ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Tetangga Baru


__ADS_3

 


Hari pun berganti, sang mentari telah menampakkan diri, dan sinarnya menyeruak masuk kedalam kamar Jovi melalui jendela yang lupa dia tutup dengan tirai.


Jovi tersadar dari tidurnya, ia bangkit lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


 


Dimeja makan, ibu dan ayahnya telah menunggunya untuk sarapan, Jovi menenteng ranselnya menuruni anak tangga.


"Pagi Mah, Pah" Sapa Jovi pada orang tuanya.


"Pagi," jawab Bu Riana dan Tuan Bram serentak.


Jovi pun duduk ditempatnya dan menyantap sarapannya.


"Kamu yakin udah mau pindah hari ini?" tanya ayahnya sambil menatap Jovi.


"iya Pah, Jovi yakin kok," jawab Jovi tidak mengalihkan pandangannya, dan tetap menyantap makanannya.


Bram hanya mengangguk pelan, dan tidak bertanya lagi.


Setelah mereka selesai sarapan, Jovi pun berpamitan pada ayah dan ibunya, mereka pun mengantar Jovi sampai kedepan pintu.


"Kamu tuh ya, tega ninggalin Mama sendirian," ucap Bu Riana merasa tidak rela ditinggal oleh anak semata wayangnya.


"Mama gak sendirian, kan ada Papa, Papa gak ikut pindah kok," kata Jovi sambil tersenyum.


"Iya. Ya sudah, tapi inget buat ngunjungin Mama tiap minggu ya," pinta Bu Riana.


"Gak tiap minggu juga Mah, kalau Jovi sempet aja ya baru dateng nengokin Mama, lagiankan Mama bisa telpon Jovi kalau emang kangen." Jovi tersenyum pada ibunya.


"Ya sudah, berangkat gih, nanti kena macet," ujar Riana pasrah.


"kalau gitu Jovi pamit Mah, Pah" Jovi pun mencium punggung tangan kedua orang tuanya.


"Hati hati," ujar ayahnya.


Jovi pun berangkat mengendarai motornya, setelah punggung Jovi sudah tak terlihat, Tuan Bram pun berpamitan pada istrinya untuk berangkat bekerja.


Selama kurang lebih satu jam Jovi mengendarai motornya, akhirnya dia sampai kekontrakan, disana dia melihat pemuda yang kemarin ia temui sedang duduk sambil meminum kopi diteras rumahnya, pemuda itu melihat Jovi dan langsung menyapanya.


"Hey. Udah mau pindah?" tanya pemuda itu.

__ADS_1


"Iya nih, aku mau ambil kuncinya dulu sama Ibu kost" Jovi menjawab sambil meletakkan tasnya dikursi kayu yang ada diteras.


Dia berjalan menuju kearah rumah ibu kost, dan mengetuk pintu saat berada diteras. Setelah beberapa menit pemilik rumah pun keluar.


"Permisi Bu, saya mau ambil kunci rumah," ujar Jovi sambil tersenyum.


"Oh iya, sebentar ya, Ibu ambilin," ujar Bu Dona sambil berjalan masuk dan dibalas anggukkan oleh Jovi.


Setelah beberapa saat Bu Dona kembali lagi dengan kunci ditangannya, dan langsung memberikannya pada Jovi, Jovi menerimanya dan berterimakasih lalu pergi, Bu Dona hanya menganggukkan kepalanya pelan.


"Udah dapet kuncinya?" Tanya pemuda yang kini menjadi tetangganya.


"Udah nih" jawab Jovi sambil menggoyang goyangkan kunci ditangannya, pemuda itu pun mengangguk.


"Wah ... Aku dapat tetangga baru juga akhirnya, " ujar pemuda yang bernama Adit Prayoga itu. Jovi hanya tersenyum nyengir sambil menatap Adit.


"Oh, iya. Kenalin, namaku Adit Prayoga.


Kamu bisa panggil aku Adit," ujar Adit memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.


Jovi pun membalas uluran tangan Adit dan juga memperkenalkan dirinya ke Adit.


"Aku Jovi, senang bisa berkenalan," ujar Jovi tersenyum.


"tidak usah terlalu formal begitu, nanti kedepannya kita akan jadi teman," ujar Adit


"Sialan ... " Adit menonjok dada Jovi pelan, Jovi tertawa terbahak bahak, disusul dengan suara tawa Adit.


