
Bakda isya Jafar pulang---sekitar setengah delapan. Alma telah siap menggunakan lingerie untuk menyambut suaminya itu di depan pintu kamar, dengan senyum manis.
"Waalaikumussalam. Sini, tangannya," ucap Alma dengan mengambil tangan kanan Jafar. Namun ditahan oleh sang empunya.
"Saya ... saya mau salim."
Jafar mengangguk dengan senyum tipisnya, ia membiarkan Alma mencium punggung tangannya.
"Saya udah buatin kamu teh. Mau minum sekarang?"
Jafar menggeleng---tangannya menunjuk kamar mandi.
"Ya udah kamu ke kamar mandi dulu, ganti bajunya juga."
Sekitar dua menit Jafar keluar, menggunakan kaos putih polos dan mengambil duduk di tepi ranjang. Alma kemudian beranjak mengambilkan teh yang sudah hangat untuk di nikmati suaminya.
"Tadi kamu mampir ke rumah sakit, Mas?"
Jafar mengangguk, ia telah meneguk habis segelas teh itu. Tangan Jafar beralih membuka laci nakas pertama mengambil pena dan kertas di sana. "Ummi juga ada di sana. Beliau bilang, beliau menginap," tulis Jafar.
"Te ... rus besok Ummi ikut?"
"Iya. Beliau akan pulang subuh dan istirahat sejenak di rumah. Kita akan berangkat sebelum sholat Jumat," tulis Jafar.
Alma mengangguk kecil. "Okay."
Tiba-tiba saja ia berbedar-debar, tangannya kembali basah dan dingin---ia gugup untuk besok. Tetapi entah mengapa membicarakan tentang rumah sakit sejenak saja membuatnya tak karuan. Alma duduk menyandar pada bantal-bantal yang ditumpu, ia mengambil dan membuang napas sesekali.
Netranya terpejam. Alma seakan-akan lupa jika di sebelahnya ada Jafar, karena tiba-tiba saja tangan hangat menggenggam jari jemarinya. Netra indahnya kembali terbuka. "Mas ... sa-saya takut," lirihnya.
"Gimana kalau ... pas sampe sana saya nggak berani masuk?"
Alma menunduk, dan ikut menggenggam erat jari jemari suaminya. "Saya tahu ini operasi kecil. Ta-tapi saya nggak bisa mengendalikan rasa takut saya Mas."
"Saya ..." Alma melepas genggaman tangan Jafar, dan meletakkannya tepat di dada. "Jantung saya ... kamu ngerasainkan?"
Alma menggeleng kuat dengan masih menggenggam pergelangan tangan Jafar. "Saya nggak tahu kenapa bisa gini. Saya ... saya tiba-tiba takut, Mas."
Tangan Jafar yang berada tepat di dada Alma menjalar ke atas melewati bahu hingga berhenti di punggung sang istri. Dekapan ini selalu hangat dan menenangkan, namun Alma tak bisa berbohong, ia tetap merasa takut.
"Dokternya ... cuma Dokter Indira aja, kan Mas? Nggak ada yang laki-laki? Saya makin takut saya juga malu kalau ada yang laki-laki."
Usapan lembut terasa di kepala belakangnya, tangan Jafar telah beralih mengusap-usap rambut. Alma teringat, hal lain. Kemudian mendorong Jafar pelan untuk melepaskan pelukan. Tidak-tidak untuk apa ia mengeluh? Ini hanya akan menambah beban pikiran suaminya, ia tak boleh seperti ini.
"Mas ... Mas Jafar, lepas dulu."
Pelukan terlepas. Jafar kembali mengambil buku dan penanya untuk menulis. "Kamu sudah membaik?"
"Udah." Alma mendongak menatap netra suaminya. "Kamu capek, kan? Udah makan? Mau saya pijatin? Atau kamu mau langsung tidur?"
Jafar menggeleng.
"Kenapa?"
Jafar menggeleng lagi.
"Besok kamu pasti makin capek Mas, nganterin saya, ke outlet lagi, terus pasti kamu mau lihat Lutfan juga 'kan?"
Jafar mengangguk.
"Saya paham kok, Mas. Jadi, ayo istirahat." Tangan Alma terangkat mengusap dahi Jafar yang tertutup anak rambut. "Saya tanya tadi kamu udah makan?"
Jafar menggerakan bibirnya. "Belum."
"Belum?" Alma menghela napas pelan. "Kamu kenapa jadi kayak gini? ... Kamu tunggu sini. Saya ambilin kamu makan dulu."
Alma mengambil selendang di lemari. Kemudian ia ke dapur mengambil makanan, ia tadi sempat memasak oseng tempe dan kacang, lauknya ikan mujair goreng. Setelah usai, ia kembali ke kamar lagi dan memberikan langsung sepiring makanan pada Jafar.
"Makan. Saya tungguin."
__ADS_1
Piring itu tidak di ambil alih oleh Jafar.
"Kenapa nggak di ambil? Kamu mau saya suapi?"
