
"Rais." Jafar menatap serius pada putra Azizah ini. "Ayah sama sekali tidak tahu permasalahanmu dengan Dilara, dan Baswara. Tapi terlepas apapun kamu sudah berjanji pada Ayah untuk menjaga Mbakmu itu."
"Sekarang Ayah tanya. Usiamu berapa?" lanjut Jafar dengan bertanya.
"Lima belas tahun, Ayah."
Jafar bertanya lagi. "Kamu sudah tahu, kan? Kalau Dilara bukan Mbak kandungmu? Jadi sekarang kamu mengerti alasan Ayah memintamu menjauhi Dilara?"
"Mengerti, Ayah." Tapi yang sama sekali enggak Rais mengerti dari Ayah adalah larangan berteman dengan perempuan mana pun. Selain Mbak Dilara, lanjut Rais dalam hati.
Jafar duduk dengan tegak. "Rais lihat, Ayah."
Rais yang semula menunduk kini beradu pandang dengan Jafar. Sungguh Rais gugup bukan main, karena tatapan Ayah Jafar terkesan tajam.
"Kamu juga tahu, kan? Laki-laki yang bernama Robin Shaukat. Yang sering datang ke sini sewaktu kamu masih kecil adalah keluargamu?" lanjut Jafar lagi.
"Tau, Ayah."
Jafar mengangguk. "Bagus kamu masih mengingatnya. Nanti malam dia datang. Hiduplah bersama keluargamu jika mau. Ayah tidak akan menahanmu. Dan lagi pula, Dilara pun juga tidak akan menahanmu, Rais."
"Ayah berniat mengusirku?"
Jafar menggeleng. "Tidak. Kenapa pikiranmu seburuk itu? Ayah hanya mempertegas saja bahwa Robin Shaukat adalah keluargamu. Jika kamu memang ingin meninggalkan lingkungan membosankan ini, dan memilih untuk tinggal di kota. Ayah sangat mempersilahkan."
Rais memilih diam, ia tidak menjawab apa-apa.
"Bakda isya. Pamanmu akan datang ke mari, berpikirlah sebelum mengambil keputusan," akhir Jafar dengan berdiri meninggalkan Rais.
Ayah mengusir Rais? batin Dilara di balik pintu kamarnya yang samar-samar mendengar perbincangan Ayah dan adiknya.
"(...) Jika kamu memang ingin meninggalkan lingkungan membosankan ini, dan memilih untuk tinggal di kota. Ayah sangat mempersilahkan."
Bahkan Rais nggak jawab apa-apa. Dia beneran bakal pergi? Dia nggak akan pamit ke aku? batin Dilara yang merasa sesak dada. Ia tahu bahwa tadi siang ia memarahi Rais hebat-hebat, tetapi hatinya tidak pernah meminta sang Adik untuk pergi. Karena bagi Dilara pelindung satu-satunya yang di punyai Dilara saat bersekolah hanyalah Rais. Tidak mungkin ia mengadu semuanya pada Ayah Jafar. Jika beliau tahu, beliau pasti akan memukul bahkan memarahinya habis-habisan.
Dilara pun masih tidak memahami maksud dari ucapan Baswara--- yang mengatakan bahwa lelaki itu menyimpan foto-foto tidak senonoh miliknya. Haruskah Dilara percaya Baswara? Di bandingkan Rais? "Enggak-enggak. Aku tahu Baswara bohong."
Air mata Dilara menetas.
"Enggak mungkin dia punya foto bu*gil aku. Nggak mungkin ..." Dilara bergumam dengan mencengkram kuat rambutnya. "Aku cuma pingsan. Adek bilang nggak terjadi apa-apa. Aku harus percaya sama Rais."
Bakda isya.
Rais masih di Masjid ia bimbang. Haruskah ia di sini saja? Padahal Dilara yang selalu memberi kasih sayang sebagai Kakak--- sekarang berakhir membencinya, atas dusta yang ia katakan. Karena sungguh kejadian satu tahun lalu benar-benar Rais simpan rapat-rapat tiada yang mengetahuinya selain Yang Maha Tahu dan juga ... Baswara berserta dua temannya.
__ADS_1
Usia Rais saat itu memang empat belas tahun. Tetapi ia sudah mengerti bahwa yang dilakukan oleh Baswara adalah salah. Jika Dilara bertanya apakah dia masih gadis? Rais pun bingung untuk menjawab. Karena lelaki kurang ajar itu telah menodai sesuatu yang seharusnya tidak tersentuh. Mungkin Dilara tidak merasakan karena Rais ingat bahwa lelaki bajingan itu hanya melakukan penggesekan saja.
Betapa menjijikannya!
Kurang ajar!
"Mas Rais!"
Seketika Rais tersadar saat ada seorang bocah memanggilnya. "Dalem?"
"Mas di panggil sama Gus Jafar. Aku tadi di suruh ke sini cepat-cepat. Ndak tahu katanya ada tamu."
Rais mengangguk dan tersenyum. Kenapa Om itu cepat datangnya? batinnya.
Jika Rais lihat-lihat memang Om Robin sedikit mirip dengannya. Paras pria itu seperti lima puluh persen terbagi. Tetapi Rais tahu bahwa pria itu bukanlah Ayahnya. Melainkan Paman---yang berniat membawa sang keponakan ke dalam tatanan keluarga Shaukat.
"Rais, ini Om. Kamu masih ingat, Nak?" ujar Robin.
Rais mengangguk. "Masih, Om."
"Om berniat menjemput kamu pulang supaya kamu bisa bertemu Ayahmu berserta keluarga besar kita." Om Robin menjeda. "Di sana Om janji. Akan menyekolahkanmu di sekolah yang kamu mau. Semua fasilitas akan Om penuhi untukmu, Rais."
