Almahyra

Almahyra
Bagian 9


__ADS_3

...9 : Hubungan Antar Manusia....


"Buat memperjelas kalau perasaan yang di miliki sama Mbak Mardiyah iku ndak salah."


Mardiyah suka Jafar?


Alma bergeming. Ia telah meloloskan niat untuk menyeduh teh panas kembali, di tatapnya Salsa dengan yakin bahwa pendengaran miliknya tidak lah salah. Ucapan itu jelas keluar dari bibir Salsa, ia tidak salah melihat apalagi mendengar.


"Ja .. di, Mardiyah suka sama Jafar, Sal?" tanya Alma.


Tangan kanan Salsa kembali mengambil gelasnya. "Iyo, Mbak. Makanya toh aku tanya sampean cuma mau memastikan aja," ucap Salsa dengan menyeduh teh panasnya perlahan.


Alma tersenyum kecut. Sungguh ia tidak mengerti bagaimana kiranya ia harus bertindak. Apakah ia harus memberitahu Mardiyah dan juga Salsa secara gamblang bahwa Jafar adalah calon suaminya? Dan membuat hubungan antara dirinya dengan Mardiyah semakin merenggang?


Ternyata ... hubungan antar manusia bisa serumit ini.


"Jadi, mbak ndak suka sama Mas Jafar?" tanya Salsa, lagi.


Alma terdiam sejenak.


Ia meletakkan gelas yang telah habis isinya di lantai. Kemudian memposisikan diri dihadapan Salsa dengan menggeser duduknya ke kiri. Lalu ia menatap mata sipit Salsa dan berucap pelan, "Sal, tolong setidaknya kamu bilang ke Mardiyah. Kalau memang dia suka sama Jafar, suruh dia menemui Ummi Salamah langsung."


"Ngapain toh, Mbak?" sahut Salsa langsung. Kemudian Salsa berdiri meletakkan gelas bekas minum keduanya di wastafel. Salsa yang tangannya mulai sibuk mencuci kembali berucap, "Lagian Ummi Salamah iku orang sibuk. Ndak seperti Umma Sarah yang bisa ditemui setiap hari."


Sibuk?


Padahal beliau sering datang ke sini.


"Tapi Ummi Salamah sering lho Sal datang---"


Salsa yang mengusap gelas kaca dengan spon kuning spontan menoleh dan menyanggah, "Beliau emang sering ke sini, Mbak. Tapi aku sama Mbak Mar ndak tahu kepentingannya beliau apa. Jadi yo sungkan toh Mbak tiba-tiba minta ketemu apalagi bicara."


Alma menghela napas pelan. Ia menggigit bibir bawahnya pelan, merasa sedikit bingung dengan situasi sekarang. "Kalau Mardiyah nggak mau nemui Ummi Salamah cepat-cepat. Takutnya Jafar akan segera menikah, Sal."


Terdengar tawa kecil dari Salsa. Bahkan bahu yang Alma lihat dari belakang sedikit terangkat karena Salsa tertawa. "Memangnya siapa toh yang mau menikahi laki-laki bisu, Mbak?"


"Aku ndak yakin ada yang mau nikah sama Mas Jafar," lanjut Salsa.


Ada, Sal.


Saya?


Walau masih kandidat.


Netra Alma menatap datar punggung Salsa yang tiada henti tertawa. Kemudian berucap, "Kenapa kamu nggak yakin? Sedangkan dengan jelas Mardiyah bilang ke kamu kalau dia suka sama Jafar."


"Suka. Ndak berarti pengen menikahi, Mbak." Setelah mengucapkan itu Salsa berbalik. Dan mengambil lap kotak hijau putih diatas meja untuk tangannya yang basah. Kemudian netra Salsa menatapnya dan berujar, "Wajar Mbak Mar suka. Siapa emang yang ndak suka sama Mas Jafar? Ah, maksudku Gus Jafar. Dia iku anak pemilik pesantren, turunannya insya Allah baik-baik. Dan bahkan tempat yang kita tinggali iki satu yayasan sama pesantren. Jelas toh Mbak sampe sini?"


Kening Alma mengerut. Ia sedikit tidak memahami maksud Salsa. Untuk yang dikatakan Salsa bahwa Jafar adalah anak pemilik pesantren adalah benar, bahkan untuk selanjutnya pun benar. Tapi kalimat akhir yang mengatakan bahwa ia paham tentang suatu hal, agaknya itu ambigu.


"Maksudnya ... jelas itu apa?" tanya Alma.


