
Lima tahun kemudian.
"Mami, mami. Bangun!"
Ya. Dia Samuel Adiguna, anak kecil yang berumur lima tahun menarik selimut yang menutupi tubuh ibunya, di saat ibunya masih tertidur.
Aurel menggeliat, alisnya mengernyit silau saat tirai jendela dibuka oleh anaknya, Samuel.
"Bagaimana bisa aku memiliki ibu semalas ini? Aku bahkan lebih dulu terbangun, tidakkah Mami merasa kasihan padaku, terbangun tanpa ada sarapan, bahkan segelas susu saja tidak ada." Samuel melengos lesu duduk di pinggiran ranjang.
"Astaga, Samuel. Maafkan Mami, Mami terlambat lagi." Aurel Reflek terduduk dengan mata yang terbelalak.
"Yah. Hanya itu yang bisa Mami katakan setiap pagi, aku sampai bosan mendengarnya." Samuel melangkah keluar dengan wajah muram.
"Samuel, tunggu Mami!" Aurel segera beranjak dari tempatnya mengejar anak semata wayangnya itu.
"Samuel. Ayolah, jangan marah begitu, Mami janji tidak akan terlambat lagi. Maafkan Mami ya!" Aurel memeluk Samuel dari belakang.
Samuel segera melepaskan diri.
"Mami. Harus berapa kali aku mengatakan, jangan peluk aku, aku bukan anak kecil lagi. Dan satu lagi, Mami selalu saja berjanji setiap hari, tapi nyatanya? Tetap saja seperti itu. Sepertinya Mami harus dihukum karena selalu mengingkari janji." Samuel melangkah ke arah sofa.
"Baiklah. Mami akan menjalani hukuman yang kamu berikan. Apa hukumannya?"
"Hukumannya tidak sekarang, tapi malam ini." Samuel menyalakan tv untuk menonton berita.
"Apa kamu begitu senang menonton berita? Tidakkah itu membosankan?" Aurel merengut heran melihat Samuel selalu menonton berita saat ia menyalakan tv.
"Mami ... Dengan menonton berita, kita bisa mengetahui banyak hal tentang negara ini. Sedangkan Mami, apa yang selalu Mami lihat? Drama percintaan? Bahkan menurutku itu lebih membosankan, melihat adegan-adegan mesra yang dilakukan oleh lelaki dan perempuan, bukankah akan membosankan bagi seorang single parent seperti Mami? Benarkan?" Samuel malah menyerang balik, membuat Aurel jadi tak berkutik.
"Aku belum membahas soal hukuman untuk Mami, malam ini Mami harus membaca sebuah dongeng sampai dua puluh buah judul buku, tidak boleh berhenti sebelum selesai," ucap Samuel tanpa beban.
"Bukankah kamu tidak menyukai dongeng? Lalu untuk apa menyuruh Mami membacanya?" Aurel menyipitkan matanya curiga.
"Iya. Maka dari itu aku menyuruh Mami untuk membacanya, bukankah Mami juga tidak suka dongeng? Mari kita nikmati bersama-sama suatu hal yang tidak kita sukai." Samuel menyenderkan kepalanya dengan santai.
Anak ini? Kenapa aku bisa memiliki anak nyebelin seperti ini? Turunan siapa dia ini? Aurel mendengus pasrah.
"Mami. Aku bahkan belum makan apapun dari tadi, tidak masalah jika tidak berikan sarapan, tapi segelas susu apa bisa? Setidaknya perutku tidak hanya diisi dengan angin." Berbicara tanpa menoleh sedikitpun, masih fokus dengan berita yang ada di tv.
"Baiklah, baiklah. Kamu rajanya hari ini, tapi saat Mami bangun duluan, Mamilah yang akan jadi ratunya." Aurel bangkit dari tempatnya menuju dapur.
"Aku sangat mengharapkan hari itu, Mami." Terdengar suara Samuel berteriak.
Tidak berapa lama, terdengar suara bel berbunyi.
"Mami. Apa aku harus membukanya?" Lagi-lagi Samuel berteriak.
"Buka saja, tapi jangan lupa bawa sapu, siapa yang akan menjamin kalau yang datang bukan perampok, kamu harus waspada." Aurel balas dengan berteriak.
"Baiklah." Samuel beranjak mengambil sapu, dan membuka pintu.
Saat pintu terbuka, Samuel mengamati pria yang ada di hadapannya, penuh dengan penyelidikan.
