Almahyra

Almahyra
Bagian 59 (1)


__ADS_3

Teringat akan seseorang yang telah tiada bukanlah sesuatu yang salah. Tak apa-apa mengingat, tak apa-apa terbayang, dan tak apa-apa ingin merasakan kehadiran kembali. Namun batasan tak pernah boleh manusia lewati, takdir telah memisahkan, ia hanya harus menerima.


Senyum dan bahagianya telah tersusun kembali. Bahkan hampir tiada hari lagi ia mengingat duka lamanya. Namun ternyata ia tetap lah manusia, yang akan terus teringat, walau sebenarnya mencoba lupa.


Dini hari ini menjadi saksi tangisan ini kembali tumpah. Sungguh Alma tak tahu pasti mengapa dirinya seperti ini? Padahal pembahasan tentang kedua orang tua hanya terjadi beberapa saat saja dengan Jafar. Tetapi mengapa ia teringat lagi dan lagi, lantas sekarang air matanya tak kunjung terhenti.


"Kenapa? ..." Alma mengusap kasar kedua pipinya. Sesak di dada masih terasa, dan kamar mandi memang pilihan yang tepat. "Kenapa ... aku harus nangis?"


Terdengar ketukan pintu dari luar tiba-tiba. Mas Jafar bangun? Alma menggeleng, ini masih pukul satu dini hari. Suaminya biasa bangun mendekati subuh, sekitar pukul setengah tiga pagi.


"I-iya sebentar."


Alma cepat-cepat mencuci wajahnya, mendekatkan diri pada cermin melihat matanya yang sedikit bengkak. Ia hanya berharap Jafar tak menyadari bahwa dirinya baru saja menangis. Pintu kamar mandi Alma buka perlahan dan tepat saat itu Jafar sudah berdiri tegak menghadap pintu.


"Maaf, Mas. Lama. Saya udah selesai pakai," ujar Alma dengan menunduk hendak berlalu pergi menuju ranjang. Namun Jafar tiba-tiba saja menahan, menarik dagu Alma supaya bisa bertemu tatap.


"Mas, lepas. Kamu ngapain? Ke kamar man---"


Ucapan Alma tertahan saat tiba-tiba saja tangan besar Jafar mengusap lembut kedua matanya, menghapus sisa-sisa air mata. Dan sialnya menerima perlakuan lembut ini, semakin membuat Alma ingin menangis lagi dan lagi.


"Sa-saya kangen sama Ayah, sama ... Ibu, sama ... Bibi Maryam. Sa-saya nggak bisa ... nggak bisa berhenti nangis, Mas ..."


Tubuh ramping mungilnya ditarik dalam pelukan. Bahkan terasa terangkat saat tiba-tiba saja posisinya telah berada di tepi ranjang. Deru napas Jafar pun terasa di kepalanya, lelaki itu beberapa kali mengecup di sana, tak lupa pula usapan-usapan lembut di surai hitam panjangnya.


"Saya nggak tahu ... tiba-tiba aja saya inget ... tiba-tiba aja saya kangen."


Jafar mengangguk-angguk.


"Ma-maaf kamu jadi ke bangun, Mas."


Jafar menggeleng. Lelaki itu mengubah posisinya menjadi duduk, dan dipangkunya Alma dengan posisi berhadap-hadapan tetap berpelukan.


"Gimana, Mas? Gimana caranya supaya saya bisa berhenti na-nangis?" ucap Alma dengan sesenggukan.


Kepalanya bersandar pada bahu kiri Jafar dengan tangan yang memeluk erat punggung suaminya. "Air matanya nggak mau berhenti ..."


Jafar mencoba melepas pelukan itu, supaya ia dapat menatap netra istrinya.


"Gi-gimana, Mas?"


Senyum tipis nampak di wajah Jafar. Tangannya mengusap-usap kedua mata serta pipi kiri kanan Alma yang terbasahi oleh air mata.

__ADS_1


Alma memutuskan kontak matanya dengan menunduk. "Saya tahu kehilangan itu bagian dari kehidupan kita, Mas. Saya ... saya nggak mau nangis, saya juga nggak mengeluh kok. Tapi reaksi tubuh saya tiba-tiba aja gini. Padahal saya cuma kangen."


"A-apa kamu juga gitu?"


Suara jangkrik dan katak terdengar di iringi isakkan Alma yang tak juga mereda. Sunyi memang. Harapannya semoga Ummi Salamah tak mendengar tangis miliknya ini. "U-udah. Saya ... bakal ber ... berhenti nangis, Mas."


Jafar mengangguk.


Sesaat Alma bergerak, dan netra itu bertatapan langsung dengan Jafar. Ia tersadar, posisi ini cukup intim dan membuatnya memerah padam. "Saya mau turun, Mas. To-tolong lepasin tangan kamu," ucapnya.


"Sa-saya udah baik-baik aja."


Jafar membiarkan Alma turun. Tetapi sepertinya wanita itu terlihat kebingungan, karena posisi yang tak cukup nyaman.


"Enggak-enggak, saya bisa turun sendiri, Mas."