Jafar menatapnya dan menggerakkan bibir. "Boleh?"
"Boleh?" Alma mengangguk kecil. "Boleh, Mas. Kamu geser dikit, saya mau duduk hadap-hadapan biar gampang nyuapinnya nanti."
Sendok itu terangkat. "Aak ... buku mulutnya Mas."
Perlahan-lahan Jafar mengunyah makanan yang di suapkan oleh Alma. Tangannya menulis di buku catatan. "Ummi bilang tadi Dimas mengambil air mineral di rumah. Kamu menungguinya?" tulis Jafar.
Alma menggeleng pelan. "Saya nggak nungguin dia. Saya juga nggak temuin dia. Tadi Kirana yang saya suruh nungguin."
Suapan kedua Jafar menulis balasan. "Itu lebih baik. Saya tidak mau menyalah pahami kamu lagi, Alma."
"He'em." Alma mengangguk kecil dan menyuapi Jafar lagi. "Saya juga nggak mau kamu mikir macam-macam."
"Itu bukan pikiran macam-macam, Alma. Karena laki-laki terkadang condong memikirkan hal-hal semacam itu. Saya tidak mengatakan wajar, tetapi memang itu nyatanya," tulis Jafar.
Membaca tulisan suaminya membuat Alma menatapi netra Jafar dengan kian dalam. "Jadi kamu ... juga condong memikirkan hal-hal yang kamu maksudkan ini?"
"Terkadang." Netra Alma terbelalak, bahkan spontan ia terbatuk-batuk. Namun Jafar kembali meneruskan tulisannya. "Tetapi untuk sekarang tidak, Alma."
Terdapat jeda di buku catatan itu. "Saya sudah menikah, dan saya bisa melakukannya langsung tanpa harus memikirkan hal-hal semacam itu."
Spontan Alma terbatuk-batuk lagi. Perbincangan macam apa ini? Ia menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga, bersiap menyuapi Jafar lagi. Supaya kegugupannya tertutupi. Ia paham ia telah menikah, tapi agaknya ini masih aneh untuknya.
"Aakk ... bu-buka lagi mulut kamu."
Tidak ada lagi perbincangan antara dirinya dan Jafar, hanya suapan serta saling tatapan yang keduanya lakukan. Hingga suapan terakhir, Alma memberikan air mineral untuk Jafar minum.
"Habis."
Alma meletakkan piring dan gelas kotor di meja abu-abu dekat pintu. Kemudian ia menyusul duduk lagi di sebelah suaminya. "Mas tadi gimana keadaan Lutfan? Lutfan udah sadar? Dia baik-baik aja 'kan Mas?"
"Alhamdulillah. Terus tadi ngobrolin apa aja Mas?
"Lutfan tanya, siapa yang menghandle outlet-outlet di luar kota. Saya benar-benar tidak habis pikir, pertanyaan dia bisa sampai ke sana. Dia memang benar-benar menyebalkan, Alma. Saya benar-benar ingin memukul dia detik itu juga!" tulis Jafar.
Alma tertawa ringan. "Saya benar-benar berharap tawa dari Lutfan nggak akan pernah hilang. Saya lebih suka kalau dia banyak bicara, saya juga suka kalau dia manggil saya ukhti, Mas."
"Saya senang, Lutfan bisa menebar tawa untuk orang-orang. Bahkan kamu juga merasa bahagia," tulis Jafar.
"Semua keluarga kamu benar-benar menebar bahagia untuk orang-orang, Mas. Entah Umma, Ummi, Lutfan, Kiai, kamu dan semuanya. Saya benar-benar beruntung memiliki kelurga baru yang begitu harmonis," ucap Alma.
Jafar tersenyum tipis menatap istrinya dan sedikit menunduk untuk menulis. Sekitar beberapa detik buku catatan Jafar terangkat, di tunjukkannya untuk Alma. "Justru saya merasa beruntung. Terima kasih telah terlahir di dunia ini untuk menjadi istri saya, Alma."
"Eh, bibir kamu ..." Alma mengusap lembut benda kenyal itu, terdapat sisa-sisa minyak bekas makanan tadi. "Udah. Bersih."
"Sama-sama, Mas." Alma tertawa ringan. "Kita nggak perlu ngeributin siapa yang lebih beruntung. Karena kita sama-sama beruntung."
Alma merentangkan kedua tangannya. "Sini peluk."
Jafar menerima pelukan itu, kebiasaannya kembali datang. Ia menyusup pada leher samping Alma, dengan menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi leher istrinya. Harum. Aroma tubuh Alma selalu ia sukai, kecupan-kecupan kecil mendarat disekitar leher Alma---Jafar tak berniat melakukan hal lebih, ia hanya menikmati sesuatu yang ia sukai dari tubuh istrinya.
Suara panggilan masuk membuyarkan suasana panas yang baru terjadi beberapa saat ini.
"Ponsel saya bunyi, Mas." Alma mendorong pelan Jafar. "Se-sebentar."
