Almahyra

Almahyra
Season 2, Bagian 13 : Ayah Jafar.


__ADS_3

"Mbak, kok aku enggak punya foto waktu kecil sama Ayah?" tanya Rais yang memandangi album foto bersama dengan Dilara di ruang tamu.


"Yang penting kamu punya foto waktu kecil sama Mama, Dek." Dilara tersenyum lebar. Jari kecilnya menuntut Rais untuk menatap pada album foto di bagian kiri. "Lihat, kan? Ada itu. Banyak lagi."


Apa Ayah nggak sayang aku, ya? batin Rais yang tidak termakan bujuk rayu Kakaknya. Ia tahu Dilara tidak berbohong, tetapi Ayah sangat terlihat jelas tidak menyayanginya. Jika bicara pun hanya singkat-singkat saja, beliau juga mengajarinya dengan keras, dan jika salah ia di hukum membersihkan kamar mandi. Mama memang menyayanginya, tetapi tidak salahkan? Jika ia ingin di sayangi oleh Ayah juga?


"Adek kenapa diam?"


"Nggak pa-pa, Mbak. Cuma lagi lihatin foto ini," dusta Rais menunjukkan senyum lebarnya.


Dilara menatap adiknya dari samping. Bulu mata Rais tipis, namun alisnya tebal. Hidung itu juga mancung dan bibir Rais berwarna merah muda. "Mama selalu bilang gini ke Mbak, Dek. Rais itu adeknya Mbak. Mbak harus percaya sama ucapan Mama, nggak boleh percaya sama ucapan orang lain. Terus juga, Mama selalu bilang, kalau Ayah itu baru sembuh, Mbak ataupun adek nggak boleh sering-sering ajak bicara Ayah banyak-banyak."


"Jadi Mama enggak bohong? Ayah dulu pernah sakit benaran? Enggak bisa bicara ya Mbak?" tanya Rais ingin tahu.


Dilara mengangguk-angguk. "Iya. Mama nggak bohong. Dulu itu Ayah malahan enggak bisa bicara satu pun. Mbak kalau lagi sama Ayah jadinya enggak bicara."


"Terus kok bisa sembuh gimana, Mbak?"


"Kata Mama, Ayah ke Dokter makanya Ayah bisa sembuh."


"Gitu, ya?"


"Iya, Dek. Kalau sakit ke Dokter Insya Allah bakalan sembuh, gitu kata Mama."


Dari arah luar terdengar seseorang mengucapkan salam. Dilara sudah bisa menebak, karena gadis itu langsung berlari memeluk Salwa. Sedangkan Rais duduk tegak, dengan menatap kedua perempuan itu saling memeluk.


"Halo, Rais! Assalamualaikum!"


Rais tersenyum lebar dan menjawab, "Waalaikumussalam, Tante Salwa!"

__ADS_1


Dilara masih menempel pada Tantenya, sampai duduk di sofa lagi. Salwa mengeluarkan dua permen milkamu dan menyerahkannya pada kedua ponakan menggemaskan ini.


"Tante ke sini mau ketemu siapa?" tanya Dilara.


"Mama, sama Nenek," jawab Salwa dengan celingak-celinguk. "Di mana, Mama?"


"Lagi anterin Nenek periksa ke Dokter," sahut Rais.


Salwa mengangguk-angguk. "Ya udah Tante tunggu sambil cerita-cerita."


"Cerita apa?" Dilara menggigit permennya. "Tante Salwa kan nggak pinter buat dongeng kayak Kak Kirana sama Om Aldo."


Mata Salwa melotot. Kenapa jadi bawa-bawa Kak Aldo sih? Mana jujur banget bocah-bocah ini, batinnya. "Ya udah. Tante nggak jadi cerita, nungguin aja sambil diam-diaman."



Semakin hari Jafar lihat-lihat Rais semakin rajin. Entah perasaannya saja, atau memang anak Azizah itu sedang mencari perhatiannya. Seperti sekarang, Rais menawarkan diri untuk membantu anak-anak santri membersihkan kamar mandi Masjid, untuk acara Jumat bersama di pesantren.


Jafar pikir otaknya akan beralih pada Salwa. Tetapi matanya semakin fokus pada Rais yang sekarang berjongkok menyikat-nyikat lantai tempat wudu.


"Rais, kamu nggak capek?"


Rais terlihat menggeleng. "Enggak, Mas. Baru juga dua lantai ini nyikatnya."


"Wes ndak pa-pa berhenti dulu, Is. Minum sek. Itu ada Ayahmu, Gus Jafar. Siapa tahu beliau mau bicara sama kamu," lanjut remaja itu yang baru saja berbicara dengan Rais.


Pandangan mata anak angkatnya dan ia saling beradu. Senyuman lebar Rais mengembang dan anak itu berlari menghampirinya.


"Ayah! Ayah, nungguin aku?" ujar Rais.

__ADS_1


Jafar hanya mengangguk.


"Ayah, nanti setelah akunya bersih-bersih aku mau belajar sama Ayah." Rais mendongak menatap Ayahnya. "Boleh? Ayah hari ini enggak sibuk, kan?"


"Boleh."


"Terimakasih, Ayah! Kalau gitu, aku selesain dulu bersih-bersihnya," ujar Rais dan berbalik.



Note:


Setelah tamat Almahyra dan Beda Tiga Tahun. Jelas saya bakal fokus ke Harshada. Tetapi saya mau buat voting gitu sama kalian. Setelah tamatnya kedua cerita saya. Mau bikin cerita siapa dulu?




Vincent - Kirana (Genrenya romance tapi dark. Kalian tahu lah Vincent ini pemilik Honey Bunch alias klub malam dan karaoke. Terus Kirana anak panti asuhan. Selisih umurnya lumayan jauh)




Abhimana - Meera (Masih inget kan? Abhimana yang agak berandal, yang nurut-nurut aja Abhimata. Terus Meera yang di WIYATI juga yang jadi saksi atas pemerkosaan Shanum. Dan Meera juga jadi pelayan di vila keluarga Adiwangsa yang waktu Mardiyah di kurung. Inget nggak? Masalah genre? Romance. Ya gitu sih ceritanya upik abu dan pangeran tampan)



__ADS_1


Udah itu dulu. Sebenarnya mau langsung Rais - Dilara tapi tidak bisa. Saya mau mengurutkan semuanya. Dan yang menunggu cerita Lingga - Cassia - Abhimata, nanti. Setelah tamatnya Harshada.


Jadi dari kedua itu tolong silakan pilih nomor 1 atau 2 ? Kalau nggak ada yang komen, yaudah saya yang milih sendiri.


__ADS_2