Almahyra

Almahyra
Bagian 51


__ADS_3

Tertulis Kedai Amanah di atas gerai berbentuk kontak persegi panjang. Seperti rumah makan biasanya, tidak terlihat elit. Namun bersih dan nyaman untuk pengunjung, sambutan saat masuk pun melewati dapur depan tercium aroma masakan yang sedap. Alma jadi penasaran setiap menu apa yang dijual di kedai ini.


"Mbaknya istri Mas Jafar?" tanya seorang staf laki-laki ber-name tag: Seno.


"I ... ya. Kenapa ya, Mas?"


Di meja tempat duduk pengunjung staf laki-laki itu meletakkan menu yang pernah Jafar bawa yaitu ikan tanpa tulang, sambal, lalapan dan es teh.


"Buat saya?"


"Iya, Mbak. Dari Mas Jafar." Dari saku depan staf laki-laki itu mengeluarkan secarik kertas dan meletakkannya di meja. "Ini tambahannya surat. Silakan menikmati, Mbak."


"Terima kasih."


Jafar memang langsung memasuki dapur, mungkin untuk melihat keadaan tempat memasak itu. Jadi suaminya meminta ia untuk menunggu di kursi pojok yang bersekat dengan kursi pengunjung. Tangan kanan dan kirinya membuka surat yang diberikan, penasaran ia dengan apa yang ada dibalik secarik kertas itu.


Menu pertama untuk, Nyonya Alma.


Silakan dicoba. Jikalau ada komplain hubungi saya selaku orang yang memasak menu ini untukmu. Selamat menikmati.


Salam, Jafar.


Alma tertawa ringan. Ini sedang romantis atau memang sedang menjalankan kewajiban untuk memberi makan istri? Secarik kertas itu kembali dilipatnya. Tangannya mengambil sendok yang tersedia di atas meja, niat hati sebenarnya ingin makan menggunakan tangan langsung, tapi lagi-lagi karena ada sambal ia takut nanti panas di tangan tak hilang-hilang.


"Hmm ... enak. Kayak biasanya." Alma menggeleng kuat. "Enggak-enggak. Nggak kayak biasanya, ini kayak ... lebih enak."


"Apa karena suami saya yang masak, ya?" lanjut Alma bergumam.


Kling!


Gawai yang ia letakkan di samping sendok berbunyi dan bergetar. Siapa gerangan yang mengganggu ia makan?


"Mardiyah?"


Mardiyah


Aku dengar dari Ummi kalian sedang jalan-jalan berdua. Selamat menikmati waktu bersama.


Nanti setelah pulang, apa kamu dan Jafar bisa mampir sebentar ke panti?


Kening Alma berkerut. "Nggak biasanya dia minta aku sama Mas Jafar tiba-tiba ke panti."


^^^Bisa, Mar. Insya Allah.^^^


Suapan demi suapan Alma lakukan dengan perlahan, sembari memandangi lalu-lalang kendaraan roda dua dan empat. Rasanya sudah lama ia tak melihat perkotaan yang ramai, terakhir sebelum Bibi Maryam berangkat ke Malaysia.


Jafar tiba-tiba mengambil duduk di kursi depan. Netra tajam itu memandanginya tiada henti, tanpa berniat menulis atau apa Jafar hanya duduk tegak dan fokus padanya.


"Jangan lihatin saya."


Netra itu tak kunjung berpindah lain pandang, tetap menatap Alma.


"Enak, kok. Enak. Nggak ada komplain."


Alma mendongak---netranya langsung bertemu tatapan dengan Jafar. "Tolong ya ... Mas. Saya lagi makan lho, gimana bisa saya nelen makan lagi kalau kamu terus lihatin saya kayak gini?"


Senyum tipis Jafar tampilkan. Lelaki itu mengeluarkan pena dan kertas, lalu menulis di sana. "Habiskan. Lalu ikut saya ke ruangan."


"Ru ... angan? Kayak semacam kantor gitu, ya? Atau semacam tempat istirahat kamu kalau datang ke outlet?"


"Semacam semua yang kamu sebut," tulis Jafar.


Makanan telah habis. Ia meminum es teh dalam sekali sedotan, enak juga. Apa lagi-lagi karena yang membuat Jafar? Tidak terelakkan suami idaman para gadis. Ia merasa sangat beruntung.


