
Tidak berapa lama kemudian, terdengar pintu dibuka oleh seseorang, mereka yang ada diruangan itu kembali menoleh.
Dan lagi lagi mereka dibuat terkejut dengan pemandangan yang didepan mereka.
Siapa lagi kalau bukan Aurel dan Jovi yang sedang bergandengan tangan dengan tersenyum lebar ke arah mereka.
Mereka semua memasang mata lebar lebar tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Apakah itu benar benar Aurel dan Jovi? Pertanyaan itu terlintas dipikiran mereka masing masing.
"Hai. Maaf ya! Kami datang terlambat," ucap Aurel yang ikut berkumpul dengan mereka.
"A-Aurel. K-Kalian?" ucap Lani terbata.
Aurel melirik kearah Jovi sembari tersenyum, membuat mereka bingung dan juga menunggu jawaban dari Aurel.
"Kalian balikan lagi?" tanya Adit.
"Iya. Begitulah," jawab Aurel malu malu.
"Kami sudah menikah." ucap Jovi
"Hah?" mereka semua membelalakkan mata tidak percaya dengan apa yang diucapkan Jovi.
"Menikah? Sejak kapan?" tanya Adit.
"Dua Minggu yang lalu," jawab Jovi singkat.
"Kenapa tidak undang kami?" bantah Adit.
"Kami belum mengadakan resepsi. Sudahlah jangan bahas soal itu. Mari kita rayakan perkumpulan kita kali ini!" Aurel tampak tersenyum bahagia sembari meraih gelas yang berisi bir dihadapannya.
"Eh. Tunggu, tunggu. Dia siapa?" tanya Aurel saat dia menyadari ada seorang wanita yang tidak ia kenal.
"Dia Mawar," jawab Jovi yang langsung mengenali Mawar.
"Kamu bisa langsung mengenaliku?" tanya Mawar yang menunjuk kearah dirinya.
"Kamu lupa dengan kejadian yang dulu?" ledek Jovi.
Wajah Mawar seketika memerah mengingat kejadian yang sudah begitu lama, tidak menyangka Jovi masih mengingatnya.
"Apa kamu masih mengingat kejadian yang dikamar mandi dulu?" Jovi lagi lagi menyinggung masalah yang sangat memalukan bagi Mawar.
"K-Kamu bicara apa?" Mawar memalingkan wajahnya karena malu.
__ADS_1
Semua orang disana dibuat heran sekaligus penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
"Kejadian apa yang terjadi pada kalian?" Aurel tampak tidak enak melihat Jovi yang tampak tersenyum akrab pada Mawar.
"Tanyakanlah pada Mawar." Jovi tersenyum geli mengingat kejadian dimana Mawar yang tiba tiba menciumnya tanpa bisa ia hindari.
Aurel mengerutkan keningnya menaruh curiga pada mereka berdua.
Aurel melirik Jovi dan Mawar secara bergantian, mencoba mencerna ekspresi mereka masing masing.
"Mawar. Bisa kamu jelaskan pada kami tentang apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Aurel yang menatap Mawar dengan lekat.
Mawar menggaruk pipinya yang tidak gatal, bingung harus berkata apa.
"Mm- I-Itu. A-Anu." lidah Mawar begitu kelu saat hendak bicara. Kejadian yang tidak ingin lagi dia ingat, harus dibahas kembali oleh Jovi.
Apa yang harus aku katakan. Jovi ini benar benar tidak menghargai Aurel yang kini menjadi istrinya, tidakkah dia berpikir jika Aurel mengetahui hal itu, maka dia akan cemburu? Aurel bisa saja tidak ingin lagi berteman denganku jika dia mengetahui aku yang dulu sempat mencium suaminya. Mawar menunduk sembari meremas jari jarinya yang berkeringat dingin.
"Mawar .... " Aurel masih menunggu jawaban dari Mawar.
Mawar pelan pelan mengangkat kepalanya dan melirik kearah Jovi.
Jovi tersenyum manis menatap Mawar yang kini tampak malu malu.
"Apa kamu tidak ingin mengatakannya?Kalau begitu biar aku yang mengatakannya," ucap Jovi.
Apa yang ingin dia katakan? Tidak mungkin kan dia ingin mengatakan yang sebenarnya? Batin Mawar yang kini merasa begitu panik.
"Sebenarnya dulu kami-" tidak sempat Jovi melanjutkan kata katanya, Mawar tiba tiba melemparnya dengan sebungkus makanan ringan, membuat Jovi terhenti berbicara.
"Kenapa kamu melemparku? Aku hanya ingin mengucapkan, bahwa ini adalah rahasia kami berdua, Aurel tidak perlu mengetahuinya," ucap Jovi tersenyum pada Aurel. Aurel kini benar benar berwajah masam, ia sama sekali tak ingin disentuh oleh Jovi.