Gawai terletak di meja samping ranjang Alma ambil, ia melihat siapa yang menghubunginya. "Ummi, Mas yang telepon."
Alma meng-klik tombol hijau.
"Assalamualaikum, Alma."
"Waalaikumussalam Ummi."
"Masmu sudah pulang? Ummi kirim pesan kok nggak di balas?" tanya Ummi Salamah.
__ADS_1
Alma menatap lurus suaminya. "Sudah Ummi. Kayaknya ponselnya Mas Jafar mati. Ummi mau video call?"
"Enggak-enggak usah, Nak. Kalau emang Masmu udah pulang ya udah. Ummi cuma khawatir aja. Jangan lupa Masmu disuruh makan," ucap Ummi Salamah.
Alma menjawab, "Udah Ummi. Barusan ini Mas makan."
"Ya udah kalian istirahat. Ummi matiin, ya?"
"Iya. Ummi juga istirahat."
Sambungan terputus dari pihak Ummi Salamah. Alma kembali mengambil duduk di samping Jafar, dan bertanya, "Ponsel kamu mati? Ummi kirim pesan kenapa nggak kamu balas?"
Jafar mengangguk.
"Sekarang di charger?"
Jafar mengangguk.
"Ya udah. Sekarang saya mau cuci piring sebentar." Alma beranjak dari tepi ranjang, tangannya telah mengambil alih piring dan gelas kotor di meja. "Kamu mau ikut?"
Jafar beranjak, dan mengambil alih piring serta gelas kotor dari istrinya. Ia berjalan terlebih dahulu meninggalkan Alma.
"Kamu ini ... yang ngajak siapa yang pergi duluan siapa? Saya malah ditinggalin."
Saat Alma telah sampai di dapur. Jafar telah berdiri di depan wastafel dengan spon di tangannya, buru-buru Alma mendekat dan mengambil alih. "Ih, Mas! Kamu ini ... saya ngajak kamu itu cuma minta di temenin, bukannya kamu yang nyuci."
"Lepas nggak?" ucap Alma dengan menarik spon dari tangan kanan Jafar.
"Mas, lepas! Kamu ini kebiasaan. Saya aja, kok!"
Jafar menggeleng dan menggerakan bibirnya. "Duduk."
"Nggak mau!" Alma tetap menarik spon itu. Hingga tarikannya yang terlalu kuat, ia tak sadar bahwa lantai di bawahnya basah. Alma hampir jatuh jika Jafar tak spontan narik pinggangnya.
Napas Alma tersengal-sengal. "Ham ... pir aja. Kamu sih, lepasin sponnya Mas. Biar saya aja!"
Jafar tetap kekeuh tak mau melepaskan spon dan tangan suaminya itu tetap lihai mencuci. "Oke! Bagi dua aja. Bagi dua, Mas," ucapnya.
Jafar mengangguk dengan menunjukkan senyum manisnya.
"Kamu piring-piring. Saya gelas-gelasnya."
Sekitar lima belas menit keduanya sibuk mencuci perabotan makan yang kotor sembari bermain air bersama. Setelah itu keduanya kembali ke kamar, dan Alma langsung merebahkan diri dengan terlentang di ranjang.
"Capek juga, ya?" Alma melihat lingerie bagian atasnya yang basah. "Mana basah juga. Kamu mah keterlaluan, Mas ... Bisa-bisanya kamu nyiramin saya sebanyak itu?"
Jafar menyusul merebahkan diri dengan menghadap pada Alma, dan memeluk perut istrinya itu dari samping. Deru napas Jafar terdengar oleh Alma karena bibir suaminya itu tepat berada di rahang kirinya.
"Kamu capek juga, ya?" Alma tertawa ringan saat merasa Jafar mengangguk dan tersenyum. "Kamu nggak mau ganti baju dulu?"
"Nanti ranjangnya basah, Mas."
Jafar menggeleng.
"Kok geleng? Kamu beneran nggak mau ganti baju? Nanti masuk angin lho!" Alma hendak mengambil posisi duduk. Namun di tahan oleh tangan suaminya. "Saya mau ganti baju tidur lagi, Mas."
"Dingin."
Jafar kian mendekapnya, seakan-akan memberi kehangatan untuknya. "Pelukan kamu nggak mempan, Mas. Soalnya baju kamu juga basah."
"Udah, ah!" Alma mendorong Jafar dengan sekuat tenaga, hingga suaminya itu terlentang melepas pelukan. "Ayo ganti baju dulu."
Tangan Jafar terangkat jarinya menampilkan angka dua.
"Apa?"
Bibir Jafar bergerak dengan tangannya yang tetap menampilkan angka dua. "Berdua."
Alma mengangguk kecil dengan kedua pipi yang memerah. Tangan kiri dan kanannya menarik tangan Jafar untuk bangun. "Iya Mas ... berdua. Ayo bangun, ganti baju. Habis itu kita tidur."
__ADS_1