Almahyra

Almahyra
Bagian 8


__ADS_3

...8 : Kesediaan Yang Tertunda....


"Menikahlah dengan Jafar, Nak. Lalu tinggal lah di pesantren bersama Ummi dan Jafar."


Menikah?


Untuk kesekian kalinya Alma harus mendengar kalimat itu kembali. Ia menghela napas  sejenak, sebisa mungkin ia mengendalikan emosinya. Supaya tiada lagi lisan buruk yang ia katakan dan menyakiti Ummi Salamah lagi. Kemudian ia membalas usapan lembut tersebut dan berucap pelan, "Sebelumnya ... Alma mau meminta maaf. Karena---"


Ummi Salamah menggeleng. Dan beliau menyanggah, "Bukan salahmu, Nak. Memang itu kesalahan Ummi karena terlalu memaksa."


Alma tersenyum simpul. Ia memahami bahwa Ummi Salamah adalah orang yang benar baiknya. Sehingga ia merasa dalam tatapan Ummi Salamah sekarang pun tiada kebencian. "Apapun yang Ummi katakan Alma akan mendengar. Tapi tolong Ummi, untuk saat ini ... tolong izinkan Alma meminta maaf," pinta Alma.


Ummi Salamah mengangguk.


"Maaf, Ummi. Karena Alma telah menghina Jafar dan membuat Ummi menangis mendengarkan penghinaan itu," ucap Alma.


Ummi Salamah menatapnya dengan sendu. Kemudian beliau berucap, "Ummi sudah memaafkanmu, Nak."


Ummi Salamah sedikit menunduk, untuk mengajaknya duduk di samping beliau. Namun lagi-lagi ia menolak dengan halus. Biarlah Ummi Salamah duduk di ranjang dan ia duduk di lantai. Alma menganggap ini sebagai sopan santunnya kepada Ummi Salamah.


"Mengenai pernikahan yang telah Ibu amanah itu ... Alma bersedia," ucap Alma.


Terlihat netra Ummi Salamah berbinar-binar mendengar apa yang dikatakan oleh Alma. "Alhamdulillah. Kamu serius?"


Alma mengangguk. "Iya, Ummi. Tapi tolong beri Alma sedikit waktu."


"Wak-tu?" Ummi Salamah membeo.


Mungkin Ummi Salamah akan mengira bahwa waktu yang ia minta adalah kesediaan yang tak berujung. Artinya sama saja, Jafar harus menunggu sesuatu yang tidak pasti.


"Alma akan menikah dengan Jafar. Tapi bukan dalam waktu dekat ini, Ummi. Beri Alma waktu setidaknya tujuh bulan untuk menyakinkan diri," ucap Alma.


Memang ini tentang amanah, Ummi.


Namun pernikahan adalah ibadah terpanjang yang harus diputuskan secara matang.


Alma harapan Ummi mengerti.


"Tujuh bulan saja kan, Nak?"


Alma mengangguk cepat. "Iya, Ummi."


Ummi Salamah menyetujui permintaan tersebut. Alma merasa begitu lega, karena setidaknya sampai tujuh bulan kedepan ia bisa fokus kepada hal-hal yang ia rencana untuk masa depan. Yaitu, menerbitkan buku dan meneruskan usaha kedai Bibi Maryam. Dan jelas juga, selama tujuh bulan ia akan berusaha memantaskan diri untuk menjadi pendamping Jafar.


"Mengenai hernia yang kamu derita, Ummi akan membayar---"


Secepatnya Alma menggeleng. "Nggak, Ummi. Alma ini belum menjadi menantu Ummi, Alma masih orang asing. Sedikit pun Ummi nggak perlu berlebihan dalam membantu Alma, karena itu akan membuat Alma semakin merasa bersalah," ucapnya.


Kening Ummi Salamah mengerut. "Orang asing? Kamu memang belum menjadi menantu Ummi, Nak. Tapi sedikit pun Ummi nggak pernah berpikir bahwa kamu adalah orang asing."


