Almahyra

Almahyra
Bagian 58 (1)


__ADS_3

Satu minggu. Setelah operasi Alma berlalu, luka jahitan pun telah kering, tetapi belum sempat melepas benang. Tentu Ummi Salamah, sang mertua tidak akan pernah mengizinkannya untuk melakukan apa-apa, yang beliau minta hanya istirahat, istirahat, dan istirahat.


Membosankan memang.


Tetapi mau bagaimana lagi?


Semenjak operasi pun, ia hanya bisa merepotkan Jafar. Tidak enak rasanya. Namun seperti biasa, Jafar tak pernah keberatan. Contohnya seperti sekarang, lelaki yang mengendongnya saat ini baru saja mengantar dirinya ke kamar mandi. Sungguh ia bisa berjalan, tak mau digendong, nyatanya Jafar tetap keras kepala tak bisa ditolak.


"Makasih, Mas."


Jafar duduk di tepi ranjang.


"Ohiya, Mas ... waktu operasi hernia kamu bayar pakai cek yang dikasih sama Tante Bunga 'kan?"


Jafar tak menggeleng atau pun mengangguk. Lelaki itu membenarkan tatah letak selimutnya sampai pada dada. "Mas, jawab saya."


"Tidak, Alma. Semua menggunakan uang saya," tulis Jafar.


Alma terdiam beberapa detik, mengkerutkan kening. "Kenapa?"


"Seharusnya, kamu tidak perlu bertanya, kenapa? Karena kamu istri saya, tanggung jawab saya juga membiayai kamu," tulis Jafar.


Alma menghela napas pelan, membuang muka ke sebelah kiri---menghindari Jafar. "Kamu tahu uang itu sebagai bentuk permintaan maaf dari Tante, Mas. Harusnya kamu gunakan ..."


"Jadi pada akhirnya, uang itu buat apa?" Alma menengok menatap Jafar. "Mau kamu kembalikan?"


Jafar menggeleng.


"Terus? Buat apa, Mas? Tujuan Tante Bunga ngasih cek itu buat operasi lho."


Jafar mengangkat buku catatannya. "Untuk pemulihan kamu."


"Pemulihan?"


Jafar mengangguk.


"Saya rasa pemulihan saya nggak ada sampe dua jutaan, Mas. Dan uang yang di kasih Tante Bunga lebih dari itu," jelas Alma.


Jafar menulis. "Lalu?"


Alma terdiam.


"Anggap saya lancang pun tidak apa-apa, Alma. Saya sempat membaca percakapan kamu dengan Tante Bunga di via pesan kamu mengatakan akan mengembalikan uang itu, kan?" Jafar memberi sedikit jeda. "Jadi tidak perlu menggunakan uang itu terlalu banyak. Gunakanlah secukupnya, dan kembalikan saja sisanya. Karena akan lebih baik bagi beliau daripada kamu menggunakan seutuhnya dan mengembalikan utuh pula."


"Iya, Mas."


Alma langsung mengiyakan, tentu itu membuat Jafar terkejut.


Penurut.


"Kamu ingin makan sesuatu?" tulis Jafar.


"Hm?" Alma menatap Jafar. "Makan?"


Jafar mengangguk.

__ADS_1


"Saya nggak laper," jawab Alma.


Tangan kanan Jafar terangkat mengusap surai hitam Alma. Hingga usapan itu perlahan menyamping sampai di pipi kiri Alma.


"Saya nggak mau kamu nulis. Apa harus merasa laper dulu baru kamu mau makan?" Alma mengangguk-angguk. "Iya."


"Saya harus laper dulu baru saya bisa makan, Mas." Kali ini Alma menggeleng-geleng dan menarik tangan Jafar dari pipinya. "Ja ... di, jangan paksa. Titik."


Jafar hanya tersenyum tipis dan mengangguk.


"Kayaknya yang belum makan itu ... kamu, ya?" Alma menyentuh pipi kiri, pipi kanan dan dahi Jafar secara bergantian. "Kamu kok kelihatan kurusan, Mas."


Alma menunduk. "Pasti kamu capek, nyiapin ini itu, ke outlet juga, semuanya sendiri."


Jafar menggeleng. "Saya dibantu Ummi. Ke outlet pun di antar oleh Cak Yanto. Tidak ada yang benar-benar saya lakukan sendiri, Alma," tulisnya.


"Terus kamu udah makan?"


Jafar mengangguk.


Alma paham semua dibantu oleh Ummi Salamah dan Cak Yanto. Tetapi tidak memungkiri bahwa suaminya memforsir diri. Ia ingin segera pulih, supaya sesegera mungkin membantu Jafar. Setelah diam beberapa detik Alma berujar, "Mas, kapan jahitannya ini di lepas?"


"Besok," tulis Jafar.


Alma tiba-tiba saja murung. "Maaf, saya ngerepotin kamu."


Jafar menunduk menuliskan sesuatu yang cukup panjang untuk Alma baca. "Ingin ikut minggu bersama di panti asuhan? Jika iya. Apa kamu bisa ikut saya membelanjakan hadiah untuk anak-anak?"


Terdapat jeda di satu halaman itu. "Saya berencana membeli hadiah besok. Jikalau kamu tidak keberatan setelah pulang melepas jahitan, kita langsung belanja. Tidak apa-apa?"


"Sekalian membeli hadiah untukmu?" tulis Jafar.


Alma teringat semua hal hadiah yang ia inginkan sudah tertulis di buku catatannya. "Iya-iya. Saya sampai lupa lho!"