"Udah. Ayo, Mas," ucap Alma dengan berdiri---mengandeng tangan Jafar.


Jafar bergeming memandanginya lagi.


"Apa?"


Jafar menggeleng dan merubah gandengan tangan itu menjadi genggaman erat. Pintu kayu bertuliskan, hanya staf yang diizinkan masuk di buka oleh Jafar. Alma kira hanya satu ruangan kecil, ternyata waktu ia masuk. Ini luas. Ada semacam ruang untuk duduk di tengah-tengah, ada juga beberapa stok sayur, beras dan lain-lainnya. Dan ia di tarik memasuki ruangan pojok kiri bertuliskan Ruangan Pak Jafar. Alma jadi berpikir, apa yang menulis itu suaminya?


"Duduk."


"Apa?" Alma melihat sofa panjang yang ditunjukkan Jafar. "Duduk?"

__ADS_1


Jafar mengangguk.


"Ja ... di, ini ruangan kamu?" Pandangan Alma mengedar melihat sekeliling ruangan ini bernuansa abu-abu putih yang mendominasi. Hampir sama seperti di rumah. Tidak ada pendingin ruangan, tapi ada kipas angin yang cukup kencang. "Bagus. Nyaman juga."


"Sini. Kamu juga duduk di sebelah saya, Mas."


Gawai di saku gamisnya, Alma keluarkan dan menunjukkan pesan singkat dari Mardiyah.


"Saya dapat pesan gini, Mas. Nanti ingetin, ya? Kalau kita mau mampir ke panti. Saya takut lupa."


Jafar mengangguk.


"Mas ... ngomong-ngomong soal Mardiyah ... kamu kan dari kecil udah sama dia, ya?"


Jafar mengangguk dan mengambil alih gawai Alma, membuka aplikasi note dan menulis. "Kami besar bersama, dengan Lutfan juga. Kenapa memang?"


"Nggak pa-pa. Saya cuman tanya. Terus ... dia sama kamu dulu gimana?"


"Dulu dan sekarang, kami tetap teman. Atau lebih tepatnya dia sudah seperti Adik saya sendiri," tulis Jafar.


Kening Alma mengerut. "Adik gimana, Mas? Kan kamu sama Mardiyah bukan saudara. Terus ... kamu tahu nggak dia pe-pernah suka sama kamu?"


Tangan istrinya yang berada di paha, Jafar usap perlahan. "Memangnya saya salah mengganggap dia adik? Dan lagi pula, tidak pernah ada rasa lebih yang saya berikan untuk Mardiyah. Karena dari awal saya tahu, bahwa Lutfan bisa menjaga dan bertanggung jawab atas gadis yang sewaktu kecil lebih menyayanginya sebagai seorang Kakak dibandingkan saya," tulis Jafar.


"Kamu yakin banget kalau dari kecil Lutfan suka Mardiyah."


"Saya yakin karena saya tumbuh bersama mereka," tulis Jafar.


Alma mengangguk-anggukkan kepala. "Kalau misal ... saya jadi teman kecil kamu juga, dan besar di panti asuhan juga. Apa kamu bakal ada perasaan lebih ke saya, Mas?"


Jafar menengok sejenak, salah satu alisnya terangkat. "Pertanyaanmu semakin aneh."


Terdapat jeda di aplikasi note itu. "Tumbuh besar bersama atau pun tidak, kita tetap akan bersatu bilamana ketetapan hidupmu adalah saya."


Membaca apa yang dituliskan Jafar, tangan kanan Alma terangkat menyugar surai hitam suaminya kebelakang. Beberapa kali, bahkan ia mendekatkan wajahnya untuk menghirup aroma tubuh Jafar yang memabukkan.


"Iya-iya, saya paham."


Jafar bersandar pada sofa menikmati perlakuan Alma---dengan tangan yang masih mengetik. Dan dua puluh detik berlalu, ia menghentikan gerakan-gerakan lembut istrinya, minta Alma untuk membaca tulisan di gawai.


"Enggak saya nggak capek." Alma menatap pintu sejenak. "Kalau kamu mau keluar, ya udah. Saya tungguin di sini, Mas."