Alma menunduk dalam setelah mendengar itu. Sungguh setiap tutur kata yang Ummi Salamah ucapkan cukup menggambarkan bahwa beliau begitu menyayangi seorang gadis yatim piatu ini---yang bahkan belum menjadi menantunya. Apakah ini potret apabila kedua orang tuanya masih hidup---terutama, Ibunya? Sungguh ini adalah keberuntungan. Terlepas bagaimana kelak Jafar memperlakukannya, tetap saja Alma merasa menjadi perempuan paling berbahagia karena Ummi Salamah adalah Ibu mertuanya kelak.


"Ummi nggak merasa malu? Karena mempunyai menantu seperti Alma?" tanya Alma.


Ummi Salamah tertawa kecil. "Kenapa harus malu, Nak? Kamu ini cantik, bisa masak dan yang jelas kamu perempuan. Terus letak Ummi harus merasa malu itu di mana?"


Alma mendongak, menatap netra teduh Ummi Salamah dengan dalam. Apakah kekurangan yang ia miliki tidak tercetak jelas dihadapan Ummi Salamah? Beliau selalu saja menyebut kelebihan, seakan-akan Alma tiada kurangnya.


"Ummi mau Alma nyebutin satu-satu kekurangan Alma, nggak? Setidaknya Ummi bisa menyeleksi dulu, kalau-kalau Alma nggak cocok bisa segera Ummi lengserkan dari deretan calon menantu idaman Ummi," ucap Alma dengan tawa pelan.


Pucuk kepala Alma yang terbalut oleh kerudung di usap dengan lembut Ummi Salamah. Lantas Ummi Salamah membalas dengan gemas, "Nggak perlu. Kamu nggak akan pernah lengser, karena kamu adalah menantu pilih Ummi sendiri."


Jeda tiga detik Ummi Salamah berucap lagi, "Jafar itu tunawicara, Nak. Dan kamu mungkin akan sulit berkomunikasi dengannya. Bahkan mungkin ... kamu akan merasa malu---"


"Malu?" sahut Alma.


Ummi Salamah mengangguk. Netra beliau berubah menjadi sendu saat hendak melanjutkan ucapannya. "Ummi memahami Nak, bahwa setiap manusia ingin memiliki pasangan yang sempurna. Begitu pula dengan kamu, kan? Maka akan sangat wajar bilamana suatu saat kamu merasa malu karena Jafar---"


Alma menyanggah cepat, "Karena Jafar bukan suami yang sempurna?"


Ummi Salamah terdiam. Sungguh ucapan Alma adalah benar. Jafar bukan laki-laki yang sempurna. Bahkan sekalipun menjadi anak dari orang berada, tidak akan melepaskan kemungkinan itu terjadi.


"Ummi ...," Alma menjeda sejenak. Diraihnya tangan Ummi Salamah. Kemudian ia berucap kembali, "Jikalau dasar dari menerima seseorang adalah sempurna. Maka Alma yakin nggak ada satu pun manusia di bumi yang merasa jatuh cinta."


"Bahkan juga menikah," lanjut Alma.


Ummi Salamah mengangguk. "Kamu benar, Nak."

__ADS_1


Alma menghela napas pelan. Entah mengapa Ummi Salamah sangat mengingat ia kepada Ibunya yang telah meninggal delapan tahun lalu. Netra Alma yang sembap itu tertuju kepada paha Ummi Salamah yang terbalut gamis hitam. "Boleh Alma rebah di sini, Ummi?" tanya Alma pelan.


"Boleh, Sayang," balas Ummi Salamah dengan senyuman yang begitu merekah serta mata yang berbinar-binar.


Alma merebahkan kepala di paha Ummi Salamah. Lantas di sambutlah dengan usap lembut dari tangan Ummi Salamah di kepalanya. Beberapa detik kebisuan terjadi, Alma menikmati usap itu dan Ummi Salamah memandang lurus melihat dengan teliti setiap hal yang tersusun di kamar calon menantunya tersebut.


"Selama tinggal dengan Bibi Maryam, Alma belajar banyak hal dari Paman Idrus, Mi."