"Kalau kamu tidak mau jadi teman aku, nanti aku bakal masuk rumah kamu, dan ngambil semua makanan yang ada disana diam diam, mau?" ujar Adit lagi


"Gampang, aku hanya tinggal melapor ke Pak RT biar agar menyuruhmu untuk ganti rugi," timpal Jovi.


"Gak akan bisa jika tidak punya bukti," ujar Adit meledek.


"Tenang, nanti aku bakal pasangin kamera tersembunyi buat ngintai pencuri," ujar Jovi menyeringai


"Sial ... kamu samain aku dengan pencuri?" teriak Adit.


Jovi pun tertawa dan segera membuka pintu rumahnya.


"Udah ah. Bahas apaan? Mending aku masuk istirahat, mengembalikan stamina." Jovi pun segera melangkah masuk kerumah.


"Stamina apanya woy?" teriak Adit, lalu terdengar suara tawa Jovi dari dalam rumah.

__ADS_1


Adit pun juga kembali masuk kerumahnya, karna memang hari sudah siang, waktunya buat makan.


Disaat Adit hendak menyendok nasi tiba tiba terdengar suara ketukan dari luar, Adit segera melangkah keluar untuk membuka pintu.


Saat pintu terbuka, terlihat Jovi sedang berdiri sambil tersenyum seperti ada maksud, Adit menjadi Agak curiga sama Jovi yang tiba tiba tersenyum ramah.


"Ada ap? aku jadi curiga melihat senyum licik itu," ujar Adit mengamati.


Jovi pun tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kamu makan apa siang ini? Aku boleh numpang makan tidak? " tanya Jovi malu.


"Hah? Numpang makan? Kita kenal belum sehari, udah mau numpang makan aja." Adit membelalakkan matanya.


"Biasa aja, jangan kaget begitu, bensin motorku habis, kamu tau sendiri didekat sini gak ada yang jual bensin, harus keluar dari gang dulu, ya kali aku dorong motor panas panas gini, jika kepalaku pecah bagaimana?" ujar Jovi sambil memasang wajah kasihan.


"memangnya balon, bisa pecah? Mana ada orang panas panasan sampe kepalanya pecah," bantah Adit.


"Ayolah ... masa sama teman sendiri gak mau bantu, kamu tidak kasihan lihat aku? Jika aku mati kelaparan gimana?" ujar Jovi memelas.


"Tadi memang siapa yang bilang tidak mau temenan sama aku? Terus sekarang datang minta makan." Adit berkata sambil menyilangkan tangannya didada.


Jovi menggaruk kepalanya tersenyum dan berkata,


"Maaf deh, kalau kamu kasih aku makan, aku bakal temenan sama kamu, gimana?" ujar Jovi.


"Hah? Ini pertama kalinya aku ketemu orang yang mukanya tebal bagaikan tembok gini, bicara seakan akan aku yang pengen banget temenan sama dia," ujar Adit sambil menaikkan alisnya.


Jovi tertawa, seumur umur dia gak pernah minta makan sama orang lain, melihat Adit yang sepertinya baik dan tulus, dia pun berani untuk numpang makan, Jovi tertawa geli didalam hati mengingat tingkahnya yang sok kasihan didepan Adit.


"Ya udah deh, ayo masuk, kebetulan tadi aku masak sendiri, gak beli nasi bungkus jadi kamu bisa ikut makan," ujar Adit sambil bangkit berdiri dan masuk kerumah di ikuti oleh Jovi dari belakang.


"gitu dong dari tadi." Jovi merangkul bahu Adit.


"Apaan sih nih Anak, pake rangkul rangkul segala, kalau orang lain lihat bisa dikira Homo nanti." Adit berkata sambil melepas rangkulan Jovi.


"Ih najis, siapa juga yang Homo?" seketika Jovi langsung menjauh dari Adit.


Adit tertawa geli melihat tingkah Jovi. Seru juga ini anak. Benaknya.


Mereka pun menyantap makan siang mereka, setelah selesai, Jovi berterimakasih pada Adit dan pulang kerumahnya.


"Cuci piring dulu woy," teriak Adit saat melihat Jovi pergi.

__ADS_1


"Aku gak tau cara cuci piring, kamu aja ya! bye." Jovi melambaikan tangannya pergi.


"Sialan tuh anak, awas saja, besok besok gak akan aku kasih makan lagi," gerutu Adit.


__ADS_2