
"Lutfan nggak mau ada walimatul'ursy," ucap Mardiyah.
Netra Alma melebar. "Kena---"
"Nggak usah tanya kenapa, Alma. Karena sampai kapan pun aku dan kamu nggak akan tahu perasaan Lutfan. Sekali pun aku coba pahami, tetep aja nggak bisa ..." Tatapan Mardiyah lurus. Namun Alma bisa memahami kegundahan hati Mardiyah. "Lutfan pembohong. Kenapa dia harus pura-pura senyum di depan kamu dan Jafar?"
Terdengar helaan napas Mardiyah. "Aku enggak peduli dia nganggap aku ada atau pun enggak. Tapi ... rasanya sakit, Alma ..."
Air mata tiba-tiba saja menetes di sisi kiri pipi Mardiyah. "Harus melihat Lutfan berubah, melihat Lutfan berpura-pura, semuanya sakit."
"Apa kamu ..." Mardiyah menengok menatap Alma. "Juga merasa sesakit ini Alma saat melihat Jafar?"
Iya.
Mardiyah benar.
Tidak akan pernah ada orang yang benar-benar memahami perasaan Lutfan, atau pun juga Jafar. Karena sungguh menjadi laki-laki yang selalu bergelar melindungi perempuan, tentu akan sangat membuat Lutfan merasa tak berguna. Sama, seperti Jafar dahulu.
"Wajar, Mar." Netra Alma menatap Mardiyah dalam. "Kalau kamu tanya gitu ..."
Alma mengangguk. "Sama."
"Kalau kamu tetap nggak bisa memahami Lutfan. Cukup kamu berada di sampingnya, Mar ... kamu bertumbuh bersama dengan dia waktu kecil, kan?" Alma mengusap hidungnya. "Aku percaya, Lutfan bakal bahagia sama kamu, Mar. Pasti," imbuh Alma.
"Semoga," ujar Mardiyah.
Terdengar pintu ruang kerja terbuka. Alma dan Mardiyah diam seketika mengusap air matanya, terlihat Jafar mendorong kursi roda Lutfan. Senyum pura-pura itu masih terlihat jelas. "Ukhti, sehat?" tanya Lutfan.
Alma mengangguk. "Iya. Alhamdulillah."
"Nanti kalau udah walimatul'ursy, boleh lah kasih aku ponakan." Lutfan berganti menatap Jafar. "Ya, Mas? Sampean sanggup kan hadiah aku ponakan gemoy?"
"Kamu juga kasih saya sama Masmu ponakan dong," sahut Alma.
Lutfan tertawa ringan. "Tenang."
"Kalian langsung pulang?" tanya Alma.
Lutfan hendak berbicara. Namun tiba-tiba saja Mardiyah menyahut, "Iya. Lutfan harus istirahat."
Kursi roda di ambil alih langsung oleh Mardiyah. Keduanya pulang di antar oleh Cak Sur, Jafar pun tak jadi kembali ke outlet. Suaminya bilang, outlet lain bisa diurus secara online. Setelah itu Alma dan Jafar kembali lagi masuk ke dalam, tetapi bukan di kamar. Melainkan di dapur, Alma sedikit haus.
"Mau minum, Mas?" Alma memberikan segelas air mineral. "Mau nggak?"
Jafar menggeleng.
__ADS_1
"Okay." Alma mengambil duduk di kursi tengah meja makan. Kemudian meneguk segelas air sampai habis. "Kamu kenapa, Mas?"
Jafar terdiam, tiada gerakkan.
"Mas ..."
Tiada reaksi.
"Mas Jafar!" ucap Alma dengan menaikan nada bicaranya dan menepuk pundak suaminya.
Jafar tersadar, menaikkan sebelah alisnya seolah-olah bertanya, kenapa? Mungkin ini karena obrolan yang baru saja terjadi dengan Lutfan. Hingga suaminya terus menerus melamun.
"Kamu kenapa?"
Terdengar helaan napas Jafar. "Lutfan tidak mau ada walimatul'ursy," tulisnya.
Ah, pembicaraan mereka sama.
"Saya juga tahu dari Mardiyah, Mas."
"Saya sudah membujuk tetapi dia tetap tidak mau," tulis Jafar.
Alma terdiam sejenak.
"Apa Lutfan merasa malu?" tulis Jafar, lagi.
"Dia sama seperti kamu." Jeda tiga detik Alma kembali berujar, "Menutup diri."
"Mas nggak salah 'kan? ... Kalau sejenak aja Lutfan ingin sendiri?" Alma menghela napas pelan. "Saya percaya Lutfan akan kembali membaik."
...🌺...
Kehidupan ini memang tak akan pernah bisa ditawar sedih dan bahagianya. Sanggup menjalani sampai akhir pun ia bersyukur, atau lebih-lebih tidak menyerah di tengah jalan pun ia merasa hebat. Alma selalu percaya, bahwa ia akan kembali baik-baik saja. Tak selamanya kesedihan itu hinggap, sekejap pasti ada bahagia.