Mendengar ucapan Alma, Ummi Salamah sejenak berpikir. "Apa yang kamu pelajari dari Pamanmu itu, Nak?"


"Banyak, Ummi."


Senyum Alma merekah saat ingatannya berkisar di masa lalu, di mana dulu Paman Idrus mengajarinya beberapa hal. Dari mulai memanah, bertembak, menunggangi kuda, dan begitu banyak hal lainnya. Setiap senyum yang Paman Idrus lempar kepadanya sangat tercetak jelas di dalam ingatan Alma.


"Salah satunya yang sangat kamu ingat apa?" tanya Ummi Salamah.


Ingatan Alma kembali menyelam di masa lalu. Ia berucap dengan menutup matanya. "Saat usia Alma sembilan belas tahun. Paman Idrus bilang, bahwa sudah sewajarnya manusia jatuh cinta. Begitu pula Alma. Kata beliau, wajar. Namun ada letak ketidakwajaran apabila manusia hanya mencintai sisi yang sempurna saja. Karena sebagaimana pun manusia ingin terlihat sempurna. Tetap saja memiliki celah dan kurangnya sendiri. Begitu kata Paman Idrus, Mi."


Alma menjeda. Ia membuka mata dan mengambil napas sejenak, lantas menarik pucuk kiri gamisnya agar menutup pergelangan tangannya. Kemudian ia berbicara kembali, "Paman Idrus juga bilang ke Alma, bahwa dasar terbaik untuk mencintai seseorang adalah hati yang lapang."


Alma menjeda lagi dengan mendongak sekilas ia menatap Ummi Salamah. "Ummi mau tahu nggak? Alasan Paman Idrus bilang, bahwa dasar untuk mencintai adalah hati yang lapang?"


Ummi Salamah mengangguk dengan membalas tatapan itu.


Alma telah kembali merebahkan kepalanya di paha Ummi Salamah. Tangan kiri dan kanannya memainkan gamis yang ia kenakan. Kemudian ia berucap kembali, "Alasannya ... karena Bibi Maryam. Seorang wanita yang satu-satunya Paman Idrus cintai, tanpa berniat sedikit pun mendua, walau tiada anak di dalam pernikahan mereka," ucap Alma.


...🌺...


Jam digital menunjukkan pukul 20.39 WIB. Dan makan malam bersama yang biasanya dilakukan pukul 20.00 WIB berganti menjadi bakda isya. Karena ada sebuah pengumuman, bahwa besok akan di adakan acara satu bulan sekali, untuk membuat anak-anak panti asuhan menjadi gembira serta menghilangkan rasa bosan.


Dan sekarang Alma tengah berada di kamar. Tangannya lihai mengambil gunting, lakban, dan beberapa lampu hias yang ia simpan dari pemberian Bibi Maryam. Saat berbalik, ia menghadap ranjang---netranya terus menatap dan ingatannya kembali di mana ia mencurahkan segala isi hatinya kepada Ummi Salamah. Bahkan juga bersedia menerima pernikahannya dengan Jafar.


Tiba-tiba saja ia berteriak dan berjongkok. Kemudian bergumam, "Ya Allah, malu! Gimana kalau Ummi Salamah mikir kalau aku ini perempuan manja?"


Ingatannya kembali lagi. Di mana Alma merebahkan kepalanya di paha Ummi Salamah. Belum lagi saat hendak pergi untuk kembali ke pesantren Ummi Salamah mengecup pucuk kepalanya berkali-kali.


"Ah, malu! Kenapa juga aku tiba-tiba tiduran di pahanya Ummi?" Alma terus menerus menggerutu, mengingat kejadian yang berputar di kepala indahnya yang terbalut kerudung bergo hitam.


"Kak Al ... ma, ka-kak ngapain?" Suara itu terdengar dari gadis pemalu yang berdiri di ambang pintu---Inayah.


Alma mendongak. "Hah? Kakak? A-anu ... i-ini ambil ini, Nay!" ucapannya dengan menunjukkan barang-barang yang ia bawa.