"Jika aku lihat dari segala sisi, tidak ada yang mencurigakan darimu, wajahmu juga tidak seperti perampok, tapi tunggu dulu, apa wajahmu itu asli? Kamu tidak melakukan operasi plastik hanya untuk mendekati Mamiku kan?" Samuel kembali menyelidiki pria di hadapannya.
"Nak. Untuk apa membawa sapu saat menjemput tamu?" Lelaki itu berjongkok di hadapan Samuel.
"Hanya untuk berjaga-jaga, takut akan ada lelaki hidung belang yang mencoba merayu Mamiku." Samuel meletakkan sapunya di tembok rumah.
"Bagaimana jika aku katakan kalau aku ingin merayu Mamimu? Apa kamu setuju?" Lelaki itu tersenyum kecil pada Samuel.
"Tidak semudah itu, yang ingin mendekati Mami harus melewatiku terlebih dahulu," jawab Samuel dengan sombongnya.
"Oh, ya? Lalu apa aku termasuk kriteria Papi idamanmu?"
"Hmm .... "
Samuel kembali mengamati lelaki itu dengan seksama.
"Ya, tetapi hanya sedikit, tidak sepenuhnya suka."
"Kenapa?" lelaki itu kembali bertanya.
__ADS_1
"Karena Mami belum tentu menyukaimu, Mami itu sangat sulit untuk jatuh cinta, dia bilang cintanya hanya untuk Papiku, tidak boleh di berikan ke orang lain." Samuel malah dengan polosnya menceritakan tentang Aurel pada lelaki yang tak dia kenal.
"Apa kamu pernah melihat Papimu?" tanyanya lagi.
Samuel menggeleng, "Mami tidak pernah mau memperlihatkan wajah Papiku yang sebenarnya." Samuel tampak sedih mengatakan itu.
"Sudah, jangan sedih. Bisa panggilkan ibumu ke sini?" lelaki itu mengelus kepala Samuel, dan anehnya Samuel malah menurut, jarang-jarang dia ingin menurut dengan orang yang tak dia kenal.
"Mami. Ada Paman tampan yang mencarimu." Samuel berteriak keras memanggil Aurel.
"Iya. Ini susumu, minumlah dulu!" Aurel membawa segelas susu untuk Samuel.
Prankkk
Tiba-tiba gelas yang berisi susu, jatuh begitu saja membasahi lantai, itu membuat Samuel menoleh karena terkejut.
"Mami. Ada apa denganmu?" tanya Samuel heran.
"K-Kamu?" Aurel pelan-pelan melangkah keluar menghampiri lelaki itu.
"Hai. Bagaimana kabarmu? Apa kamu masih mengenalku? Jika tidak, mari kita berkenalan lagi." Lelaki itu mengulurkan tangannya, sedangkan Aurel masih membeku menatap lekat pada pria di hadapannya itu.
"Jovi Adiguna."
Akhirnya Jovi menyebutkan namanya kembali, berusaha menolak lupa setelah lima tahun dia tidak kembali.
"Samuel. Bisa kamu cubit Mami sekarang?" berbicara pada Samuel, tapi mata Aurel masih menatap lekat pada pria di hadapannya itu.
Samuel mencubit kaki Aurel dengan keras.
Seketika Aurel berhambur memeluk pria itu, perasaannya saat ini benar-benar sulit untuk digambarkan, intinya, dia begitu bahagia sampai tidak bisa berkata-kata.
Jovi balas memeluk Aurel begitu erat, perasaan rindunya benar-benar sudah menggunung, mereka berpelukan dalam jangka waktu yang cukup lama, sedangkan Samuel? Dia terabaikan, dia bahkan terlihat linglung melihat ibunya berpelukan dengan lelaki yang tidak dia kenal.
Samuel menarik baju Aurel dengan pelan, Aurel seketika tersadar, dia mengusap air matanya lalu melihat ke arah Samuel.
Jovi berjongkok di hadapan Samuel.
"Bagaimana jagoan kecil? Aku berhasil bukan? Ibumu begitu menyukaiku, apa aku boleh menjadi ayahmu?" Jovi tersenyum kecil pada anaknya.
"Samuel, jangan panggil dia seperti itu, panggil dia Papi!" ujar Aurel.
"Baiklah calon Papi."
"Kenapa kamu menyebutnya calon Papi? Dia itu ayahmu!" bantah Aurel.
"Kalian belum menikah, jadi aku masih harus memanggilnya calon Papi," ujar Samuel dengan wajah tanpa dosa.