Alma berhasil turun tanpa jatuh. Kemudian ia mengambil duduk tepat bersebelahan dengan Jafar---yang nama lelaki itu mengeluarkan pena dan buku catatan.


"Ingin saya ambilkan minum?" tulis Jafar.


Alma menggeleng. "Saya tadi udah minum."


"Sudah membaik?" tulis Jafar.


Jafar terlihat menulis kembali. Tetapi kali ini Alma tak mau melihat apa yang dituliskan suaminya, ia memilih menatap lurus. Hingga mungkin sekitar sepuluh detik berlalu buku catatan tergelak di pangkuannya. "Jangan menangis lagi, Alma. Merindukan seseorang yang berarti dalam hidup kita adalah wajar. Tetapi berhenti menangis seperti itu, karena masih ada do'a yang bisa kamu langitkan."


"Iya, Mas."


...🌺...


Jafar menjalankan salat malam di mushola rumah. Sedangkan Alma salat sembari duduk di kursi yang telah di sediakan Jafar. Bahkan sampai pukul dua pagi keduanya masih tak bisa tidur---atau lebih tepatnya Alma yang merasa kesulitan tidur. Sedangkan Jafar? Memilih menemani.


"Kamu boleh tidur, Mas."


Jafar menggeleng.


"Kamu biasanya bangun sebelum subuh 'kan? Kamu juga harus ke Masjid dulu, belum ke outlet dan lain-lainnya." Alma membetulkan kancing baju tidur Jafar yang terbuka. "Jadi baiknya sekarang kamu tidur. Istirahat, Mas."


Kebetulan pula gawai milik Jafar tergeletak tepat di sampingnya. "Kamu tidur. Saya tidur," tulis Jafar di aplikasi note.


"Kamu memaksa. Padahal saya lagi nggak bisa tidur," ucap Alma pelan.

__ADS_1


Keduanya sama-sama bersandar pada satu-satu bantal. "Kamu juga melakukan pemaksaan terhadap saya. Padahal saya ingin terjaga demi menemani kamu," tulis Jafar.


"Kamu tidur di samping saya aja, itu udah termasuk menemani lho, Mas." Alma mendongak tangannya terangkat memaksa mata suaminya itu untuk terpejam. "Jadi, tidur. Tutup mata kamu."


Senyum tipis nampak di bibir Jafar, lelaki itu menggeleng.


"Katanya besok mau ke makam Abi, lepas jahitan belum juga ke outlet ... Nanti kalau kamu kurang tidur gimana?"


Jafar mendekat gawainya pada Alma. "Seharusnya pertanyaan itu saya ajukan untuk kamu, Alma. Sebenarnya kamu sadar atau tidak yang kurang tidur nanti adalah kamu juga bukan saya saja," tulis Jafar.


"Mas ... saya mau ajuin pertanyaan. Yang barang kali, bisa jadi obrolan sebelum tidur."


Terlihat Jafar mengangguk.


"Kamu nggak merasa bosan kan dengan pernikahan kita?"


Jafar menggeleng.


"Walau pernikahan ini ... agak hambar." Alma menggeleng pelan. "Maksud saya ... kita nggak melakukan sesuatu yang biasanya suami istri lakukan."


Jeda tiga detik Alma berujar, "Kamu kerja, saya di rumah, di awal-awal pernikahan pun kita sempat bertengkar, saya ... saya juga tahu ..."


Pipinya memerah seketika saat menjeda. "Beberapa kali kita melakukan sesuatu yang condong ke sana. Namun pada akhirnya ... saya yang menjaga jarak."


Jafar mendekat gawainya. "Tapi kamu tidak menolak. Saya juga memang ingin berhenti," tulisnya.


"Dan sekarang kamu harus menunda karena hernia ini." Alma menghela napas pelan. "Kamu dulu pernah bilang, kalau saya nggak akan tahu apa yang laki-laki pikirkan saat melihat perempuan."


"Jadi ..." Alma semakin mengecilkan suaranya. "Saya nggak tahu ... apa yang kamu pikirkan saat menunda selama ini."


"Dua kali ini saya ingin menegaskan, Alma. Bahwa saya menikahi kamu bukan untuk melakukan hubungan intim saja," tulis Jafar.


Alma mengangguk pelan. "Saya udah tebak. Kamu bakal tulis itu lagi."


"Saya ngerti, Mas." Jeda tiga detik Alma kembali berujar, "Saya juga nggak mungkin nikah sama kamu cuma gara-gara itu."


"Tapi saya nggak salah 'kan? Kamu ini manusia, lebih-lebih kamu ini laki-laki normal, dan pernikahan kita berjalan hampir tiga minggu lamanya. Apa kamu sanggup menahan sampai nanti walimatul'ursy?" Alma menggeleng. "Enggak-enggak. Dokter Indira bilang, kalau sesudah operasi baiknya menunda dulu. Apalagi di bagian perut."


"Sekarang kamu ingin bagaimana? Kamu ingin saya melakukan saat ini juga?" tulis Jafar.


"Saya tanya, kamu sanggup atau enggak Mas?"

__ADS_1


Jafar mendekatkan gawainya. "Jika saya tidak sanggup menahan diri. Kamu ingin melakukan apa, Alma?"


__ADS_2