Alma tersenyum kikuk. "Ah, ini latihan Nay! Latihan memahami diri sendiri. Makanya Kakak bicara-bicara nggak jelas. Udah Nay, ayo ke lapangan!"


Saat tiba di lapangan jelas begitu banyak orang-orang yang tengah sibuk berlalu-lalang mempersiapkan acara besok. Bahkan para senior pesantren Al-Hikmah juga ikut andil dalam menyusul acara ini. Alma mengedarkan pandangannya, dari arah kanan ia melihat empat orang senior laki-laki sedang menancapkan kayu serta memasang spanduk bertuliskan: Masuk, bermain, dan dapatkan hadiah.


Mungkin itu yang jadi pintu masuknya.


"Mana lakbannya?" tanya Mardiyah dengan tangan yang terulur.


Secepatnya Alma menyerahkan lakban itu. "Guntingnya lagi di pakai Kirana. Kamu ada gunting, Mar?"


"Ada."


Pandang Alma beralih fokus kepada Mardiyah yang tengah menyampuli kotak undian permainan dengan kertas kado bermotif kupu-kupu. Setelah berpikir berkali-kali baiknya memang mengajak Mardiyah berbicara. "Terus ini ... nanti caranya mainnya gimana, Mar?" tanya Alma.


Tangan Mardiyah menunjuk tempat di mana spanduk di pasang. "Nanti di pintu masuk itu. Ada peraturan dan tata cara bermainnya," jawab Mardiyah.


"Peraturan dan tata caranya sama semua?"


Mardiyah membalas dengan anggukan.


"Kak Alma, ini. Makasih," ucap Kirana dengan mengembalikan gunting kepadanya.


"Oh, iya. Kakak di panggil sama Kak Salsa. Kata Kak Salsa, di suruh bawa lampu hiasnya ke sana," lanjut Kirana dengan menunjuk tempat di mana Salsa tengah berdiri. Di depan spanduk.


"Siap."


Alma langkah mendekati Salsa. Namun saat hendak sampai di depan Salsa seseorang menabrak bahunya dengan cukup keras. "Ah," keluhnya.


"Eh!" Spontan seseorang yang menabrak menunduk. Dan Alma melihat dengan jelas, bahwa yang telah menabraknya adalah Lutfan. "Gu-gue minta maaf. Gue nggak sengaja, ukhti."


Nggak sengaja? Memangnya mata kamu di taruh di mana?!


"Gue pungutin nih lampu-lampu hiasnya," ucap Lutfan lagi setelah mengambilkan lampu hiasan yang berserakan di tanah. Untung saja tidak terkena genangan.


"Iya."

__ADS_1


Lutfan masih berdiri dihadapannya. Bahkan dengan gamblang tertawa ringan menatapnya. "Ternyata masih ada cewek yang kalau ngomong sama cowok seperlunya aja, nggak berlebihan-lebihan. Contohnya, elo."


"Tolong kalau kamu nggak ada kepentingan, minggir. Saya mau ke Salsa, tapi kamu menghalangi jalan saya," Alma berusaha berucap dengan sedemikian pelan dan sabar. Walau sesungguhnya sudah merasa muak karena laki-laki didepannya tidak kunjung pergi.


"Gue bukan atasan lo ukhti. Jangan pakai saya-saya dong. Berasa tua banget gitu---"


Salsa datang bagai penyelamat untuknya. Kemudian menatap Lutfan dan menyanggah, "Mas Lutfan, tolong sampean jangan ganggu Mbak Alma."


"Ini. Tugas dari Umma Sarah buat sampean," lanjut Salsa dengan menyerahkan koran-koran. Kemudian Salsa menatap ketiga senior laki-laki Al-Hikmah lantas lanjut berucap, "Sampean bertiga tolong dibantu Mas Lutfan-nya."


"What? I-ini apaan Salsa? Umma nggak mungkin---"


Salsa menyanggah lagi, "Mungkin toh, Mas. Beliau bilang kalau mengizinkan putra semata wayangnya ini buat di suruh-suruh."


Putra? Jadi dia anaknya Umma Sarah?