"Jika kami belum menikah, lalu bagaimana kamu bisa ada di dunia ini?" Jovi menyentil dahi Samuel, pelan.
"Sekarang begitu banyak kasus yang memberitakan seorang anak lahir dari orang tua yang tanpa menikah," jawab Samuel, santai.
"Memangnya kamu mau jadi anak dari hasil yang seperti itu?" tanya Jovi.
"Lahir di antara kedua orang tua yang tanpa menikah itu bukan suatu pilihan, melainkan orang tua itulah yang sangat bodoh, mengapa harus buat anak dulu baru menikah? Kenapa tidak menikah dulu baru buat anak? Tidakkah itu terlihat konyol?" Jawaban Samuel berhasil membuat Jovi menggaruk kepala, tak tau mau berkata apa lagi.
"Sayang. Apa yang kamu ajarkan pada anak ini? Kenapa dia bisa bicara seperti itu?" Jovi mengangkat kepalanya menatap Aurel.
"Jangan tanyakan aku, kamu tidak tahu, bahwa dia setiap hari hanya menonton berita di tv, bahkan mengenai hal itu pun dia tahu." Aurel mengangkat bahu, sudah merasa terbiasa dengan kata-kata ajaib yang sewaktu-waktu bisa keluar dari mulut Samuel.
***
Mereka bertiga pun berkumpul di ruang tamu.
"Kenapa kamu begitu jahat dengan memalsukan kematianmu? Kamu tahu? Aku hampir gila memikirkanmu setiap hari." Aurel tampak merengut masam.
"Ini bukan salahku, sayang. Paman Ghani-lah yang menyembunyikanku dari orang lain, aku bahkan tidak sadarkan diri waktu itu. Paman Ghani tau, bahwa dokter tidak akan bisa menolong nyawaku, jadi dia dan dokter itu bekerjasama, dengan memperbolehlan aku untuk dibawa pergi oleh Paman Ghani."
"Lalu bagaimana dengan orang yang di dalam peti?" Aurel masih tak percaya dengan yang di katakan Jovi.
"Haih ... Itu hanya sebuah patung yang didesain menyerupai aku, dan juga dengan berat yang sama denganku, aku juga salut dengan Jimmy, dia bisa mendapatkan patung itu dalam waktu sehari," jelas Jovi, sedangkan Aurel masih bergelayut di lengan Jovi.
"Jadi Jimmy juga tahu kalau kamu masih hidup?" Aurel seketika duduk tegap menatap Jovi.
__ADS_1
"Iya. Dia tahu, bahkan dia sering datang mengunjungiku." Jovi tersenyum dengan wajah yang tanpa bersalah.
"Bagaimana mungkin kalian setega itu membohongi aku dan Samuel?" Aurel tampak begitu muram.
"Tapi aku tidak merasa dibohongi," ketus Samuel.
"Itu karena kamu belum lahir saat Papimu berpura-pura mati," balas Aurel dengan cepat.
"Aku tidak berpura-pura, saat itu aku memang hampir mati, kalau bukan karena paman Ghani yang memberikan aku pil obat sebelum menyelamatkanmu, mungkin bahkan sebelum aku sampai di rumah sakit, nyawaku sudah tak tertolong." Jovi mendengus kasar.
"Oh. Jadi ini semua gara-gara Mami? Hmm ... Tidak heran, Mami itu memang nyebelin, asal Papi tahu, Mami itu selalu ingin menang sendiri, bahkan denganku saja dia tidak ingin mengalah, lihatlah betapa aku kesal padanya, adakah ibu yang lebih menyebalkan darinya?" gerutu Samuel, Jovi tergelak mendengar ucapan anaknya, bahkan Samuel menyadari itu.
"Papi ... Ternyata kamu sudah melewati banyak hal selama lima tahun ini? Kenapa Papi tidak membawaku, jadi aku bisa ikut berjuang bersama Papi, tidak seperti Mami, bahkan bangun pagi saja dia sangat malas." Samuel kembali menyindir Aurel.
"Hei, hei. Tidakkah kamu ingat siapa yang melahirkanmu? Kenapa kamu malah menyalahkan aku? Kamu baru kenal dengan Papimu, kenapa malah terus membelanya? Bagaimana jika dia bukan Papimu?" Aurel memprotes.
"Jika dia bukan Papiku, berarti Mami barusan telah mencium orang yang salah," jawab Samuel dengan santai.
"Kamu melihatnya?" Aurel melotot.
