Almahyra

Almahyra
Bagian 7


__ADS_3

...7 : Tangisan Alma....


"Kamu masih ingat Tante, Alma?"


Adik Ayahnya. Tante Bunga. Setelah Alma benar-benar melupakan bahwa dirinya masih mempunyai sanak saudara dari pihak Ayah dan Ibunya, tiba-tiba saja tanpa undangan juga kabar Tante Bunga mengunjungi panti asuhan yang ia tinggali.


Ingat.


Gimana bisa aku lupa sama Tante?


Orang yang dengan tega menolak permohonan anak usia empat belas tahun yang cuma minta menginap dirumah anda satu malam saja.


"Alma sayang ...," ucap Tante Bunga, lagi.


Kali ini Tante Bunga berdiri dan diberikannya bayi dalam gendong itu kepada suaminya---Om Adam. Langkah kaki Tante Bunga melamban saat menghampiri Alma, lantas saat sampai didepan keponakan yang begitu di rindunya. Di tariknya Alma pelan, lalu dipeluk dengan begitu erat.


"Kamu baik-baik saja, kan, Sayang?" bisik Tante Bunga.


Netra milik Alma memanas. Bertahun-tahun ia ditinggalkan sendiri. Dan sekarang haruskah ia merasa baik-baik saja? Bahkan ia harus hidup dengan orang asing. Tiada darah sama yang mengalir, namun sungguh orang baik itu ada. Bibi Maryam lah salah satunya.


"Seperti yang Tante lihat," jawab Alma.


Terdengar Tante Bunga menghela napas lantas di susul dengan suara isak. Tante Bunga mendorong Alma pelan untuk melepas pelukan rindu ini, dan menatap baik-baik paras keponakannya.


"Tolong maafkan Tante, Alma," ucap Tante Bunga.


Alma menggeleng. Sungguh ia telah menguatkan diri untuk tidak menangis. Seperkian detik netra miliknya dan Tante Bunga bertemu, dan saat itu pula setitik air mata menetes di pipinya. "Nggak ada yang perlu di maafkan dari Tante. Karena Tante pun nggak salah apa-apa," jawab Alma.


"Delapan tahun yang lalu. Sedikit pun Tante nggak berniat mengusir kamu, Tante hanya---"


Alma mengangkat tangannya. Pertanda bahwa ia tidak ingin mendengar alasan yang membuatnya semakin sakit mengingat-ingat penolakan kala itu. "Aku bilang Tante nggak salah. Jadi Tante nggak perlu menjelaskan apa-apa."


Kemudian netra Alma beralih pandang kepada Umma Sarah lantas ia berucap, "Kalau Umma Sarah memanggilku hanya untuk menyambut tamu ini. Maaf Umma, Alma menolak."


"Kamu ... membenci Tante?"


Gagal sudah niat Alma hendak mengucap salam. Pertanyaan Tante Bunga sesungguhnya telah beliau ketahui jawabannya sendiri. Bagaimana kiranya ia harus bertindak? Kebencian ini tidak mendominasi, namun perasaan kecewa sangat tercetak jelas.


"Maafkan Tante, Alma," ucap Tante Bunga, lagi.


Alma menulikan pendengaran. Tiada guna maaf untuk sekarang, sudah bertahun-tahun itu berlalu lantas mengapa Tante Bunga mengingatnya kembali? Cukup. Panti asuhan adalah tempat tinggalnya. Alma tidak membutuhkan saudara dari pihak Ayah maupun Ibunya. "Umma, Alma permisi, assalamualaikum."


Alma tergesa-gesa meninggalkan kantor panti asuhan, tidak mengindahkan suara Tante Bunga yang terus memanggilnya. Saat hendak berbelok melewati jalan redup Alma merasa telah menabrak seseorang. Ia hanya fokus menunduk dan mengusap air mata sialannya yang terus menerus keluar. "Ma-maaf saya nggak sengaja," ucap Alma.


Tidak ada tanggapan. Merasa mungkin bagi orang yang ditabraknya tidak keberatan. Alma memutuskan untuk pergi, namun baru satu langkah ia berjalan lengan Alma di raih oleh orang yang tidak sengaja di tabrakannya.


"Lo nangis?" ucap Lutfan.


Spontan Alma mendongak untuk menyakinkan bahwa yang ia tabrak adalah Lutfan. "Maaf Lutfan saya nggak sengaja. Tolong lepasin tangan kamu," ucap Alma.