Jafar keluar, dan Alma merebahkan diri di sofa abu-abu panjang itu. Empuk. Mengapa tiba-tiba ia merasa mengantuk? Tidur sejenak, tak masalah bukan? Netranya terpejam perlahan, deru napasnya teratur dan ia telah tenggelam dalam tidur.


...🌺...


Tubuh mungilnya terasa di usik, di goyang perlahan di bagian bahu. Siapa gerangan? Netranya masih terpejam enggan untuk terbuka. Namun lagi-lagi tubuh mungilnya digoyangkan, kali ini di bagian pinggul, spontan netra indahnya terbuka.


"Ya Allah Mas ... saya kirain siapa?"


Alma bangun, mengubah posisinya menjadi duduk.


"Maaf, saya ketiduran."


Jafar menggeleng seolah mengatakan, tidak apa-apa. Tangan Jafar terangkat ikut membenarkan tata letak kerudungnya yang tak beraturan, tersikap ke sana dan ke mari.


"Ada toilet, Mas?"


Jafar ikut berdiri.


"Ka-kamu mau nganterin saya?"


Jafar mengangguk---menarik tangan Alma pelan, menuntut keluar menuju toilet yang satu ruangan dengan tempat ini.


"Masuk."


Melihat gerakkan bibir Jafar, Alma mengangguk. "Tungguin ya, Mas?"


Alma mencuci mukanya, supaya setidaknya terlihat segar, suatu keberuntungan juga ada kaca kecil di sana. Alma mengeluarkan bedak di tote bag dan menepuk tipis-tipis pada wajahnya yang telah kering. "Oke. Seenggaknya kelihatan lebih seger dari pada tadi," gumamnya.


Alma keluar. Dan terlihat Jafar tengah berbincang dengan salah satu stafnya. Sedetik kemudian Jafar berbalik, mungkin staf itu memberitahu kalau ia sudah keluar dari toilet. Jafar mendekat, dan memperlihatkan buku catatan yang di bawa olehnya. "Kita berangkat sekarang. Tidak ada barangmu yang tertinggal di dalam 'kan?" tulis Jafar.


"Nggak ada, Mas. Ayo!"


Cak Yanto telah menunggu di mobil, beliau melajukan mobil dengan kecepatan normal. Lagi-lagi pemandangan ini nampak tak asing, bedanya mungkin kali ini matahari sedang terik-teriknya. Sebentar lagi pun memasuki waktu salat zuhur, Alma perkiraan Jafar pasti akan meminta Cak Yanto untuk berhenti di Masjid terdekat.

__ADS_1


Kling!


Alma pikir gawainya yang berbunyi, ternyata bukan. Gawai yang berbunyi milik Jafar. Dan tiba-tiba saja suaminya itu menggeser duduk untuk lebih dekat, dan menunjuk tulisan yang di ketik tadi. "Ummi tadi mengirim pesan, beliau bilang jika bisa sebelum kita pulang harus berkunjung ke panti asuhan sebentar."


"Ada apa, ya? Nggak biasanya." Alma menengok menatap Jafar. "Kamu udah tanya, Mas?"


"Sudah. Sepertinya nanti ini, saya ingin kerja cepat. Jadi saya memutuskan untuk berhenti lima belas menit saja di setiap outlet. Kamu tidak apa-apa 'kan?" tulis Jafar.


Alma mengangguk. "Nggak pa-pa. Biar cepat selesai juga."


"Jika kamu lelah. Kamu bicara kepada saya," tulis Jafar.


"Iya, Mas."


Azan zuhur berkumandang, Jafar mengatakan untuk terus melaju karena perjalanan kurang delapan menit saja, pasti cukup dan saat sampai di outlet mungkin tepat ikamah. Tebakan Jafar benar. Alma ikut turun dari mobil, Jafar langsung memintanya memasuki Mushola, untuk mengambil wudu. Dan salat zuhur dilaksanakan dua kali secara bergantian dan berjamaah: Alma, Jafar, dan Cak Yanto sesi pertama.


Setelah usai, cepat-cepat Jafar memasuki ruang kerjanya. Sedangkan Alma memilih untuk menunggu di mobil saja dengan pintu terbuka bersama Cak Yanto.


"Rencananya Mbak sama Mas Jafar mau punya berapa momongan toh?" tanya Cak Yanto.


