
...Mohon maaf kemarin nggak update because sedikit lelah :)...
...Saya sengaja up malam. Selamat membaca~...
...•...
...•...
Asshalaatu khairum minan naum
Asshalaatu khairum minan naum
Mendengar azan subuh, Alma terbangun dari tidur. Saat netranya terbuka, seperti biasa ia tidak menemukan Jafar berada di sampingnya. Ia mengambil posisi duduk menyamping, menyikap selimut dan turun dari ranjang---menuju kamar mandi.
Tiga menit berlalu ia keluar dari kamar mandi, dan berjalan mendekati meja rias, saat dari kejauhan ia baru menyadari bahwa ada selembar kertas yang terletak di sana.
"Saya ada pekerjaan mendadak subuh ini. Setelah pulang saya akan ikut mengantarmu ke rumah sakit. Di atas meja makan, saya sudah menyiapkan sarapan untukmu dan Ummi.
- Jafar," tulis Jafar.
Seusai membacanya, Alma melipat kertas itu kembali. Seperti bisa ia menyimpannya bersama kertas-kertas lainnya. Entah malam itu bisa dikatakan pertengkaran atau pun tidak, ia tetap merasa bahwa hatinya begitu sakit---untuk menjadi yang pertama atau kedua pun tidak akan ada artinya. Karena baginya pernikahan yang selama ini ia pahami ialah kedua orang yang hidup bersama hingga salah satu nyawa terjemput.
"Alma ..."
Suara panggilan itu dibersamai dengan ketukan pintu. Mertuanya itu membuka pintu dan masuk.
"Nak, sudah sholat?"
Alma tersenyum. "Ini Ummi. Alma mau sholat. Ummi sudah?"
"Ummi lagi haid, Nak. Kalau gitu Ummi tunggu di meja makan, ya?"
Ummi Salamah pamit. Dan Alma telah mengambil wudu untuk melaksanakan salat dua rakaat. Setelahnya ia cepat-cepat mengganti pakaian dengan gamis hitam serta kerudung navy, lantas menuju ke meja makan.
"Ini pasti Masmu yang masak, Nak."
__ADS_1
Alma mengangguk. "Iya, Ummi. Beliau tinggalin pesan buat Alma tadi."
Dalam kebisuan mereka melahap habis sarapan. Alma telah usai membersihkan meja makan, lantas ia mencuci piring serta gelas kotor tadi. Setelahnya, ia kembali duduk---Ummi Salamah meminta waktu untuk berbincang sejenak.
"Kamu bertengkar sama Jafar, Nak?"
Alma menggeleng. "Enggak, Ummi."
Ummi Salamah telah memperhatikan mata menantunya yang membengkak karena menangis terlalu lama. "Kamu menangis semalaman?"
"Alma cuma bicara sebentar sama Mas Jafar, Ummi. Alma cuma tanya, apa beliau tahu tentang amanah yang Abi minta? Alma cuma nggak mau Mas Jafar ... kecewa," jawab Alma tanpa mengindahkan pertanyaan tentang matanya.
"Kecewa?" Dari kursi seberang Ummi Salamah menggeleng kuat, tangan beliau menyentuh tangan kiri Alma dan kembali berujar, "Apa anak Ummi, akan kecewa setelah memiliki istri seperti menantu Ummi ini?"
"Enggak, Nak. Bahkan Ummi yakin. Abi. Ayah mertuamu akan merasa bahagia melihat putranya menikahi wanita seperti kamu," sambung Ummi Salamah.
Alma sedikit menunduk, melihat tangannya yang disentuh. "Jangan terlalu memuji Alma, Ummi. Alma baru menjadi istri Mas Jafar beberapa hari. Alma takut ... ke depannya akan mengecewakan Ummi dan Mas Jafar."
Terdengar Ummi Salamah menghela napas. "Kamu tahu, Nak. Setiap manusia nggak akan pernah luput dari kekecewaan. Ummi katakan itu wajar, jika suatu saat pun kamu melakukan hal-hal yang mungkin akan membuat Ummi dan Jafar kecewa. Ummi akan mencoba memahamimu, bilamana alasan yang kamu berikan itu tepat, Nak. Bahkan Jafar pun juga akan memahamimu."
Alma hanya mengangguk.
"Ummi ... amanah itu dari suami---"
Ummi Salamah menyanggah, "Ummi tahu, Alma. Amanah itu memang dari suami Ummi, tapi sebagai seorang Ibu, Ummi nggak pernah mau melihat anak yang Ummi cintai harus menjalani pernikahan dengan wanita yang seperti itu."
"Ummi berbicara seolah-olah Azizah adalah wanita yang buruk. Padahal setahu Alma dia adalah wanita yang sangat diidam-idamkan oleh siapa pun, karena kebaik---"
Lagi-lagi Ummi Salamah menyanggah, "Ummi nggak pernah bilang Azizah adalah wanita yang buruk. Azizah baik, dia sempurna, dia memang pantas diidamkan oleh siapa pun. Tapi ... dia sama sekali nggak bersedia hidup bersama putra Ummi, Nak."
