Almahyra

Almahyra
Season 2, Bagian 12 : Pertanyaan Rais.


__ADS_3

Manusia memiliki sisi keegoisannya sendiri. Entah sepanjang apa umurnya ia tidak pernah tahu. Tetapi semua masa depan anaknya--- Dilara, telah ia persiapkan mulai sekarang. Contoh sederhananya, memilih Rais--- anak yang akan ia besarkan itu harus menikahi Putri satu-satunya. Karena sungguh Jafar telah membuat keputusan untuk tidak memiliki seorang anak lagi.


Dilara akan menjadi penerus dari Jafar dan Alma. Putrinya itu harus tubuh dewasa di samping Rais. Lalu mulai detik ini, memasuki usia satu bulan Rais, ia telah memberitahukan rencana masa depannya kepada Ummi Salamah. Ini bukan kegilaan, ini hanya balas budi yang ia minta atas kebaikan dirinya.


Jika Azizah berharap besar atas dirinya dan Alma. Maka tiada salahnya, Jafar juga memiliki harapan besar kepada Rais. Anak laki-laki itu akan tubuh besar seiring berjalannya waktu. Kehidupan lama akan segera berlalu, dan berganti, terus berganti. Kelak waktunya tiba, Jafar akan memberitahu kebenaran dari kelahiran Rais.


"Mas, kamu bisa antarin saya ke puskesmas?"


Kening Jafar mengerut saat mendengar ucapan Alma.


"Rais mau imunisasi, Mas," lanjut Alma.


Jafar hanya mengangguk dan kembali menatap jendela, membelakangi istrinya. Uang bisa di cari. Tetapi kebahagiaan Dilara, tidaklah bisa, Rais telah menjadikan hidup putrinya semakin berwarna. Ia akan melakukan apapun untuk pertumbuhan terbaik putra Azizah. Bahkan ia sendiri yang akan mengajari Rais, jika usianya sampai batas kedewasaan anak-anak itu.


"Kamu bisa?"


Jafar menjawab, "Bisa."



Lima tahun berlalu.


Alma mengantar Dilara masuk pertama kalinya di sekolah dasar. Tentu tidak lupa bersama Rais yang sekarang berusia lima tahun. Dilara menggandeng adiknya memasuki ruang kelas dan berkenalan dengan teman-temannya. Bahkan hal menggemaskan yang Alma lihat adalah Dilara juga memperkenalkan Rais, seolah-olah adiknya itu ikut bersekolah saja.


"Dilara ... adiknya nunggu di luar sama Mama, ya? Dilara masuk sendiri, duduk sama teman-teman baru Dilara," ujar Alma pelan.

__ADS_1


Dilara menatap sekeliling sejenak, lalu menatap mata Ibunya lagi. "Gitu ya, Ma? Terus ... Mama nunggu di luarnya di mana? Kelihatan enggak akunya?"


"Kelihatan. Nanti Mama lihat dari jendela." Alma menunjuk jendela di belakangnya. "Itu jendelanya. Okay?"


"Okay, Mama." Mata Dilara menatap Rais yang bingung melihat begitu banyaknya orang. "Adik nunggu di luar, okay? Mbak mau sekolah dulu."


Rais mengangguk-angguk. Lalu tangannya di gandeng Alma untuk keluar ruang kelas. Ia menggigit salah satu jari, karena bingung. "Mama ..." ucap Rais pelan.


"Apa, Sayang?"


"Nanti ... aku itu ..." Rais menunjuk Dilara yang tertawa bahagia bersama teman-temannya. "Bakalan punya .... teman-teman banyak kayak Mbak?"


"Iya, Sayang. Nanti Rais bakal punya banyak teman. Sama kayak Mbak."


Rais mengangguk-angguk. Kemudian kembali bertanya, "Tapi kata Ayah ... aku nggak boleh temanan sama perempuan. Itu kenapa, Ma? Terus juga ... aku boleh temannya yang perempuan sama Mbak aja. Itu pun ... aku nggak boleh sengaja peluk Mbak. Padahal Mbak yang ... itu ... suka peluk-peluk aku, Ma."