Salsa tertawa kecil. "Jelas ndak akan ada yang nolak. Buat jadi istri dari anaknya orang kaya sekaligus keluarga baik-baik."


"Meskipun nanti suaminya iku bisu," lanjut Salsa.


Alma mengerjap berkali-kali, seolah tidak percaya bahwa setiap katakan yang diucap Salsa adalah nyata. Mengapa Salsa sampai sebegitunya terhadap Jafar? Ah, maksudnya terhadap keluarga besar pemilik yayasan Al-Hikmah ini.


"Bicaramu sudah melewati batas, Sal" tegur Alma.

__ADS_1


Salsa mengangguk paham. "Iyo Mbak. Maaf, aku cuma pengen sampean ngerti lebih jelas."


Sedetik kemudian kedua senior wanita pesantren memasuki dapur dengan membawa nampan plastik yang berisi gelas-gelas plastik yang kotor. "Di cuci ta, Mbak?" tanya Salsa.


"Iyo, Sal." Suara itu terdengar dari salah satu perempuan berkerudung army dengan rok hitam serta baju lengan panjang hitam.


"Aku aja yang nyuci, Mbak. Sampean berdua boleh kembali ke pondok," ujar Salsa dengan senyum simpulnya yang membuat mata miliknya semakin menyipitkan.


"Suwon, Sal."


Kedua santriwati tersebut pergi meninggalkan dapur. Sedangkan Salsa kembali mencuci gelas-gelas lagi, Alma merasa bahwa hawa semakin dingin dan besok ia ditugaskan ke swalayan membeli beberapa hal. Maka baiknya ia berpamitan. "Sal, aku balik duluan ya?"


"Iyo, Mbak. Lagian besok sampean ada tugas toh?" ucap Salsa.


"Iya. Ke swalayan. Aku permisi, Sal."


Tujuannya adalah asrama. Tetapi sebelum itu ia harus menemui Umma Sarah untuk menginformasikan apa saja yang akan ia beli di swalayan. Tangan kanannya merogoh gamis lantas dilihat gawai menunjukkan pukul 22.45 WIB. Kemudian netranya mengedarkan pandangan, melihat apakah sudah benar-benar sepi? Karena sudah lewat pukul sepuluh yang jelas memasuki waktu tidur anak-anak panti asuhan.


"Assalamualaikum, ukhti."


Seketika udara di dalam paru-paru Alma terenggut. Ia benar-benar memastikan bahwa tadi tidak ada orang disekitarnya. Namun mengapa tiba-tiba lelaki tengil ini bisa berada di depannya dan datang tanpa terdengar langkah sedikit pun?


"Astagfirullah, Lutfan!" seru Alma saat ia sudah mengendalikan napasnya kembali.


Lutfan yang berdiri dihadapannya cengengesan tidak jelas. Dengan pakaian yang ... nyentrik? Baju hitam polos dengan celana gembel yang di robek entah gunanya apa. "Lo mau ke mana? Ini udah malem. Nggak lucu kalau lo tiba-tiba diculik dan---"


"Dan apa?" sanggah Alma.


Alis kiri Lutfan terangkat. "Ngerepotin orang-orang."


"Justru ucapanmu itu tolong dijaga. Apa kamu nggak pernah dengar bahwa ucapan itu termasuk do'a?! Jadinya kamu mau do'a in saya---"


Alma terdiam. Lantas menatap datar lelaki tengil dihadapannya ini. Sungguh ia tidak menyangka bahwa Lutfan adalah darah daging Umma Sarah. Kemudian Alma berjalan ke arah kanan Lutfan dan saat tepat berada di samping Lutfan. Alma berucap lirih, "Cerewet."


"What? A-apa yang lo bilang?! Heh! Jangan pergi! Heh, ukhti!"


Suara itu semakin kencang dan pemiliknya semakin tidak tahu sopan santun. Sedangkan Alma menulikan pendengaran tanpa berniat menoleh. Lagi pula sudah malam, apa Lutfan tidak bisa mengejarnya sambil bungkam saja? Tanpa drama teriak-teriak tidak jelas.


Bener.


Dia memang aneh.


Alma telah berada di ambang pintu. Terlihat Umma Sarah sedang berbincang dengan dua senior laki-laki pesantren mengenai acara besok. "Assalamualaikum, Umma."


"Waalaikumussalam."