"Alasannya apa, Ummi? Bukankah perjodohan itu ditetapkan sebelum ... terjadi kecelakaan?" ucap Alma.
Genggaman tangan Ummi Salamah di tangan Alma terlepas. Beliau menatap lurus ke depan di mana perabotan dapur di susun. "Memang. Dan kamu ... masih bertanya tentang alasannya, Nak?"
"Bukankah sudah jelas? Wanita mana yang mau menikahi lelaki bisu seperti anak Ummi?" imbuh Ummi Salamah.
__ADS_1
Jeda tiga detik Alma berucap, "Lalu kenapa Ummi mau menikahkan anak Ummi dengan wanita seperti Alma? Jelas-jelas Alma juga punya kekurangan. Bahkan Alma juga pernah menghina Mas Jafar di depan Ummi. Lalu apa menurut Ummi ... Alma benar-benar wanita yang pantas untuk mendampingi Mas Jafar?"
"Ummi tahu kamu pernah menghina Jafar. Tapi ... apa kamu pernah mengantungkan suatu hubungan yang seharusnya jelas? Satu kali Ummi membujuk kamu, gagal. Ummi pahami. Dua kali, kamu sudah mulai luluh. Lebih-lebih kamu menyesali perbuatan burukmu, bahkan juga bersedia menikah dengan Jafar, walau kamu meminta waktu tujuh bulan lamanya. Lalu kamu masih bertanya seperti itu? ... " Ummi Salamah menengok menatap Alma yang tengah menunduk dalam dan kembali berujar, "Pantas. Kamu pantas mendampingi Jafar."
"A-alma permisi ke kamar, Ummi."
...🌺...
Pukul delapan pagi. Jafar telah usai dengan urusannya, dari dalam kamar Alma dapat mendengar suara Lutfan yang berpamitan pada Ummi Salamah. Dan sekitar satu menit pintu kamar terbuka---Jafar masuk dengan wajah penatnya.
"Kamu belum mengganti pakaianmu? Kenapa?"
Buku catatan itu Alma berikan kembali ke pangkuan suaminya. Kemudian ia berujar, "Jangan hari ini. Nggak pa-pa 'kan? Sa-saya tiba-tiba ngerasa nggak enak badan."
Jafar mendekat menyentuh kening Alma, yang spontan membuatnya mundur. "Ka-kamu mau ngapain? Suhu tubuh saya nggak naik, kok."
"Sekalipun saya minta kamu untuk tidak memikirkan tentang kejadian semalam, kamu pasti tidak akan bisa. Tapi tolong, kamu percaya kepada saya, Alma. Kamu harus percaya kepada suami ini," tulis Jafar.
"Saya tahu. Kamu bukan orang yang semudah itu menikahi wanita tanpa berpikir panjang, apalagi tanpa restu Ummi." Lagi-lagi dadanya terasa sakit, sesak sekali rasanya. Beberapa Alma mengambil napas dan buangnya dan kembali berujar, "Ta-tapi apa kamu nggak kecewa? Harus menikahi wanita yang bukan pilihan Abimu?"
Jafar menggeleng.
"Kamu memang bukan pilihan Abi. Tapi kamu pilihan Ummi. Bukankah saya sudah pernah bilang, bahwa wanita pilihan Ummi adalah yang terbaik," tulis Jafar.
Alma menghindari tatapan Jafar dengan menunduk.
"Kenapa kamu sebegitu yakinnya?" tanya Alma.
Pantulan dari cermin menampakkan wajah Jafar yang tengah tersenyum simpul. Kemudian ia menunduk menulis jawaban untuk Alma. "Kamu bisa menerima saya. Kamu bisa memahami saya tanpa seharusnya saya berbicara. Lantas keraguan seperti apa yang harus saya jelaskan kepada kamu, Alma?"
"Tidak ada. Sama sekali tidak ada," lanjut Jafar dalam tulisan.
"Jangan terlalu mempercayai saya Jafar. Bagaimana kalau kelak saya mengecewakanmu? Dan membuatmu merasa sial memiliki istri seperti saya?" ucap Alma.
Jafar menggeleng. Dan menuliskan lagi jawaban untuk Alma. "Manusia terbiasa mengecewakan manusia lainnya. Saya memahami bahwa hidup tidak bisa saya atur sedemikian indah dan rapi."
__ADS_1
"Ma-maksudnya?"
"Jadi Alma, jika suatu saat pun kamu mengecewakan saya. Saya akan mencoba memahami situasimu. Saya tidak akan marah sebelum mendengarkan penjelasanmu. Tapi jika saya lalai tolong ingatkan saya, sebagaimana seorang istri mengingatkan suaminya," tulis Jafar.