
"Kalau begitu ..." Isti menatapi Azizah yang kian menunduk dan terus menangis tiada henti. "Biarkan Azizah menjadi istri kedua Jafar. Yang hari ini juga, di nikahi secara hukum dan agama."
Netra Alma terbelalak. "Apa yang Ibu katakan? Bagaimana bisa Ibu memaksa suami saya menikahi keponakan Ibu?"
"Tidak ada yang memaksa, Nak. Pernikahan ini sudah ditentukan sebelum pernikahanmu dan Jafar terjadi," ucap Isti.
"Cukup Isti. Kamu boleh pamit jika urusanmu dengan saya sudah selesai," sahut Ummi Salamah.
Azizah menggeleng kuat, menyentuh tangan Ummi Salamah erat-erat. "Azizah mohon Ummi ... Tolong ... tolong Ummi bilang ke Gus Jafar, kalau Azizah janji pernikahan ini nggak akan mempengaruhi hubungan dia dengan istrinya."
Apa-apaan wanita ini?
"Kamu. Azizah. Berhenti memohon seperti itu. Apa yang kamu katakan itu salah," Netra Alma berubah tajam menatapi wanita yang tengah menangis terisak-isak memohon dan beberapa kali mencium tangan mertuanya. "Apa kamu bilang? Pernikahan kalian nggak akan mempengaruhi hubungan saya dengan suami saya?"
"Itu kebohongan, Azizah. Sebagai seorang wanita tentu kamu tahu hal apa yang paling berpengaruh dalam hubungan pernikahan," sambung Alma.
Azizah menatap Alma dengan terheran-heran. "A-apa yang Mbak maksud?"
"Nafkah batin. Jelas kamu tahu bukan? Jafar adalah orang mengerti agama, baginya nafkah batin seorang istri itu harus diberikan. Dan kamu bilang apa? Kamu berjanji bahwa pernikahan kalian nggak akan mempengaruhi hubungan saya dengan Mas Jafar?" Alma menunduk dengan tersenyum hambar. Kemudian kembali berujar, "Saya nggak percaya, Azizah. Karena sampai kapan pun saya nggak akan mau berbagi."
"Kecuali ... Mas Jafar sendiri yang meminta kepada saya secara langsung," sambung Alma.
"Bicaramu keterlaluan. Seperti tidak pernah di didik saja," ucap Isti.
Alma tersenyum singkat menanggapi ucapan Isti. Kemudian ia berujar, "Hal mengenai rumah tangga harus diselesaikan secara tegas. Bukan keterlaluan Bu, ini hanya ketegasan saya dalam menanggapi orang yang berusaha melewati batasan."
"Dan saya meminta maaf bila ada sedikit nada yang terdengar kasar dan tajam," lanjut Alma.
Genggaman tangan Azizah kepada Ummi Salamah melonggar. Dengan perlahan Azizah memundurkan tubuhnya lantas menghapus sisa-sisa air mata di pipi. "Apa sedikit pun, Mbak nggak punya rasa belas kasih buat saya? Abi saya sakit, Mbak. Dan permintaan Abi saya dari dulu adalah menikah dengan Gus Jafar."
"Kalau kamu tahu permintaan Ayahmu dari dulu adalah itu. Kenapa baru sekarang kamu menurutinya?" tanya Alma sekenanya.
Azizah beberapa kali menghela napas, seolah-olah kalah dalam perdebatan Azizah diam membisu. Dan sedetik itu pula Isti menariknya berdiri.
"Salamah, kami akan kembali, membahas pernikahan Azizah dengan Jafar. Saya akan datang dengan Mas Hasan dan suami saya," ujar Isti sebelum berlalu pergi tanpa pamit.
Isti dan Azizah telah pergi. Terdengar Ummi Salamah menghela napas berkali-kali, semacam tidak habis pikir dengan ketegangan yang baru saja terjadi.
"Maafin Ummi, Nak."
Mendengar permintaan maaf yang terlontar, Alma hanya sanggup menggeleng.
"Dia Azizah, Putri semata wayang Hasan dan Hasna. Wanita yang akan di nikahi oleh Jafar, jika tidak terjadi kecelakaan itu," sambung Ummi Salamah.
__ADS_1
"Berapa usianya, Ummi?"
"Dua puluh satu tahun," jawab Ummi Salamah.
Tebakku salah ...
Dua tahun lalu, bukankah berarti usianya sembilan belas tahun?
"Pak Hasan itu Ustadz, Ummi?"
Ummi Salamah mengangguk. "Iya. Beliau sahabat dari Abinya Jafar juga."
Kalah. Alma merasa menjadi orang asing kembali, ketegasannya hanyalah sekadar ucapan. Karena sebagaimana pun, ia benar-benar tidak mau berbagi miliknya dengan orang lain. Azizah ternyata adalah anak dari seorang Ustaz, lebih-lebih Ustaz itu adalah sahabat dari mertuanya. Lantas apa lagi yang kurang dari kedekatan dan keistimewaan Azizah dengan keluarga ini?
Alma yakin tidak ada.
Azizah adalah menantu yang pasti sangat Ummi Salamah idam-idamkan.
"Di ... a sempurna, ya Ummi?"