"Lo dari kantor Umma, kan? Kenapa bisa lo nangis?" tanya Lutfan, lagi.


Merasa bahwa Lutfan tidak kunjung melepaskan tangannya dari lengan yang terbalut gamis ini. Spontan saja Alma menyentak lengan, hingga genggaman itu terlepas. Kemudian Alma berucap, "Saya minta kamu lepasin tangan kamu, bukan meminta kamu bertanya ini dan itu."


"Sorry." Ucapan itu yang Alma dengar sebelum benar-benar pergi menjauh dari jangkauan Lutfan. Langkah kaki ini tetap tergesa dan ia tetap menunduk dengan tangan kiri kanan yang mengusap air mata. Bagaimana bisa saat-saat seperti ini Alma merasa bahwa asrama panti asuhannya begitu jauh. Bahkan sudah berlari pun tak sampai juga ditujuan.


Brak!


Ceroboh. Lagi-lagi ia menabrak seseorang saat hendak berbelok. Kali ini menimbulkan suara yang cukup keras. Pasalnya orang itu membawa beberapa buku di tangannya. Spontan Alma langsung menunduk membereskan beberapa buku yang terjatuh di tanah dan netranya terbelalak saat melihat salah satu buku basah karena terkena genangan hujan siang tadi. "Maaf, akan saya ganti buku yang ba ... sah---"


Jafar?


Ditarik buku yang diambil Alma dari genangan itu oleh Jafar. Tangan kiri dan kanan itu sibuk mengambil buku dan menggeleng. Pertanda mungkin bahwa Alma tidak perlu mengganti buku tersebut.


"Maaf sekali lagi," ucap Alma, lagi.

__ADS_1


Jafar tidak mau menatap Alma. Tetapi tangannya lihai menulis sesuatu yang Alma yakini mungkin akan bernada kasar dan menyebalkan. Maka baiknya Alma pergi sebelum secarik kertas tersebut diberikan kepadanya. "Buku itu akan saya---"


Ucapan Alma terhenti. Saat lengannya di tarik oleh Jafar untuk menghentikan langkah kaki yang baru berjalan ini. Bagaimana bisa ia harus bertemu dengan dua orang lelaki yang suka sekali menahannya dengan menyentuh lengan ini? Tidak sopan sama sekali.


"Kalau memang kamu mau menahan saya. Baiknya jangan menyentuh lengan saya Jafar, itu sangat kurang sopan. Bukankah kamu mengerti? Bahwa ada batasan antara perempuan dan laki-laki dewasa. Saya sudah meminta maaf dan ingin mengganti---"


Secarik kertas diberikan kepada Alma. Namun Alma enggan menerima sehingga Jafar meletakkan kertas itu di tanah tepat di bawah kaki Alma yang tidak terkena genangan. Kemudian Jafar pergi meninggalkan Alma tanpa menatap sedikit pun.


Alma menghela napas berat. Mungkin memang yang akan di tulis oleh Jafar bernada keras dan kasar. Tetapi lelaki itu pasti sungguh kesulitan untuk menulis dengan berdiri dan Alma melihat bahwa tulisan itu sepertinya panjang. Dengan berat hati Alma menunduk, mengambil secarik kertas tersebut.


"Sudah sewajarnya manusia berbuat kesalahan. Saya saja bisa memaafkan kamu. Lantas mengapa sulit sekali bagimu memaafkan kesalahan orang yang memiliki darah sama denganmu?" tulis Jafar.


Alma mengerutkan kening. Bagaimana Jafar bisa tahu? Lelaki itu tidak berada di dekat kantor saat Tante Bunga berteriak memanggil namanya. Lutfan saja yang ia tabrak saat melewati belokan redup masih bertanya alasan mengapa dirinya menangis.


Sedangkan Jafar?


Alma sungguh tidak mengerti.


"Lantas mengapa sulit sekali bagimu memaafkan kesalahan orang yang memiliki darah sama denganmu?" Alma mengulang kalimat itu kedua kalinya dengan berjalan lamban menuju asrama.


Aku memang bersalah karena telah menghinamu, Jafar.


Tetapi bukan menjadi kehendakmu memaksaku untuk memaafkan kesalahan orang lain.


Sekalipun darah yang sama itu mengalir di tubuhku dan Tante Bunga.