Mata Lutfan terbelalak. Jelas itu membuat Alma tertawa. Terlihat sekali bahwa lelaki di hadapannya dan Salsa ini tengil. "Tugas harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, Lutfan. Membantah hanya membuatmu semakin memperpanjang masa tugasmu," ucap Alma.


"Gue nggak nyangka ... ternyata Umma bisa setega ini." Gumaman terakhir yang Alma dan Salsa dengar. Sebelum laki-laki dengan perawakan tegap, tampan serta berkulit langsat itu berbalik.


"Aneh," gumam Alma.


Salsa terkekeh mendengar itu. "Iyo, Mbak. Memang radak aneh Mas Lutfan iku."


"Ini lampu hiasnya, Sal," ucap Alma dengan menyerah beberapa lampu hias ke tangan kiri Salsa.


Salsa mengambil tangga kayu berbentuk trapesium dengan sedikit panjang, lantas di gunakan olehnya saat memasang lampu hias di sekitar kayu spanduk.


"Hati-hati, Sal."


"Iyo, Mbak. Tolong sampean ambilin double tip iku Mbak," pinta Salsa dengan menunjuk selotip yang berada di meja kayu samping kanan kayu spanduk.


Dengan berjalan satu langkah ke samping Alma langsung mengambil selotip serta gunting yang terletak di meja itu. Dan mengunting sedikit lalu menyerahkannya kepada Salsa.


"Kamu buka sendiri, ya Sal?" pinta Alma.


Salsa mengangguk.


Usai membantu Salsa menghias pintu masuk yang memakan waktu sekitar tujuh menit. Ia dan Salsa berisitirahat dan meminum teh yang telah di sediakan oleh senior di dapur. Malam semakin larut, dan begitu pula hawa dingin setelah hujan yang semakin menyeruak di sisi gamisnya yang terbuka.


"Agak dingin yo, Mbak?"


Alma mengangguk dengan tangan kanan yang menjauhkan gelas kaca kecil dari bibirnya. "Iya, Sal. Untung minumnya teh panas, bukan es teh."


Sekian detik sama-sama membisu menikmati teh panas serta hawa dingin. Akhirnya Salsa berpindah duduk di sebelahnya lantas tiba-tiba berucap, "Mbak suka yo sama Mas Lutfan?"


"Hah? A-apa Sal?"


Sungguh pertanyaan Salsa membuat ia merasa kikuk. Bagaimana bisa tiba-tiba saja Salsa menyimpulkan bahwa Alma menyukai Lutfan? Sedangkan baru beberapa hari lelaki itu di sini. Bahkan interaksinya dengan Lutfan hanyalah sebatas---bertabrakan.


"Mbak, suka ndak?" ucap Salsa, lagi.


Secepatnya Alma menggeleng dengan tangan yang ia angkat ke atas serta mengayun ke kanan dan kiri. "Nggak, Sal," ucapnya.


"Kalau sama ... Mas Jafar?"


Alis kiri Alma terangkat. "Apanya yang sama Jafar?"


"Sampean lho suka ndak sama Mas Jafar?"


Sungguh mata Alma terbelalak saat mendengar pertanyaan yang Salsa katakan. Gadis ini sekalinya diajak berbicara mengapa begitu banyak tanya yang di ajukannya? Sangat memusingkan.


"Perasaan seseorang itu bersifat pribadi, Sal. Jadi baiknya kamu nggak perlu tahu, apalagi memaksa," jawab Alma.


Salsa menunduk. Diletakkannya gelas kaca itu di lantai dapur. Kemudian Salsa menoleh, menatapnya dalam dan berucap, "Padahal aku cuma pengen tahu aja, Mbak."


"Buat memperjelas kalau perasaan yang di miliki sama Mbak Mardiyah iku ndak salah," lanjut Salsa.


Mardiyah suka Jafar?


Note:


• Saat terjadi percakapan dengan Salsa kalian akan sering mendengar kata :


Sampean/pean : Kamu


Iyo : Iya

__ADS_1


Iku : Itu


__ADS_2