Alma yang semula diam bermain gawai, mendongak menatap jok kursi depan. "Kalau mau berapa saya maunya dua aja, Cak. Tapi kalau Allah kasihnya lebih saya mau-mau aja."


"Semoga disegerakan nggih, Mbak."


Cak Yanto menghidupkan mesin mobil saat melihat Jafar telah mendekat. Semua pintu mobil tertutup, pendingin pun dihidupkan, dan Jafar telah masuk. Tujuan selanjutnya, outlet ke tiga, empat, lima, enam dan terakhir outlet ke tujuh.


Sekitar pukul lima sore langit mengeluarkan semburat merah jingga, ia dan Jafar baru saja meninggalkan outlet terakhir. Sebenernya pun harusnya bakda isya Jafar baru pulang, namun karena permintaan Ummi Salamah, suaminya itu harus sesegera mungkin ke panti asuhan.


Tangan kiri Jafar yang memegang gawai di dekatkan. Hingga tangan lelaki itu bertumpu di paha berbalut gamis hitam. "Kamu lelah?" tulis Jafar.


"Sedikit. Kamu gimana? Capek?"


Tangan Jafar terangkat dan mengetik lagi di gawai. "Saya sudah terbiasa."


"Saya nggak tanya kamu terbiasa atau enggak. Saya tanya kamu capek nggak?"


Terdengar helaan napas pelan, tangan kiri dan kanan Jafar kembali mengetik. "Sedikit. Saya sedikit lelah."


"Sini." Alma bergeser lebih memojok, dan menepuk kedua pahanya. "Rebahan sini kepalanya. Saya pijitin juga, biar capeknya hilang."


Netra Jafar melirik ke depan. Alma paham maksudnya, mungkin Jafar tak enak dengan Cak Yanto---dengan perlahan Alma berdeham. "Cacak, Mas Jafar mau tidur bentar, kalau ada apa-apa kasih tau ke saya aja, Cak."


"Inggih, Mbak. Monggo Mas Jafar tidur ndak pa-pa, perjalanannya masih lumayan kok," jawab Cak Yanto.


Alma memiringkan kepala dengan alis sebelah yang terangkat. "Ayo rebahan sini. Nggak pa-pa, Mas."


Kepala Jafar direbahkan pada paha Alma, tubuhnya miring sedikit meringkuk. Usapan lembut di dahi yang menjadi sambutan pertama membuat rasa kantuk menyerang mendadak. Netra Jafar terpejam menikmati usapan.


"Udah sampai mana, Cak?"


Cak Yanto menjawab, "Masuk gang jalan raya, Mbak."


"Habis ini sampai, ya Cak?"


"Bentar lagi Mbak, ndak pa-pa biarin Mas Jafarnya istirahat," jawab Cak Yanto.


Mobil daihatsu hitam memasuk pelataran panti asuhan Al-Hikmah, kening Alma mengerut melihat di depan rumah Umma Sarah nampak begitu banyak santri senior, terlihat ada Banyu juga yang biasanya membantu acara satu bulan sekali di panti. Ada apa? Semua baik-baik aja 'kan? Alma menunduk sejenak, menggoyang tubuh Jafar pelan.


"Mas ... Mas Jafar, udah sampai. Ayo turun Mas."


Netra Jafar terbuka perlahan. Cak Yanto sudah turun terlebih dahulu memasuki kediaman Umma Sarah. Sedangkan Jafar yang baru terbangun nampak bingung juga melihat betapa ramainya di luar sana.


"Saya juga nggak tahu ada apa, Mas. Kita turun aja langsung."


Alma dan Jafar turun. Sesaat mendekati ambang pintu ia mendengar suara tangis dari Umma Sarah, dan bisik-bisik orang yang berbicara mengenai Lutfan. Dan tepat saat ia masuk, Ummi Salamah terlihat memeluk Umma Sarah erat, di sampingnya ada Salwa.


"A-ada apa Ummi?"


Salwa yang berada di saat menatapnya dengan berkaca-kaca. "Mas Lutfan kecelakaan, Kak."


Note:


Bagian ini panjang. Semangatin dong, Sayang.


Wkwk. Lagi mood, jadi nulisnya lumayan.

__ADS_1


__ADS_2