"Mama nggak mau jawab aku?" ulang Rais.


Alma berjongkok, mensejajarkan diri dengan Rais lalu tersenyum tipis. "Gini, Sayang. Nggak boleh itu bukan beneran nggak boleh. Kamu boleh temanan sama perempuan. Tapi ... kan kamu ini laki-laki. Nggak mungkin dong main sama perempuan. Baiknya kan sama laki-laki juga, jadi bisa main-main bola, lari-larian terus apa lagi? Banyak lah pokoknya."


"Sama perempuan, kan juga bisa main bola-bolaan? Tapi kenapa ... aku nggak boleh punya teman perempuan?" tanya Rais, lagi.


"Boleh, Sayang. Mama kan bilang boleh. Yang nggak boleh itu keseringan main sama-sama. Mama misalkan gini ya ..." Alma menjeda, ia menatap serius pada mata anak angkatnya. "Kamu lagi main bola-bolaan sama teman kamu yang perempuan. Terus bola itu nggak ketendang ke kaki tapi ke perut atau ke mata. Lah ... itu pasti sakit, kan? Teman kamu yang perempuan pasti nangis, terus pulang dia bilang sama Mamanya."


"Eh nggak lama Mamanya datang. Terus kamu yang nendang bola di marah-marahin. Terus juga Mamanya bakal gini, 'udah nggak usah main lagi sama Rais.' Hayoooo, kamu mau digituin?" sambung Alma.

__ADS_1


Rais menggeleng cepat. "Enggak mau. Ya udah aku nggak bakal sering main sama perempuan. Aku belajar aja sama Ayah."


"Pinter."


"Tapi Ma ..."


"Tapi apa, Sayang?"


Mata Rais melirik ruang kelas Kakaknya. "Waktu Ayah bilang ... aku nggak boleh ... itu ... peluk Mbak kenapa, Ma? Padahal Mbak suka peluk-peluk aku."


Ya Allah, pertanyaannya semakin menjadi-jadi, batin Alma yang menghela napas sejenak. "Bukan nggak boleh, Sayang. Boleh, kok. Peluk itu tandanya sayang sama orang. Kayak Mama sayang sama Mbak jadi Mama peluk Mbak, kayak Rais sayang Ayah jadi Rais peluk Ayah. Tapi ... ada tapinya, sama kayak tadi, karena Rais laki-laki dan Mbak perempuan pelukannya nggak boleh sering-sering."


"Kenapa nggak boleh sering-sering, Ma?" tanya Rais.


"Karena itu tadi. Rais laki-laki dan Mbak perempuan. Lebih baik sering salim aja. Kayak Mama sama Ayah. Rais sering lihat kan, Mama sama Ayah salim, cium tangan gitu?" balas Alma.


"Sering."


Senyuman Alma semakin melebar. "Jadi, kalau misal lagi senang, lagi mau ucapin selamat buat Mbak. Atau apa aja lebih baik salim aja."


"Tapi kalau Mbak peluk aku gimana?" tanya Rais, lagi.


"Ya kamu tinggal bilangin Mbak gini, 'Kalau mbak lagi senang mending kita salim aja mbak, jangan peluk-peluk, kata Mama tanda sayang laki-laki ke perempuan bukan peluk tapi salim,' gitu, Sayang," jelas Alma.


"Terus kalau Mbak jawab tapi kan aku perempuan kamu laki-laki. Aku harus gimana, Ma?"

__ADS_1


Ya Allah nggak ada habisnya, batin Alma.


"Sama aja, Sayang. Tinggal di balik aja ucapan Mama tadi. Udah, ya? Sekarang kita lihat Mbak. Nanti Mama bilangin Mbak juga kalau tanda sayang itu cium tangan," akhir Alma.


__ADS_2