"Tidak ada yang bisa kamu sembunyikan dariku, Mami. Lepaskan, sekarang Papi adalah milikku!" Samuel menepis tangan Aurel yang sedari tadi dipakai untuk bergelayut pada Jovi.
"Mami. Walau bagaimanapun, kamu harus diberi hukuman karena telah membuat Papi terluka, jadi sekarang, pergilah memasak, Papi pasti lapar dari perjalanan jauh," ucap Samuel yang saat ini sedang memeluk Jovi.
Anak ini, setelah ayahnya kembali, dia jadi semakin tidak memperdulikan aku. Aurel beranjak dari tempatnya menuju ke dapur.
Setelah makanan siap, Aurel kembali ke ruang tamu, dilihatnya Samuel sedang bermain game bersama Jovi.
"Samuel. Bukannya kamu mengatakan bahwa kamu tidak menyukai game?" tanya Aurel heran.
"Siapa bilang, aku sangat menyukainya." Berkata tanpa menoleh, masih sibuk dengan permainan di depannya.
"Lalu kenapa setiap kali Mami ajak bermain, kamu tidak mau?"
"Itu karena otak Mami terlalu payah untuk diajak menjadi lawan, bayangkan saja, dalam waktu satu jam Mami kalah hingga dua puluh kali, gamenya malah terlihat tidak menantang karena dimainkan oleh Mami," ketus Samuel.
Ya, Tuhan ... Apa salahku hingga aku memiliki anak yang seperti ini? Dia selalu menyudutkanku, apalagi ada ayahnya, dia semakin pandai berbicara. Aurel menepuk jidatnya tak habis pikir.
Setelah mereka makan bersama, Jovi mengajak mereka untuk pergi ke kediaman keluarga, semua orang di sana sangat terkejut dengan kepulangan Jovi.
Pada Awalnya Bu Riana tidak menyetujui hubungan Jovi dengan Aurel, tetapi setelah dia melihat Samuel, dia jadi tidak tega ingin memisahkan orang tua Samuel, apalagi wajah Samuel benar-benar mirip dengan wajahnya Jovi saat masih kecil.
Sementara itu, Jovi juga berhasil membuka kedok paman dan bibinya yang melakukan perencanaan pembunuhan padanya, dan mereka sudah diamankan oleh polisi, dan dijatuhkan hukuman mati.
Seluruh kota dibuat gempar oleh kembalinya Jovi, tidak menyangka, selama lima tahun bersembunyi, akhirnya dia kembali.
Semua stasiun tv hanya menayangkan tentang kembalinya Jovi, dan tentang resepsi pernikahan yang akan diadakan besok.
Di hari resepsi pernikahan mereka, begitu banyak tamu yang berdatangan, acaranya bahkan digelar besar-besaran, bahkan di kota itu, acara resepsi pernikahan merekalah yang paling megah.
Samuel yang kini sudah siap dengan setelan jasnya, membawakan sepasang cincin dan berdiri di tengah-tengah Aurel dan Jovi.
Setelah mengikrarkan janji pernikahan, Samuel memasangkan cincin ke jari ibu dan ayahnya, mereka pun berciuman sebagai tanda kepemilikan, semua bersorak dan bertepuk tangan dengan riuh.
"Selamat. Aku bangga padamu." Adit, Lani, Roni, dan Mawar ikut menaiki panggung untuk memberi selamat pada mereka berdua.
"Samuel. Kamu apa kabar?" tanya Farhan, anak dari Roni dan Mawar.
"Aku baik," jawab Samuel.
"Kak Samuel. Akhirnya kamu memiliki ayah, kamu tidak sendirian lagi." Kiki menggenggam tangan Samuel dengan bahagia, Kiki adalah anak perempuan dari Adit dan Lani, ia masih berumur 4 tahun, lebih muda setahun dari Samuel dan Farhan.
"Mari kita bermain!" ajak Samuel.
"Ayo," jawab Kiki dan Farhan serentak.
Mereka bertiga pun berlari turun dari panggung untuk bermain, sementara orang tua dari mereka berpelukan bersama, sebagai sahabat.
Kini mereka semua merasa bahagia telah mendapatkan keluarga yang sempurna, dan persahabatan yang sempurna pula.
Selesai.
Seharusnya banyak yang harus Author ungkap di cerita ini, tapi karena Author sibuk, jadinya Author mempersingkat ceritanya, dan langsung di end-kan.
__ADS_1
Maaf kalau kalian kurang puas sama endingnya, jujur Author juga lelah sebenarnya. 😁🙏