Ummi Salamah menjawab, "Ummi nggak butuh menantu yang sempurna, kalau dia nggak bisa menerima anak Ummi. Buat apa Jafar menikahinya?"
"Awal mulanya pun, Alma juga begitu 'kan Ummi?" lirih Alma.
"Seperti yang Ummi bilang, bahwa pernikahan bukan lah sesuatu yang dapat dipermainkan." Jeda tiga detik, Alma menengok menatap Ummi Salamah dan kembali berujar, "Mengenai keputusan Alma yang meminta Mas Jafar untuk menikahi Alma tiba-tiba itu bukan keputusan tanpa rencana, Ummi. Semuanya, sudah Alma rencanakan, bahwa dihari pernikahan nanti, Alma ingin Bibi Maryam hadir."
"Ummi mengerti, Nak."
"Jadi Alma harap, Ummi nggak pernah berpikir bahwa Alma menikah dengan Mas Jafar karena terpaksa."
Ummi Salamah menggeleng kuat. "Sedikit pun Ummi nggak pernah berpikir seperti itu, Nak."
"Alma percaya, Ummi." Jeda tiga detik Alma mengalihkan lagi pandangannya kepada teh yang berada di meja. "Alma sudah bicara sama Mas Jafar, tentang hernia ini, Ummi. Dan Mas Jafar ... juga mau mengantar Alma ke rumah sakit besok."
"Alhamdulillah. Lebih cepat lebih baik, Nak."
Terdengar pintu utama terketuk. Jafar telah datang, dan netra Alma menangkap bahwa jam dinding telah menunjukkan pukul delapan malam lebih lima menit. Setidaknya Jafar pulang, tidak bertepatan dengan datangnya wanita muda itu---Azizah.
"Sudah malam. Kamu istirahat, ya Nak? Biar besok keputusan dokter mengenai operasimu bisa ditetapkan secepatnya," ucap Ummi Salamah.
Ummi telah berpamitan memasuki kamar. Sedangkan Alma membawa kembali teh yang tidak di sentuh tadi, menjadikan satu tempat dan menaruhnya di dalam kulkas. Setelah usai mencuci piring dan gelas-gelas bekas teh, Alma menyusul Jafar untuk ke kamar.
"Siapa tamunya tadi?"
__ADS_1
Alma membaca buku catatan yang Jafar berikan di atas pangkuannya. Dengan menyandarkan punggungnya di pembatas ranjang, Alma menjawab, "Wanita paruh baya sama keponakannya."
Kening Jafar mengerut.
Alma berdiri, mengambil pakaian tidur selutut yang dipinjamkan Jafar tadi, lantas menuju ke kamar mandi. Tiga menit berlalu ia kembali duduk di tepi ranjang dan Jafar kembali menyerahkan buku catatan kepadanya.
"Tamu Ummi?"
"Tamu kamu dan tamu Ummi."
"Bicara tentang apa?"
"Tentang amanah pernikahan kamu dengan keponakannya," jawab Alma.
Kening Jafar mengerut. Kemudian ia berdiri mengambil laptop, lantas kembali menyusul Alma duduk di tepi ranjang---tangannya lihai mengetik sesuatu. "Bibi Isti dan Azizah?"
"Iya."
Jafar meletakkan laptopnya di samping ranjang. Ia hendak beranjak, namun terhenti karena lengannya disentuh oleh Alma. "Kamu mau ke Ummi?"
Jafar mengangguk.
"Jangan ganggu Ummi, Jafar. Kamu tahu Ummi butuh istirahat, belum lagi ... tadi beliau menyambut tamu yang datang tanpa di undang," lanjut Alma.
Satu menit terjadi kebisuan. Hingga tangan Jafar kembali mengetik diiringi Alma yang melihatnya sampai usia. "Jangan menyalah pahami sesuatu yang kamu tidak tahu kebenarannya seperti apa?"
Tombol delete Jafar tekan lama. Kemudian ia kembali mengetik. "Saya siap menjawab segala pertanyaan yang akan kamu ajukan, Alma."
"Kamu tahu kalau pernikahan kamu dan wanita itu adalah amanah dari Abimu?"
Jafar nampak terkejut---yang mana Alma yakini bahwa ia benar-benar tidak tahu perihal amanah yang sebenarnya.
"Kamu nggak tahu?"
Alma tersenyum getir. "Pernikahan saya dan kamu telah ditetapkan oleh Bibi Maryam dan Ummi. Atas permintaan Ibu saya, Bibi Maryam mencarikan laki-laki yang pantas untuk saya nikahi."
"Dan ternyata ... Bibi Maryam memilih kamu sebagai pendamping hidup saya. Namun bodohnya ..."
Napas Alma terasa kian sesak, saat mengetahui fakta yang tersembunyi tentang masa lalu Jafar. "Entah saya, entah Bibi Maryam. Yang sama sekali nggak tahu menahu tentang perjodohan pertamamu yang merupakan amanah langsung dari Abimu."
"Abi tidak pernah menyebut pasti siapa nama wanita yang harus saya nikahi. Beliau hanya berbicara, bahwa saya harus menikahi wanita pilihan Ummi," tulis Jafar.
Alma menggeleng pelan.
__ADS_1
"Saya nggak tahu apa pun tentang amanah itu. Tapi ... apa ka-kamu benar-benar akan menikah wanita itu, Jafar?"