Almahyra

Almahyra
Bagian 18


__ADS_3

...18 : Bunga Yang Layu...


" ... karena seberusaha apa pun kamu mengatakan, kalau dirimu baik-baik aja, itu akan sia-sia. Karena Ummi, jelas bisa melihat kebohongan itu di matamu."


Alma terdiam dan hanya sanggup menunduk dalam. Apa yang dikatakan oleh Ummi Salamah itu benar, karena sungguh ia merasa tak baik-baik saja sampai saat ini.


"A-alma harus gimana Ummi ... ?"


Ummi Salamah kian mendekat dan mengambil piring berisikan nasi tim dengan ayam suir yang baru beliau buat. "Ummi minta kamu makan, Alma."


Tangan kanan Alma perlahan mengambil makanan itu dan melahapnya dengan bersandar di dinding samping ranjang.


"Mau minum?"


Alma mengangguk.


"Ba'da magrib kita akan berangkat ke rumah Bibimu, Nak," ucap Ummi Salamah.


Alma mendongak menatap netra Ummi Salamah seolah-olah bertanya mengapa harus malam ini berangkat? Bukankah ... esok pagi Bibi Maryam dan Paman Idrus tiba?


"Pamanmu menghubungi Umma Sarah lagi. Bahwa penerbangannya adalah hari ini. Dan beliau bilang, kamu bisa datang lebih awal untuk menyambut kedatangan Bibimu," jelas Ummi Salamah.


Menyambut kedatangan Bibi?


Apa yang Paman maksud menyambut kedatangan jasad Bibi?


"Iya," jawab Alma lirih.


Lagi-lagi ia hanya sanggup menghela napas, dan menghapus sisa-sisa air mata di pipinya. Kehilangan ini terulang kembali, bahkan keadaannya saat ini hampir sama dengan hari di mana Ibu kandungnya pergi. Namun yang berbeda ia memiliki tempat berteduh dan bersandar dari kesedihan. Bahkan masih ada seseorang yang menemaninya di masa-masa duka yang menyakitkan.


Tidak seperti dulu.


Namun kesakitan ini hampir sama seperti dulu.


Pada akhirnya satu bunga yang memenuhi hari-harinya selama hampir delapan tahun, menyusul layu membersamai bunga yang terlebih dahulu pergi.


Bibi Maryam akan menemui Ibunya, Anggraini.


"Kamu mau mandi?


Alma menggeleng.


"Kalau gitu kamu ganti baju dulu. Habis ini Ummi jemput lagi, kamu magriban di sini sama Ummi," jelas Ummi Salamah.


Alma mengangguk. "Iya."


Ummi Salamah pamit. Dan Alma tetap bergeming, seolah-olah tak bisa melakukan apa-apa. Bahkan lagi-lagi air matanya jatuh tanpa aba-aba, tangan kiri dan kanannya meremas gamis hitam yang digunakan secara bersamaan.

__ADS_1


"Ke-napa air mata ini te-terus turun?"


Dengan mengusap kasar pipi kiri dan kanannya Alma kembali bergumam, "Alma ... terbiasalah. Nggak perlu semenyedihkan ini ... nggak perlu, Alma. Nggak perlu."


"Kamu pernah ngerasain hal ini beberapa kali, 'kan? La-lu kenapa kamu harus semenyedihkan ini?!"


Alma menggeleng kuat.


"Berhenti menangis Alma ..."


Terdengar suara azan magrib berkumandang. Alma baru menyadarinya, bahwa ia benar-benar terlalu lama meratapi kesedihan, hingga senja menjelang tiba pun ia belum berganti pakaian seperti permintaan Ummi Salamah tadi.


Spontan Alma berdiri, dan seketika jatuh terduduk di ranjang. Ia lupa kakinya luka, akibat terjatuh di tanah. Maka lagi-lagi ia berdiri perlahan dan menuju lemari kayu, membukanya dan mengambil abaya hitam serta kerudung cokelat dan segera memakainya dengan duduk di ranjang.


"Alma ... "


Terdengar suara ketukan pintu dengan panggilan dari luar kamarnya.


Itu pasti Ummi Salamah.


"Nak, Ummi masuk ya?"


Pintu terbuka perlahan, Ummi Salamah telah berganti pakaian mengunakan; abaya hitam serta kerudung senada. Beliau melangkah mendekati Alma dan bersiap menatah sajadahnya di samping ranjang bawah Alma.


"Sudah tayamum, lagi?"