"Hey. Kenapa jadi begitu galak? Apa kamu marah? Atau kamu cemburu?" Jovi meraih tangan Aurel untuk membujuknya, tetapi Aurel menepis tangan Jovi dengan sangat kasar, lalu menjauh, sejauh mungkin dari Jovi.
"Siapa yang cemburu? Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan!" cetus Aurel dengan wajah marah.
"Kamu kenapa jadi marah? Bukankah aku sudah mengatakan padamu, jangan pernah mencampuri urusan pribadiku!" Jovi tampak mengerutkan keningnya membentak Aurel.
Mata Aurel tampak berkaca kaca mendengar Jovi yang berbicara lantang padanya. Mereka baru saja akur, tetapi sudah harus kembali retak seperti itu.
"Kenapa diam saja? Apa sudah tahu salah?" bentak Jovi.
"Aurel maafkan aku! Aku dan Jovi benar benar tidak ada apa apa, tidak ada yang terjadi diantara kami. Percayalah!" ucap Mawar yang mencoba mendekati Aurel dan membujuknya.
__ADS_1
"Jangan mendekatiku, aku tidak apa apa, dan aku juga tidak berhak untuk ikut campur," Aurel mulai terisak mengucapkan kata katanya.
Mereka semua termasuk Mawar, merasa tidak tega melihat Aurel yang menangis.
"Jovi ... Kamu kenapa begitu kasar pada Aurel, dia istrimu, sudah seharusnya dia tahu tentang masalahmu," ucap Mawar dan berbalik memandangi Jovi.
"Kalau begitu katakanlah yang sebenarnya, jika memang dia berhak mengetahuinya," jawab Jovi yang nampak tengah duduk santai tanpa merasa bersalah.
Mawar seketika terdiam mendengar ucapan Jovi. Yang benar saja, dia yang tidak berani rahasia itu diketahui, malah disuruh untuk mengatakannya, itu sama saja membunuh dirinya sendiri.
Mawar kembali ketempatnya tidak berani berada ditengah tengah mereka, karena dia hanya akan dipojokkan oleh Jovi.
"Kenapa kamu menangis? Lembek sekali!" ucap Jovi sinis sembari memainkan gelas yang berisi bir ditangannya.
Aurel semakin membanjiri kedua belah pipinya dengan air mata, ia tak sanggup berbicara karena ditekan oleh kesesakan di dadanya.
"Jovi, stop! Sudah cukup aku bersabar mendengar ocehan ocehanmu terhadap Aurel, kenapa kamu tidak berubah juga sampai sekarang? Kamu yang seperti ini, tidaklah berbeda dengan anak kecil yang selalu saja ingin menang sendiri," bentak Adit pada Jovi. Lani nampak mengelus bahu Adit agar Adit tidak terpancing amarah oleh Jovi.
Jovi menatap sinis kearah Adit, tatapannya seakan sedang mengejek Adit, hingga amarah Adit semakin memuncak.
"Kenapa kamu juga ikut marah?" Jovi mengerutkan alisnya kesal.
"Jelas aku sangat marah, Aurel itu sahabatku sejak dulu sebelum aku bertemu denganmu, jadi wajar aku marah jika ada yang menyakitinya," bentak Adit dengan wajah yang memerah.
"Kalau begitu, kenapa dulu bukan kamu saja yang menikahi dia, agar tidak ada yang berani menyakitinya," ucap Jovi sinis.
"Jovi. Jaga ucapanmu itu! Jangan berbicara sembarangan." Lani ikut menimpali, karena dia juga tidak suka mendengar Jovi yang mengatakan hal yang tak beretika seperti itu.
"Kurang ajar sekali kamu ini." Adit bangkit dari tempatnya dan menghampiri Jovi lalu mencengkram kemeja Jovi.
Buuukk
Suara pukulan terdengar dari tangan Adit yang melayangkan tinjunya ke wajah Jovi.
Pemandangan itu sukses membuat Aurel, Lani, dan juga Mawar berteriak kaget, tidak menyangka Adit benar benar berani melakukan itu pada Jovi.
Jovi memegangi sudut bibirnya yang kini terlihat berdarah, lalu ia tersenyum sinis menatap Adit.
"Kamu berani bermain kasar padaku? tidak takut jika aku akan membalasmu?" Jovi kembali membetulkan jasnya.
"Sini balas aku! Kamu pikir aku takut?" Adit membuka jasnya lalu menggulung lengan kemejanya, bersiap untuk bertarung dengan Jovi.
Hayoo ... Apa yang akan terjadi pada mereka? Kalian pada kesel nggak sih sama sifat Jovi yang seperti itu?
__ADS_1
Tapi jangan marah marah sama Author ya, dan juga jangan demo kerumah Author, wkwk