"Mas, Mas ..." Alma mencondongkan tubuhnya pada Jafar, sedikit mendekatkan wajahnya. "Permintaan saya banyak."


"Jadi, siapin ya uangnya Mas ... Sayang," imbuh Alma.


Tatapan yang terlalu dekat, sangat membuat Jafar gugup sekaligus memerah karena ucapan yang baru dikatakan Alma. Jafar mendorong bahu kiri Alma pelan, mengembalikan posisi istrinya itu seperti semula.


"Ish! Apaan sih, Mas?" Alma cemburut dengan menyandarkan tubuh pada bantal-bantal. "Nggak suka kamu saya dekat-dekat gitu?"


"Nggak suka, hm?"


Jafar menggeleng.


"Hah? Kamu geleng?" Netra Alma melebar. "Beneran nggak suka? Ya Allah, Mas!"


Jafar menunduk secepatnya menulis. Supaya istri yang masih gadis di depannya ini berhenti mengoceh. "Suka. Hanya saja kamu terlalu dekat, Alma. Untuk sekarang, tolong jangan sedekat itu. Setelah pembukaan jahitan kamu boleh sedekat apa pun dengan saya."


Bibir Alma tetap manyun. "Apa hubungannya juga sama jahitan?" ujarnya pelan.


Jafar tersenyum tipis. Senyuman yang sangat sulit Alma pahami maksudnya, setelah membuka jahitan, ya? Alma mengangguk-angguk. "Jadi sampai saat itu saya nggak boleh dekat-dekat kamu?"


"Tentu saja boleh. Saya hanya meminta jangan terlalu dekat," tulis Jafar.

__ADS_1


Alma mulai tegak lagi, kini sedikit mendekatkan tubuhnya. "Segini boleh?"


Jafar mengangguk.


"Padahal Mas, sesudah operasi dan jahitan belum kering jarak kita lebih dekat dari ini lho." Alma tersenyum jahil. "Contohnya, waktu kamu ... kecupan singkat di ... bibir?"


"Kamu nggak lupa kita pernah---" Mulut Alma dibungkam oleh tangan kanan Jafar, wajah lelaki itu masih memerah sampai pada telinga. Alma tak pernah memungkiri di kala suaminya sedang malu-malu seperti ini nampak begitu menggemaskan.


"Hmhmhm." Alma menarik tangan Jafar, supaya ia bisa berbicara leluasa. "Mas! Bungkam-bungkam mulut segala, kamu, ih!"


"Kenapa? Malu?"


Tiba-tiba saja terdengar ketukan dari luar kamar. Di susul suara yang amat Jafar dan Alma kenali. Lutfan? Apa benar itu suara lelaki tengil yang cerewet? Alma begitu merindukan adik apirnya.


"Lutfan, Mas!" Jafar bangkit dari ranjang, mengambil kerudung bergo instan. "Saya pak .. ai."


Jafar memakaikan kerudung Alma. Memang perhatian semacam ini, singkat. Namun bagi Alma sangat terasa berbeda. Istimewa.


"Makasih, Mas." Alma bangkit, mendekati ambang pintu. "Lutfan!"


"Eh ... Kakak ipar," ucap Lutfan dengan senyuman lebar---lelaki tengil itu duduk di kursi roda.


Tidak menyedihkan, tidak sedikit pun Alma merasa kasihan. Lutfan tak membutuhkan itu. Lutfan lebih membutuhkan dukungan dari seluruh keluarga.


"Gue mau ketemu sama Mas Jafar ada, Ukhti?" Ucap Lutfan lagi. Tetap saat itu Jafar telah berdiri diri dibelakang Alma. "Mas, aku mau bahas tentang outlet sama sampean. Bisa?"


Jafar mengangguk. Mungkin akan ke ruangan kerja, yang mana itu berdekatan dengan kamar Ummi Salamah, yang dulunya juga itu adalah ruang kerja milik mertua laki-lakinya.


"Alma ..."


Alma terkejut, kiranya Mardiyah tak ikut. "Mar. Kamu ikut?"


"He'em." Mardiyah menatap ke arah Lutfan. "Aku harus ikut ke mana pun dia pergi."


Raut wajah Mardiyah tetap datar, tetapi tatapannya pada Lutfan kian terlihat tulus. Alma tidak tahu, cinta tidak akan semudah itu disembunyikan, sekalipun Mardiyah membisu sebagai perempuan Alma tetap mengetahui.


"Gimana ... rasanya jadi istri, Mar?" tanya Alma dengan tertawa ringan. "Ganti aku yang tanya nggak pa-pa 'kan?"


"Nggak pa-pa." Mardiyah menghela napas. "Biasa aja, rasanya."


Alma terdiam. "Ka ... mu sama Lutfan baik-baik aja kan?"


Mardiyah mengangguk.


"Tapi ... kenapa jawaban kamu gitu?"


Mardiyah menengok pada Alma. "Gitu, gimana?"


"E-enggak gimana-gimana." Alma tidak jadi bertanya tatapan Mardiyah menyeramkan. "Aku cuma tanya kok."


"Urusi walimatul'ursy aja. Kelihatan bakal jadi acara besar." Mardiyah memutuskan kontak matanya. "Iya kan?"


"I-iya. Acara kamu juga siapin."


Mardiyah menghela napas. "Lutfan nggak mau ada walimatul'ursy."

__ADS_1


[.]


__ADS_2