Telah sampailah Alma di pelataran asrama. Saat tepat berada di kamarnya cepat-cepat ia membuka pengunci pintu dan segara masuk ke dalam. Sungguh sulit mengendalikan air mata ini saat bertemu orang lain di panti asuhan. Ia harus terpaksa tersenyum walau sebenarnya hati tengah bersedih.


Alma mengambil gawai yang ia tinggal di atas nakas. Kemudian membuka kontak mencari nama Bibi Maryam dan meng-klik tombol panggilan.


"Assalamualaikum, Alma. Ada apa, Nak?" Sambutan yang Alma terima adalah salam serta tanya dari suara lembut Bibi Maryam.


"Bi-bi," lirih Alma.


"Ada apa, Nak? Kamu sudah menemui Umma Sarah dan Ummi Salamah?"


"Kamu menangis? Kenapa, Nak? Apa ... karena Bibi memberitahu Umma Sarah dan---"


Alma menyanggah, "Bukan. Bukan itu, Bi. Lagi pula sudah sewajarnya, Umma Sarah dan Ummi Salamah tahu tentang keadaan Alma sekarang. Ta-pi Bi ..."


Jeda tiga detik setelah mengatur napas agar tidak tersengal-sengal Alma lanjut berucap, "Tan-te Bunga datang, Bi."


"Bunga? Adik Ayahmu?"


"Iya, Bi."


Setelah menjawab itu. Alma merebahkan diri di ranjang dan gawai tersebut tetap berada telinga kirinya. Alma menghela napas sejenak kemudian berucap, "Aku nggak mau ketemu beliau lagi, Bi. Jadi, a-aku minta tolong untuk dipindahkan dari panti asuhan ini."


"Alma ... kenapa harus seperti ini, Nak?"


"Sekalipun delapan tahun berlalu, Bi. Aku nggak akan pernah bisa lupa, dengan tindakan Tante Bunga saat itu."


"Bibi paham, Nak. Tapi beliau adalah keluargamu. Apa harus kamu bersikap seperti ini?"


Alma membisu.


Di jauhkan gawainya dari telinga. Kemudian di tekan tombol speaker dan menaruh gawai tersebut di sampingnya. Tangan kanan dan kirinya menghapus air mata di pipi, serta nerta yang semula sendu berubah datar menatap pintu kamar asramanya. Lalu dengan tegas ia berucap, "Harus, Bi."


"Bibi sudah bicara kepada Umma Sarah bahwa Bibi tidak mau kamu dipindahkan terus menerus. Jadi kamu harus menetap di panti asuhan itu, Nak."


Di saat dirinya dengan sangat sukarela ingin pindah. Tiba-tiba saja larangan menghentikan segala keinginannya, ini benar-benar memuakkan. "Kalau begitu, aku akan pindah sendiri, Bi. Aku akan bekerja lagi dan mencari tempat untuk bernaung sendiri," ucap Alma.


"Jangan, Alma! Bibi sama sekali tidak mengizinkan kamu bekerja dan pulang malam sendirian lagi!" Bibi Maryam menjeda sejenak dan berucap lagi, "Okay ... Bibi akan bicara dengan Umma Sarah."


Hanya dengan alasan ini. Bibi Maryam akan segera mengabulkan keinginannya dan yang jelas tanpa bantahan. Teringat dulu saat ia berusia sembilan belas tahun pertama kali bekerja dan pulang dengan larut pukul sebelas malam, Bibi Maryam sangat khawatir. Hingga tiada lagi izin kerja untuk Alma. Kecuali, jika ia bersedia bekerja di kedai milik Bibi Maryam---untuk meneruskan usaha kecil beliau.

__ADS_1


"Aku harap Bibi benar-benar mengusahakan keinginanku," ucap Alma dengan mengakhiri panggilan tersebut.


...🌺...


Azan isya berkumandang. Terdengar suara bising dari luar, di mana anak-anak asrama satu dan dua akan segera beranjak ke mushola. Sedangkan Alma tetap mendekam di kamar, tangan kanannya merambat di dinding dingin ini untuk mematikan lampu kamarnya.


Redup.


Hanya ada lampu tancap bunga kuning yang ia gunakan. Sesekali tangan kiri Alma menyisir surai hitam panjangnya, serta tangan kanannya sibuk ia gunakan untuk berzikir. Tubuh ini tetap terlentang di ranjang dan seperkian menit ia fokus untuk berzikir tiba-tiba saja netranya memanas. Air mata telah mengalir lagi, jatuh melewati samping wajahnya dan mengenai bantal lembut tersebut.


