Almahyra

Almahyra
Bagian 40


__ADS_3

"Ya udah, ayo Mas! Kesel aku lama-lama di sini." ucap Lutfan.


Alma tertawa ringan saat melihat Lutfan yang mengerucut bibir. Lutfan memang akan selalu kalah dari Mardiyah, sebab raut wajah Mardiyah yang datar serta ucapannya yang pedas bisa membuat anak semata wayang Umma Sarah itu tak berkutik.


"Lagi libur sholat?"


Alma mengangguk. "Iya. Kamu?"


"Sama."


Mardiyah menatap sekeliling ruang tamu ini dan berujar, "Gimana rasanya ... menikah?"


"Pertanyaan yang sama di waktu yang berbeda." Alma menengok dan tersenyum kilas. "Kamu kenapa? Mendekati pernikahanmu dengan Lutfan ada rasa ragu?"


Mardiyah menggeleng.


"Terus?"


Terdengar Mardiyah menghela napas panjang. "Kalau begitu aku ganti pernyataan."


"Apa?"


Mardiyah menengok---menatap balik Alma dan kembali berujar, "Gimana rasanya hidup berdua dengan laki-laki?"


"Ya gitu. Aku nggak bisa jelasin. Lagian baru tiga hari Mar," jawab Alma.


Netra Mardiyah terpejam dan sedetik juga ia berujar lirih, "Apa nanti ... Lutfan akan memperlakukanku dengan baik?"


"Pernyataan macam apa itu, Mar? Sekali pun Lutfan cerewet, manja dan usiamu terpaut jauh dengannya. Aku percaya dia baik, dan sangat bertanggung jawab," jelas Alma.


Mardiyah hanya mengangguk lagi, dengan netra yang masih terpejam. Sedangkan Alma mengedarkan pandangan, melihat sekeliling rumah yang nampak sepi karena Ummi Salamah sedang keluar. Saat pandangannya hendak kembali menatap Mardiyah, suara knalpot motor yang cukup nyaring terdengar di depan rumah.


Mbok Isna?


"Assalamualaikum."


Secara bersamaan Mardiyah dan Alma menjawab, "Waalaikumussalam."


"Lho ada tamu, toh?" Mbok Isna yang membawa beberapa belanjaan segera meletakkannya di meja samping lemari pendingin. "Mbak Mardiyah mau minum apa?"


Netra Mardiyah terbuka. "Saya lagi nggak haus, Mbok. Makasih."


Sesingkat itu?


"Nanti kalau haus, biar saya suruh Mardiyah ambil sendiri Mbok," imbuh Alma.


Mbok Isna telah memasuki dapur. Sedangkan Mardiyah yang semula terpenjam kini menatapnya lagi, disusul suara knalpot yang nyaring kembali dari luar rumah yang berasal dari motor Dimas.


"Laki-laki itu aneh," ucap Mardiyah.


Kening Alma mengerut. Mardiyah memang bisa menatap langsung pada Dimas karena duduknya pun tepat menghadap pintu. Sedangkan Alma membelakangi pintu.


"Aneh gimana, Mar?" tanya Alma.


Dengan datar Mardiyah berucap, "Tatapan dia ke kamu aneh."


Aneh?


Ternyata ... yang ngerasa gitu bukan aku aja.


"Hati-hati."


Alma mengangguk. "Iya, Mar."


Mardiyah tiba-tiba saja berdiri dengan membawa tasnya di bahu kiri. "Aku mau ke kamar mandi."


Alma hanya mengangguk.


Sentuhan tangan, dan tatapan aneh yang dimaksud Mardiyah sangat membuat Alma bertanya-tanya. Sebenarnya ia ingin sekali mengeluhkan cucu Mbok Isna itu kepada Jafar. Tapi lagi-lagi ia takut itu hanya sekadar prasangka saja, ia juga takut itu akan menyalah pahami Mbok Isna---yang sudah bertahun-tahun kerja di kediaman Ummi Salamah.


"Alma ... Nak."


Netra Alma melebar. Mertuanya datang dengan membawa barang-barang di tangan kanan dan kiri beliau. "A-ah Ummi? Ma-af. Sini Ummi Alma bantu."


