
Keesokan harinya
Mawar yang kini telah mengenakan gaun pengantin putih, begitu cantik dan anggun dilengkapi dengan riasan make up natural.
"Aahhh ... Mawar aku benar benar iri melihatmu memakai gaun pengantin ini, aku tidak menyangka, kamu yang tidak pernah pacaran dengan Roni, akan mendahului aku yang sudah bertahun tahun pacaran." Lani merengek manja melihat Mawar yang terlihat begitu cantik dihadapannya.
Bahkan sekarang Lani tidak tahu, apakah dia bisa menikah dengan Adit, sementara mereka berdua masih belum bertegur sapa, bahkan berhubungan via telepon saja sudah tidak pernah lagi.
Mereka berdua sungguh keras kepala, sama sama merasa gengsi untuk membujuk duluan, mereka lebih memilih berdiam saja tanpa ada kejelasan sedikitpun.
"Kenapa tidak meminta Adit untuk menikahimu? Kalian sudah pacaran begitu lama, apalagi yang kalian tunggu? Adit juga sudah mapan, dan usianya sudah cukup matang untuk berumah tangga. Jadi kurasa tidak ada lagi alasan buat kalian untuk tidak menikah," ujar Mawar. Lani hanya memasang wajah masam, ia sendiri tidak berani untuk meminta Adit untuk menikahinya, dia juga belum siap untuk menceritakan alasan kenapa dia tidak lagi perawan.
"Sudahlah. Hari ini kamu yang akan menikah, jadi bahas tentang dirimu saja." Lani berusaha mengalihkan topik.
"Semoga kalian bisa hidup bahagia ya, oh iya, kamu ingin anak diperutmu ini berjenis kelamin apa?" sembari mengelus perut Mawar.
"Terserah saja. Apapun jenisnya aku suka semua, atau kalau perlu kembar sepasang." Mawar pun tertawa, dan disusul juga dengan tawa Lani.
Disisi lain, didepan Aula utama, semua wartawan sibuk memotret kedatangan Jovi.
"Jim. usir mereka dari hadapanku!" Tatapan tajam itu benar benar sanggup membunuh orang.
Jovi begitu kesal, baru keluar dari mobil, harus disambut dengan begitu banyak kamera dihadapannya.
Setelah semua wartawan berhasil diusir, akhirnya Jovi bisa berjalan dengan tenang tanpa ada gangguan.
"Jov. Sini!" Adit berteriak memanggil Jovi.
Jovi buru buru menghampiri Adit hingga ia sampai tidak sengaja menabrak seorang pelayan muda yang sedang membawa minuman.
Brukkk
__ADS_1
Semua gelas berjatuhan dan pecah, isinya bahkan mengenai baju Jovi.
"Apa kau buta? Kau tidak lihat aku sedang berjalan? Kenapa menghalangi jalanku?" Jovi lantas memaki maki gadis itu, tidak perduli apakah itu kesalahannya atau bukan.
Apa orang ini sudah tidak waras? Dia yang sudah menabrakku bukannya minta maaf malah menyalahkan aku begitu saja. Membuatku geram saja. Gadis itu menggertakkan gigi sambil menunduk, dia tidak berani melawan karena dia hanyalah seorang pelayan.
"M-Maaf Tuan. S-Saya tidak sengaja," ucapnya terbata.
"Pergi sana! Jangan berani lagi menampakkan dirimu dihadapanku!" bentak Jovi, dan pelayan itu segera pergi meninggalkannya.
"Ada apa? Kamu kenapa terlihat begitu marah?" Adit menghampiri Jovi.
"Kau lihatlah sendiri! Bajuku harus dikuahi dengan minuman." Jovi masih begitu kesal.
Adit memegangi jas Jovi yang terkena jus. "Ya ampun. Jovi, ini hanya terkena sedikit saja, kenapa harus membentak pelayan sampai segitunya?" Adit tak habis pikir, makin kesini Jovi makin tak bisa dikenali seperti yang dulu.
"Aku tidak suka barangku diganggu." Dengan dinginnya Jovi berlalu pergi. Adit tetap mengikutinya dari belakang.
"Sudahlah. Tidak usah dibahas lagi! Aku juga sudah melupakannya. Lain kali jangan ulangi kesalahan itu, atau aku akan benar benar membunuhmu!" Jovi menepuk pundak Adit dengan bercanda, mereka pun tertawa.
Acara pernikahan pun dimulai, Roni dan Mawar sama sama mengucapkan janji pernikahan dan saling memakaikan cincin dijari pasangan mereka.
Semua orang bertepuk tangan saat Roni memberi tanda kepemilikannya pada bibir Mawar.
Semuanya bahagia, namun tidak dengan tiga insan yang saat ini sedang dalam keadaan percintaan yang diujung tanduk.
Lani dan Adit sesekali saling melirik, tapi tatapannya seakan sedang bermusuhan, benar benar kekanakan.