Ya Allah, bagaimana kiranya Engkau menyiapkan kebahagiaan untuk hamba-Mu?


Apakah harus menunggu begitu lama untuk sekadar saja merasa bahagia?


Sungguh ampunilah hamba-Mu ini yang terlalu lancang meminta sedikit saja rasa bahagia.


Karena hamba terus merasa bahwa kehidupan ini selalu saja melingkupi oleh kesedihan.


Apakah ini takdir yang telah Engkau gariskan untuk hamba-hamba-Mu?


Jikalau, iya.


Maka, tolong maafkan hamba-Mu ini. Karena telah begitu banyak mengeluh atas ujian yang tak seberapa menyakitkan dari yang lain.


Alma menghela napas panjang. Ia begitu yakin bahwa matanya sudah membengkak karena telah menangis semenjak bakda magrib, pun berhenti hanya beberapa saat saja. Bahkan sampai isya pun ia masih menangis.


Sungguh menyedihkan dirinya ini.


Alma hendak memenjamkan mata. Namun terhenti karena suara ketukan pintu, ia mencoba abai. Baiknya memang tidak buka, mungkin itu Inayah, Kirana atau bahkan Mardiyah. Pilihan Alma adalah memejamkan mata dan menulikan pendengarannya. Karena ia begitu lelah, ingin mengistirahatkan diri barang sejenak saja.


"Alma ... Nak, tolong buka pintunya." Mendengar suara lembut yang begitu jelas Alma kenali. Spontan saja ia membuka matanya.


Ummi Salamah?


Alma menggeleng. "Nggak. Nggak mungkin Ummi Salamah."


Terdengar suara ketukan lagi serta disusul suara lembut yang ternyata memang berasal dari Umma Salamah. "Ummi boleh bicara sebentar, Nak?"


Alma berdiri tegak. Dan dengan tergesa-gesa ia mengambil kerudung bergo yang berada di ranjang, lantas memakai itu secepatnya. Tangan kanannya menekan tombol lampu agar kamar ini kembali cerah. Setelah itu kaki mungilnya berjalan menuju pintu dan membuka perlahan.


"A-ada apa Ummi Salamah jauh-jauh kemari?" tanya Alma dengan menunduk. Sungguh ia merasa tidak sopan, tanpa mempersilahkan masuk sudah mempertanyakan kedatangan.


"Ummi mau bicara sama kamu. Boleh?"


Alma mengangguk. "Boleh, Ummi. Silakan masuk. Dan maaf kalau kamar Alma sedikit berantakan."


Pandangan Ummi Salamah tertuju kepada ranjang milik Alma. "Boleh Ummi duduk sini?"


"Boleh, Ummi."


Alma memilih untuk duduk di lantai. Walaupun Ummi Salamah memaksanya untuk ikut bergabung di samping ranjang tetap saja ia menolak. "Nggak pa-pa Ummi, Alma duduk di sini saja. Ummi mau bicara apa?"


"Bibi Maryam bilang, kamu ingin pindah dari panti asuhan ini," ucap Ummi Salamah.


Alma mengangguk. "Iya, Ummi."


Seperkian detik Ummi Samalah membisu tiba-tiba saja diraihnya tangan Alma. Kemudian Ummi Salamah berucap, "Menikahlah dengan Jafar, Nak. Lalu tinggal lah di pesantren bersama Ummi dan Jafar."


Note:


• Cerita ini menggunakan POV 3 (yaitu, nama orang, ia, dia, dll) tetapi dalam sudut pandang Alma. Jadi saat Alma bertemu dengan tokoh baru yang lebih tua saya tidak hanya mengunakan nama saja. Namun juga sebutan: Umma, Ummi, Bibi, Tante, Om, dll.


• Genre cerita ini : Slice of life, Spiritual, dan Romance.


• Panti Asuhan apa Pesantren? Banyak banget asramanya. Panti asuhan lah. Lumayan. Untuk di kata banyak yang nggak terlalu banyak. Ada enam asrama. Setiap asrama dibagi empat kamar dan kadang empat kamar di isi dua orang. Dan dibedakan laki-laki serta perempuannya. Lagi pula wajar panti asuhannya besar, karena memang satu yayasan dengan pesantren.

__ADS_1


• Jadi, ini denah Alma berlari dan menabrak Lutfan serta Jafar. Yang saya lingkari merah adalah tempat di mana mereka tepat bertabrakan.



__ADS_2