ANAK MILIARDER MENCARI CINTA

ANAK MILIARDER MENCARI CINTA
Menyusul ke hotel


__ADS_3

"Aku berkata sesuai dengan faktanya, tidak percaya kamu bisa lihat sendiri berita diponselmu," Rasya berkata dengan sinis kembali menatap layar ponselnya dengan tersenyum.


Aurel tak memperdulikan Rasya, ia berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air.


Saat ia kembali kekamar, ucapan Rasya selalu terngiang dikepalanya, ada perasaan khawatir sekaligus takut kalau Jovi benar benar akan mencampakkannya.


Untuk menghilangkan rasa gundah dan penasaran, Aurel akhirnya memberanikan diri untuk membuka berita diponselnya.


Dan benar saja, melihat Jovi yang bersama perempuan lain, bahkan terlihat begitu akrab, sampai menginap dihotel berdua dengan wanita itu, benar benar sukses membuat jantung Aurel berdegup dengan sangat cepat, kesesakan yang teramat menyerang didalam dadanya.


Aurel mencoba untuk mengatur nafas agar ia tetap bisa menguasai dirinya.


Seberapa pun Aurel ingin bersikap lebih tenang, namun bayangan Jovi bersama wanita lain membuat dia tak mampu mengelakkan rasa kesal dan cemburunya.


Aurel segera keluar dari kamar, dengan sedikit berlari menuruni anak tangga, masih dengan memakai piyama, dan belum mandi sama sekali, ia keluar dari komplek mencari taksi yang lewat.


Setelah mendapatkan taksi, Aurel segera mengarahkan si supir untuk pergi kehotel yang tertulis dari status update perempuan itu.


Setibanya Aurel dihotel, dia benar benar melihat mobil Jovi terparkir disana, dengan mengepalkan tangan begitu kesal, ia segera masuk dan mencari tahu bahwa Jovi menempati kamar yang mana.


Semua mata tertuju pada Aurel, ia yang masih mengenakan baju tidur masuk kehotel, berhasil mengundang tatapan mata yang merendahkannya.


Bahkan ada yang berfikir bahwa Aurel wanita yang tidak waras, mana ada orang yang masuk kehotel bintang lima itu hanya dengan memakai baju tidur tanpa make up, dan bahkan dengan rambut yang masih awut awutan.


Aurel mencoba menghubungi Jovi, namun Jovi yang saat ini sedang mandi, Resta mengambil kesempatan untuk mengangkat panggilan itu, karena dia mendapatkan informasi dari adiknya bahwa istri Jovi akan datang.


"Hallo. Dengan siapa ya? Jovi sedang tidak bisa menerima telepon."


"Ah, Sayang. Kamu jangan nakal, pergi mandi sana!" Resta berpura pura mengatakan itu hanya untuk memanasi Aurel.

__ADS_1


Wajah Aurel tampak merah padam mendengar itu, ia menutup teleponnya dengan segera memasuki lift menuju lantai kamar Jovi.


Jovi berjalan dalam keadaan marah dan hati yang berdebar, akhirnya ia menemukan kamar dimana Jovi dan wanita itu berada.


Aurel mengetuk pintu dengan kasar, ia benar benar tidak terima jika Jovi menduakannya.


Resta yang mengetahui bahwa yang mengetuk pintu adalah Aurel, ia segera membuka kancing bajunya, hingga dua gunung kembar itu sedikit terlihat, seolah olah, dia dan Jovi habis melakukan hal kotor.


Resta berlari ditempat, agar nafasnya terlihat ngos ngosan, seakan habis bertempur dengan Jovi, ia melakukan itu agar aktingnya tidak nampak seperti dibuat buat, ia ingin Aurel mempercayai semua aktingnya.


Setelah dirasa cukup, Resta keluar membuka pintu dengan wajah tersenyum, dan nafas yang tersengal sengal.


"Maaf ya Nona, saya terlambat membuka pintunya, tadi kami sedang asyik bermain." dengan menutupi wajah kepura puraannya, tersenyum pada Aurel.


Aurel mengerutkan keningnya melihat penampilan wanita yang dihadapannya itu tampak acak acakan.


"Apa yang kalian lakukan?" sembari menatap baju Resta yang terbuka sebagian.