Ummi Salamah mengambil duduk di sofa abu-abu yang berseberangan. "Kenapa ngelamun gitu? Ummi panggil-panggil dari tadi nggak denger, ya?"


"Maaf, Ummi," sesal Alma.


Dari arah lorong menuju dapur dan kamar mandi---Mardiyah datang dengan senyum tipis mendekat kepada Ummi Salamah dan mencium punggung tangan beliau.


"Ada kamu juga, Mar?"


Mardiyah mengangguk dan menyusul duduk bersebelahan dengan Alma. "Iya, Ummi."


"Jafar sama Lutfan di mana?"


Alma menjawab, "Sholat, Ummi."


"Kebetulan ... sini Mar, duduk deket Ummi."


Mendengar itu Mardiyah mengambil duduk di sebelah Ummi Salamah---tangannya tiba-tiba diusap lembut lantas digenggam. Sedangkan salah satu tangan Ummi Salamah mengusap pucuk kepalanya yang tertutup kerudung.


"Ummi nggak nyangka, sebentar lagi kamu sama Lutfan bakalan menikah," ucap Ummi Salamah.

__ADS_1


Mardiyah tersenyum.


"Pernikahanmu dengan Lutfan, akan menjadi bahagia yang tiada tara untuk Adik Ummi, Mar." Ummi Salamah menghela napas pelan, ingatan beliau tenggelam pada kesengsaraan di awal-awal kepergian suami beliau dan juga suami Adiknya. Dengan tersenyum kilas beliau kembali berujar, "Tolong jaga Lutfan, Mar. Dia itu ... emang kadang-kadang manja, dan ngeselin, ya? Tapi ... Ummi lihat-lihat kalian ini cocok banget."


Ucapan Ummi hampir sama saat beliau berbicara denganku di asrama panti asuhan.


"Insya Allah, Ummi. Tolong do'akan pernikahan Lutfan dan Mardiyah, Ummi," jawab Mardiyah.


Pandangan Ummi Salamah beralih pada Alma. "Alma ..."


"Iya, Ummi?"


"Sampai detik ini, Ummi rasanya-rasanya nggak bisa berhenti berterima kasih. Karena kamu---"


Alma menggeleng pelan dan menyanggah, "Cukup, Ummi. Kenapa harus berterima kasih terus menerus? Pernikahan ini bukan sekedar belas kasih atau pun pekara amanah. Pernikahan ini adalah keinginan Alma juga."


Karena ternyata .... memiliki orang yang benar-benar bisa menerimaku, rasanya membahagiakan, Ummi.


Lebih-lebih orang yang aku nikahi ....


Adalah putra, Ummi.


"Allah benar-benar telah mengantikan kedua sosok yang menghilang dari kehidupan Jafar dan Lutfan. Kamu, dan Mardiyah akan menjadi kebahagiaan dan senyuman baru untuk mereka berdua, Nak," tutur Ummi Salamah.


Mardiyah menjawab, "Bukankah yang harusnya berterima kasih adalah Mardiyah dan Alma, Ummi? Pernikahan ini ditetapkan oleh Ummi dan juga Umma, pernikahan ini membuat Mardiyah dan Alma memiliki keluarga yang utuh. Lebih-lebih keluarga ini ... membuat Mardiyah merasakan kasih sayang yang nggak pernah Mardiyah rasakan sama sekali, Ummi."


Mar ...


Semenyakitkan apa pun hidupmu, terima kasih telah bertahan sejauh ini.


"Terima kasih, Ummi," ucap Mardiyah lirih.


Air mata itu mengalir di pipi Ummi Salamah dan juga Mardiyah. Sedangkan netra miliknya berkaca-kaca. Ucapan Mardiyah sangat ia setuju, karena pernikahan yang ia jalani dengan Jafar benar-benar membuatnya kembali memiliki keluarga yang utuh. Bahkan juga kembali merasakan cinta kasih dari orang lain.


"As ... salamu'alaikum."


Netra Lutfan mengerjap berkali-kali dan berganti memandangi Ummi Salamah, Mardiyah dan juga Alma.


