
"Saya nggak tahu apa pun tentang amanah itu. Tapi ... apa ka-kamu benar-benar akan menikah wanita itu, Jafar?"
Jafar terdiam---hanya menatapi netra istrinya yang entah mengapa seakan-akan menyiratkan kesakitan. Netra indah yang seperdetik tadi dilihatnya tiba-tiba meneteskan air mata.
Bahkan Jafar merasa kesakitan yang tersirat dari netra Alma lebih menggambarkan luka yang kian dalam, dibandingkan pertengkaran pagi tadi.
"Saya tahu. Amanah pernikahan itu ... adalah sesuatu yang berat untuk dijalankan oleh sebagian orang." Pandangan itu Alma putus sepihak dengan menatap lurus pada pintu, ia kembali berujar, "Termasuk, kamu."
"Bahkan, juga termasuk saya."
Bulu mata indahnya telah basah oleh air mata yang perlahan turun membasahi bibinya. "Tapi ... saya berusaha sebisa mungkin, untuk me-menerima pernikahan ini."
"Permintaan saya yang tiba-tiba ingin kamu nikahi di depan jenazah Bibi Maryam pun bukan sekedar keputusan disaat duka, Jafar. Semua itu, sudah saya putuskan jauh-jauh hari ... Bahkan kamu sendiri tahu, saya meminta waktu tujuh bulan lamanya."
Ingatan Alma kembali berputar di mana pertama kalinya, ia memberitahu Bibi Maryam atas kesediaannya menerima pernikahan ini. Bibi Maryam bahagia, bahkan seakan-akan ingin memeluknya bila tiada jarak saat itu.
"Kamu tahu kenapa saya meminta waktu selama itu?" Alma menyentuh dadanya yang terasa sesak. Sungguh ia tidak peduli Jafar melihat semua kelemahan diri yang selama ini berusaha ia sembunyikan. "Selain untuk mempersiapkan diri. Sa-saya juga ingin tujuh bulan itu cukup untuk me-nunggu kepulangan Bibi Maryam dari Malaysia."
Alma menggeleng kuat dengan sekilas menatap Jafar. "Saya nggak minta kamu memahami kesedihan hidup saya, Jafar."
"Sa-saya tahu menanggung amanah itu sangat berat. Ka-kalau pada akhirnya amanah yang diminta Abimu adalah menikah dengan wanita itu ..."
Alma menunduk sejenak. "Nikahi dia, Jafar. Sa ... saya akan memberikan izin untukmu."
"Wanita itu bilang ... Ayahnya sakit dan permintaan beliau sendari dulu adalah ingin melihat anaknya menikah ... dengan ka-mu, Jafar." Jeda tiga detik, tangan Alma terangkat mengusap air mata di pipinya perlahan. "Saya tahu rasanya hidup sendiri dan saya tahu bagaimana sakitnya ... saat menikah tanpa hadirnya seorang Ayah."
"Ja ... di, kamu---"
Tubuh ramping Alma yang terbalut pakaian tidur, tertarik masuk dalam dekapan hangat Jafar, segala ucapannya terhenti hanya isak tangis yang terdengar. Kehidupan pernikahan seperti apa yang dibicarakan oleh orang-orang diluar sana? Mengapa sesakit ini? Bahkan dekapan yang seharusnya menenangkan kian menjadi menyakitkan untuknya.
"Be ... besok pagi, nikahi dia, Jafar ..."
Jafar menggeleng kuat. Bagaimana cara mendiamkan wanita di dalam dekapannya ini, yang terus menerus bicara tiada henti. Sungguh ia tidak sanggup mendengar isak tangis yang semakin lama, semakin melukai hatinya.
__ADS_1
"Saya benar-benar mem---"
Pertemuan bibir yang tiba-tiba Jafar lakukan membuat ucapan Alma terhenti, namun air matanya tiada kunjung mereda. Tangan kanan Jafar terangkat menyentuh pipi kanan istrinya, di ikuti pula dengan tangan kirinya menyentuh tengkuk yang tertutupi oleh surai panjang Alma. Bukan sekadar kecupan lagi, lum*tan bibir ia lakukan dengan perlahan dan cukup singkat---sepuluh detik kemudian pun ia lepaskan.
Deru napas antara keduanya beradu. Alma segera menjauhkan dirinya dari Jafar, dan menghapus sisa-sisa air matanya. Jafar pun menjauh, melihat Alma yang hendak mengambil posisi untuk berbaring. Bahkan netra indah itu pun telah terpejam, yang entah benar-benar sudah tidur atau justru mencoba menghindari tatapan suaminya.