Serentak semuanya membalas salam. Kemudian kedua senior tersebut berpamatin, yang ia balas dengan senyuman. Netra Alma menatap Umma Sarah sebelum tubuhnya terduduk di kursi kayu anyam. "Jadi, list-nya ini saja, Umma?"


"Iya, Nak." Umma Sarah menatap daftar tertulis di secarik kertas yang baru di ambil oleh Alma.


Jeda tiga detik, Alma kembali berucap, "Umma, tolong. Kalau Tante Bunga datang, baiknya Umma nggak perlu mempertemukanku dengan beliau lagi. Karena demi Allah, Umma. Alma takut nggak bisa mengendalikan emosi dan mengucapkan kata-kata yang hanya menyakiti Tante Bunga saja."


"Umma mengerti, Nak."


"Terima kasih, Umma. Kalau begitu, Alma langsung pamit ke kamar, assalamualaikum," lanjut Alma.


...🌺...


Alma berlalu pergi. Dan tepat pukul 23.00 WIB Alma merebah tubuhnya di ranjang. Tangan kanannya sibuk mengutak-atik gawai untuk mencari nomor Bibi Maryam. Setelah menemukannya lantas tangan kiri dan kanannya lihat menulis pesan singkat dan mengirimnya.

__ADS_1


^^^Aku setuju untuk menikah dengan Jafar, Bi^^^


Setelah melihatnya benar-benar terkirim. Alma mematikan data, mengunakan mode getar dan menekan tombol kecil di samping kanan gawai. Lantas dengan sekejap layar tersebut mati.


"Ya Allah capek banget hari ini," gumam Alma.


Saat ia berdiam beberapa detik. Tiba-tiba saja ingatannya berputar kembali di awal pertemuannya dengan Tante Bunga. Sungguh ia merasa sesak dengan melihat paras rupawan itu kembali, yang dulu tega menolak keinginan kecilnya.


"Tante nggak akan pernah tahu takutnya aku waktu itu. Saat dengan tega Tante bilang, besok aku akan segera dijemput oleh orang panti asuhan. Padahal aku ... a-aku cuma mau menginap satu malam saja, bukan selamanya di sana, dan menjadi beban tersendiri buat Tante," gumam Alma.


Air mata itu menetes di pipi kirinya. "Jadi buat apa? ... Buat apa Tante jauh-jauh ke sini?"


"Rumah Alma adalah panti asuhan. Seorang anak yatim piatu yang miskin ini---memang nggak pantes tinggal di rumah mewah milik Tante," lanjut Alma.


Tangan kanannya meraba perut, dan merasakan bahwa ada benjolan di sana. Bagaimana kiranya ia harus melakukan operasi? Saat dirinya pun masih takut untuk datang ke rumah sakit.


Layar gawainya tiba-tiba hidup. Bergetar. Netra Alma melihat dan tangan kanannya mengambil gawai, lantas ia mengerutkan kening. Merasa heran siapa gerangan yang mengirim pesan lewat nomor biasanya dan malam-malam begini?


083856xxxxx


Alma sayang. Ini Tante Bunga.


Maafkan Tante, Alma. Setidaknya kalau kamu nggak mau maafin Tante, tolong izinkan Tante membiayai operasimu.


Alma tersenyum hampa. Tante Bunga tidak akan berhenti mengganggunya sampai---anak yatim ini memaafkan beliau. Sepuluh detik kemudian gawai itu bergetar lagi. Pesan masuk kembali.


083856xxxxx


Tante tau kamu benci sama Tante, Alma.


Jadi yang akan menemanimu ke hospital adalah Umma Sarah dan juga Ummi Salamah.


Gawai itu bergetar lagi.


083856xxxxx


Dan jika kelak kamu menikah


Tolong izinkan Tante datang, Sayang


Walaupun nggak kamu sambut pun nggak pa-pa


Tapi tolong jangan pernah coret Tante dari list tamu kamu


Segala rasa kecewa masih melingkupi hati Alma. Namun tetap, ia adalah manusia. Ada titik nuraninya yang tersentuh atas usaha yang dilakukan Tante Bunga.


"Kalau begitu ... beri Alma sedikit waktu untuk memaafkan kesalahan Tante. Supaya kita bisa berhubungan lagi, layaknya sanak saudara," lirih Alma.


Note:


• Anak panti asuhan kebanyakan manggil Jafar, Mas. Sedangkan, anak-anak pesantren lebih memangil Jafar, Gus.


Jadi, panggilan apa yang paling kalian sukai?


Gus Jafar?


atau


Mas Jafar?

__ADS_1


__ADS_2