Salat magrib pun dilaksanakan dengan di imami oleh Ummi Salamah. Lima belas menit berlalu, mukena Alma telah digantung kembali oleh Ummi Salamah, sedangkan mukena beliau diletakkan di atas meja kamar asrama Alma.


"Kamu di sini dulu. Ummi mau ke kantor Umma, biar Mardiyah jemput kamu pakai motor," ujar Ummi Salamah.


"Aku bis---"


"Ummi tahu. Tapi kakimu masih sakit, jadi lebih baik naik motor. Kamu tunggu sini!" tegas Ummi Salamah.


Alma pasrah---mengikuti keinginan Ummi Salamah. Ia hanya bisa menunggu, di depan kamar asrama dan berdiam diri di sana. Ia mencoba melangkah perlahan mendekati kamar Kirana dan Inayah---yang ternyata sepi tiada orangnya.


Mungkin mereka keluar.


Tin-tin!


Suara klakson tiba-tiba terdengar dari arah kiri jalan, dan ternyata Mardiyah telah datang dengan motor matic---yang mana dipakainya tadi, milik Lutfan.


"Aku bantu---"


Alma menyanggah, "Nggak usah, Mar. A-aku bisa."


"Oke. Hati-hati naiknya," ucap Mardiyah dengan memperhatikan Alma yang perlahan-lahan naik ke atas motor dengan memegangi punggungnya.

__ADS_1


"Sudah?"


Alma telah duduk dengan nyaman. "Sudah, Mar."


...🌺...


Sekitar pukul 20.15 WIB ambulans dan mobil BMW hitam tiba di kediaman Paman Idrus---di mana ambulans itu berisi jasad Bibi Maryam. Alma, Ummi Salamah, Umma Sarah, Jafar dan Lutfan menatapi jasad Bibi Maryam yang dibawa turun dari kendaraan, di susul Paman Idrus serta keluarganya turun.


Sungguh telah Alma coba untuk tetap kuat, melihat Bibi Maryam yang telah terbaring lemah tak berdaya. Namun lagi-lagi ia hanya manusia, air mata kembali membasahi pipinya satu persatu.


"Bibi," gumam Alma pelan.


Tangan kanannya di genggam erat oleh Ummi Salamah, seolah-olah memberikan kekuatan kepadanya agar sanggup melewati ini semua.


Jasad Bibi Maryam telah diletakkan di ruangan keluarga. Kemudian tak lama netra milik Alma bertemu pandang dengan Paman Idrus---yang mana beliau melukiskan senyum palsu saat bertemu dengan anak angkatnya.


Ibu ...


Bibi mau aku panggil Ibu, kan?


Aku mohon Ibu ... Ibu bangun ...


Alma tidak sadar, setelah pandangannya dengan Paman Idrus terputus, ia terus menerus menatapi Bibi Maryam. Dan ternyata, Paman Idrus telah duduk di dekatnya dengan lagi-lagi melukiskan senyum yang Alma lihat begitu menyakitkan.


"Putri Paman, semakin cantik," ujar Paman Idrus.


Air mata Alma lolos kedua kalinya. Dengan menggeleng kuat ia berkata, "A-ayah, ja-jangan sebut diri Ayah itu Paman."


"Ayah ..."


Tangan Paman Idrus terangkat mengusap lembut pucuk kepalanya yang terbalut oleh kerudung. "Putri Ayah ... tolong do'a kan Ibumu, Nak."


Alma hanya sanggup mengangguk.


Paman Idrus mengeluarkan amplop putih, dan sebuah tempat berwarna merah. "Ini, dari Ibumu."


Tangan kanan Alma menerimanya perlahan. "Surat dan ...?"


"Cincin pernikahan."


Spontan saja jantung Alma berdetak lebih kencang. Bahkan yang meminta ia untuk menikah bukan hanya Ibu kandungnya saja, namun Bibi Maryam---Ibu pengganti yang amat ia sayangi dan cintai memberi amanah untuk ia sesegera mungkin menjalankan ibadah ini.


"Sedikit pun, beliau tidak memaksa kamu menikah secepatnya, Nak. Beliau hanya ingin, kamu segera menikah, agar ada seseorang yang bisa beliau percayai untuk menjaga kamu ..." Paman Idrus menjeda. Beliau mengalihkan pandangannya kepada Istri beliau dengan sendu, lantas kembali berujar, "Dan mengenai cincin pernikahan itu, adalah pilihan dari Ibu penggantimu, Nak."


"Tolong pakai cin---"


"Alma mau menikah sekarang," sanggah Alma secepatnya.

__ADS_1


__ADS_2