Cahaya orange terlihat jelas di depan pandanganya. Jafar kembali mengajaknya keliling pesantren dan berhenti di tempat ini lagi---tempat di mana Jafar menceritakan tentang Abinya.
"Habis ini magrib."
Jafar mengangguk.
"Makasih udah ajak saya jalan-jalan, Mas."
Jafar menengok dan mengangguk lagi.
"Mas nanti ... kalau saya udah benar-benar pulih. Kamu jadikan menjalani terapi?"
__ADS_1
Jafar menunduk---menuliskan jawaban. "Saya tidak yakin, Alma."
"Kenapa kamu kayak gini lagi, Mas?"
Alma melihat langsung pada buku catatan Jafar, karena sepertinya cukup panjang. "Pikiran saya tertuju pada Lutfan terus menerus. Jika pada akhirnya terapi itu membuahkan hasil dan saya bisa bicara kembali pun saya bersyukur, Alma. Tetapi untuk sekarang sepertinya lebih baik tidak, saya tidak ingin sembuh," tulisnya.
Netra Alma melebar, ia menggeleng pelan dan meminta Jafar menatapnya dengan mengangkat dagu lelaki itu. "Istighfar kamu, Mas."
"Jangan tulis hal-hal semacam itu lagi." Alma merobek satu halaman buku catatan itu dan merobek-robek menjadi lebih kecil dan memasukannya di saku. "Kamu sadar apa yang kamu tulis, Mas?"
Jafar mengangguk.
"Semua yang sakit ingin sembuh, Mas."
Jafar terlihat menunduk. "Saya tahu. Tetapi saya tidak ingin sembuh. Apa kamu keberatan, Alma?"
"Mas, ini bukan masalah saya keberatan atau pun enggak." Alma menatap lurus pada langit senja, dan kembali berujar, "Saya cuma kecewa, kenapa kamu tiba-tiba kayak gini?"
Alma mengangguk pelan. "Lutfan? Okay. Karena Lutfan?"
"Kamu nggak mau dia merasa sendiri, dan menjadi orang yang benar-benar nggak berguna ... gitu, kan Mas?" Alma menengok menatap Jafar yang mana sang lelaki itu juga tepat menatapnya. "Justru kamu salah, Mas. Tega kamu mengasihani Lutfan tapi melalaikan diri sendiri?"
"Kamu mau saya ... bilang ke Lutfan? Biar kamu ini---" Lemah. Tiba-tiba saja air matanya menetes tanpa aba-aba, lantas secepatnya Alma mengusap air mata itu dan menghindari tatapan Jafar. "Kamu suka banget buat saya nangis, Mas ..."
"Kita ini manusia, Mas. Takdir telah ditentukan untuk masing-masing dari kita sendiri." Alma mengusap-usap hidungnya. "Nggak perlu kamu kayak gini. Lutfan pun bakal marah, dan ngomelin kamu habis-habisan gara-gara ini."
"Mau kamu, hm?"
Jafar terlihat menggeleng pelan. Lima belas detik terjadi kebisuan, tiba-tiba saja meletakkan buku catatan di pangkuan Alma. "Kenapa kamu selalu menangis saat saya membicarakan tentang ini, Alma? Dan kamu selalu mengancam saya dengan omelan Lutfan."
Terdapat jeda di buku catatan itu. "Semua yang kamu katakan benar. Saya tidak lalai dengan diri sendiri, saya memahami takdir setiap manusia berbeda-beda. Tetapi saya hanya membersamai Lutfan saja, Alma. Saya dulu tahu rasanya terhina, saya lebih dulu tahu rasanya tidak di anggap, saya juga lebih tahu rasanya menjadi laki-laki yang tidak berguna."
"Jadi apa saya salah untuk sekedar saja ingin bersama Lutfan melewati semua ini, Alma?" Akhir Jafar di satu halaman.
Alma menggeleng. "Enggak. Kamu nggak salah untuk selalu ada buat Lutfan, Mas."
"Tapi kamu sama sekali nggak bisa paham ... berapa kali saya bilang, Mas? Untuk selalu ada dan saling menyayangi enggak harus mengorbankan diri sendiri kan?"
Alma menengok menatap Jafar. "Harusnya kamu semangati dia. Kamu nggak boleh ikut terpuruk lagi saat kamu udah bangkit kayak gini, Mas."
Alma berdiri, tangan kanannya menggenggam buku catatan Jafar. Sedangkan tangan kirinya menyentuh lengan Jafar meminta lelaki itu berdiri.
"Ayo pulang, udah azan."
Jafar bangkit dan berjalan berdampingan.
__ADS_1
"Nanti saya tanya Umma, apa Lutfan juga bisa ikut terapi. Supaya dia bisa kembali jalan. Supaya juga ... Mardiyah kembali melihat Jafar dan Lutfannya semasa kecil dulu," imbuh Alma.
"Karena Mardiyah bilang ..., kalian berdua berubah, Mas."