"I-ini pada kenapa? Nangis? Ada apa, Bibi?" ucap Lutfan.


Ummi Salamah dan Mardiyah mengusap air mata.


"Urusan perempuan," jawab Mardiyah datar.


Alma dan Ummi Salamah spontan terkekeh pelan. Dan seperti biasanya di susul oleh ocehan Lutfan yang tidak terima atas ucapan datar Mardiyah.


"Udah-udah, Lutfan. Kamu pulang sana, Ummamu tadi telpon Bibi," ucap Ummi Salamah.


...🌺...


"Ternyata ... bener. Cocok juga," gumam Alma.


Ia menimbang-nimbang apakah tidak apa-apa keluar menggunakan pakaian semacam ini? Apalagi di depan Jafar? Dan ... bagaimana juga nanti reaksi suaminya itu? Karena sejujurnya ia memang cukup gerah, belum lagi ternyata pakaian ini lebih pendek dari pakaian tidur milik Ummi Salamah.


Terdengar ketukan pintu yang spontan saja membuat Alma terkejut dan mendongak.


"Pasti Mas Jafar ..."


"Iya! Sebentar, habis ini saya keluar!" ucap Alma dengan cukup keras.


Perlahan Alma membuka pintu kamar mandi. Ia tidak melihat Jafar, ke mana perginya? Bukankah tadi mengetuk pintu?"


"Ah! Astaghfirullah ... Mas!"


Jafar ternyata berdiri di dekat lemari yang mana itu cukup jauh dari pandangan Alma. "Ih! Kamu beneran bikin saya jantungan!"


Suaminya itu hanya tersenyum simpul, dan mengekor duduk di sampingnya dengan tatapan yang tiada beralih sedikit pun.


"A-apa? Lihatin saya kayak gitu?"


Jafar menggeleng dan mengeluarkan gawainya.


"Cocok," tulis Jafar.


"O-oh. Ya alhamdulillah. Berarti nggak salah ukuran, tidur saya juga jadi nyaman."


Jafar mengangguk.


"Ka-kamu bukannya tadi mau ke kamar mandi, Mas? Sana ... jangan lihatin saya terus."


Jafar menggeleng.


"Ya udah kamu geser. Saya mau tidur sebentar."


Saat hendak mengambil posisi merebahkan diri, Jafar menarik pinggangnya pelan. Sehingga lingerie yang mana berada di atas lutut itu kian menjadi pendek menampilkan paha mulusnya.


"Mas ... kamu beneran mau bikin saya jantungan, ya?" Alma menyelipkan anak rambutnya di belakang telinga dan menatap Jafar lagi. "Ada apa? Kamu butuh sesuatu?"


Jafar menggeleng, dengan sedikit menunduk ia mengetik. "Saya cuma ingin menatapi kamu lama-lama, apa tidak boleh?"


"Ya-ya boleh. Tapi kalau kelamaan saya capek."


Lebih tepatnya saya malu.

__ADS_1


"Lima menit saja. Boleh?" tulis Jafar.


I-ini beneran?


"Boleh," jawab Alma.


Senyuman serta tatapan itu kian fokus kepadanya, sedikit pun tidak beralih, tadi pun hanya teralih sejenak karena Jafar menghidupkan timer lima menit di gawai.


"Gi-gimana kalau sambil kamu tanya atau a-apa gitu?"


Masalahnya ini sedikit canggung, dan saya malu Mas kamu tatapin terus menerus kayak gini.


Pandangan Jafar beralih di layar gawai, dan itu sedikit membuat Alma bernapas lega, dan beberapa detik berlalu Jafar mendekat gawainya.


"Saya tidak mau bertanya. Saya ingin yang lain saja," tulis Jafar.


Alma menatap lurus Jafar dan berucap, "Yang lainnya? A-apa? Peluk?"


"Itu salah satunya. Tapi sebelum itu, apa boleh saya meminta yang lainnya?" tulis Jafar.


"Apa?"


"Kecupan."