Jafar berdiri, berlalu ke kamar Ummi Salamah.
"Jafar? ... Ada apa, Nak?"
Melihat Ummi Salamah terduduk di ranjang dengan tangan kiri beliau yang menyentuh foto Ayahnya pun membuat Jafar mendekat---duduk di samping beliau dan menuliskan sesuatu di buku catatan.
"Apa pernikahan Azizah dan Jafar adalah amanah langsung dari Abi, Ummi?" tulis Jafar.
Ummi Salamah menghela napas dan mengangguk, mengusap perlahan foto suami beliau. "Iya."
"Kamu kecewa karena Ummi menikahkanmu bukan dengan wanita yang dipilih langsung oleh Abimu?"
Jafar menggeleng dan kembali menulis. "Kenapa Ummi tidak berbicara mengenai amanah itu?"
"Tapi pernikahan itu adalah pemintaan Abi sebelum wafat Ummi," tulis Jafar.
Ummi Salamah mengangguk. "Ummi tahu ... Tapi untuk apa kamu menunggu wanita yang sama sekali nggak bisa menerima keadaanmu saat ini?"
"Ummi sama sekali nggak akan pernah rela, kamu harus menderita menjalani kehidupan pernikahan dengan dia."
"Saat itu. Usianya masih sembilan belas tahun 'kan Ummi? Apa Ummi paham? Wanita mana yang tidak menolak saat di nikahkan di usia semuda itu?" tulis Jafar.
"Ummi ngerti, Nak. Semua ini bukan tentang dari usia dia yang masih belia. Kalau pun Azizah meminta Ummi menunggu hingga usianya genap dua puluh tahun pun Ummi mau, Nak." Air mata yang sendari tadi beliau tahan pun akhirnya turun membahasi kedua pipinya. Dengan menghela napas pelan Ummi Salamah kembali berucap, "Tapi nyatanya apa? Dua tahun! Kamu tahu, Jafar? Dua tahun?! Pa-padahal tiga bulan lagi usia Azizah sudah genap dua puluh tahun."
"Ja-jadi kamu masih berpikir bahwa Azizah menolak kamu karena usia? Enggak, Nak! Nggak! Dia menolak karena tahu kamu bukan Jafar yang dulu lagi!"
Isakan tangis Ummi Salamah membuat Jafar bergeming.
__ADS_1
"Ka ... kamu pikir Ummi bisa merelakan anak yang selama ini Ummi kandung dan besarkan dengan kasih sayang, menikahi wanita semacam itu?"
"Yang sama sekali nggak bisa menerima anak Ummi?"
Ummi Salamah menggeleng kuat. "E-enggak, Jafar. Ummi nggak bisa ... Nak. Ummi nggak bisa. Ummi nggak akan pernah rela."
Jafar mendekat---menerima pelukan hangat dari Ummi Salamah serta usapan lembut di kepalanya.
"Ummi nggak pernah sedikit pun berpikir bahwa Azizah adalah wanita yang buruk. Dia baik. Tapi dia sama sekali nggak mengharapkan pendamping hidup seperti kamu, Nak ..."
"Se ... sekarang apa salah? A-apa salah Ummi mencari pendamping yang lebih baik untukmu?"
Jafar menggeleng.
"A-apa waktu kamu mengajak Alma berjalan ke panti asuhan berdua apa di-dia merasa malu?"
Jafar menggeleng.
"A-apa dia pernah mengeluhkan tentang kekuranganmu setelah kalian menikah?
Jafar menggeleng.
"Jadi Nak, a-apa Abimu akan kecewa kepada Ummi? A-apa Abimu akan kecewa karena Ummi menikahkan kamu dengan wanita seperti Alma?"
Jafar menggeleng---melepaskan perlahan pelukan Ummi Salamah. Keduanya menangis, kesakitan yang sama kembali dirasakan lagi. Jafar menunduk menuliskan note. "Maafkan Jafar, Ummi."
"Kenapa kamu jadi meminta maaf? Kamu nggak salah apa-apa."
"Ummi menangis karena Jafar," tulis Jafar.
Ummi Salamah menggeleng. "Ummi menangis karena merasa bahagia melihat kehidupan pernikahanmu dengan Alma."
"Terima kasih, Ummi." tulis Jafar.
__ADS_1
"Jafar ... Ummi minta, perlakuan Alma selayak seorang suami memperlakukan istrinya," ucap Ummi Salamah.