Sesungguhnya Rais tidak tergiur. Tetapi yang diketahuinya marga Shaukat setara dengan Adiwangsa. Bisnis keluarga Shaukat yang Rais ketahui hanyalah pemilik Bank Fortunata. Berarti mereka kaya raya? batinnya dengan menatap lurus Om Robin.
"Apapun yang kamu mau Om akan penuhi," lanjut Robin.
"Rais bersedia tinggal di kota," jawab Rais dengan menatap lurus pada Om Robin, tanpa memandang ke arah Ayah Jafar sama sekali. "Tapi jangan pernah larang Rais untuk berkunjung ke pesantren."
"Baik. Om nggak akan larang kamu, Rais. Om janji."
"Rais bersedia tinggal di kota."
Dilara jatuh terduduk di balik pintu kamar. Pembohong kamu, Rais! Kamu bilang kamu suka tinggal di pesantren. Kamu bilang ndak bakal tinggalin Mbak. Tapi nyatanya apa? batinnya dengan membungkam mulut, supaya isakkan tangisnya tidak terdengar dari luar.
"Mama ..."
"Rais pergi malam ini saja, Yah."
Dilara berdiri. Lalu berlari ke arah ranjang dan menangis dengan terisak-isak, ia memukul bantal dengan segala arah. Ia kesal tetapi ingin menangis. Bagaimana bisa Rais memilih pergi saat masalahnya dengan Baswara sedang memanas seperti ini? Haruskah ia mengadu pada Ayah Jafar atau mungkin ke Mama Alma? Dilara menggeleng. Semua ini tidak mungkin. Beliau-beliau akan malu jika Baswara benar-benar memiliki foto telan*jangnya. Entah sudah berapa banyak dosa yang mengalir, saat tenyata Baswara menjadikan foto tubuh ini sebagai objek.
"Hiks ... bajingan. Baswara brengsek. Kurang ajar."
Selang lima menit Dilara menangis terdengar suara pintu kamarnya di ketuk. Itu suara Ayah dan Mama. Tetapi Dilara pura-pura tidak mendengar, hingga kamarnya di buka dan ia berpura-pura tidur.
__ADS_1
"Sayang ... Dilara," ujar Mama Alma.
Dilara menatap sang Mama dengan mata sembab. "Perutku sakit, Ma ... aku lagi halangan, ndak bisa jalan rasanya," dusta Dilara.
"Ya Allah kasihan banget anak Mama." Mama Alma mengusap-usap surai yang berada di keningnya. "Pakai kerudung juga nggak bisa, Sayang? Soalnya itu ..."
"Kenapa, Ma?"
Mama Alma menghela napas. "Rais mau pamit, Nak. Dia mau pergi tinggal sama Pamannya."
"Ya sudah. Titip salam aja. Hati-hati jalan." Dilara langsung membelakangi Mama Alma. Karena air matanya kembali menetes. "Maaf aku ndak bisa ketemu. Soalnya ... perutku sakit, Ma."
Bisakah Rais bilang bahwa yang di ucap oleh Kakaknya adalah dusta? Karena yang Rais tahu Dilara sangat marah. Mungkin sebagain sisi hati milik Dilara tidak sanggup memaafkannya, dan sebagian lagi tidak sanggup untuk mengantarkan kepergian dirinya yang tiba-tiba.
Tetapi bagi Rais ini adalah pilihan yang tepat. Keluarga Shaukat bisa membuatnya melawan Baswara yang tidak lain adalah anak dari Juragan Antasena--- yang di gadang-gadang pengusaha batu bara sukses. Bukankah ia akan menjadi setara? Dan akan menyelamatkan kehormatan Dilara?
"Ayah, Mama ... maaf Rais ambil keputusan---"
Mama Alma langsung menyanggah, "Rais sudah besar. Rais boleh mengambil keputusan apapun. Mama cuma minta jaga kesehatan, ya, Nak?"
"Iya, Ma. Rais pamit, Yah." Rais menyerah secarik kertas yang beramplop putih pada Mama Alma. "Ma ... ini, Rais ... titip buat Mbak. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam."
Tengah malam Dilara terbangun dengan mata sembab. Setelah ke kamar mandi sebentar untuk mengganti pembalut ia menatap meja belajarnya yang terdapat amplop putih.
Dari Rais? batinnya.
Dilara duduk di tepi ranjang. Lalu merobek bagian atas amplop dan mengeluarkan secarik kertas yang terdapat tulisan tangan Rais.
Saya minta maaf sudah bohong ke Mbak. Demi Allah saya akan menceritakan semuanya. Setelah saya sudah menyelesaikan masalah saya sendiri dengan Baswara.
Mbak harus jauh-jauh dari dia. Karena laki-laki itu bukan orang baik. Maaf saya ingkar pergi dari pesantren. Tapi saya janji ndak akan biarin Baswara macam-macam ke Mbak lagi.
Jadi, tolong Mbak. Jangan benci adek Mbak ini. Saya pamit. Assalamualaikum. Tunggu saya pulang, Mbak. Saya janji kembali secepatnya.
...---TAMAT---...
Selanjutnya, nantikan kisah Rais Dan Dilara di cerita yang akan datang. Sekian dulu. Terimakasih.
Jangan lupa mampir di cerita saya yang lain-lainnya. Cerita terbaru saya Harshada (Romance Modern) dan yang lama tapi akan aktif update adalah Vashti (Romansa Fantasi dan Istana)
__ADS_1
Untuk cerita saya lainnya. Silakan mengunjungi profil. Terimakasih.