasanya cukup sulit.


"Mas, kamu boleh tanya apa pun. Saya bakalan jawab saya bakal jelasin semuanya. Saya bakal kasih ta-tahu apa yang mau kamu tahu, Mas."


Saya mengangguk dan menulis. Lalu menyerahkannya tanpa berniat memandang lagi. "Dua kancing gamismu terbuka. Apa kamu benar-benar tidak melakukan sesuatu dengan dia, seperti yang sedang saya pikirkan sekarang, Alma?"

__ADS_1


"Kancing?" Mungkin dia menunduk melihat kancing gamisnya. "Astaghfirullah. Mas saya sama sekali nggak sadar ka-kalau kancing gamis saya terbuka."


"Dan ... saya nggak melakukan sesuatu seperti itu, Mas. Saya nggak mungkin mengkhianati kamu. Sa-saya juga nggak kenal sama cucu Mbok Isna itu. Jangan pernah berpikir buruk Mas."


Saya mengambil kembali buku catatan itu dan menulis secepatnya."Kamu tidak sadar? Berarti yang tersadar adalah dia. Dia bisa melihat kerudungmu tersikap dan dia melihat dua kancing gamismu terbuka."


"Maafin saya Mas."


Saya membuka buku catatan dihalaman berikutnya. Lantas kembali menulis lagi. "Kenapa kamu seceroboh ini? Kenapa kamu tidak memakai kerudungmu dengan benar? Dan kenapa kamu mengunakan gamis seperti itu, Alma?"


"Saya tahu saya salah, Mas." Sepertinya dia kesulitan untuk bernapas, dia menjeda sejenak. Dari samping saya bisa melihat dia menghapus sisa-sisa air matanya. "Saya pakai ... ke-kerudung da-dan gamis seperti ini. Karena saya di rumah. Sa-saya ... saya tahu apa yang saya pakai, Mas. Saya tahu."


" ... ka-kalau pun saya keluar, saya nggak mungkin berpakaian seperti ini, Mas. Ke-kenapa kamu nuduh saya seakan-akan saya sengaja berpenampilan seperti ini di hadapan dia?"


Dia semakin terisak-isak.


Dan saya tahu betul itu menyakitimu, Alma.


Tapi saya juga merasa sakit melihat semuanya ini.


"Di-dia masuk ke rumah ini tanpa permisi."


" ... dan Mas menyalahkan saya tentang pakaian yang saya gunakan sekarang?"


"Mas ... saya tanya sekarang, apa yang Mas pikirkan? ... A-apa Mas berpikir saya semudah itu melakukan hal-hal yang diluar batas?"


"Jarakmu dengan dia kemari saja sudah membuat saya sangat menyalah pahamimu. Dan sekarang apa saya salah, Alma? Saya tidak berniat menuduhmu. Saya hanya bertanya," tulis saya.


"Tapi pertanyaan kamu keterlaluan Mas," ucapnya dengan suara serak.


" ... pertanyaanmu itu sangat menyudutkan saya. Dan lebih condong menuduh saya yang bukan-bukan, Mas."


Saya berbalik menatapnya---tatap kita beradu sejenak. Wajahnya memerah, air mata kian terus mengalir di pipinya.


"Kamu mau tanya apa lagi, Mas? ... Kamu tanya ... saya ba-bakal jawaban semuanya," ucapnya.


Note:

__ADS_1


Next bagian 44.


__ADS_2