Jantung Alma berdetak lebih kencang dari biasanya. Ini hanya tulisan saja, bagaimana jikalau Jafar meminta langsung dengan berbicara? Bahkan spontan saja ia mengangguk, netra yang pada pertemuan pertama menatapnya dengan sangat tajam dan tangan yang di pertemuan pertama menggenggam pergelangan dengan erat. Tiba-tiba saja, berubah, semua perlakuan itu melembut.


Tepat saat netranya terpejam, pertemuan kedua benda kenyal itu membuat jantungnya dan juga Jafar kian berdetak kencang. Kecupan itu berubah lebih dalam---saat Alma tidak sengaja membuka mulutnya, Jafar kian menelisik masuk ke dalam rongga mulut dengan begitu lembut ia memperlakukan istrinya.


Sesaat kemudian kecupan itu terlepas, ia melanjutkan turun menyusuri leher jenjang Alma. Tangan kanan Jafar menyikapi perlahan anak rambut yang menghalanginya.


"Mas ..."


Jafar mengitari leher jenjang Alma dengan sedikit memberi beberapa tanpa kepemilikan.


" ... cukup, Mas."


Saat salah satu tangan Jafar terangkat hendak menyentuh gundukan kenyal itu, tiba-tiba saja timer yang diaturnya berbunyi.


Napas Alma tersengal-sengal, wajahnya memerah padam, malu dan juga merasa hawa panas ditubuhnya. Sedangkan Jafar mengambil gawai dan mematikan timer itu. Kemudian ia kembali menatap Alma yang tiba-tiba saja menunduk.


"Sa-saya mau istirahat sebentar."


Alma merebahkan diri dengan posisi membelakangi suaminya. Jantungnya masih tidak berdetak normal, saat merasakan pergerakan ranjang di belakang----disusul satu tangan berat yang memeluk bagian perutnya, dan juga satu tangan lain yang menyusup masuk di sekitar lehernya, sebagai ganti tempat ia untuk tertidur.


Jafar memeluknya, dari belakang.


"Ka-kalau gini, nanti tangan kamu bakalan kesemutan."


Alma merasakan Jafar menggeleng.


"Aliran darah kamu bakalan terhenti, karena terkena tumpuan kepala saya."


Sepuluh detik tidak ada reaksi, tiba-tiba saja gawai Jafar jatuh di hadapnya. Alma spontan mengambil itu, karena ia tahu pasti ada yang dituliskan oleh suaminya.


"Kalau begitu, gantilah posisi tidurmu menghadap saya, Alma," tulis Jafar.


Dengan jantung yang masih berdebar-debar, Alma merubah posisi tidurnya menghadap kepada Jafar.


"Sa-saya malu."


Saat Alma mendongak menatap Jafar ternyata ia melihat jelas bahwa wajah dan telinga suaminya itu juga memerah padam.


"Kamu ... juga malu?"


Tangan Alma terangkat menyentuh pipi kiri Jafar. Kemudian ia tertawa kecil dan berujar, "Impas. Saya kira saya aja yang malu."


Jafar menggeleng dan tersenyum.


"Coba ketik sesuatu," ucap Alma pelan.


Jafar mengambil gawainya dan mengetik. "Bagaimana saya tidak malu? Melakukan hal seperti itu juga lah yang pertama bagi saya."


Alma mengangguk. "Iya juga ya ..."


"Kamu menyukainya?" tulis Jafar.


"A-apa?"


"Kamu suka saya perlakuan seperti itu?"


Spontan Alma menunduk, setelah membaca tulisan yang berada note itu---untuk menghindari tatapan Jafar. Pipi yang sudah mulai kehilangan rona merah, kini muncul kembali karena pertanyaan itu.


I-ini serius kamu tanya gini, Mas?


"Kamu tidak suka?" tulis Jafar lagi, dengan menyerahkan gawainya.


Spontan mendongak menatap Jafar dan menggeleng.


"Saya suka."


Ah, Mulutku! Malu ...


"Udah. Ka-kamu nggak usah tanya-tanya lagi. Sa-saya mau tidur," sambung Alma.

__ADS_1


Note:


🚫 Adegan di atas hanya untuk yang sudah berpasangan---menikah.


__ADS_2