Sedangkan Jovi, Jovi tak kalah terpuruknya dari mereka, dia bahkan tak dapat melihat Aurel didepan matanya, ia benar benar sendiri menanggung keperihan dihatinya, ingin sekali rasanya dia mengamuk, namun dia tidak mungkin mengamuk diacara pernikahan sahabatnya.
Aku sudah merencanakan acara seperti ini untuk kita berdua, aku sangat menantikan mengucapkan janji suci itu, memasangkan cincin pernikahan dijari manismu, dan juga memberikan tanda kepemilikan didepan semua orang bahwa kamu adalah milikku, tapi sayang sekali, rencana itu akan batal, dan hanya bisa sampai di angan angan. Kamu juga sama sekali tak meninggalkan kabar sedikitpun, aku masih berharap kamu pulang dan meminta kembali cinta ini, aku bosan bermain petak umpet seperti ini, aku ingin kau kembali datang, sekalipun kau datang karena hanya ingin meminta bantuan seperti yang kau lakukan dahulu, tetapi sekarang kau benar benar tega meninggalkan aku seorang diri, pergi bersama lelaki lain, dan menyia nyiakan aku yng begitu mencintaimu. Apa perlu aku menculikmu dan mengurungmu hingga kamu tak lagi main kabur kaburan seperti ini? Tapi ini semua juga salahku, kenapa aku begitu lemah dalam mempertahankan kamu, aku malah membiarkanmu pergi begitu saja, tanpa melakukan pencegahan sedikit pun. Jovi menatap lekat pada Roni dan Mawar
__ADS_1
Mereka sudah bahagia, bahkan tanpa ada kata pacaran, mereka selalu tampak low profile, namun sekali maju, mereka menumbangkan segala pertahanan yang ada, membuat orang orang yang sudah begitu lama pacaran menjadi sedikit menepi, tak ingin menampakkan wajahnya karena malu dengan kegagahan Roni yang begitu gantleman memberikan kepastian pada orang yang ia cintai.
"Husstt. Bagaimana kabar Aurel?" Adit berbisik sembari menyenggol Jovi dengan sikunya.
"Masih seperti yang kemarin, main kabur kaburan. Apa perlu aku juga harus kabur dari dunia ini?" Jovi menjawab tanpa menoleh sedikitpun.
"Sudahlah. Kita senasib, hubunganku juga menggantung begitu saja tanpa ada kejelasan, aku merasa malu dengan Roni, kita berdua adalah yang paling bagus dalam dunia bisnis, tatapi malah yang paling payah dalam urusan percintaan." Adit tertunduk lesu membayangkan nasib percintaannya.
"Apakah semua wanita seperti itu?" tanya Jovi tiba tiba.
"Aku rasa tidak, coba kau lihat Mawar, dia tampak seperti wanita yang berwawasan luas, dia selalu berpikir dewasa, tidak mudah jatuh cinta, tetapi sekali orang yang dia cinta sudah memberi titik terang maka dia tidak akan berbelok lagi." Sembari menatap kearah Mawar yang saat ini tersenyum manis, begitu anggun dipandang mata.
"Ya. Aku bisa melihat kedewasaannya, dia tidak egois, tidak mementingkan dirinya sendiri, tiba tiba aku merasa sayang, kenapa dulu aku tidak memilih dia," ucap Jovi sedikit bercanda.
"Memangnya dia menyukaimu?" sindir Adit.
"Aku akan memberimu sebuah rahasia antara aku dan Mawar." Jovi berbisik ditelinga Adit. Adit mengerutkan keningnya curiga.
"Mawar pernah mencium bibirku, bahkan saat itu adalah ciuman pertamaku," Jovi sedikit tersenyum licik kearah Adit.
"Hah? Jadi rahasia yang kau bicarakan dengan Mawar sewaktu dibar, benar benar ada?" Adit melotot kearah Jovi. Lagi lagi Jovi memalingkan wajahnya tertawa.
"Apa aku boleh menikungnya? Aku tiba tiba menginginkan sosok wanita yang dewasa." Jovi sedikit tertawa menatap Mawar yang bersanding bersama Roni.
"Jika kau berani melakukan itu, sebelum Roni menghajarmu, maka aku yang akan duluan memberi pelajaran untukmu, bisa bisanya kau berpikir kotor dengan ingin merebut istri sahabatmu sendiri." Adit malah terpancing emosi mendengar ucapan Jovi.
"Apa kau tidak menginginkan sosok wanita dewasa seperti Mawar?" goda Jovi.
"K-Kau. Apa yang kau bicarakan ini?" Adit memalingkan wajahnya malu.
"Haha. Aku hanya bercanda, aku tidak akan menikung istri Roni, aku masih menginginkan orang yang sama. Yaitu istriku sendiri." Jovi tertawa puas sembari memukul pundak Adit, setidaknya dia bisa sedikit lepas dari kesedihan yang mengganggu pikirannya.
__ADS_1