"Apa yang kau lakukan pada suamiku? Suamiku tidak mungkin melakukan hal kotor ini bersama wanita lain selain aku." dengan menatap tajam kearah Resta yang saat ini masih terlihat santai.


"Suami? Maksud Anda suami yang mana? Kenapa Anda mencari suami Anda disini?" masih dengan berpura pura tak mengerti.


"Jovi adalah suami saya, jadi Anda jangan berani mencoba untuk merebut dia dari saya," bentak Aurel dengan suara lantang.


"Oh, ya? Uh ... Ancaman Anda benar benar membuatku takut Nona. Tapi ... Itu sama sekali tak akan menghalangi niatku untuk merebutnya, cepat atau lambat, dia akan menjadi milikku seutuhnya." Resta mendekatkan wajahnya dengan melototi Aurel.


"Kamu .... " belum sempat Aurel mengatakan sesuatu, wanita yang dihadapannya itu denga tiba tiba menabrakkan kepalanya disudut pintu, hingga darah segar tampak keluar dari keningnya.


Resta sengaja berteriak dengan keras agar Jovi mendengarnya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Jovi segera keluar dari kamar mandi, masih dengan memakai baju handuk, ia menghampiri Resta.


"Ada apa?" tiba tiba Jovi melihat Aurel berdiri dihadapan Resta.


"Jovi ... Maaf! Sepertinya istrimu telah salah paham pada kita." sambil memegangi kepalanya meringis kesakitan, ia benar benar rela menyakiti dirinya demi kesuksesan aktingnya.


"Ada apa? Dia kenapa?" sambil menatap tajam pada Aurel.


"Tidak apa apa. Mungkin tadi dia tidak sengaja memukulku hingga kepalaku terbentur dipintu." sembari membuka tangannya memperlihatkan luka yang telah diselimuti sedikit darah.


Jovi menarik nafasnya dengan kasar lalu mengahampiri Aurel.


"Kenapa kau berbuat kasar padanya? Kau mau balas dendam padaku? Jika kau ingin balas dendam karena aku yang memukul kekasihmu itu, kau bisa membalasnya dengan memukulku, kenapa harus memukul dia yang tidak bersalah," bentak Jovi.


"Tapi aku tidak melakukan apapun pada dia, dia sendiri yang melakukannya." Aurel mencoba melakukan pembelaan untuknya dirinya.


"Jadi maksudmu dia membenturkan kepalanya sendiri, begitu? Apa untungnya bagi dia menyakiti dirinya sendiri? Katakan saja jika memang kaulah yang melakukan semua itu, jangan menimpakan kesalahan pada orang lain." tatapan Jovi kini semakin dingin terhadap Aurel.


"Harus berapa kali aku bilang bahwa aku tidak melakukannya?" Aurel semakin meninggikan suaranya.


"Tidak perlu berkata hingga berkali kali, karena aku juga tidak akan mempercayainya. Lalu untuk apa kau datang kemari? Tidak bersenang senang dengan pacarmu? Tidakkah dia mencarimu untuk merawat wajahnya yang sudah hampir busuk itu?" dengan sinisnya Jovi berkata pada Aurel sembari menyeringai hina.


"Dia bukan pacarku."


"Lalu apakah dia calon suamimu? Tidak salah lagi, kalian berdua memang sangat cocok, sama sama murahan." dan tiba tiba, telapak tangan Aurel mendarat bebas diwajah Jovi.


Jovi menyeringai tajam menatap Aurel, tidak menyangka. Dua kali, dua kali dia mendapatkan tamparan hina itu dari istrinya sendiri.


Resta yang melihat itu, dibuat terkejut tidak menyangka, Jovi adalah seseorang yang begitu disegani diseluruh negara ini, tidak ada yang berani menyinggungnya, tetapi hari ini? dia malah menyaksikan seorang istri yang begitu tidak sopan pada suaminya.

__ADS_1


"Jaga ucapanmu, aku bukanlah wanita murahan seperti yang kamu katakan, melainkan kalian, kalian lah yang lebih hina telah melakukan hal tak bermoral seperti ini. Benar benar menjijikkan." Seringai Aurel dengan tatapan benci kearah Resta.


__ADS_2